Gadis itu meninggalkan warung makan dan segera berlari pulang dengan jalan memutar, ia tak mau mengambil risiko ia akan di culik diam-diam saat ia melewati lahan kosong. Sambil membawa beberapa camilan ia mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk.
"Sayang, ke mana saja kamu, Nak? Kenapa lama sekali baru pulang?'' tegur ibunya menyongsong Shakira dengan wajah panik.
"Maaf, Ma, tadi Shaki berjalan-jalan di pasar malam, Shaki bawa camilan untuk Mama. Tadi dapat bonus lumayan dari Bu Rosa dan Tante Diana. Mereka baik ya, Ma, yuk makan,'' jawab Shakira sedikit berbohong untuk menghilangkan kepanikan Ibunya.
"Ya sudah kalau begitu. Mama kan was-was, takut Shaki kenapa-napa, apalagi kamu tidak membawa ponselmu,”
"Oh iya, ya. Maaf, Ma, Shaki pikir cuma sebentar.''
Shakira membuka roti bakar coklat keju yang masih menguarkan asap panas dan wewangian makanan itu.
"Mama... Tuan Rudolph itu siapa? Kok Mama bisa punya pelanggan itu? Baru kali ini kan Mama mencuci bajunya?'' Shakira mulai bertanya sambil menggigit sepotong roti. Gadis itu berbicara sesantai mungkin agar Ibunya tak mencurigai apa yang sudah dialaminya.
"Oh itu, Mama juga tidak tahu. Itu katanya saudara Bu Yasmin, pinjam rumah itu buat 1 minggu, katanya ada yang harus diurusnya di sekitar sini, apa begitu, Mama juga tidak paham. Jadi selama tinggal di sini, Bu Yasmin meminta Mama untuk mengurus cuciannya,'' jawab Natarina menatap Shakira dengan tatapan 'ada apa?' sambil mengunyah sepotong roti. Shakira menggeleng sambil mengangkat bahu.
"Tidak apa-apa, Ma, hanya penasaran saja.''
"Lagi pula besok orang itu mau kembali ke Australia. Kemarin Bu Yasmin menelepon Mama. Makanya tadi Mama buru-buru menyuruhmu mengantarkannya walau sudah malam.''
Shakira mengangguk tanda paham sekaligus lega mendengar penuturan Ibunya. Hanya saja, ia masih penasaran dengan beberapa laki-laki yang berpakaian serba hitam yang tiba-tiba datang menyerbunya.
Malam itu, Shakira tidur dengan gelisah. Gadis itu masih memikirkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Hal itu benar-benar merisaukannya.
‘Apa mereka berkomplot? Siapa orang-orang itu? Sudahlah, besok pagi aku harus memastikannya. Ya betul.'
Shakira tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun, hingga ketika waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari, gadis itu mulai kelelahan dan tertidur.
Pagi itu, Shakira bersiap ke kampus dengan terburu-buru, setelah menghabiskan sarapan paginya dan membawa bekal makanan, gadis itu mencium Ibunya yang sedang mencuci piring sebelum meninggalkan rumah.
Shakira berjalan tergesa-gesa menuju gedung tempat tinggal laki-laki asing bernama Rudolph. Dengan perasaan gugup, ia mencoba mengetuk pintu rumah itu. Beberapa kali ia mengetuk ternyata tak ada satu pun jawaban.
"Adik, mau apa?''
Shakira tersentak kaget saat seorang laki-laki berseragam Sekuriti menegurnya. Laki-laki berperawakan gemuk tinggi besar itu tampak bertanya-tanya.
"Begini Pak, semalam saya mengantar baju cucian, tapi saya belum mengembalikan uang kembaliannya, Pak.'' Shakira mencari-cari alasan.
"Oh begitu. Ya sudah buat kamu jajan saja, karena semalam, Tuan Rudolph sudah pergi, itu juga terburu-buru, sambil menelepon.''
Setelah mengucap terima kasih, dengan lega Shakira meninggalkan tempat itu menuju Kampusnya.
***
Karena menahan kantuk Shakira hampir saja tertidur di angkot yang ia naiki. Gadis itu berusaha mengerjap-kerjapkan matanya untuk menghilangkan kantuknya karena sebentar lagi ia harus turun.
Hingga ia merasakan ada tangan seseorang yang meraba tasnya. Dan benar saja, laki-laki bertopi yang duduk di pintu angkot menarik tasnya kuat-kuat saat ia baru turun.
"HEI....! TUNGGU....!”
Shakira berlari secepat mungkin untuk mengejar lelaki yang berhasil menjambret tasnya saat turun dari angkutan umum. Tanpa basa basi Shakira mengayunkan kedua kakinya untuk menghentikan laju lari Si Penjambret yang hanya beberapa langkah di depannya.
GUBRAK!
"ADUH!'' Pekik penjahat itu yang mendarat dengan keras di atas aspal jalanan karena tendangan Shakira. Laki-laki itu tak berkutik saat ia di bekuk oleh gadis itu dengan lutut yang mengganjal punggungnya.
Shakira berhasil mendapatkan tasnya kembali, namun pelaku kejahatan bertopi hitam itu bisa lepas dari kungkungan lutut Shakira dan berusaha menyerang gadis cantik itu. Tas terlempar dari pegangan Shakira.
Penjambret itu segera menyerang, namun Shakira mengelak dengan cepat. Walau laki-laki itu terus berusaha menyerangnya secara membabi buta.
Dengan lincah Shakira bisa menghindari beberapa tinju yang dilayangkan padanya yang membuat laki-laki jadi sangat kesal dan emosi. Hal ini membuat celah untuk Shakira melayangkan serangan balik.
Shakira menendang lutut dan paha bagian dalam laki-laki itu disusul dengan pukulan kuat-kuat ke muka lelaki itu yang membuatnya terpekik dan terhuyung.
Melihat itu, Shakira segera melayangkan siku kanannya dengan telak di rahang lelaki itu, lalu ia juga menendang perut lelaki itu dan membuatnya terjerembap tak berdaya.
Shakira menghela napas sambil menyambar tasnya yang tergeletak di jalanan, dia memperhatikan lelaki itu yang pingsan.
Shakira melenggang diiringi tatapan kagum dan pujian riuh rendah beberapa orang yang melihat aksinya itu. Shakira hanya tersenyum seraya buru-buru meninggalkan tempat itu karena jam menunjukkan pukul 6.50 pagi. Itu menandakan ia hanya punya waktu 10 menit lagi untuk sampai di Kampus sebelum gerbang ditutup.
‘Gawat! Hari ini kan jadwalnya Tuan Black! Sumpah! Bisa-bisa aku di hukum pancung dengan tugasnya!’ batin Shakira membayangkan wajah Dosennya yang bernama Albert yang berkulit gelap dan bertampang seram, makanya laki-laki itu mendapat julukan Tuan Black oleh anak didiknya.
Akan tetapi, larinya terhenti seketika saat ia melihat seorang pemuda yang sedang di ganggu oleh 2 orang preman di sebuah gang sempit tepat di samping tembok Kampusnya.
"Apa-apaan!'' Shakira terbelalak saat salah seorang preman itu memukul wajah Si Pemuda yang terlihat pasrah. Dengan kesal Shakira memutar langkahnya mendekati mereka.
"Hei kalian! Pergi dari sini!'' ancam Shakira sambil menodongkan sebuah potongan kayu yang ia pungut di jalanan.
Kedua preman itu dan Si Pemuda menoleh kaget ke sumber suara. Melihat sosok Shakira yang cantik dan terlihat kurus kedua preman itu terkekeh.
"Anak manis mencoba menakut-nakuti kami rupanya'' celoteh preman berbadan bongsor.
"Aduh, aduh jangan bermain kayu, nanti tanganmu yang lembut bisa terluka, Sayang, sini yuk main sama om?'' bujuk preman berbadan tegap dan bertampang seram melangkah mendekat Shakira.
"Najis!'' bantah Shakira sambil mengayunkan kayunya kepada Si Tegap.
Namun dengan mudah ayunan Shakira ditangkapnya, dan kini mereka saling tarik menarik. Dengan sekuat tenaga Shakira menarik kayu itu dan saat Si Tegap menariknya kembali Shakira melepaskannya begitu saja, hal itu membuat si preman kaget dan jatuh terjengkang di hadapan Shakira.
"BOCAH KURANG AJAR!" bentak si bongsor yang langsung mengayunkan tangannya untuk menangkap lengan kecil Shakira. Namun dengan lincah gadis itu mengelak dan menendang dengan kuat tepat di tempat vital laki-laki itu. Tak ayal preman bongsor itu berlutut memegangi alat vitalnya dan mengerang kesakitan.
Si Tegap terbelalak kaget mendapati temannya yang begitu kesakitan. Kini ia sangat kesal dan mencoba menyerang Shakira dengan mengayunkan tinjunya kepada gadis cantik itu. Shakira mengelak dengan tenang dan menyerang balik preman itu namun bisa ditangkis dengan mudah pula oleh laki-laki itu.
"ITU PAK! ITUUUU!"
Perkelahian itu terhenti karena Si Pemuda berlarian bersama petugas Sekuriti Kampus dan beberapa warga yang kebetulan melintas. Melihat hal itu preman berbadan tegap segera melarikan diri meninggalkan temannya yang masih menahan sakit akibat tendangan Shakira.
Sementara preman itu diamankan, Shakira berjalan memasuki gedung kampus dengan napas terengah, ia mengusap peluh yang bercucuran.
"Shakira! Tunggu!''
Shakira menoleh dan mendapati Pemuda yang ia tolong berlari mengejarnya. Mereka berdiri saling berhadapan.
"Kau mengenalku?' Shakira mengernyit bingung. Pemuda itu tersenyum dan mengeluarkan sebuah sapu tangan yang indah dan mengusap wajah Shakira yang berpeluh. Shakira tersentak kaget dan mundur selangkah.
"Maaf. Apa kau baik-baik saja?'' tanya Pemuda itu tanpa menjawab pertanyaan Shakira sambil memaksa Shakira menerima sapu tangan yang ia pegang. Shakira menerimanya dengan enggan.
"Terima kasih. Ya, aku baik-baik saja,” ucap Shakira kembali berjalan di koridor kampus.
"Kau sangat hebat tadi! Terima kasih! Hanya saja harusnya kau tak perlu melakukan itu, kan? Cukup beri saja mereka sedikit uang, mereka akan pergi. Bagiku itu tak masalah sebenarnya.''
"Apa?" Shakira menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Pemuda itu.
Ia memandang terbelalak kepada Pemuda yang kini ia baru sadari sepenuhnya bahwa ia belum pernah melihat sosok setampan itu di Kampusnya. Walau dengan baju sederhana yang tak terlalu mencolok tapi ada kesan mewah dan tak biasa yang terpancar dari Pemuda di hadapannya itu. Dan, ya! Shakira tak pernah melihat Pemuda itu sebelumnya di lingkungan kelasnya.
Walau Shakira bukanlah jenis gadis dalam lingkup anak-anak populer di Kampus, namun ia tak akan tidak mengenali sosok tampan dan sangat menawan yang berdiri di hadapannya.
Sosok yang terlalu menonjol untuk dilupakan begitu saja, dengan raut wajah elok sempurna, rambut kecokelatan dan mata coklat jernihnya di atas kulitnya. Sosok itu akan jadi sumber keindahan sekaligus sumber malapetaka di Kampus kecilnya.
"Benarkan apa yang aku bilang? Untung aku segera mendapat bantuan, kalau kamu sampai terluka bagaimana? Padahal mungkin mereka cuma mau seratus atau dua ratus ribu saja. Bagiku tak masalah.''
"Hei, dengar ya Tuan Sultan! Ini bukan masalah duit! Mungkin bagimu uang itu tak berarti tapi mereka akan terus merajalela kepada anak-anak di Kampus ini! Dan tidak semua anak kuliah sekaya KAMU!'' bentak Shakira mengentakkan tangannya dengan kesal sambil meninggalkan Pemuda tampan itu yang masih berusaha mencerna ucapannya.
Shakira terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Pemuda tadi yang kini harus pergi karena kedatangan seseorang. Shakira sempat melirik dari sudut matanya sebelum Pemuda itu menghilang di balik pintu Dosen bersama seseorang berpakaian jas hitam lengkap.
‘Siapa sih? Sombong sekali! Sok kaya! Eh... Tapi, tapi, bagaimana dia tahu namaku? Dia fakultas apa?’