Bab 40

2747 Words
Pak De sudah selesai membuatkan es kopi hitam kemudian meletakkannya di samping piring tepat di hadapan Bambang. "Nih, silahkan diminum, Mbang, es kopi hitamnya," ucap Pak De. "Iya Pak De," sahut Bambang sambil terus menyumpal mulutnya dengan nasi dan mie. Pak De duduk sambil menatapi Bambang yang dengan lahapnya menyantap makanan di depannya, 'Nih anak, yang di dalam mulut aja masih belum selesai dikunyah, tapi dia terus-terusan masukin makanannya ke dalam mulut.' Pak De menenguk liur sambil menggeleng heran melihat Bambang, "Kamu makannya lahap juga ya, Mbang. Apa sih rahasianya, jadi sampai lahap begitu?" tanya Pak De penasaran. "Enggak ada, Pak De." Bambang menjawab singkat kemudian kembali menyumpal mulutnya dengan makanan sambil sesekali menyeruput es kopi hitam kesukaannya. Setelah menghabiskan nasi bungkus yang berkolaborasi dengan mie instan, Bambang mengambil gelas berisi es kopi hitam di depannya kemudian langsung meneguknya hingga habis, bahkan sampai ke ampas kopinya. Bambang membuka mulutnya, dan bunyi sendawa keras pun terdengar di telinga Pak De yang seketika menunjukkan ekspresi geli sekaligus jijik. "Saya lanjut kerja lagi ya, Pak De." Bambang beranjak dari kursi, "Sekali lagi, terima kasih ya, Pak De," ucap Bambang lagi dengan tersenyum puas menatap ke arah Pak De. "Iya Mbang, sama-sama." Pak De mengangguk kemudian membereskan piring dan gelas yang tadi digunakan Bambang, "Mbang, tuh mulutnya jangan lupa di lap, masih belepotan itu," sambung Pak De memberitahu Bambang bahwa pinggir mulutnya masih penuh dengan beberapa butir nasi yang tadi dia makan dan seketika Bambang tersenyum kesal ke arah Pak De sambil menyapu bekas makanan di mulutnya dengan lengan kanannya, lalu melangkah dengan cepat menuju losmen. Saat Bambang ingin masuk ke dalam losmen, ia berpapasan dengan Anton dan Solihin yang keluar dari losmen. "Mbang..." Anton dan Solihin menyapa Bambang. Namun, Bambang hanya mengangguk dan langsung masuk ke dalam losmen. "Gue makan nasi bungkus aja nih, Nton." Solihin duduk di atas kursi panjang di warung Pak De sambil meraih sebuah nasi bungkus. "Lah, kan emang lu biasa makan nasi bungkusnya Pak De, Hin?" ejek Anton ikut duduk tepat di sebelah Solihin. "Iya kamu, Nton. Bukannya kamu emang biasa makan nasi bungkus saya...?" tanya Pak De ikut-ikutan mengejek. "Emang sih. Tapi, padahal hari ini tuh saya lagi nggak selera makan nasi, Pak De. Eh! Pas tadi ngeliat Bambang makan nasi bungkus, malah saya jadi ngiler," sahut Solihin menatap Pak De sambil meraih sebilah sendok yang tersusun dalam sebuah wadah di atas meja kemudian menoleh ke arah Anton yang duduk di sampingnya, "Serius gua, Nton." "Jadi, tadi Bambang makan nasi bungkus ya, Pak De?" tanya Anton. "Iya Nton." jawab Pak De, "Minumnya apa nih?" sambung Pak De. "Saya air putih aja deh, Pak De." ucap Anton sambil meraih sebuah gelas plastik yang kemudian menuangkan air dari sebuah teko kecil ke dalam gelas plastik itu. "Iya, saya juga, Pak De," tambah Solihin sambil meraih sebuah piring yang tersusun rapi di atas meja, "Tadi pas waktu gua ngasih celana ke Bambang, dia duduk sendirian di sini sambil makan nasi bungkus," sambung Solihin menatap Anton sambil meletakan nasi bungkusnya di atas piring. "Kalau gitu Gue makan mie instan aja deh, biar nggak sama kaya si Bambang," sahut Anton tertawa kecil, "Pak De, mie yang itu ya..." Anton menunjuk ke arah sebungkus mie instan yang isinya dobel di dalam kaca etalase di atas meja. "Iya, sebentar ya... Saya rebusin dulu." Pak De mengambil sebungkus mie instan yang tadi di tunjuk oleh Anton kemudian merebusnya di atas panci kecil yang sudah berisi air. "Lu makan aja duluan, Hin..." ucap Anton. "Nggak, gua nungguin lu aja, kan rame kalau barengan makannya..." sahut Solihin. "Ah lu! Alasan! Bilang aja lu mau minta mie gua..." ejek Anton. "Emangnya gua Bambang..." sahut Solihin sambil tertawa kecil. Tak lama kemudian mie instan pesanan Anton pun matang dan Pak De langsung menghidangkannya tepat di depan Anton. Solihin dan Anton pun mulai makan. Sementara itu, Pak De sedang duduk sambil memperhatikan Solihin yang sedang menyantap nasi bungkus, 'Bukannya Bambang tadi ngasih tahu kalau Solihin yang beli nasi bungkus... Tapi kata Solihin, dia baru aja makan... Ini yang bener yang mana sih?! Duh! Kok jadi saya yang bingung! Apa iya Solihin makan nasi bungkus dua kali? Oh, mungkin tadi dia nggak makan kali ya sebelum berangkat kerja,' pikir Pak De sambil memusut kening kanannya dengan jari telunjuk. "Tumben kamu, Hin?" ucap Pak De karena tidak tahan dengan rasa penasarannya. "Tumben apa, Pak De?" Solihin merasa bingung dengan ucapan Pak De. "Iya tumben, biasanya kan, kamu cuma makan satu nasi bungkus aja. Tapi kok, hari ini tumben kamu makan dua kali?" sahut Pak De kemudian bertanya. "Yah emang satu bungkus kan, Pak De. Kan, saya baru aja kesini," jawab Solihin heran dengan pertanyaan Pak De yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Loh, tadi kata Bambang, bukannya kamu udah makan nasi bungkus, Hin?" ucap Pak De menatap penuh selidik ke arah Solihin. "Mana ada, Pak De!" seru Solihin membela diri, "Kan, saya baru makan ini. Bukannya dari tadi yang makan itu Bambang, Pak De?" sambung Solihin kemudian bertanya. "Iya sih... Tapi, kata Bambang tadi sih begitu," ucap Pak De masih merasa tidak yakin dengan perkataan Solihin. "Ooh... Tadi saya emang kesini buat ngasih celana ke Bambang. Nah, kebetulan Bambang lagi makan. Ya saya kasih aja uang buat bayarin nasi bungkusnya dia, Pak De," sahut Solihin menjelaskan. "Hah!" Pak De langsung membelalakan matanya karena terkejut setelah mendengar penjelasan dari Solihin, "Jadi, tadi itu Bambang juga yang udah makan dua nasi bungkus?" sambung Pak De masih dengan raut wajahnya yang heran. "Ya iyalah, Pak De," sahut Solihin. "Wah, ternyata Bambang udah bohongin saya nih!" ucap Pak De kesal. "Emangnya tadi Bambang bilang apa sama Pak De?" selidik Solihin penasaran. "Tadi, waktu saya balik dari mushola, kan saya liat kalau nasi bungkusnya kurang satu bungkus. Jadi saya tanya aja sama Bambang 'siapa yang makan nasi bungkus' karena nasi bungkusnya berkurang satu, ya dia bilangnya sih, kamu yang makan, Hin. Terus dia kasih duit sepuluh ribuan sama saya," jawab Pak De seketika menjelaskan. "Pak De kayak nggak tahu si Bambang aja," sahut Anton yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Solihin dengan Pak De, "Kan udah biasa, Bambang emang maruk makannya, mana cukup kalau cuman makan nasi satu bungkus," tambah Anton, "Makanya saya cuman makan mie instan, biar nggak sama kayak Bambang," sambung Anton lagi kemudian tertawa kecil. "Kata siapa kalau Bambang nggak makan mie instan?" Pak De menyahut dengan nada mengejek yang sontak membuat Anton menjadi heran dan seketika mengurungkan niatnya untuk segera menyantap mie instan di hadapannya, "Tadi, Bambang nggak cuman makan nasi, Nton. Mie instan yang isinya dobel sama kayak punya kamu juga dia makan," sambung Pak De kemudian mengangkat sedikit senyum dan kedua alisnya sambil menyeret matanya ke arah Anton. "Hah!" Sontak Anton dan Solihin sama-sama langsung terkejut setelah mendengar ucapan Pak De. "Wah! parah banget emang, rakusnya udah melebihi maximum," ucap Anton dan kemudian tertawa karena membayangkan tingkah Bambang yang menurutnya sudah melewati batas orang normal. "Jangan-jangan, apa gara-gara tadi dia ngompol di celana ya, Nton? Bisa jadi tambah rakus gitu...." Kemudian Solihin ikut tertawa. "Hah! Emangnya bener Bambang tadi ngompol di celana?" Sontak Pak De langsung membelalakkan kedua matanya. "Beneran, Pak De!" seru Anton. "Iya, tapi sebelum kesini dia udah bersihin celananya kok, Pak De," tambah Solihin. "Pantesan tadi waktu di sini saya liat celananya kayak basah begitu," ucap Pak De kemudian merapatkan bibirnya untuk menahan tawa, "Terus, saya juga agak nyium bau-bau nggak enak, kayak ada bau-bau pesing begitu," lanjut Pak De dengan ucapannya yang tadi terhenti ketika menahan tawanya. "Lah, kalau masih kecium baunya, bisa jadi kalau celananya itu cuman di basahin aja!" seru Anton. "Iya kali, makanya masih bau pesing!" tambah Solihin. "Ah udah ah! Jangan bahas itu lagi, entar selera makan gua bisa ilang!" Anton mulai merasa kehilangan selera makannya. "Iya Nton, kita lanjut makan lagi," sahut Solihin. Anton dan Solihin pun lanjut makan. Saat makan, tampak Solihin yang sambil sesekali menoleh ke arah smartphone-nya yang ada di atas meja menatap layar smartphone dan menonton sebuah video pada aplikasi streaming berwarna merah. Sedangkan Pak De sedang membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang menunggu Anton dan Solihin selesai makan. "Wah! Coba lihat nih Nton, ada kopi yang lagi viral!" seru Solihin yang tiba-tiba membuat Pak De terkejut dan langsung beranjak duduk. "Kopi apaan emang?" tanya Anton penasaran kemudian ikut menatap layar smartphone Solihin yang ada di atas meja. "Namanya 'Es Kopi Hitam', katanya punya sensasi yang bisa bikin selera makan jadi nambah!" seru Solihin. "Es Kopi Hitam?" ucap Anton lirih dan merasa heran, "Kayaknya gua nggak asing deh sama 'Es Kopi Hitam'. Hmmm, bentar deh gua ingat-ingat lagi." Anton terdiam sambil mengerutkan kedua keningnya untuk mengingat sesuatu yang berhubungan dengan 'Kopi Viral' yang dikatakan Solihin. "Ya iya lah, kalau lu nggak asing sama nih kopi. Kan, nih es kopi hitam lagi viral banget, Nton!" sahut Solihin kemudian mendorong pelan kepala Anton yang sejak tadi masih mencoba mengingat. "Nggak Hin, gua beneran ngerasa nggak asing sama tuh kopi, tapi dimana ya? Gua nggak ingat," ucap Anton terus mengingat sambil menggigit bibir bawahnya. "Ya ini... Lah! Kan, ini lu lagi liat, Nton," sahut Solihin kemudian tertawa dengan gelak menertawakan Anton yang pikirannya mulai melambat, "Gua penasaran sama rasanya. Coba minta dibikinin sama Pak De, deh.." sambung Solihin kemudian menoleh ke arah Pak De yang sejak tadi sedang mencuci piring yang sudah dipakai, "Pak De!" seru Solihin memanggil dengan semangat. "Iya, bentar?" sahut Pak De bertanya kemudian berbalik badan ke arah Solihi. "Pesan kopi viral satu Pak De!" seru Solihin lagi. "Kopi viral?" Pak De langsung menunjukkan raut wajahnya yang merasa bingung, "Saya nggak punya kopi viral, Hin," sambung Pak De masih merasa heran. "Itu Pak De... Maksud saya es kopi hitam!" seru Solihin. "Es kopi hitam?" Pak De semakin merasa heran, "Tadi kopi viral, sekarang es kopi hitam. Duh! Saya nggak ngerti sama viral-viralan, Hin." Pak De menggaruk pelan bagian belakang lehernya. "Viral itu artinya heboh, Pak De," ucap Anton memberitahu. "Ooohh...." Pak De mulai mengangguk faham. "Beh! Pak De sih, kudet! Alias kurang update! Ini es kopi hitam lagi viral banget, Pak De! Nih coba nih, Pak De lihat," ucap Solihin seketika berdiri dan mengarahkan layar smartphone nya mendekatkan ke arah Pak De yang agar bisa melihatnya dengan jelas. Pak De menatap layar smartphone milik Solihin dengan serius, "Lah kok bisa ya Hin, es kopi hitam jadi viral begini, emang apa enaknya?" Rasa heran Pak De semakin menjadi setelah melihat bukti bahwa es kopi hitam menjadi viral dari layar smartphone Solihin. "Mana saya tahu Pak De... Makanya saya mau nyobain dulu biar tahu gimana rasanya, penasaran sama sensasinya juga, Pak De," jawab Solihin. "Iya, iya. Sebentar saya bikin dulu ya," sahut Pak De kemudian berbalik badan dan membuat es kopi hitam yang viral itu. "Saya juga pesan es kopi hitamnya satu ya, Pak De!" seru Anton yang juga merasa penasaran dengan rasa kopi viral itu. "Siap Nton!" sahut Pak De dengan mengarahkan tangan dan mengacungkan ibu jarinya ke arah Anton tanpa menoleh ke belakang sambil membuat kopi viral yang dipesan Anton dan Solihin, "Nih, kalian cobain es kopi hitam buatan saya," ucap Pak De sambil meletakkan dua gelas berisi es kopi hitam yang viral di atas meja tepat di hadapan Anton dan Solihin. "Terima kasih ya Pak De," sahut Anton. "Wah! Pasti enak nih ya." Solihin tersenyum semringah, "Cobain dulu ah!" ucap Solihin yang penasaran kemudian dengan cepat langsung meraih gelas berisi kopi viral di depannya dan menyeruputnya. Solihin mulai mengecap-ngecap lidahnya merasakan kopi hitam itu dan juga merasakan sensasi dari tetesan es kopi hitam yang menyentuh lidahnya. Sementara Anton dan Pak De menatap tajam yang penuh dengan rasa penasaran ke arah Solihin yang masih merasa-rasa es kopi viral itu di lidahnya. "Bagaimana rasanya, Hin?" tanya Pak De tidak sabar dengan pendapat Solihin, "Enak nggak?" sambung Pak De lagi. "Iya nih, gimana sih rasanya? Gua juga udah nggak sabar pengen tahu rasa sensasinya gimana gitu?" ucap Anton. "Yee... Kenapa nggak lu cobain aja sendiri?! Lu kan juga pesan!" sahut Solihin yang masih merasakan es kopi hitam di lidahnya. "Oh iya ya, Gua lupa, haha!" ucap Anton kemudian tertawa sambil menggaruk kepalanya. Sementara itu di dalam losmen tepat di dalam ruang tunggu karyawan, tampak Bambang sedang dengan nikmatnya menyantap gorengan yang tadi di bawanya. Namun, tiba-tiba Pak Rondo langsung masuk ke dalam ruang tunggu karyawan dan seketika menghampiri Bambang. "Mbang?! Yang lain pada kemana?!" tanya Pak Rondo. "Mungkin lagi di depan, Bos," jawab Bambang sambil terus menyantap gorengan di atas piring kecil yang di pegangnya tanpa menatap ke arah Pak Rondo yang berdiri di hadapannya. "Di depan?! Maksud kamu di mushola seberang?!" tanya Pak Rondo lagi. "Bukan, Bos," sahut Bambang dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya masih penuh dengan gorengan. "Kalau ngomong itu yang jelas...!" Pak Rondo mulai kesal dengan tingkah Bambang yang tidak menunjukkan rasa hormat kepadanya, ditambah lagi dengan tidak adanya Anton dan Solihin, "Ya sudah! Kamu samperin Anton sama Solihin ke depan! Bilang kalau saya nyari!" ucap Pak Rondo dengan nada yang sedikit meninggi, "Cepat!" sambung Pak Rondo membentak sambil berkacak pinggang. "I-iya, Bos." Bambang langsung beranjak dari tempat duduk dan terburu-buru meletakkan piring kecil berisi gorengan ke atas tempat duduknya lalu berjalan cepat keluar dari ruang tunggu karyawan meninggalkan Pak Rondo bersama gorengannya yang masih tersisa empat potong. Pak Rondo menoleh ke arah kursi dimana Bambang meletakkan piring kecil berisi empat potong gorengan, "Wah... Pas banget nih buat ganjel perut..." ucap Pak Rondo lirih sambil tersenyum lebar kemudian mengambil sepotong gorengan yang ditinggalkan Bambang lalu membawanya ke ruangannya. Sementara di warung yang ada di depan losmen, Anton mulai menyeruput es kopi viral pesanannya dan mulai mengecap-ngecapnya di lidah sama seperti yang dilakukan Solihin. Matanya mulai menutup dan membuka menahan rasa manis yang bercampur dengan sensasi pahit dari es kopi hitam itu. "Bagaimana rasanya, Nton?" tanya Pak De yang masih penasaran. "Enak, Pak De!" seru Anton seketika tersenyum lebar. "Iya Pak De, enak! Pak De harus nyobain nih!" sahut Solihin nyaring. "Beneran enak? Sini, Pak De mau nyoba," pinta Pak De tidak percaya sambil hendak meraih gelas di tangan Solihin. "Eh, eh! Kok Pak De mau minta es kopi viralnya saya sih?!" ucap Solihin yang dengan segera menarik gelasnya menghindar dari tangan Pak De, "Pak De kan bisa bikin sendiri, gimana sih Pak De!" sambung Solihin kesal. "Oh iya ya, saya lupa kalau saya yang jualan di sini," ucap Pak De tersenyum malu kemudian membuat satu gelas kopi viral lagi untuknya sendiri. Setelah selesai membuat satu gelas kopi viral lagi, Pak De pun langsung mencicipinya dan spontan mata Pak De langsung merem melek setelah merasakan sensasi dari kopi viral yang masuk ke dalam mulutnya. "Wah! Enak, segeeeeerrrr..." ucap Pak De tersenyum senang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa takjub dengan kopi viral yang dibuatnya. Ketika Anton, Solihin, dan Pak De bersama-sama sedang menikmati es kopi hitam yang viral itu, tiba-tiba Bambang datang dan mengagetkan mereka bertiga. "Anton sama Solihin, kalian di cari Pak Rondo," ucap Bambang yang berdiri di belakang Anton dan Solihin. "Ah! Bentar dulu lah Mbang, lagi nanggung nih!" sahut Anton. "Tapi, Nton..." Ucapan Bambang seketika terhenti ketika melihat sebuah gelas berisi es kopi hitam yang sedang dipegang dan diminum oleh Anton, Solihin, dan Pak De, 'Loh! Kok, mereka pada minum es kopi hitam yang biasa aku minum sih? Tadi pagi Sandi juga minum es kopi hitam. Nah sekarang?! Solihin sama Anton juga, Pak De juga ikut-ikutan lagi!' Bambang bergumam sambil mengerutkan kedua keningnya karena heran. "Iya nih Mbang, mendingan ikutan kita, ini minum es kopi hitam yang lagi viral!" seru Pak De mengajak Bambang untuk minum es kopi viral bersamanya dan Anton, serta Solihin. "Hah! Es kopi viral?" ucap Bambang lirih dan hampir tidak terdengar oleh siapa pun yang ada di warung Pak De, "Oh, ya udah. Nanti aku bilangin Pak Rondo dulu ya," ucap Bambang kemudian melangkahkan kedua kakinya kembali berjalan ke arah losmen. "Eh! Tunggu dulu Mbang!" seru Anton mencegat dan seketika Bambang langsung menghentikan langkahnya. "Iya, nih kita balik kerja kok, tapi kamu duluan aja, kita mau ngehabisin kopinya dulu. Kan, sayang kalau di buang, entar mubazir lagi," ucap Anton sambil tersenyum membujuk Bambang untuk tidak memberitahukannya kepada bos mereka. Bambang hanya mengangguk setuju dengan ucapan Anton, kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat untuk segera kembali ke dalam losmen. "Es kopi viral itu apa sih?" gumam Bambang yang masih penasaran sambil berjalan menuju losmen, "Entar aku tanyain sama Mawar aja deh, kalau udah pulang ke rumah," gumam Bambang lagi kemudian masuk ke dalam losmen dan langsung menuju ke ruang tunggu karyawan untuk lanjut menikmati gorengan buatan Ibu Mimin yang dibawanya dari pasar setelah mengantarkan Lala tadi pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD