Bab 41

1496 Words
Anton dan Solihin bergegas masuk ke dalam losmen untuk menemui Pak Rondo di ruangannya. "Gua agak gugup nih, Nton..." ucap Solihin lirih sambil berjalan bersama Anton menuju ke ruangan manager dimana Pak Rondo sudah menunggu. "Gugup kenapa emang?! "Ya, lu tau sendiri kan, kalau Pak Rondo marah...?!" "Kan, Pak Rondo emang biasa marah-marah, Hin," sahut Anton berdiri tepat di depan pintu ruangan manager dan hendak mengetuk pintu. "Jangan, Nton!" Solihin menahan tangan Anton. "Apa lagi sih?! Ya, kalau emang kita ada salah, kita hadapin aja, Hin. Daripada ngehindar mulu. Toh, nggak nyelesain masalah, kan?" ucap Anton kemudian memaksa mengetuk pintu ruangan manager. Tok Tok Tok!! Anton mengetuk pintu ruangan manager. "Aduh!" Sontak Solihin langsung menepuk jidatnya. "Masuk!" seru Pak Rondo terdengar samar dari dalam ruangannya. Anton dan Solihin pun masuk ke dalam ruangan manager di mana mereka melihat Pak Rondo yang sedang duduk di atas kursi di belakang meja kerjanya. "Maaf, Bos... Tadi, kata Bambang, 'Bos manggil kita berdua' ya?" tanya Anton pelan sambil berdiri bersebelahan dengan Solihin di depan meja. "Iya Nton." Pak Rondo mengangkat wajahnya menatap ke arah Anton dan Solihin, "Kalian kemana aja sih?! Kok saya cariin dari tadi nggak ada?!" "Tadi saya sama Solihin makan dulu Bos," jawab Anton pelan, "Di warungnya Pak De," sambungnya. "Iya, Bos. Soalnya dari tadi sore saya belum makan," tambah Solihin tersenyum cengengesan. "Makan kok lama banget!" bentak Pak Rondo seketika beranjak dari tempat duduknya, sementara Anton dan Solihin merasakan hujan lokal yang menyembur ke arah mereka bersamaan dengan bentakan Pak Rondo. "Terus kalau kalian makan, siapa yang gantiin kerjaannya kalian?! Bambang?! Kerjaan dia aja belum kelar! Emang bisa dia nanganin kerjaan kalian berdua sendiria!" bentak Pak Rondo lagi masih bersamaan dengan hujan lokal yang menyembur ke arah Anton dan Solihin. Anton dan Solihin hanya tertunduk diam pasrah merasakan hujan lokal yang menimpa mereka sambil sesekali saling menatap satu sama lain dan sesekali saling menyenggol dengan bahu mereka. "Berapa kali sudah saya bilang, kalau mau makan jangan lama-lama! Kan, bisa gantian! Memang kalian berdua aja yang malas!" bentak Pak Rondo yang masih bersamaan dengan hujan lokal buatannya. Kemudian Pak Rondo perlahan kembali duduk. Seketika Anton dan Solihin pun merasa lega sambil memusut-musut d*da mereka. "Syukur deh, hujannya udah reda," ucap Solihin lirih sambil menyenggol bahu Anton. Namun, Pak Rondo kembali beranjak berdiri sehingga sontak membuat Anton dan Solihin merasa takut kembali dengan hujan lokal yang akan menimpa mereka. "Kalian contoh Bambang dong. Kalau makan sama minum nggak pernah lama..." ucap Pak Rondo mulai menurunkan nada bicaranya. Anton dan Solihin pun merasa lega kembali. "Yee, itu sih emang si Bambangnya aja yang rakus, Bos," sahut Solihin, Iya kan, Nton?" sambung Solihin sambil menyenggol bahu Anton. "Iya Bos, Bambang kan, emang rakus makanya makannya cepat," tambah Anton seketika. "Ah! Sudah! Enggak usah kebanyakan alasan! Kalian cepetan lanjut kerja! Sudah banyak tamu yang nungguin!" bentak Pak Rondo lagi sehingga kembali membuat hujan lokal yang menyembur ke arah Anton dan Solihin. "Iya, Bos!" ucap Solihin kemudian bergegas keluar dari ruangan manager sambil menarik tangan Anton menuju ke pintu jalan pintas menuju ruang tunggu karyawan, "Cepetan, Nton!" bisik Solihin, "Lu nggak mau kena semburan hujan lokal lagi, kan?!" bisik Solihin lagi sambil hendak membuka pintu jalan pintas menuju ruang tunggu karyawa. "Eh eh eh!" Seru Pak Rondo lagi yang seketika membuat langkah Anton dan Solihin terhenti. Anton dan Solihin dengan hati-hati berbalik badan ke arah Pak Rondo. "Ada apa lagi ya, Bos?" tanya Anton hati-hati. "Kalian mau kemana?" sahut Pak Rondo balik bertanya. "I-iya keluar, Bos," jawab Anton. "Kan, meja resepsionis bukan lewat situ!" seru Pak Rondo. "Oh, iya, Bos..." Anton dan Solihin memutar haluan lalu lanjut berjalan ke arah pintu yang mengarah langsung menuju ke meja resepsionis. Anton dan Solihin merasa lega setelah berhasil keluar dari ruangan Pak Rondo. "Duh...! Tadi itu beneran hujan, Hin?" tanya Anton kesal sambil mengusap wajahnya yang terasa sedikit basah. "Nah, itu dia yang mau gua bilang, Nton!" sahut Solihin, "Kalau cuman ngebentak sih gua biasa aja. Yang nggak biasa itu hujan lokalnya!" tambah Solihin. "Kok gua jadi kesel sama Bambang sih!" ucap Anton geram. "Iya, gua juga." Solihin ikut geram. "Padahal kan, emang si Bambangnya aja yang rakus," ucap Anton kesal. "Eh, bentar deh Nton, perut gua kok kayak mules ya?!" ucap Solihin seketika memegang perutnya yang terasa melilit kemudian langsung berjalan menuju kamar kecil yang ada di dapur, "Lu duluan aja, Nton. Entar gua nyusul!" seru Solihin sambil berjalan menjauh dari meja resepsionis dimana Anton berada. "Iya deh, Hin. Buruan ya!" sahut Anton kemudian berjalan menuju ke ruang tunggu karyawan untuk mengambil lap kecil dari dalam tasnya yang ada di atas kursi di ruang tunggu karyawan dan langsung mengusapkannya ke wajahnya, "Wah, itu kan si Bambang," gumam Anton pelan saat membuka pintu ruang tunggu karyawan dan melihat Bambang yang sedang dengan nikmatnya menyantap gorengan, "Makan gorengan lagi. Apa nggak kenyang-kenyang ya dia?! Emang dasar rakus tuh anak," gumam Anton lagi sambil menahan tawanya. Bambang yang sedang asik menyantap gorengannya dengan penuh rasa nikmat tidak sadar bahwa ada Anton yang sedang berdiri memperhatikannya. "Duh, kok perut gua juga jadi mules gini ya?" gumam Anton dalam hati. Anton menahan rasa sakit perutnya dengan tingkahnya yang seperti menggeliatkan pinggangnya sehingga tingkahnya itu membuat Bambang sadar bahwa Anton juga berada di dalam ruang tunggu karyawan. 'Ngapain sih, tuh si Anton kok badannya gerak-gerak begitu, kayak penari aja?' pikir Bambang bingung sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Anton tiba-tiba berlari ke luar dari ruang tunggu karyawan menuju dapur sehingga membuat Bambang merasa heran saat melihat tingkah Anton tadi. "Ada-ada aja tuh si Anton..." ucap Bambang lirih sambil menggeleng kemudian melanjutkan makan gorengan yang ada di dalam piringnya dengan sangat lahap, "Kecepirit kali ya si Anton," ucap Bambang lagi sambil tertawa kecil dan mengunyah gorengan yang telah digigitnya, 'Eemmm. Enak banget nih rasa gorengannya Bu Mimin, besok aku mau beli lagi ah!' pikir Bambang sambil merasakan gurihnya gorengan yang dikunyahnya, "Loh! Kok gorengannya abis?" Tiba-tiba Bambang merasa bingung saat ingin menjumput gorengannya dari atas piring kecil di tangannya, "Bukannya aku tadi pagi belinya sepuluh biji ya?! Kan, aku baru makan sembilan biji?" ucap Bambang lirih sambil mengingat-ingat jumlah gorengan yang sudah dimakannya, "Beneran! Aku baru makan sembilan biji!" Bambang sangat yakin dengan ingatannya, "Terus, satu biji lagi kemana?" Bambang membolak balik piring kecil di tangannya berharap kalau satu biji gorengan itu menyelip di bawah piring, lalu menengok ke lantai dan ke bawah kursi, "Enggak ada!" Bambang bingung kemana satu gorengannya itu pergi. Bambang terus saja berpikir dan berulang kali mengingat jumlah gorengan yang dia makan, tapi tidak juga menemukan dimana kesalahannya sehingga gorengannya berkurang satu biji. "Oh, mungkin aku salah hitung kali ya," ucap Bambang mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Ya udah ah, lanjutin kerja dulu," ucap Bambang lagi kemudian mengambil sapu dan pel yang ada di sudut ruang tunggu karyawan. Sementara saat Bambang membersihkan dan merapikan kamar-kamar kosong yang sudah di tinggal cek-out oleh pengunjung losmen, sedangkan Solihin dan Anton sama-sama berada di dapur sedang memperebutkan kamar kecil karena perut mereka terasa sakit. "Hin! Cepetan dong! Gua udah nggak tahan lagi nih! Bisa kecepirit gua!" teriak Anton berdiri di depan pintu kamar kecil sambil terus memegangi perutnya yang masih terasa mules. "Bentar, Nton! Perut gua juga masih mules banget nih!" teriak Solihin dari dalam kamar kecil. "Duh....! Anton meringis menahan rasa melilit di perutnya, "Kok bisa barengan gini sih?! Mana kamar kecil yang ada WC-nya cuman satu lagi, jadinya gantian gini deh!" gerutu Anton kesal. Tak lama kemudian, Solihin perlahan keluar dari kamar kecil dan Anton segera masuk ke dalam kamar kecil sambil menarik tubuh Solihin yang berjalan dengan lambat keluar dari kamar kecil. "Dih, ngegas nih anak," sahut Solihin seraya menghindari dorongan kasar dari Anton. Solihin merapikan bajunya, kemudian berniat untuk kembali bekerja dan berjalan keluar dari dapur, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti perutnya yang kembali terasa mules. "Nah loh, kenapa lagi nih perut? Kok bisa mules lagi ya?!" ucap Anton kemudian memegang perutnya dan berbalik arah kembali menuju kamar kecil di dalam dapur losmen. Dug Dug Dug! Solihin menggedor pintu kamar kecil dengan keras. "Nton! Buruan!" teriak Solihin sambil terus menggedor-gedor pintu kamar kecil dengan keras. "Bentar!" teriak Anton dari dalam kamar kecil, "Lagian ngapain lagi sih lu mau makai kamar kecil?! Kan, tadi udah?!" sambung Anton masih berteriak. "Nggak juga nggak tau! Perut gua mules lagi, Nton!" sahut Solihin dari depan pintu kamar kecil, "Mungkin gara-gara tadi minum es kali, malam-malam begini, Nton. Makanya kita jadi mules!" tambah Solihin menjelaskan sambil terus memegang perutnya yang terasa melilit. Beberapa saat kemudian Anton pun selesai dengan urusannya di kamar kecil dan bergantian dengan Solihin yang kembali masuk ke dalamnya. "Mendingan lu tunggu di sini aja deh Nton, dari pada bolak-balik, siapa tau perut lu mules lagi sama kayak gua," ucap Solihin sambil buru-buru masuk ke dalam kamar kecil. "Iya deh, mending gua duduk di sini aja dulu," sahut Anton kemudian duduk pada sebuah kursi kecil yang ada di dapur losmen. Sementara itu Bambang tetap menjalani pekerjaannya dengan santai sambil mengingat bayangan Lala yang seakan menemaninya saat bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD