Bab 27

2308 Words
Bambang melangkahkan kakinya dengan sangat pelan dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Cuaca yang dingin membuat Bambang semakin enggan untuk mandi. Maklum, di hari cerah saja Bambang tidak suka mandi, apa lagi kalau cuacanya yang dingin begini, matahari saja enggan untuk menampakan dirinya sehingga terus saja bersembunyi di balik awan yang mendung dan sudah pasti Bambang juga menjadi semakin malas untuk beraktivitas termasuk untuk mandi. "Jadi tambah dingin aja nih air! Padahal kan ini udah lewat tengah hari ya, kok masih nggak cerah-cerah aja, malah tambah gelap, huh! Bikin aku tambah malas aja ngelihat air!" Bambang menggerutu seketika menyentuh air kemudian memainkan air yang ada di dalam bak mandi dan tidak kunjung juga membasuhkan air ke wajahnya. Setelah beberapa menit memainkan air dengan gayung di tangannya. 'BYUUR...' Bambang akhirnya mulai mengguyur wajahnya dengan air, selanjutnya ia menyeka bagian tubuhnya yang lain sedikit demi sedikit. Setelah itu Bambang mengeringkan tubuhnya yang sedikit basah itu dengan handuk kering yang kemudian di gantungnya di bahu lalu segera keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke lotengnya untuk mengenakan pakaian. 'Huh! Masih ada aja nih orang!' Bambang kembali menggerutu seketika berjalan melewati ruang tamu karena melihat Owel yang masih saja menonton televisi di ruang tamu. Bambang mempercepat langkahnya bergegas ketika lewat di samping televisi dan langsung menuju tangga untuk naik ke lotengnya. Owel menyerer matanya mengikuti kemana arah Bambang berjalan hingga hilang ketika Bambang tiba di lotengnya. Setelah mendadani dirinya, Bambang pun kembali turun dari loteng dan langsung segera menuju keluar rumah. "Mau kemana lu, Mbang?" tanya Owel seketika menoleh ke belakang tepat ke arah Bambang yang berdiri di depan pintu sambil merapikan rambutnya yang menjambul. "Ke pasar!" jawab Bambang singkat kemudian melajukan langkah kakinya menuju motor matik berwarna hijau yang masih terparkir di depan rumah kediamannya. "Ngapain lu ke pasar, Mbang? Mau beli bedak?" tanya Owel seketika menyusul Bambang dan berdiri di depan pintu rumah sambil mengejek yang kemudian diiringi dengan gelak tawanya untuk menertawakan Bambang. 'Suka-suka aku mau ngapain! Mau beli bedak kek! Mau beli lipstik kek! Kan, bukan urusan dia! Memang siapa dia ngurusin hidup aku mulu?!' Bambang menggerutu seraya menunggangi kuda hijaunya kemudian langsung memacunya dengan cepat menjauh dari rumah dan tidak menghiraukan perkataan Owel yang tadi mengejeknya. Setelah puas mengejek menertawakan Bambang, Owel kembali masuk ke dalam rumah kediaman Bambang dan Pak Satria untuk lanjut menonton televisi. 'Emangnya Bambang mau kemana sih?!' Sambil menonton televisi, Owel berpikir dengan selidik karena penasaran dengan Bambang, "Bambang beneran mau kepasar nggak ya?" tanya Owel berkata lirih, "Ah, bodo amat! Mau kemana kek dia, kan bukan urusan gue juga, bagus juga kan, kalau dia nggak ada di rumah, jadi nggak ganggu gue lagi nonton tv," sambung Owel kemudian mengutak atik layar smartphone di tangannya sesekali menoleh ke arah televisi. Bambang memacu motor matiknya dengan santai, 'Tunggu aku ya, Lala...' gumamnya dalam hati. Ketika di jalan, Bambang kembali larut dalam khayalannya. 'Bambang mengkhayal menjadi Pangeran tampan yang sedang memacu kudanya dengan santai, "Tunggu aku permaisuriku, Pangeran tampan sebentar lagi akan menjemputmu." Bambang melambai ke kiri dan kanan melihat orang-orang yang berdiri di kiri dan kanan sepanjang jalan yang dilewatinya.' 'PRIIIIITTT!' Tiba-tiba terdengar suara pluit yang ditiup dan ternyata berasal dari seorang tukang parkir yang hampir ditabrak Bambang. Sontak Bambang pun menghentikan laju motor matiknya setelah tersadar dari khayalannya yang menjadi seorang pangeran tampan. "Woy! Kalau naik motor itu hati-hati!" teriak seorang tukang parkir yang langsung membentak Bambang. Seketika Bambang langsung menunjukkan raut wajahnya yang takut karena seorang tukang parkir yang membentaknya. Tanpa menghiraukan tukang parkir yang terus-terusan memarahinya, Bambang menoleh ke kiri dan ke kanan, "Loh, ini kan pasar tempat Lala berjualan?" ucap Bambang lirih. "Woy Mas!" teriak tukang parkir itu lagi karena melihat tingkah Bambang yang acuh dengan omelannya. Tanpa menghiraukan tukang parkir, Bambang langsung berlalu menuju ke arah pasar meninggalkan tukang parkir yang masih marah-marah di depannya. "Woy! Lu tuli ya!" bentak tukang parkir itu lagi seketika menghampiri dan menarik tubuh Bambang sehingga terjatuh. "Aduuh..! A-ampun Bang..." ucap Bambang seketika sembari berusaha kembali berdiri. "Lu ini tulu ya?!" bentak tukang parkir itu lagi seketika menggenggam leher baju Bambang. Sekujur tubuh Bambang seketika gemetar, "A-a-ampun Bang...." Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri Bambang dan tukang parkir. "Ada apa ini mang Cecep?" tanya laki-laki itu seketika menyebut nama dari tukang parkir yang bernama Mang Cecep. "Ini orang nggak hati-hati, mana udah hampir nabrak gua, San," jawab tukang parkir itu. "Udah Mang, nggak usah diperpanjang deh... Lagian kan hampir.. Belom ditabrak juga," ucap laki-laki itu mencoba membujuk Mang Cecep. Mang Cecep pun melepaskan genggaman tangannya pada leher baju Bambang dengan masih menunjukkan raut wajahnya yang geram. "Ya udah, ini buat ngopi atau ngeteh Mang Cecep," ucap laki-laki itu lagi sembari menyerahkan selembar uang kepada Mang Cecep. Mang Cecep langsung meraih selembar uang yang diberikan oleh laki-laki itu kemudian kembali menatap tajam ke arah Bambang. "Untung lu...!" Mang Cecep menunjuk tepat ke wajah Bambang yang tubuhnya masih gemetar kemudian pergi meninggalkan Bambang yang berdiri bersama laki-laki yang menolongnya tadi. "Lu nggak apa-apa, bro?" tanya laki-laki itu. Bambang hanya mengangguk dengan raut wajahnya yang gugup. "Ya udah, gua pergi dulu ya... Lain kali hati-hati, bro..." ucap laki-laki itu lagi kemudian meninggalkan Bambang memasuki pasar. Bambang menghela nafas sambil memusut da*danya, 'Huh! Sok jago tuh tukang parkir!' gerutu Bambang dengan raut wajah masam, 'Lambat-lambatin aku buat nyamperin Lala aja!' gerutu Bambang lagi kemudian menoleh ke arah warung dan melihat tukang parkir tadi menatapnya dari jauh dengan raut wajah yang masih marah, 'Wah! Tukang parkir tadi masih ngeliatin aku...' Bambang pun bergegas berjalan memasuki pasar. Bambang menoleh ke seluruh penjuru sudut di dalam pasar, "Lala mana ya?" ucap Bambang lirih kemudian berjalan belok ke arah kanan tepat dari persimpangan empat di awal jalur depan pasar. Sembari berjalan, Bambang masih menoleh ke kiri dan kanan memperhatikan seluruh pedangang yang berjualan di pasar di sepanjang jalan yang ditelusurinya, "Duuh, Lala dimana sih?" ucap Bambang lirih. Sampai akhirnya Bambang tiba tepat di ujung sudut pasar kemudian menoleh ke arah kiri. "Nah itu Lala...." Wajah Bambang langsung berseri-seri setelah melihat Lala yang berdiri di depan sebuah toko baju. Bambang mempercepat kedua langkah kakinya menghampiri ke arah Lala. Sampai karena tergesa-gesa dia berjalan, sehingga tidak sengaja menyenggol sebuah keranjang berisi beberapa sayuran yang seketika berhamburan di lantai pasar. "Huh! Ngalangin orang jalan aja nih keranjang!" Bambang menggerutu setelah menjatuhkan keranjang sayuran milik pedagang kemudian tanpa rasa bersalah sedikitpun terus berjalan meninggalkan semua sayuran yang berserakan di lantai. "Mas! Mas!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu-ibu dari belakang yang mengejar menghampiri Bambang. Namun, Bambang tetap terus berjalan tanpa menoleh ke belakang untuk menghiraukan teriakan itu, malah ia semakin mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai ke tempat Lala berada. "Mas! Itu sayuran saya gimana?!" bentak ibu-ibu yang tadi mengejar seketika menghadang Bambang sembari menunjuk ke belakang tepat ke arah sayuran yang berserakan di lantai pasar. Sontak langkah Bambang langsung terhenti kemudian menatap ibu-ibu itu dengan tatapan datar, "Hah? Ada apa, Bik?" tanya Bambang dengan wajah polosnya yang tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Beberapa pengunjung pasar pun seketika berhenti dan menonton Bambang yang dimarahi oleh ibu-ibu pedagang sayuran. "Apanya yang ada apa!" bentak ibu-ibu itu lagi seketika menggunakan jurusnya dengan memukulkan seikat sayuran kangkung di tangannya ke tubuh Bambang. "Aduh Bu... Aduh Bu!" jerit Bambang seketika menahan pukulan ibu-ibu itu dengan tangannya. "Ini, gara-gara kamu, dagangan saya jadi kotor semua! Kamu harus ganti rugi!" Ibu-ibu itu terus saja memukulkan seikat sayuran kangkung di tangannya sambil membentak Bambang. "Loh, kok gara-gara saya, Bu?" tanya Bambang dengan wajah polosnya yang mengesalkan, "Ibu tuh yang salah, enak nyalahin saya, Ibu aja yang naruh keranjangnya terlalu ke tengah, jadi kesenggol, kan..." lanjut Bambang. "Kok jadi malah balik nyalahin sih!" bentak ibu-ibu itu lagi. Kemudian, Mang Cecep yaitu seorang tukang parkir yang tadi hampir ditabrak Bambang langsung menghampiri. "Ada apa ini, Bu?" tanya Mang Cecep. "Ini Cep, dia ngejatuhin keranjang dagangan ibu!" sahut ibu-ibu itu. Mendengar jawaban dari ibu-ibu pedagang sayuran itu, Mang Cecep pun langsung berdiri di depan Bambang dan langsung mendorong tubuh Bambang hingga terjatuh, "Woy! Tadi lu udah hampir ngenabrak gua! Sekarang dagangan emak gua lu ancurin!" bentak Mang Cecep yang ternyata adalah anak dari ibu-ibu yang tadi keranjang dagangannya disenggol oleh Bambang. Lala yang sejak tadi berdiri di depan toko dan melihat dari jauh ada keributan pun langsung menghampiri ke tempat kejadian. "Itu Bambang bukan?" gumam Lala dalam hati seketika menatap Bambang yang terjatuh dan terduduk di atas lantai pasar yang sedikit becek. "Ampun Bang... Ampun Bang...." ucap Bambang dengan menundukkan wajahnya. "Bang, Bang... Emangnya gua abang lo!" bentak Mang Cecep seketika meraih dan kembali menggenggam leher baju Bambang kemudian mengangkatnya. "Ampun Bang...." Bambang terus saja memohon ampun kepada Mang Cecep yang sejak tadi masih menahan amarahnya kepada Bambang. "Kalau tadi lu hampir ngenabrak gua, gua masih bisa maafin lu, tapi kalau menyangkut masalah sama emak gua, gua ga bakalan ngampunin lu lagi!" Mang Cecep bersedia dengan tangan kanannya yang sudah mulai mengepal dan akan segera menghuyungkannya ke arah bagian perut Bambang. "Mang Cecep! Hentikan!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan perempuan dari kerumunan orang, sehingga Mang Cecep pun mengurungkan niatnya untuk memukul Bambang. Mang Cecep menoleh ke arah asal suara teriakan itu dan seketika melihat Lala yang menerobos kerumunan menghampiri Mang Cecep dan Bambang serta ibu-ibu pedagang sayuran yang merupakan ibu dari Mang Cecep.Bambang pun ikut menoleh ke arah asal suara teriakan itu dan sontak terkejut setelah melihat Lala yang menghampirinya. "Lala..." ucap Bambang lirih seketika menunjukkan raut wajahnya yang tampak berseri. "Ada apa ini, Mang?" tanya Lala menatap Mang Cecep sambil sesekali menoleh ke arah Bambang yang leher bajunya masih digenggam oleh Mang Cecep. "Ini nih, Neng Lala... Dia abis ngejatuhin keranjang sayur emak saya, nggak ngaku lagi!" jawab Mang Cecep geram sambil menunjuk wajah Bambang. "Udah, udah, Mang... Berapa kerugiannya nanti biar Lala yang ganti..." sahut Lala mencoba membujuk Mang Cecep yang tampak sangat marah. "Emangnya dia ini siapa sih, Neng?!" tanya Mang Cecep penasaran dengan nada yang masih meninggi sambil menunjuk wajah Bambang dan masih belum melepaskan genggamannya pada leher baju Bambang. "Dia ini masih sepupu jauh aku, Mang," jawab Lala. "Oh..!" Mang Cecep langsung melepaskan genggamannya dari leher baju Bambang. "Untung lu sepupunya Neng Lala! Kalau enggak, abis lu!" lanjut Mang Cecep kembali membentak. "I-iya, Bang.. Ma-ma-maaf..." ucap Bambang terbata-bata karena sekujur tubuhnya yang gemetar. "Ada apa, La?" Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menerobos ke tengah kerumunan dan yang tadi di depan pasar juga membantu Bambang selamat dari Mang Cecep. "Eh Sandi..." sahut Lala dengan menunjukkan wajahnya yang mulai tersipu, "Ini, ada masalah sama Mang Cecep, tapi udah kelar kok," sambung Lala memberitahu. "Ooh..." Sandi mengangguk, kemudian menatap orang-orang yang masih berkerumun dan berkeliling di sekitarnya, "Ini ada apa? Udah, bubar... bubar!" ucap Sandi dengan sedikit berteriak. Akhirnya orang-orang yang berkerumun itu pun sedikit demi sedikit pergi, termasuk juga Mang Cecep dan ibunya yaitu pedagang sayuran tadi. "Mang... Mang...!" panggil Lala seketika menghentikan langkah Mang Cecep dan ibu pedagang sayur. "Ya, Neng?" tanya Mang Cecep. "Nanti uang ganti ruginya samperin ke toko ya, Mang," sahut Lala tersenyum. "Uang ganti rugi apa, La?" tanya Sandi. "Eh enggak, San...." Lala menyembunyikan permasalahannya karena ulang Bambang dari Sandi. "Udah, bilang aja.. Ganti rugi apa? Entar biar aku yang bayarin," ucap Sandi. Namun, Lala hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Sandi. "Ya udah..." Sandi menoleh ke arah Mang Cecep sembari mengambil dompet di saku celananya, "Berapa ganti ruginya, Mang?" lanjut Sandi bertanya. "Eeee...." Mang Cecep tampak bingung berapa uang ganti rugi yang harus dia terima, kemudian menoleh ke arah ibunya yang merupakan pedagang sayur tadi, "Berapa, Mak?" lanjut Mang Cecep bertanya. "Bentar... Kalian tunggu disini dulu..." sahut ibu pedagang sayur itu sambil berjalan menuju ke lapak daganganya. Tak lama kemudian ibu itu kembali lagi, "Total semuanya jadi enam puluh ribu, San," lanjut ibu pedagang sayur itu seketika berdiri di berhadapan dengan Sandi. "Ooh, ya udah... Ini, Bu..." ucap Sandi sembari menyerahkan uang kertas berwarna merah kepada ibu pedagang sayur. Ibu pedagang sayur itupun menerima uang yang diserahkan oleh Sandi, "Belum ada kembaliannya nih... Nanti biar Cecep aja deh yang ngasih kembaliannya ya, San," ucap ibu pedagang sayur. "Ah, enggak usah, Bu... Ibu simpen aja..." sahut Sandi tersenyum. "Jangan... Biar nanti Cecep yang ngasih kembaliannya ke toko..." Ibu pedagang sayur itu memaksa. "Kalau gitu, buat Mang Cecep aja, Bu," sahut Sandi. "Elah, daripada buat Cecep, mending saya simpan aja lah...." Ibu pedagang sayur itupun segera berjalan menuju ke lapak dagangannya. "Lah, Bu... Bu... Katanya kan, buat aku, Bu...." Cecep mengejar ibunya. "Enggak, nanti kamu malah pake uangnya buat yang bukan-bukan...!" sahut ibu pedagang sayur itu sembari tetap melangkahkan kakinya. "Buat yang bukan-bukan apanya, Bu..." Cecep terus mengejar sambil membujuk ibunya. "Elah, entar uangnya kamu pake buat mojok sama bibi jamu!" Ibu pedagang sayur itu terus saja berjalan dan Mang Cecep pun juga terus saja berusaha membujuk ibunya, sampai suara mereka berdua tidak terdengar lagi oleh Bambang, Lala, dan Sandi karena mereka sudah tiba di depan lapak dagangan sayur ibunya Mang Cecep. Sandi dan Lala pun tertawa karena melihat tingkah ibu dan anak yang menurut mereka itu lucu. Sedangkan Bambang hanya menatapnya dengan raut wajahnya yang datar. Bambang pun menatap Sandi kemudian menatap Lala dengan penuh selidik, "Itukan, laki-laki yang nolongin aku tadi," gumam Bambang dalam hati, "Terus, apa hubungan dia dengan Lala? Kok, kayaknya mereka sudah saling kenal?" Dalam hati Bambang seketika melontarkan pertanyaan. "Ya udah yuk, La," ajak Sandi untuk pergi. "Bentar, San." Lala menghampiri Bambang, "Kamu mau ngapain disini, Mbang?" tanya Lala. "Hah? A-a-aku ma-mau nengokin Lala," jawab Bambang terbata-bata dan gugup karena melihat Lala yang berhadapan dekat dengannya. "Hmm... Nengokin aku?" tanya Lala lagi dengan raut wajahnya yang heran menatap Bambang. "Kalau gitu ajak aja sepupu kamu ini ikut ke toko, La," ucap Sandi seketika. "I-i-iya udah deh, San..." sahut Lala, "Yuk, Mbang... Ikut aku ke toko," lanjut Lala yang kemudian dengan raut wajah terpaksa. Raut wajah Bambang pun tampak semakin berseri sembari berjalan beriringan bersama Lala dan Sandi menuju ke toko tempat Lala bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD