Bab 1 Orang yang Mencurigakan

1399 Words
Sore itu seperti biasa Shakira sudah menyelesaikan semua tugas kuliah, ia bergegas menemui Ibunya yang sedang sibuk di dapur. "Shaki? apa yang kamu lakukan, Nak? Sudah biar Mama saja. Kerjakan saja tugas kuliahmu,'' tegur Ibu Shakira yang melihat putri semata wayangnya itu meraih rendaman baju kotor yang siap di cuci. "Shaki sudah selesai semua, Ma. Mama yang harusnya istirahat, Mama sudaj seharian ini bekerja, Shaki tidak mau Mama nanti sakit.'' Shakira segera menggandeng tangan Ibunya dan membawanya ke ruang tengah sekaligus ruang tamu rumah kecil itu. Natarina menepuk pipi putrinya dengan sayang, wanita itu menuruti perintah Shakira dengan senyum mengembang. "Iya, iya... Galak sekali, Putri Mama satu ini...'' keluh wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu menerima tangan Shakira yang membimbingnya masuk rumah. "Biar saja, daripada Mama sakitnya kambuh lagi, Shaki tidak mau. Lagian ini juga mama masih terima cucian lagi sih? Kan Shaki sudah kerja. Ya walau masih setengah hari, setidaknya mama sudah tak perlu terima mencuci baju lagi.'' Shakira terdengar mengomel membuat Ibunya kembali tersenyum. "Mama harus janji, tidak akan kerja berat-berat lagi. Tidak ada ya terima cucian lagi saat Shaki tidak ada di rumah,'' tambahnya dengan wajah cemberut. "Baik bos! Siap!'' jawab Natarina sambil mengacungkan hormat kepada putrinya. Mendengar jawaban Ibunya yang begitu patuhnya membuat keduanya tergelak bersama. Sementara Shakira kembali ke kamar mandi untuk mencuci baju-baju yang akan di cuci, Natarina merapikan baju yang telah di setrika dan memasukkannya ke dalam plastik sesuai daftar yang ia tulis di sebuah buku catatan. 3 plastik cuci yang siap kirim telah selesai ia rapikan. Natarina menitikkan air matanya melirik punggung Shakira yang sedang bekerja keras menyikat beberapa baju berat dan besar, terdengar bunyi gesekan sikat yang menggesek baju berbahan jins diiringi kucuran air dari kran yang mulai memenuhi ember-ember besar di kamar mandi tersebut. Wanita setengah baya itu mendesah pilu saat kembali terkenang akan masa-masa indah bersama suami dan Ayah mertuanya sebelum kecelakaan tragis merenggut keduanya dalam waktu bersamaan. Ketika itu Shakira masih berumur 12 tahun, bertepatan ia memasuki tahun ajaran baru di sekolah menengah pertamanya. Saat itu ia sangat senang telah diterima di sekolah unggulan dengan nilai yang bagus, walaupun ia bisa saja menggunakan koneksi dan kekuasaan Kakeknya. Namun, ia lebih suka mendapatkannya dengan kerja keras seperti yang selalu diajarkan oleh Kakeknya. Namun tak berapa lama Shakira mendengar kabar tentang kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Ayah dan Kakeknya ketika mereka melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Belum lama keduanya dimakamkan, Shakira harus menghadapi sebuah masalah besar tentang hutang perusahaan yang ditinggalkan Ayahnya yang membuat Ibunya mengalami stres berat dan mendapat serangan jantung. Walau akhirnya Ibunya selamat dari kondisi kritisnya, namun mereka harus kehilangan rumah besar dan seisinya demi menutup semua hutang yang terlalu besar untuk ditanggung mereka. Shakira dan Ibunya yang terusir dari rumahnya sendiri memutuskan untuk pergi. Namun tak hanya sampai di situ saja, ia harus berpindah-pindah rumah dan Sekolah demi menghindari orang-orang yang terus mengejar mereka karena menginginkan Shakira. 7 tahun berlalu kini mereka bisa hidup tenang tanpa kejaran orang-orang yang menginginkan Shakira. Apa pun alasan mereka, Natarina tak ingin menyerahkan Putrinya sebagai penebus kesalahan Suami dan Ayah mertuanya dulu. Bertahun-tahun ia mati-matian berhasil menyembunyikan Shakira. Namun karena sakit yang ia derita, membuat keadaan berbalik, Shakiralah yang kini menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pelindungnya. Hal itu membuatnya selalu diam-diam menangis. Ketegaran hati Shakira yang membuatnya terus tetap bisa bertahan walau hidup dengan serba kekurangan. Wanita itu tak henti-hentinya berdoa agar kesehatannya kembali membaik agar bisa meringankan beban yang harus dipikul putrinya sendirian. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 malam, Shakira baru menyelesaikan semua cucian dan menjemurnya. Gadis itu menyeringai senang dan menghela napas dengan puas saat membawa ember kosong terakhirnya. "Akhirnya selesai juga! Huwaah... Lapar...!'' Shakira meletakkan ember di tumpukan ember yang lain yang ada di sudut kamar mandi kecilnya. "Sini makan. Tadi Mama masak telur gulung kesukaanmu, Makan yang banyak.'' Ibunya menyendok nasi untuk Shakira. Setelah mencuci tangannya dengan bersih, gadis itu duduk di meja makan berseberangan dengan Ibunya. Ia menatap dengan sangat antusias telur gulung yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian di sebuah piring kecil. Tak lupa ia membubuhkan saus sambal kesukaannya di atas telur-telur itu. Keduanya makan dengan lahap di selingi canda tawa tentang kisah Shakira di kampus yang masih suka melarikan diri setiap ada acara. Walau nilai akademisnya tak terlalu menonjol namun Shakira sering menjadi juara kelas saat ia masih duduk di bangku sekolah. Nilainya jadi terus menurun karena masalah keluarga yang menimpanya selama 5 tahun belakangan. Karena sering menjadi kejar-kejaran orang-orang tak dikenal, Shakira lebih mementingkan memperdalam ilmu bela diri demi melindungi diri dan Ibunya. Walau masih mahasiswi di tahun pertama Shakira merasa ia harus melepaskan kuliahnya demi biaya pengobatan ibunya. Namun Natarina tak pernah menyukai gagasan Shakira yang ingin bekerja. Berkali-kali mereka mendebatkan masalah yang sama hingga akhirnya Shakira mengalah dan tetap kuliah di sela-sela pekerjaan paruh waktunya di restoran di sebuah mal. Setelah menyelesaikan makan malam, Shakira mengemasi piring-piring kotor mereka ke dapur untuk di cuci. Lalu setelah ia memastikan Ibunya minum obat dan multivitamin, Shakira membawa bungkusan-bungkusan cucian untuk di antarkan kepada para pelanggan yang merupakan tetangga yang tinggal di sekitar rumah susun itu. Sambil membawa tas besar di tangan kanan dan kirinya, ia pergi ke beberapa tempat yang telah dicatatkan oleh ibunya. Tak butuh waktu lama Shakira telah berhasil memberikan baju-baju cucian itu serta mendapatkan upahnya. Beberapa di antaranya memberinya bonus karena kerja Shakira dan Ibunya yang selalu tepat waktu serta Shakira mau bersusah payah untuk mengantarnya. Shakira bersenandung riang sambil menenteng satu bungkusan lagi milik seseorang yang ada di bangunan seberang rumah susunnya. Karena ingin mempersingkat waktu, gadis itu memilih jalan pintas melewati kebun kecil yang terbengkalai, namun kebun itu dimanfaatkan untuk tempat parkir bagi penghuni rumah susun dan warga sekitarnya. ‘Ibu Jasmine atau tuan Rudolf? Kok bisa mama sampai dapat pelanggan jauh begini sih? Dan sepertinya dia orang asing? Ah sudahlah. Yang penting habis ini beli makanan buat Mama,’ batin Shakira sangat senang saat ia membawa pulang banyak bonus untuk Ibunya. Saat melewati kebun kosong itu, Shakira tak menyadari beberapa pasang mata sedang menatapnya dengan tajam, hingga gadis itu memasuki halaman bangunan rumah susun yang ia tuju. Setelah menemukan alamat yang di tuju Shakira mencoba mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat. Untuk beberapa saat menunggu akhirnya pintu itu terbuka dan Shakira menghadapi sosok laki-laki asing yang sangat tampan. Walau sempat terkesima, ia tahu laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah pelanggan yang harus dijaganya, dan Shakira segera pamit dengan baik-baik walau laki-laki itu memaksanya masuk untuk sekedar minum dan makan kue. Shakira tetap menahan sabar dan berbicara baik-baik saat laki-laki itu berani menarik tangannya dengan paksa agar ikut masuk ke dalam rumah susun yang lebih mewah dari gedung yang Shakira tinggali. Akan tetapi laki-laki itu mulai merayu dan ingin mencium Shakira dengan paksa, mau tak mau Shakira mencoba berontak dan berteriak. Belum sempat laki-laki itu merengkuhnya Shakira berhasil menendang alat vital laki-laki itu dengan kuat yang membuatnya langsung tersungkur kesakitan. Hal itu dimanfaatkannya berlari meninggalkan tempat itu. Namun sial, laki-laki itu masih sempat menarik kakinya hingga membuatnya terjatuh. Shakira meronta-ronta sambil terus berteriak minta tolong. Sekali lagi Shakira berhasil menendang orang itu dan membuatnya menjauh. Di ujung lorong itu ia melihat beberapa orang memakai pakaian serba hitam berjalan cepat ke arahnya karena mendengar teriakannya. Merasakan ada yang tak beres Shakira segera berlari meninggalkan tempat itu. Ia sengaja berlari memutar arah dan memilih jalan terjauh, bahkan ia keluar dari area rumah susun itu dan menuju pasar malam yang ada di belakang gedung. Dengan napas memburu gadis itu bersembunyi dan berbaur dengan beberapa pedagang yang ramai pembeli dalam keadaan kalut dan bingung. Lalu ia memutuskan untuk memasuki tenda makan yang ada di samping pintu masuk gedung rumah susun itu. Sambil terengah gadis itu memesan minuman dingin kepada penjual makanan itu. "Loh, Shaki? Kok tumben? Sendirian saja?'' sapa Sang Penjual yang sudah mengenal Shakira dan Ibunya sejak mereka tinggal di situ. "Hah...hah... Aah iya, Bang.'' "Ada apa? Kok terengah-engah begitu?'' "Itu, tadi lihat hantu ....'' sahut Shakira seenaknya dan membuat Abang Penjual tergelak. "Baru jam 8 ini, mana ada hantu sih? Kamu ini ada-ada saja, Shaki.” Mereka tergelak bersama mendengar Shakira yang asal bicara. Untuk beberapa saat Shakira berdiam di tenda makan itu hingga ia melihat dua mobil mewah yang keluar dari gerbang rumah susun itu. ‘Siapa mereka? Apa mereka orang-orang penagih utang itu? Padahal kata Mama, perjanjiannya sudah selesai setelah mereka mengambil alih semua saham Papa dan Kakek? Lalu apa lagi?’ batin Shakira berkecamuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD