Bab 29

3072 Words
Bambang berdiri di depan toko dan ia tidak melihat Lala di sana. "Loh, lala kemana ya?" gumam Bambang seketika menoleh kesegala arah penjuru pasar. Tiba-tiba seorang menepuk bahu Bambang dari belakang, sontak Bambang pun langsung berbalik kebelakang dan melihat Sandi yang berdiri berhadapan dengannya. "Lala kemana, Mbang?" tanya Sandi. "Hah?! Nggak tahu..." Bambang mengangkat bahunya. "Oh, mungkin dia ke kamar kecil kali ya...." Sandi langsung menuju ke dalam toko. "Dia siapa sih, main nyelonong aja, masuk ke toko orang?!" Bambang bergumam dalam hati dengan mengerutkan keningnya menatap ke arah Sandi, "Aku tunggu Lala di depan sini aja deh..." gumam Bambang lagi kemudian kembali menuju kursi di depan toko dan mendudukinya. Beberapa menit Bambang masih berada di depan toko menunggu kedatangan Lala hingga rasa kantuk perlahan kembali menghampirinya karena mulai bosan menunggu. 'Hooaaammmmhh.....' Bambang menguap dengan membuka mulutnya selebar mungkin dan tiba-tiba seekor serangga kecil yang tidak sengaja melintas masuk ke dalam mulutnya. Bambang yang tidak sadar bahwa seekor serangga telah masuk ke dalam mulutnya, dan ia pun penasaran seketika mengecap-ngecap karena merasakan ada sesuatu di dalam mulutnya. "Apaan nih, kok pahit...?" Bambang masih mengecap-ngecap mulutnya kemudian langsung mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam mulutnya. 'Ueeekk!' Bambang langsung meludahkannya seketika mengetahui bahwa seekor serangga yang ternyata masuk ke dalam mulutnya. Di saat yang sama, Lala berjalan kembali ke toko dan dari kejauhan ternyata melihat Bambang yang membuang ludah sembarangan di depan toko. "Iih, jorok banget sih, tu Bambang!" kesal Lala lirih sembari berjalan menuju toko dan melihat tingkah laku Bambang. "Eh, Lala..." sapa Bambang dengan senyum lebar seketika menghampiri saat Lala tiba di depan toko. Lala hanya mengangguk sambil tersenyum masam menyembunyikan raut wajahnya yang merasa jijik melihat tingkah jorok Bambang. "Sandi udah datang atau belom, Mbang?" tanya Lala kemudian menggeser sedikit menjauhi Bambang. "U-udah, La," jawab Bambang masih dengan senyum lebarnya dan mendekat pada Lala. Lala semakin jijik dan geli melihat senyum lebar Bambang yang dengan percaya dirinya menunjukkan gigi-giginya yang terselip kulit cabai merah. "Iiuuhhh... Ini orang PeDe banget sih...?!" pikir Lala kemudian kembali menjauhkan dirinya lagi, "Terus, sekarang Sandi dimana?" tanya Lala. "Itu... Di dalem..." jawab Bambang. Mendengar jawaban dari Bambang, Lala langsung menuju ke dalam toko dan meninggalkan Bambang sendirian di depan toko. Sementara di depan toko, Bambang tetap saja menunjukkan senyum lebarnya memandang Lala yang masuk ke dalam toko, "Lala... Lala..." ucap Bambang lirih. *** Di dalam toko, tampak Sandi yang sedang menghitung stok pakaian dan melihat Lala yang berjalan ke arahnya. "La," panggil Sandi. "Ya, San?" sahut Lala. "Gimana, tadi sepupu kamu udah minum?" tanya Sandi tersenyum "Kayaknya udah deh tadi sebelum aku ke kamar kecil," jawab Lala membalas senyum Sandi. "Oh, ya udah... Kamu lanjutin ngitungin stoknya ya, La..." ucap Sandi tersenyum seraya menyerahkan sepasang buku dan pulpen kepada Lala. "Kamu mau kemana, San?" tanya Lala heran sembari menyambut sepasang buku dan pulpen dari Sandi. "Ini, aku mau ke warung sebelah, bayarin sepupu kamu tadi dulu, sama sekalian bayar sarapan tadi pagi juga," jawab Sandi kemudian berlalu meninggalkan Lala di dalam toko dan langsung melangkah keluar toko untuk menuku ke warung yang tepat bersebelahan dengan toko. Bambang menatap sinis ke arah Sandi yang lewat di sampingnya dan langsung menuju ke warung di sebelah toko, "Tuh orang ngeselin banget sih, keluar masuk aja dari tadi," gumam Bambang dalam hati. Sementara itu saat Sandi tiba di warung, tampak ibu pemilik warung sedang duduk melamun dengan raut wajahnya yang mulai resah karena ingin memastikan kepada Sandi bahwa semua makanan yang dibeli Bambang dibayarkan olehnya. "Berapa semuanya tadi Bu?" tanya Sandi ketika sampai di warung. "Eh! Sandi....? sentak Ibu pemulik warung terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Lagian ngelamun aja, ntar kesambet loh, Bu..." sahut Sandi, "Jadi, punya saya tadi berapa, Bu?" lanjut Sandi bertanya. "Oh iya, punya kamu tadi pagi semuanya dua puluh ribu, nasi satu porsi sama teh hangat aja kan, San?" tanya Ibu pemilik warung. "Iya, Bu...." "Eh, San... Tadi ada mas-mas yang baru aja kesini, bilangnya kamu juga yang bayar, kan?" tanya Ibu pemilik warung seketika sebelum Sandi melanjutkan perkataannya. "Iya, Bu. Sekalian, jadi berapa semuanya, Bu?" tanya Sandi sembari meraih dompet dari saku belakang celananya. "Kalau punya mas yang tadi, nasi satu porsi sama es kopi dua puluh ribu juga," kata Ibu pemilik warung itu, lalu terdiam sambil menghitung. "Jadi, semuanya empat puluh ribu kan, Bu?" tanya Sandi memastikan seraya ingin mengambil uang dari dalam dompet yang dipegangnya. "Oh, nggak Mas Sandi, tadi dia juga makan gorengan tiga puluh biji. Jadi, totalnya yang harus Mas Sandi bayar tujuh puluh ribu," sahut Ibu pemilik warung sambil tersenyum hati-hati. "Hah! Tiga Puluh Biji?" Mata Sandi langsung membelalak terkejut mendengar kata-kata dari Ibu pemilik warung, "Nggak salah Bu?! Barang kali Ibu salah hitung." Sandi tersenyum kecut ke arah si Ibu pemilik warung. "Nggak kok Mas Sandi, orang tadi si Masnya sendiri yang hitung, Mas siapa itu namanya?" ucap Ibu pemilik warung sambil mengingat-ngingat kembali apakah tadi si Bambang menyebutkan namanya ketika sedang ngobrol bersamanya di warung. "Bambang, Bu?" jawab Sandi pelan. "Nah iya! Si Bambang!" sahut ibu pemilik warung setelah ingat kembali nama 'Bambang' yang sudah terasa di ujung lidahnya ketika mencoba mengingat nama 'Bambang' tadi, "Coba deh, Mas Sandi tanyakan dulu sama Mas Bambang biar nggak salah," lanjut ibu pemilik warung meminta kepada Sandi. "Iya deh, Bu... Bentar ya...." Sandi pun bergegas kembali ke toko dan langsung menghampiri Bambang. "Mbang, maaf nih nanya... Gua kan, tadi mau bayarin di warung sebelah... Tapi gua nggak tau jumlahnya yang harus di bayar berapa... Emang tadi lu mesan apa aja?" ucap Sandi bertanya hati-hati. Bambang menatap ke arah Sandi dengan penuh selidik, "Emmmm...." Bambang berpikir sejenak dengan metanya menengadah ke arah kanan atas, 'Loh, kok katanya dia yang mau bayarin ya?' pikir Bambang, 'Oh, mungkin uang bosnya dititipin sama dia kali, ya?' pikir Bambang lagi kemudian kembali menatap ke arah Sandi yang berdiri di depannya, "Es kopi hitam satu... Nasi sama lauknya tadi satu, sama...." Bambang tidak melanjutkan ucapannya karena heran melihat Sandi yang menatapnya tidak sabaran sepertinya sangat penasaran dengan berapa jumlah gorengan yang tadi dia makan. Bambang membalas tatapan Sandi sedikit gugup karena ketakutan dengan tatapan Sandi yang menurut Bambang sedikit aneh. "Sa-sama gorengan tiga puluh biji," ucap Bambang pelan dengan terbata-bata karena merasa gugup ditatap oleh Sandi yang dipikirnya terlalu penasaran dengan berapa jumlah gorengan yang tadi dimakannya. "Hah!" sentak Sandi serentak dengan suara Lala yang berada di dalam toko karena ternyata sejak tadi juga mendengarkan pembicaraan antara Bambang dan Sandi. Sandi yang mendengar suara Lala dari dalam toko pun langsung mengalihkan pandangan matanya ke arah Lala yang tampak tersenyum masam dan malu ke arahnya. Sambil memasang wajah lesu, Sandi memalingkan wajahnya kembali ke arah Bambang yang masih menatap nanar ke depan tanpa eksperesi. Kemudian Sandi langsung berjalan kembali ke warung, 'Perutnya bertingkat kali ya!' gerutu Sandi setibanya di depan warung di sebelah toko. "Ini Bu Mimin... Jadi semuanya tujuh puluh ribu, kan?" Dengan wajah masam Sandi langsung menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah dengan nominal seratus ribu kepada ibu pemiliki warung. "Sebentar ya Mas Sandi, saya ambilkan kembaliannya dulu," ucap Ibu Mimin kemudian masuk ke dalam warung dengan membawa uang yang tadi diserahkan oleh Sandi. Sandi menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali. Dengan wajahnya yang masih masam sambil berdiri di depan warung, Sandi memandangi Bambang yang masih duduk di kursi di depan toko. "Rakus banget ya sepupunya Lala!" gumam Sandi lirih. Tidak lama kemudian, Ibu Mimin kembali menghampiri Sandi di depan warung dengan membawa kembalian tiga puluh ribu. "Ini Mas Sandi, kembaliannya," ucap Ibu Mimin seraya menyerahkan tiga lembar uang sepupuh ribu kepada Sandi. "Iya, Bu... Terima kasih," sahut Sandi datar sambil mengambil uang kembalian dari Ibu Mimin. "Mas Sandi mau pesan minum lagi nggak?" tanya Ibu Mimin yang melihat Sandi kelihatan enggan untuk kembali ke toko baju dimana Lala dan Bambang berada. "Iya deh Bu, saya pesan es kopi hitam deh satu," pinta Sandi kemudian duduk di atas kursi panjang di depan warung. "Loh, kok mesannya es kopi hitam, Mas Sandi? Biasanya kan, es teh?" tanya Ibu Mimin heran. "Nggak apa-apa Bu," jawab Sandi masih dengan raut wajahnya yang masam, "Kayaknya saya penasaran, gimana sih rasanya es kopi hitam itu? Sampai-sampai si Bambang doyan... Siapa tahu selera makan saya jadi bertambah kalau minum es kopi hitam buatan Ibu," jawab Sandi kemudian tertawa dengan gelak dan Ibu Mimin pemilik warung pun ikut tertawa seolah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Sandi. Bambang yang masih duduk di depan toko merasa heran dan terganggu karena mendengar suara gelak tawa dari warung sebelah dimana Sandi berada. Bambang menoleh ke arah warung di sebelah toko, "Pada ngapain sih?! Berisik baget!" Bambang menggerutu kesal karena merasa risih dengan suara tertawaan yang dia pikir menyinggungnya. "Mereka berdua ngomongin aku apa nggak ya?" gumam Bambang sambil berusaha mendengarkan percakapan antara Sandi dengan Ibu pemilik warung. Namun, Bambang tidak juga mengetahui apa yang membuat Sandi dan pemilik warung tertawa, "Mending aku nyamperin Lala ke dalam ah," ucap Bambang lirih kemudian beranjak berdiri dari kursi dan langsung melangkah masuk ke dalam toko dimana Lala berada. Dengan langkah pasti Bambang ke dalam toko dimana Lala berada. Sembari melangkah, Bambang juga tak lupa untuk memasang senyum lebarnya yang dia anggap itu adalah jurus andalan untuk menarik perhatian Lala. "Eh, Bambang? Mau apa lagi, Mbang?" tanya Lala seketika dengan raut wajah masam melihat Bambang yang menghampirinya. "Emangnya Sandi itu siapa sih, La?" sahut Bambang balik pertanya dengan raut wajah penuh selidik. "Sandi...!?" ucap Lala pelan kemudian kembali menatap buku yang dipegangnya, "Sandi itu kan, pemilik toko baju ini, Mbang..." lanjut Lala seketika menatap Bambang kemudian kembali berpaling menatap buku untuk melanjutkan pekerjaan menghitung stok baju model terbaru yang tadi di bawa oleh Sandi. "Oh..." Bambang menghela nafas lega, "Jadi Sandi yang punya toko ini La!" Raut wajah Bambang seketika kelihatan berseri karena tadi sempat kesal melihat kedekatan antara Lala dan Sandi. Juga merasa kesal karena melihat Sandi yang semaunya keluar masuk toko di tempat Lala bekerja, "Pantesan dia bisa keluar masuk toko ini," lanjut Bambang lagi. "Iya, emangnya kenapa, Mbang?" tanya Lala seketika kembali menatap Bambang. "Emmm... Nggak apa-apa kok, La," sahut Bambang pelan sembari tersenyum senang, "Kamu masih lama ya pulangnya?" sambung Bambang bertanya. "Nggak kok, sebentar lagi kalau udah selesai ngehitung barang terus beresin baju-baju yang masih berantakan ini, aku langsung pulang kok," jawab Lala sambil menunjuk baju-baju yang tampak sedikit berantakan karena baru saja di bawa oleh Sandi, "Emang kenapa Mbang, kamu mau pulang ya?" lanjut Lala kembali bertanya. "Eh... Nggak kok, La," sahut Bambang sembari tersenyum lebar ke arah Lala, "Aku nungguin kamu aja," sambung Bambang kemudian mendekat ke arah Lala, "Aku bantuin kamu ya, La...!" Wajah Bambang semakin tampak berseri seketika berdiri sangat dekat dengan Lala. Lala menjauhkan sedikit tubuhnya sambil berpikir sejenak, 'Gimana kalau Bambang aku suruh buat bantu beresin baju yang berantakan ini! Biar aku nggak capek, Hihi...' pikir Lala tersenyum kemudian menatap Bambang sambil menyipitkan matanya yang sebelah kanan, "Emmm... Boleh deh, Mbang," jawab Lala seketika, "Kalau kamu mau bantu, beresin baju-baju itu aja ya..." lanjut Lala sambil menunjuk baju-baju yang baru saja di bawa Sandi tadi dan belum sempat Lala bereskan karena masih harus menghitung jumlahnya. "Iya La!" Bambang dengan senyum yang semangat seketika langsung menghampiri baju-baju yang masih berserakan di lantai, "Kalau udah selesai taruh di mana, La?" sambung Bambang bertanya sembari menyusun baju-baju di depannya. "Taruh di situ aja dulu, Mbang," jawab Lala tanpa menoleh ke arah Bambang, "Nanti biar aku aja yang masukan ke dalam gudang," sambung Lala sambil terus menghitung stok baju di depannya. "Ok, siap La!" Raut wajah Bambang semakin senang sambil terus membereskan baju-baju yang masih berserakan dalam jumlah yang lumayan banyak di depannya. Sementara Bambang dan Lala tengah sibuk di dalam toko, sedangkan Sandi masih duduk di warung Ibu Mimin dan baru saja mencicipi es kopi hitam yang diantarkan oleh Ibu Mimin. "Enak juga," ucap Sandi pelan setelah menyeruput kopi hitam dengan nuansa sejuk yang mengalir di tenggorokannya, "Tapi, agak sedikit aneh sih... Emang apa istimewanya ya jadi sampai bisa membuat napsu makan berlebihan?" Sandi berpikir dan bertanya lirih kepada dirinya sendiri. "Apa iya, enak ya?" Ibu Mimin pemilik warung berdiri dan memperhatikan Sandi karena penasaran dengan rasa es kopi hitam buatannya itu, "Gimana Mas Sandi? Es kopi hitam buatan saya enak nggak?!" seru Ibu Mimin seraya bertanya kepada Sandi. "Enak Bu...." Sandi mengangguk setelah kembali menyeruput kopi dengan nuansa sejuk, "Tapi agak pahit-pahit begini ya rasanya, ampas kopinya juga masih berasa, Bu...." tambah Sandi kemudian meletakkan gelas ke meja di depannya. "Ya iyalah Mas Sandi, itu kan kopi hitam bukan kopi s**u," sahut Ibu Mimin, "Juga kalau air dingin, mana mungkin ampas kopinya bisa turun, Mas... Mas..." lanjut Ibu Mimin seraya menggeleng kemudian tertawa pelan sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sandi tersenyum masam ke arah Bu Mimin, kemudian mengangkat gelas yang tadi diletakkannya dan meminum kembali es kopi hitamnya sedikit demi sedikit agar terasa lebih nikmat. "Gimana kalau Mas Sandi cobain gorengannya juga, " ucap Bu Mimin sambil mengambilkan sebuah piring kecil dan menuangkan petis ke dalam piring kecil itu, kemudian meletakannya di atas meja tepat di hadapan Sandi, "Siapa tahu bisa makan sampai tiga puluh biji kayak si Bambang," tambah Ibu Mimin kemudian tersenyum geli sambil membayangkan wajah Bambang ketika menyantap tiga puluh biji gorengan dalam waktu singkat. Sandi langsung menelan ludah dengan cepat karena ikut membayangkan bagaimana ekspresi wajah Bambang ketika menyantap gorengan yang berjumlah tiga puluh biji dengan santainya. Perlahan Sandi mengambil satu biji gorengan dan dengan sangat hati-hati kemudian meletakannya di dalam mulut dan mengunyahnya sampai halus lalu menelannya sampai habis. "Gimana Mas, enak enggak?" tanya Ibu Mimin penasaran. Sandi mengangguk pelan, "Enak Bu!" serunya seketika dengan wajah yang kelihatan begitu gembira. Ibu Mimin menatap Sandi dengan rasa gembira karena sudah dipuji bahwa gorengan buatannya enak. "Kalau begitu Mas Sandi bisa nambah lagi. Silahkan Mas, di ambil sendiri ya seperlunya, Saya mau ke dalam dulu," ucap Bu Mimin kemudian berjalan ke arah dalam warungnya untuk memasak gorengannya lagi, karena gorengan di atas meja sudah hampir habis. "Baik Bu!" seru Sandi mengangguk sembari mengambil lagi gorengan yang masih tersisa sepuluh biji di hadapannya. Sandi terus saja menyantap gorengan itu dengan nikmat sampai tersisa lima potong gorengan lagi hingga akhirnya dia pun menjadi kenyang. Kemudian Sandi mengangkat gelas berisi es kopi hitam miliknya dan meminumnya sampai habis. Sandi diam sebentar merasakan perutnya yang kenyang, kemudian berdiri. "Berapa Bu Mimin, es kopi hitam sama gorengannya lima biji!" teriak Sandi dari depan warung memanggil Ibu Mimin yang masih menggoreng tahu dan tempe di dalam warung. "Iya sebentar Mas Sandi!" sahut Ibu Mimin terdengar samar dari dalam warung, kemudian berjalan ke depan untuk menghampiri Sandi yang masih berdiri menunggunya untuk menyerahkan uang, "Es kopi hitam satu... sama gorengannya lima biji ya, Mas Sandi?" tanya Bu Mimin setelah tiba di depan warung. "Iya, Bu...." jawab Sandi mengangguk dengan pasti. "Semunya jadi sepuluh ribu, Mas," ucap Ibu Mimin, "Ini gorengannya apa nggak di habisin aja sekalian Mas, nanggung sisa lima biji," lanjut Ibu Mimin menawarkan sisa gorengan di atas mejanya kepada Sandi. Sandi terdiam sejenak, "Emmm.. Boleh deh. Tapi dibungkus aja ya, Bu. Sekalian mau bawaain buat Lala, kali aja dia mau," ucap Sandi setelah menimbang-nimbang apakah harus menghabiskan gorengan yang tersisa itu atau tidak, "Kalau bisa, tambahin lagi lima biji ada nggak?" sambung Sandi bertanya. "Oh, ada Mas.... Tunggu bentar ya, itu lagi saya goreng di dapur. Mas Sandi mau gorengan apa? Tahu atau tempe?" tanya Ibu Mimin sambil memasukkan gorengan yang tersisa di atas meja ke dalam kantong plastik di tangannya. "Gorengan tahunya dua, gorengan tempenya tiga, Bu Mimin," jawab Sandi. "Sebentar ya, saya ambilkan dulu ke dalam," sahut Bu Mimin kemudian berjalan ke dalam dengan membawa kantong plastik berisi sisa gorengan tadi. Dalam hitungan menit, Ibu Mimin kembali lagi ke depan menghampiri Sandi dengan membawa satu kantong plastik yang sudah berisi sepuluh potong gorengan di dalamnya untuk menyerahkannya kepada Sandi, "Ini Mas Sandi, gorengannya," ucap Ibu Mimin sembari menyerahkan sekantong plastik berisi gorengan kepada Sandi. "Semuanya jadinya berapa, Bu?" tanya Sandi sambil menyambut kantong plastik berisi gorengan itu dari tangan Ibu Mimin. "Es kopi hitam satu, terus sama gorengannya jadi lima belas biji, ya...? tanya Ibu Mimin dan Sandi pun mengangguk. "Semuanya jadi dua puluh ribu Mas," lanjut Ibu Mimin tersenyum. "Ini Bu," ucap Sandi seketika menyerahkan dua lembar uang kertas berwarna biru dengan nominal dua puluh ribu kepada Ibu Mimin. Ibu Mimin pun menerima uang yang diserahkan oleh Sandi. Namun, Ibu Mimin seketika menjadi heran karena Sandi belum juga beranjak dari depan warungnya. Sandi masih berdiri diam di depan warung, 'Kalau enggak salah, kayaknya aku masih ada nyimpen uang di saku celana,' gumam Sandi dalam hati kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam saku sebelah kanan celananya dan merasakan jarinya yang dipikirnya menyentuh uang. Sandi pun langsung menarik tangannya dari saku celananya sambil memegang uang yang di ambilnya dari saku celananya tadi, 'Nah benerkan, ada uang sepuluh ribu,' gumam Sandi lagi, 'Kenapa nggak aku abisin aja ya sekalian, biar gorengannya bisa di bawa pulang sama Lala, terus bisa dimakan sama Ayah dan Ibunya juga,' gumam Sandi lagi kemudian menatap Ibu Mimin. "Emm... Bu Mimin," sergah Sandi ketika Ibu Mimin hendak melangkah ke dalam untuk berlanjut memasak gorengan. "Iya Mas Sandi, ada apa?" tanya Ibu Mimin seketika berbalik badan tepat ke arah Sandi yang masih berdiri di depan warung dengan memegang satu lembar uang kertas dengan nominal sepuluh ribuan di tangan kanannya. "Gorengannya masih ada, kan?" "Iya masih ada Mas," jawab Ibu Mimin kemudian dengan raut wajahnya yang mulai heran. "Tambah gorengannya sepuluh biji lagi Bu Mimin, biar sekalian," ucap Sandi seketika meletakkan selembar uang kertas dengan nominal sepuluh ribuan di atas meja. "Oh, boleh Mas Sandi," sahut Ibu Mimin dengan wajah yang berseri-seri kemudian langsung melangkah ke depan dan dengan cepat mengambil selembar uang yang tadi diletakkan oleh Sandi di atas meja. "Sebentar ya, Mas... Saya ambilkan dulu." Ibu Mimin pun bergegas berjalan kembali ke dalam warung untuk mengambilkan gorengan dan dengan cepat memasukannya ke dalam kantong plastik lalu membawanya kembali ke depan untuk menyerahkannya kepada Sandi. "Ini Mas Sandi, terima kasih ya Mas udah borong gorengannya saya," ucap Ibu Mimin sambil tersenyum lebar sembari menyerahkan satu kantong plastik berisi gorengan lagi kepada Sandi. "Iya, Bu Mimin... Sama-sama," sahut Sandi sembari menyambut sekantong plastik berisi gorengan dari Ibu Mimin. "Beli, ya Bu..." lanjut Sandi berakad. "Iya, jual, Mas," sahut Ibu Mimin tersenyum. Sandi pun berjalan menjauh dari warung Ibu Mimin dan langsung kembali ke toko untuk menemui Lala di sana. Sementara itu, Ibu Mimin masih berdiri dengan mengipaskan uang ditangannya dengan raut wajahnya yang tampak sangat senang karena gorengannya laris manis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD