Suasana losmen sangat terasa sepi, bagai bangunan yang kosong dan Bambang sudah biasa dengan suasana yang seperti itu karena hampir setiap hari dia bekerja disana. Namun, rasa takut Bambang kembali muncul saat terdengar suara bisikan-bisikan aneh tak beraturan. Bisikan itu terdengar lirih di telinga Bambang dan sontak membuatnya merinding.
Dengan langkah hati-hati, Bambang akhirnya tiba di dapur losmen kemudian berjalan ke arah lemari piring untuk mengambil piring kecil yang ada di dalamnya.
"Loh! Kok lampunya jadi remang-remang begini sih?!" ucap Bambang lirih sambil menyeret matanya ke arah lampu ketika membuka pintu lemari piring.
Bambang mencoba tak menghiraukannya dan segera mengambil piring kecil. Kemudian bergegas kembali ke ruang tunggu karyawan. Saat Bambang berbalik badan, sontak ia dikejutkan dengan keberadaan Solihin yang memandang datar ke arahnya yang kemudian membuat wajah Bambang seketika memucat. Namun, Bambang hanya merasa sedikit takut karena merasa lega bahwa salah satu rekannya juga ada di dapur.
"Huh! Ngagetin aja!" Bambang menggerutu seketika berlalu di hadapan Solihin dan bergegas kembali menuju ruang tunggu karyawan, 'Eh, tapi kok Solihin nggak kayak biasanya ya? Biasanya kan, dia pasti nyapa aku?' Kedua kening Bambang tampak mengerut karena memikirkan tingkah tak biasa dari Solihin. Namun, Bambang tak terlalu memperdulikan dan lanjut berjalan menelusuri lorong yang tepat mengarah ke ruang tunggu karyawan.
Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba lampu di losmen tempat dia bekerja padam dan sontak langkah Bambang terhenti dengan sekujur tubuhnya yang menjadi gemetar.
"Duuuhh... Ko-kok ma-mati lampu sih.....?" ucap Bambang lirih terbata-bata kemudian mendekat ke dinding lalu merabanya untuk membantunya berjalan menuju ke ruang tunggu karyawan.
Saat tangan Bambang merasakan menyentuh sesuatu seperti gagang pintu, tiba-tiba lampu kembali menyala, dan kini Bambang berdiri tepat di depan pintu kamar yang bertuliskan nomor tiga puluh lima.
"Loh... Kok a-a-aku disi-si-sini, sih..." ucap Bambang terbata-bata seketika merasa takut saat menatap dua digit angka yang menempel pada pintu sebuah kamar di depannya. Saat rasa takutnya berkecamuk, tiba-tiba Bambang merasakan bahunya yang dicolek dari belakang dan sontak membuat tubuhnya menjadi tambah gemetar. Kemudian hembusan angin menyentuh lembut bagian belakang lehernya. Bambang penasaran dengan sesuatu yang ada di belakangnya, tapi rasa takutnya membuatnya semakin enggan untuk berani memalingkan tubuhnya ke belakang. "Bambang...." Terdengar suara bisikan di telinga sebelah kanan Bambang dan sontak membuat kedua kakinya semakin gemetar dan membuatnya sulit untuk melangkah padahal dia ingin sekali segera pergi dari depan kamar nomor tiga puluh lima itu. 'Ini pasti hantu di kamar ini deh.' Pikiran Bambang mulai menjurus ke arah mistis. Perlahan Bambang memaksakan kaki kanannya untuk bergerak, tapi entah kenapa ia merasakan celananya yang sedikit basah. Namun, Bambang tidak menghiraukannya dan menggerakkan lagi kaki sebelah kirinya.
"Woy, Mbang! Lu kencing di celana ya!" Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tidak asing di telinga Bambang sehingga sontak membuatnya terkejut dan menjerit.
"Aaaaaaaa!" Tanpa menoleh ke belakang, Bambang langsung berlari menuju ke ruang tunggu karyawan dengan menjerit di sepanjang lorong.
"Asem! Nih kencing siapa yang bersihin?!" seru Solihin yang ternyata sejak tadi ada di belakang Bambang, "Woy, Mbang! Bekas jejak elu nih...! Beresin!" Solihin berteriak kemudian menutup hidungnya dengan tangan kanannya sambil melompat menghindari bekas dimana Bambang berdiri tadi. Solihin pun mempercepat sedikit langkahnya menyusul Bambang ke ruang tunggu.
***
Di dalam ruang tunggu karyawan, Bambang masih terlihat gemetar saat duduk di salah satu kursi di dalam ruang tunggu karyawan. Anton yang datang dari meja resepsionis berjalan menghampiri Bambang.
"Lu kenapa, Mbang?" tanya Anton duduk tepat di samping Bambang.
"Hah. Enggak." Bambang menyahut singkat sambil berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
"Bau apaan nih?!" Indera penciuman Anton mulai mengendus aroma yang tidak mengenakan kemudian menjauhkan tubuhnya dari Bambang saat mengetahui asal aroma yang tidak mengenakkan itu.
Bambang hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Lu mandi nggak, Mbang?!" tanya Anton. Namun, Bambang langsung beranjak berdiri kemudian berjalan menuju kamar kecil yang ada di dalam ruang tunggu karyawan.
Pandangan Anton tetap saja menuju ke arah Bambang yang berjalan menuju kamar kecil, dan membuat pertanyaan Anton terjawab dengan sendirinya setelah melihat sebagian celana yang dipakai Bambang tampak basah.
"Waaah! Lu kencing di celana, Mbang?!"
Namun, Bambang tetap tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam kamar kecil.
Tiba-tiba Solihin masuk dan menghampiri Anton di dalam ruang tunggu karyawan.
"Napa lu, Nton?" tanya Solihin yang heran melihat Anton sedang menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
"Tuh! Si Bambang ngompol!" sahut Anton dan sontak membuat Solihin tertawa terbahak-bahak, "Lu kok malah ketawa, kayaknya ada cerita nih?!" Anton pun ikut tertawa bersama Solihin.
"Jadi gini nih, tadi kan gua di dapur. Sebelumnya sih gua emang sengaja ngikutin Bambang. Pelan baget gua ngelangkahnya sampai nggak ketahuan. Nah! Pas nyampe dapur, gua berdiri aja di belakangnya. Ehh... Pas dia noleh ke arah gua, kok mukanya malah jadi pucat. Kebetulan kan, lampu di dapur itu emang nggak terlalu terang." Solihin mengangkat alisnya, "Ya, gua sengaja nggak nyahut pas dia menggerutu, biar kelihatan seram. Habis gitu kan, gua keluar dari dapur... Eh! Tiba-tiba lampunya mati... Berasa makin horor banget dong, pastinya... Nah pas lagi jalan dan lampu nyala lagi, gua liat Bambang lagi berdiri di depan kamar tiga lima."
"Bentar, bentar... Gua mo ngebayangin gimana wajah Bambang dulu pas berdiri di depan kamar tiga lima..." pungkas Anton yang kemudian tertawa terbahak-bahak saat membayangkan raut wajah Bambang yang ketakutan dan Solihin pun juga ikut tertawa dengan gelak, "Lanjut, lanjut..."
"Nah.... Nyampe mana tadi cerita gua?!"
"Itu, kamar tiga lima..."
"Ya bener, pas lagi jalan dan lampu nyala, gua liat Bambang lagi berdiri di depan kamar tiga lima. Pelan-pelan gua jalan, nyampe pas di belakang Bambang. Gua sih sebenernya nggak ada niat lagi buat nakutin dia. Eh, pas gua liat dia nggak nyadar kalo gua ada di belakangnya, sama gua liat badannya juga gemetar. Ya... Ide jahil gua tiba-tiba aja muncul. Gua tiupin leher dia, terus gua bisikin di telinganya 'Bambang'. Habis ntu, ya idung gua kayak ada nyium sesuatu.. Tau-taunya dia ngompol!"
Anton dan Solihin pun kembali tertawa terbahak-bahak di tengah-tengah cerita.
"Nasib nasib..." ucap Anton sambil tertawa dan menggeleng.
"Habis ntu, bukannya noleh ke arah gua, eh! Dia malah kabur ninggalin jejak di lantai. Asem banget kan?!"
Kemudian Anton dan Solihin lanjut tertawa terbahak-bahak sampai puas.
Sementara di dalam kamar kecil, Bambang mendengar pembicaraan Anton dengan Solihin dan kemudian terlihat bingung karena keadaan celananya yang basah.
"Duh.. gimana nih? Mana aku nggak bawa celana ganti... Tega banget tuh Solihin ngerjain aku! Awas aja! Nanti aku bales! Huh!" Bambang berkata lirih dengan raut wajahnya yang tampak sangat kesal.