Keadaan pasar amat sangat ramai, penuh sesak bahkan untuk berjalan saja susah. Dalam keramaian ini, semua pengunjung dipakasa harus paham untuk bersabar agar mendapatkan apa yang ingin dibeli. Begitupun dengan para pedagang yang dengan gigih menawarkan barang jualannya kepada para pengunjung pasar, termasuk Lala yang tampak sangat gigih menawarkan barang jualannya kepada setiap orang yang melintas di depan toko.
"Ayo Buk! Ayo Pak! Sayang istri, sayang suami, sayang anak, sayang mantu!" seru Lala sangat bersemangat menawarkan barang dagangannya kepada semua pengunjung pasar yang melintas di depan toko tempatnya bekerja.
Sementara Bambang hanya tersenyum sendirian sembari duduk di atas kursi di depan toko menatapi Lala. Tiba-tiba Bambang menjadi heran ketika melihat Sandi yang keluar dari dalam toko di mana dia duduk sekarang. "Dia siapa sih? Kok, seenaknya saja main nyelonong keluar masuk toko orang?" Bambang bergumam seraya keningnya mengerut dan menyeret pandangannya mengiringi langkah Sandi.
"La," panggil Sandi seketika menghampiri Lala.
"Eh, iya San?" sahut Lala seketika menoleh ke arah Sandi.
"Sepupu kamu itu namanya siapa?" tanya Sandi pelan.
"Dia...?!" Lala menunjuk ke arah Bambang dengan wajahnya. "Namanya Bambang, San," sahut Lala seketika dengan sekejap matanya melirik ke belakang Sandi tepat menatap Bambang.
"Ooh, Bambang...." Sandi mengangguk. "Itu, kalau sepupu kamu mau minum, ke warung aja, entar bilang aja sama yang jaga warungnya nanti biar aku yang bayarin..." ucap Sandi pelan sembari menoleh ke belakang tepat ke arah Bambang yang masih duduk di depan toko dan tampak melongo menatap ke arahnya dan Lala tanpa berkedip.
"Iya, San," sahut Lala, kemudian Lala menatap ke arah Bambang dan memanggilnya, "Mbang, kalau kamu mau minum, ke warung aja..!" teriak Lala.
Bambang pun langsung mengangguk.
"Entar Bos aku yang bayarin!" teriak Lala lagi ke arah Bambang.
"Mbang, lu temenin Lala di sini ya," ucap Sandi menoleh ke belakang tepat ke arah Bambang, kemudian menoleh lagi ke arah Lala.
"Loh, emangnya kamu mau kemana, San?" tanya Lala heran.
"Aku mau pergi sebentar, mau nge-cek stok pakaian mana yang udah mau ganti model," ucap Sandi.
"Oohh...." Lala mengangguk faham, "Hati-hati ya, San," lanjut Lala tersenyum menatap Sandi.
"Iya, La..." Sandi tersenyum mengangguk, "Kamu sama sepupu kamu jagain toko dulu, ya," lanjut Sandi kemudian berjalan menjauh dari toko di mana Bambang dan Lala berada.
Bambang tetap mengunci pandangannya mengikuti kemana Sandi berjalan sampai tak terlihat lagi, 'Sok banget sih, berani banget deketin Lala-ku!' Bambang bergumam ketus menggerutu seketika beranjak dari kursi kemudian menghampiri Lala yang sedang melayani beberapa pengunjung toko.
"Kenapa, Mbang?" tanya Lala seketika menoleh ke arah Bambang sembari membereskan sebagian pakaian yang digelarnya setelah menunjukkannya kepada pengunjung toko.
"A-aku mau ke wa-warung dulu ya, La..." jawab Bambang dengan senyum lebarnya.
"I-iya udah, sana pesan aja, Mbang," sahut Lala seketika heran tanpa menatap Bambang karena sambil melayani pengunjung toko.
Namun, Bambang belum juga bergeming untuk pergi ke warung.
Lala yang menyadari bahwa Bambang masih berdiri di belakangnya pun merasa heran dan menoleh ke arah Bambang, "Kenapa lagi, Mbang?" tanya Lala seketika.
"Aaa.... Anu...."
"Anu apa?" tanya Lala semakin bingung.
"Hee...." Bambang menggaruk kepalanya dan tersipu malu.
"Oooh.... Kamu tenang aja, nanti di bayarin kok..." ucap Lala.
"Bu-bukan itu... He...." Bambang masih menggaruk kepalanya dan juga tersipu malu.
"Terus apa?!" Lala mulai kesal.
"Aaa... Anu... He... Warungnya dimana ya, La?" tanya Bambang dengan raut wajahnya yang masih tersipu.
Lala yang menahan rasa kesal kepada Bambang langsung menunjuk dengan tangannya tepat ke samping toko tempat dia bekerja, "Tuh, warung bukan, Mbang?!" sahut Lala.
"Ai!" Bambang tersentak, "Oh iya, La... He, aku enggak liat...." lanjut Bambang dengan senyum lebarnya, "Ya udah, aku ke sana dulu ya, La... Kamu mau barengan nggak?" lanjut Bambang lagi seraya bertanya.
"Hm! Kamu aja deh, Mbang!" sahut Lala dengan raut wajahnya yang masih menahan kesal kemudian berpaling ke arah beberapa pengunjung toko yang baru datang dan melayani mereka.
"I-iya u-udah... Aku duluan ya, La...."
Bambang langsung bergegas menuju warung yang berada tepat bersebelahan dengan toko tempat Lala bekerja.
Lala tidak menghiraukan Bambang dan kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu melayani beberapa pengunjung toko yang tadi datang.
Bambang duduk di sebuah kursi panjang tepat di depan warung.
"Bu, pesan kopi hitamnya satu ya, pake es!" seru Bambang.
"Baik Mas," sahut Ibu pemilik warung itu pelan kemudian langsung menyiapkannya, "Loh, eh!" Ibu pemilik warung itu langsung tersentak seketika menyadari pesanan Bambang yang dianggapnya sedikit aneh, "Beneran pake es, apa iya?" gumam Ibu pemilik warung itu, "Tanya lagi deh, kalau-kalau aku salah dengar," gumamnya lagi kemudian kembali menghampiri Bambang, "Mas, pesan kopi apa tadi, ya?" tanya Ibu pemilik warung lagi.
"Kopi hitam, Bu...."
"Nah benerkan, kopi hitam...." gumam Ibu pemilik warung itu lagi.
"Pake es....!" sambung Bambang dengan raut wajahnya yang polos.
"Iya, pake es...." ucap Ibu pemilik warung mengangguk, "Loh!" Ibu pemilik warung itu kembali tersentak, "Kopi hitamnya beneran pake es, Mas?" tanyanya seketika.
Bambang mengangguk seraya dengan polosnya berkata, "Iya, Bu."
Ibu pemilik warung pun mengangguk dengan raut wajahnya yang mulai heran sembari kembali menuju ke dalam untuk menyiapkan pesanan Bambang.
Bambang kemudian menyeret matanya ke sepanjang meja di depannya yang di atasnya sudah tersusun rapi beberapa makanan, "Wah, kok liat makanan aku jadi laper?" gumam Bambang dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri.
"Mas anak buah baru di toko baju sebelah ini ya?" tanya Ibu pemilik warung itu sambil menyiapkan pesanan Bambang.
"Enggak Bu," Bambang menggeleng dan menjawab singkat.
"Terus?"
"Mau jenguk sepupu aku aja, Bu..." Bambang menjawab dengan wajah dan nadanya yang polos.
"Sepupu kamu? Sandi?" sahut Ibu pemilik warung itu menebak.
"Bukan," jawab Bambang dengan nada polos dan sekali menggeleng.
"Terus siapa?" tanya Ibu pemilik warung itu lagi.
"Lala," Bambang terus saja menjawab polos dengan kata singkat dan juga tetap dengan raut wajahnya yang polos.
"Oooh, sepupu neng Lala?" Ibu pemilik warung itu mengangguk, kemudian menuju ke depan warung, "Bentar ya, Mas... Saya mau beli batu es dulu, soalnya tadi lupa beli..." Ibu pemilik warung itupun pergi menjauh dari warung dimana Bambang berada.
Sementara itu, sambil menunggu pesanannya tiba di hadapannya, Bambang mengambil sebuah gorengan tahu yang ada di atas meja dan langsung melahapnya, "Kayaknya ada yang kurang lengkap nih rasanya," gumam Bambang setelah menelan gorengan tahu tadi kemudian melihat beberapa tumpukan piring kecil yang tersusun di atas meja dan mengambilnya, "Petisnya mana ya?" gumam Bambang lagi kemudian menyeret tatapannya ke sepanjang meja dan seketika melihat sebuah teko kecil yang di dalamnya berisi petis, "Nah itu dia pelengkapnya...." Bambang segera meraih teko kecil itu kemudian langsung menuangkan petis ke dalam piring kecil yang tadi di ambilnya, "Nah, aku kebanyakan nuang petisnya nih..." ucap Bambang lirih dengan wajah bingungnya karena petis penuh berisi di dalam piring, "Gini aja deh, biar petisnya enggak mubazir...." Bambang kembali mengambil sebuah piring kecil lagi lalu meletakkan beberapa gorengan tahu di atas piring kecil itu. Kemudian Bambang segera menyantap semua gorengan tahu yang tadi diambilnya dan sesekali mencocolnya dengan petis.
"Ini Mas, es kopi hitamnya, silahkan di minum," ucap Ibu pemilik warung tiba-tiba datang dari dalam warung sembari meletakan segelas es kopi hitam di atas meja di hadapan Bambang.
"Oh, iya, terima kasih Bu," ucap Bambang tersenyum sembari meraih sebuah gelas berisi kopi yang terlarut dengan dinginnya es dan langsung menyeruputnya. "Waaah... Segarnya...." lanjut Bambang lirih setelah merasakan sejuknya kopi es yang diseruputnya tadi dan langsung kembali meminumnya sampai habis. "Duh, masih laper nih..." gumam Bambang kemudian menoleh ke dalam warung, "Bu..." panggil Bambang.
Ibu pemilik warung pun langsung menghampiri Bambang, "Iya Mas?" tanyanya seketika.
"Ibu ada jual nasi nggak?"
"Ada... Tapi, lauknya cuman sisa ikan goreng, Mas..." jawab Ibu penjual warung.
"Ya udah, nggak apa-apa, Bu," sahut Bambang.
"Sebentar ya, Mas...." Ibu pemilik warung pun langsung mengaut sepiring nasi dan meletakkan seekor ikan goreng di atasnya, lalu meletakkannya di hadapan Bambang, "Ini, Mas..." lanjut Ibu pemilik warung seraya menyuguhkan sepiring nasi beserta lauk seekor ikan goreng di hadapan Bambang tepat di atas meja dan kemudian Bambang pun dengan segera menyantapnya.
Setelah selesai menyantap makanan tadi, kedua mata Bambang kembali melirik ke arah lemari etalase yang ada di atas meja, "Bu, bisa nambah lagi nggak?" tanya Bambang.
"Duh... Maaf banget, Mas.... Nasinya udah habis...." sahut Ibu pemilil warung itu pelan.
"Ooh, ya udah... Kalau gitu aku makan gorengan lagi aja deh...." Bambang kembali mengambil beberapa potong gorengan tahu lalu meletakkannya di atas piring kecil yang tadi digunakannya untuk meletakkan gorengan tahu, kemudian dia juga kembali menuangkan petis ke dalam piring kecil. Dengan lahap Bambang kembali menyantap beberapa potong gorengan tahu hingga habis.
Setelah dirasakannya bahwa perutnya sudah terisi penuh, Bambang pun beranjak dari kursi, "Berapa, Bu?" tanya Bambang seketika.
"Sebentar, Mas," sahut Ibu pemilik warung sembari berjalan dari dalam warung dan menghampiri Bambang, "Tadi Mas-nya makan apa aja? Kopi es, nasi, sama apa lagi ya, Mas?"
"Sama gorengan tahu tadi, Bu..." jawab Bambang.
"Gorengan tahunya berapa potong, Mas?"
"Tiga puluh biji, Bu," jawab Bambang lagi dengan raut wajahnya yang polos.
"Hah!" Ibu pemilik warung itupun sontak terkejut dan heran setelah mengetahui jumlah gorengan tahu yang tadi sudah dihabiskan Bambang, "Se-semuanya pas jadi lima puluh ribu, Mas," ucap Ibu pemilik warung dengan raut wajahnya yang heran menatap Bambang yang sepertinya masih belum kenyang.
"Oh, ya udah, nanti bos di toko sebelah ini yang bayar ya, Bu...."
"I-iya... Gitu, ya..." Ibu pemilik warung itu seketika merasa bingung mendengar ucapan dari Bambang.
Sedangkan Bambang langsung bergegas menjauh dari warung dan langsung kembali ke toko menghampiri Lala tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk akad jual beli.
"Dih! Main nyelonong aja... Pantesan perutnya nggak kenyang-kenyang...!" Ibu pemilik warung itu menggeleng dan bergumam kesal sambil menyeret pandangannya mengikuti ke arah Bambang yang berjalan ke toko di sebelah warungnya.