Bab 39

1146 Words
Setelah membasuh celananya dengan air, Bambang keluar dari kamar kecil dengan memasang wajah merangut saat melihat Solihin dan Anton. Bambang berjalan menuju ke arah kursi dan mengambil tasnya. "Mau kemana lu, Mbang?" tanya Anton. Namun, Bambang tak menjawab dan langsung berjalan keluar dari ruang tunggu karyawan meninggalkan Solihin dan Anton di sana, "Lah, kayaknya Bambang ngambek, deh..." bisik Anton kepada Solihin yang masih duduk di sampingnya. "Ya elah, udah tua juga! Pake acara ngambek segala... Ga pantes lagi tuh sama umur..." sahut Solihin balas berbisik kemudian tertawa lirih dan seketika diikuti Anton yang juga tertawa lirih. "Eh, tapi apa nggak apa-apa, Hin? Kayaknya Bambang beneran marah deh." "Iya... Gua juga nggak enak sih sebenarnya, Nton." Solihin merasa bersalah dengan ulahnya kepada Bambang, "Oh iya! Kayaknya celana gua yang kemarin udah kering deh..." Solihin beranjak berdiri dari kursi, "Mau gua pinjamin buat Bambang, kasian kan kalau celananya basah. Lagian, entar kalau dia sakit lagi, gua juga kan yang jadi repot kalau disuruh bos buat gantiin dia." "Coba aja deh lu cek di ruangan laundry," sahut Anton ikut beranjak berdiri. "Lah, lu mau kemana, Nton?!" tanya Solihin ketika melihat Anton yang ikut berdiri. "Gua juga mau ke ruangan laundry, Hin." "Mau ngapain? Lu mau nemenin gua?!" "Nggak, gua juga sekalian mau ngambil jaket, kebetulan kemarin kan hujan. Jadi, gua numpang nyuci di sini," sahut Anton. "Oh, ya udah. Bareng aja kalau gitu." Anton dan Solihin bersama-sama menuju ke ruang laundry yang tepat bersebelahan dengan ruang dapur losmen. Sementara Bambang masih menunjukkan raut wajahnya yang merangut saat duduk di warung Pak De. "Mukanya kenapa, Mbang? Kok kayak kesel sama seseorang gitu?" Pak De tampak penasaran dengan apa yang membuat Bambang merangut. "Enggak." Bambang menyahut dengan singkat sambil sedikit menggeleng. "Kamu mau minum?" tanya Pak De. "Nanti aja, Pak De," sahut Bambang sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuk kanannya menahan kesalnya kepada Solihin. "Mbang... Saya bisa minta tolong nggak? Ini saya mau ke seberang sebentar, kamu bisa jagain nggak?" tanya Pak De. Namun, Bambang hanya diam menatap datar ke depan dan masih menunjukkan raut wajahnya yang merangut, "Nanti saya upah nasi bungkus satu sama minum deh...." Sontak Bambang langsung menatap Pak De, "Iya, boleh!" seru Bambang dengan semangat dan raut wajahnya yang tadi merangut berubah menjadi semringah dengan seketika. "Naah... Gitu dong." Pak De mengambil selembar sajadah beserta peci dari dalam laci meja warungnya, "Nitip bentar ya, Mbang...!" seru Pak De kemudian berjalan ke seberang jalan tepat menuju sebuah musholla yang berseberangan dengan losmen dan warung miliknya meninggalkan Bambang sendirian untuk menjagakan warungnya sebentar. 'Asiikk! Dapet nasi gratisan.. hihi...' Bambang tertawa lirih sambil meraih sebuah nasi bungkus kemudian membuka dan langsung menyantapnya sampai habis. "Widih... Lagi makan nih.." Solihin datang dengan membawa selembar celana yang sudah dilipatnya rapi dan menghampiri Bambang yang telah selesai makan di warung Pak De. Seketika raut wajah Bambang kembali merangut karena melihat wajah Solihin, 'Huh! Ngapain sih dia kesini!' pikir Bambang sambil menyembunyikan raut wajahnya yang kesal. "Nih, Mbang... Celana buat lu." Solihin meletakkan selembar celana di atas meja tepat di samping bekas bungkus nasi yang ada di hadapan Bambang. "Buat apa?" tanya Bambang heran. "Lu ganti celana, celana lu itu kan basah... Dari pada entar lu masuk angin..." "Hmm!" sahut Bambang singkat. "Oh iya, nih!" Solihin memberikan selembar uang kertas sepuluh ribuan kepada Bambang. "Ini buat apa?!" "Itu, buat bayarin nasi lu," jawab Solihin, "Bay de wey, maafin gua tadi ya...." "Hhmm!" jawab Bambang sambil mengangguk. "Ya udah, gua masuk dulu!" Solihin kembali berjalan memasuki losmen. 'Waaah!!!' Raut wajah Bambang semakin bertambah semringah, "Rezeki nomplok nih! Dia nggak tau apa, kalau nasi ini di kasih Pak De, gratis..." ucap Bambang lirih kemudian tertawa pelan. Bambang menoleh ke arah musholla yang tepat ada di seberang jalan, 'Kayaknya Pak De belum selesai,' pikir Bambang kemudian kembali menatap ke arah kaca etalase yang di dalamnya tersusun beberapa mie instan dari berbagai merek, "Masih belum kenyang nih perut," ucap Bambang lirih sambil mengusap-usap perutnya, "Nambah mie instan ah!" ucap Bambang lagi dengan lirih kemudian langsung menggumpal kertas bekas pembungkus nasi yang tadi dimakannya dan melemparkannya ke keranjang sampah. Kemudian Bambang beranjak berdiri dan meraih sebungkus mie instan yang isinya double dari dalam kaca etalase yang ada di atas meja. Bambang mencari-cari dimana Pak De meletakkan termos yang berisi air panas, tapi ia tetap tidak menemukannya, "Termosnya dimana ya?!" ucap Bambang lirih bertanya kepada dirinya sendiri. Namun, Bambang tidak menyadari bahwa Pak De sudah kembali. "Mbang?! Kamu nyari apa?" tanya Pak De. "Nyari air panas, Pak De." "Kalau air panas, belum saya masak, Mbang..." Pak De berjalan menuju ke posisinya sebagai penjual warung, "Bentar, biar saya masakin dulu." Pak De mengambil ceret untuk memasak air. "Kenapa kamu nggak makan nasi bungkus aja?" "Makan ini aja, Pak De. Lagian udah lama nggak ngerasain makan mie instan," jawab Bambang. Sambil duduk menunggu air yang dimasaknya mendidih, Pak De menyadari bahwa jumlah nasi bungkus miliknya berkurang satu. "Itu tadi ada orang yang beli nasi ya, Mbang?" "Iya, Pak De." "Siapa?" Pak De berajak berdiri lalu mematikan kompor kemudian menyeduhkan sebungkus mie instan yang tadi diambil Bambang. "Solihin," jawab Bambang singkat, "Ini uangnya, Pak De." Bambang menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan kepada Pak De. "Oh gitu ya. Makasih ya, Mbang udah bantu jualin..." Pak De tampak tersenyum senang karena merasa bahwa Bambang sudah mau jujur kepadanya. Pak De mengambil sebungkus nasi, lalu meletakkannya di atas meja yang tepat di hadapan Bambang, "Ini buat kamu, Mbang..." ucap Pak De sambil tersenyum. "Iya, Pak De!" seru Bambang tersenyum senang, "Makasih!" tambahnya lagi kemudian segera membuka nasi bungkus itu. 'Waah! Ini sih namanya rezeki di atas rezeki.' Raut wajah Bambang semakin tambah semringah menjadi-jadi. "Ini, mie instan kamu..." Pak De meletakkan sebuah mangkuk berisi mie instan yang tadi selesai diseduhnya tepat di samping nasi bungkus yang sudah dibuka Bambang. "Iya, Pak De!" Bambang langsung memasukkan semua nasi dari bungkusnya ke dalam mangkuk yang berisi mie. Namun, karena mangkuknya berukuran sedikit kecil sehingga kuah dari mangkuk itu tumpah. "Yaahh!" "Lagian, udah tau nggak muat, masih dipaksain..." ucap Pak De tersenyum, "Pake ini aja, nih." Pak De meletakkan sebuah piring kaca berukuran sedang di depan Bambang. "Iya, Pak De!" Bambang langsung menumpahkan semua yang ada di dalam mangkuk ke dalam piring, "Pinjem sendoknya, Pak De..." "Nih..." Pak De menyerahkan sebilah sendok kepada Bambang yang kemudian langsung menyantapnya dengan sangat lahap. Raut wajah Pak De tampak heran melihat Bambang yang begitu lahap menyantap makanan di depannya, 'Apa iya, Bambang bisa ngabisin itu semua?! Kalau saya sih, mie instan isi dobel sebungkus aja udah kenyang. Lah dia pake nasi, apa nggak kekenyangan ya?' "Minumnya apa, Mbang?" tanya Pak De. "Kopi hitam aja, Pak De!" seru Bambang dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan. "Tumben nggak pake es?" Bambang perlahan menelan makanannya, "Ya pake es lah, Pak De! Masa enggak!" Pak De mengangguk sambil tersenyum masam kemudian menyiapkan minuman yang dipesan Bambang dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Bambang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD