Keesokan paginya di kediaman Bambang, terlihat masih sepi karena Pak Satria dan Bambang masih belum juga bangun dari tidur mereka yang begitu pulas akibat begadang tadi malam, meskipun kini jam sudah menunjukan pukul delapan pagi hari.
Sementata itu terlihat dari seberang rumah tepat di kediaman Nenek Mirah, nampak seorang perempuan muda bersama Ayah dan juga Ibunya yang tengah berkunjung di sana. Perempuan muda itu adalah Lala, mereka datang bersama Pak Didin dan Ibu Atun untuk menengok Nenek Mirah di sana.
Sebelumnya Nenek Mirah sudah memberi kabar kepada Pak Didin bahwa Bambang yaitu cucunya sedang sakit agar Pak Didin dan istrinya datang bersama anaknya yaitu Lala ke rumah kediamannya dan menjenguk Bambang untuk mendekatkan Bambang dengan Lala yang berencananya akan di jodohkan oleh Nenek Mirah.
Meskipun sebenarnya rencana itu belum sempat di beri tahu oleh Nenek Mirah kepada Pak Didin karena masih menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan perjodohan antara Bambang dengan Lala.
"Maaf ya, Bu... Soalnya kami baru bisa datang sekarang," ucap Pak Didin. "Kemarin itu saya sibuk ngajar ngaji anak-anak di dekat rumah, Bu... Kasian anak-anak entar kalau ngaji-nya libur malah entar lupa pelajaran," lanjut Pak Didin.
"Iya, nggak apa-apa, Din," sahut Nenek Mirah tersenyum seraya mengangguk pelan. "Masuk dulu, yuk," sambung Nenek Mirah mempersilahkan Pak Didin dan Bik Atun untuk masuk ke dalam rumah kediamannya.
"Gimana sekarang keadaan Bambang, Bu?" tanya Bik Atun seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Udah agak mendingan kayaknya, Tun," jawab Nenek Mirah sembari duduk di atas sofa kemudian mempersilahkan Pak Didin dan Bik Atun serta Lala untuk duduk.
"Memangnya Bambang sakit apa, Nek?" tanya Lala selidik.
'Memang enggak salah nih aku jodohin Lala buat Bambang' gumam Nenek Mirah tampak tersenyum setelah mendengar ucapan yang dilontarkan Lala, beliau menganggap bahwa Lala memberi perhatian kepada salah satu cucunya itu, yaitu Bambang.
"Kayaknya Bambang kena magh, La," jawab Nenek Mirah tersenyum dengan seribu maksud menatap Lala.
Lala mengangguk pelan.
"Terus, Bambangnya dimana, Bu?" tanya Bik Atun.
"Dia di seberang, Tun," jawab Nenek Mirah.
Kemudian Nenek Mirah pun mengajak Pak Didin bersama Bik Atun dan Lala untuk menjenguk Bambang.
Nenek Mirah mengetuk rumah kediaman Bambang.
"Bambang, bukain pintu!" panggil Nenek Mirah dari depan pintu rumah. Namun, tak juga terlihat pintu di depannya dibuka. "Satria, bukain ibu pintu, ini ada Pak Didin sama istrinya!" panggil Nenek Mirah lagi sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"Iya Bu, sebentar!" sahut Pak Satria terdengar samar dari depan rumah dimana Nenek Mirah bersama Pak Didin, Bik Atun, dan Lala berada.
'GREK...'
Pak Satria membukakan pintu.
"Eh, Pak Didin dan Ibu Atun, mari masuk," ucap Pak Satria seketika kemudian mempersilahkan masuk.
Ibu Atun tersenyum ke arah Pak Satria lalu masuk ke dalam rumahnya Pak Satria bersama suaminya yaitu Pak Didin.
"Assalamualaikum," kata Ibu Atun mengucapkan salam sembari masuk ke dalam rumah kediaman Pak Satria.
"Waalaikumsalam," sahut Pak Satria.
"Mana Bambangnya, Pak?" tanya Ibu Atun kepada Pak Satria ketika masuk ke dalam rumahnya, "Katanya lagi sakit ya?" tanya Ibu Atun lagi.
"Iya Bu Atun, cuman sakit perut biasa kok, baru juga sembuh, itu Bambangnya masih tidur, mungkin kecapekan kerja kali ya," jawab Pak Satria tersenyum sambil angannya menunjuk arah Bambang yang tidur di depan televisi. "Mbang, Bambang... Ini ada Pak Didin sama Ibu Atun jengukin kamu." Pak Satria mencoba membangunkan Bambang yang masih tertidur dengan sangat pulasnya.
"Enggak usah di bangunin Pak, kan kasihan juga dia masih sakit, lagian kami cuman sebentar kok, soalnya Lala masuk kerja pagi ini," sahut Bu Atun sembari tersenyum.
Mendengar nama Lala yang di ucapkan Ibu Atun, sentak Bambang pun langsung terbangun dari tidurnya.
'Hah, ada Lala...' gumam Bambang dalam hati kemudian segera beranjak duduk sambil mengucak-ucak kedua matanya yang masih mengantuk.
"Eh, Pak, Bu..." ucap Bambang seketika tersipu malu menatap Pak Didin dan Ibu Atun yang duduk di atas sofa di ruang tamu kemudian menyeret matanya ke kiri dan kanan, 'Loh, katanya ada Lala, dimana?' Wajah Bambang kembali lemas.
"Lala nggak ikut ya?" tanya Bambang.
"Lala ikut kok, tuh dia ada di seberang, di rumah nenek kamu," jawab Ibu Atun.
'Hah, Lala ada di seberang.' Bambang langsung berdiri dan dengan cepat menuju ke rumah kediaman neneknya untuk mendatangi Lala yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Nenek Mirah sambil meminum segelas teh hangat buatan Bik Mumun dan juga menyantap gorengan pisang.
"Kamu mau kemana, Mbang?" tanya Pak Satria, tapi Bambang tidak menghiraukan.
'Loh, bukannya dia lagi sakit ya?' Ibu Atun pun heran melihat tingkah Bambang yang terlihat begitu senangnya karena kedatangan Lala. "Ini Pak, tadi saya bawa sedikit oleh-oleh untuk Bambang, mohon di terima ya," ucap Ibu Atun menoleh ke arah Pak Satria sembari menyerahkan sebuah rantang besar berisi makanan di dalamnya dan juga satu kantong berukuran sedang yang berisi buah-buahan di dalamnya.
"Oh, iya Bu, terima kasih ya, dan maaf sudah ngerepotin sampai bawa oleh-oleh banyak begini segala," sahut Pak Satria sembari menunduk mengambil oleh-oleh yang tadi di berikan Ibu Atun.
"Kami pamit ke seberang dulu ya Pak, mau ke rumah Nenek Mirah dulu, maaf mengganggu," kata Pak Didin seraya mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman kepada Pak Satria, kemudian di ikuti oleh istrinya yaitu, Ibu Atun.
"Iya Pak Didin, Ibu Atun... Sekali lagi terima kasih ya," ucap Pak Satria dengan tersenyum senang,
Pak Didin dan Ibu Atun pun kembali ke kediaman Nenek Mirah yang tepat berseberangan dengan rumah kediaman Pak Satria.
Kemudian Pak Satria melangkah menuju dapur dan meletakan oleh-oleh yang di bawa oleh Pak Didin dan juga Ibu Atun di dalam lemari penyimpanan makanan yang ada di dapur.
Sementara itu, Bambang yang sudah ada di rumah kediaman Nenek Mirah pun tengah duduk manis bersebelahan dengan Lala tanpa menghiraukan bahwa Lala yang wajahnya menunjukkan rasa risih karena berada dekat dengannya.
"Kamu kapan datang, La?" tanya Bambang sambil tersenyum malu-malu dan gerakannya di lihat jelas oleh neneknya.
"Baru aja kok," jawab Lala singkat di sertai senyum kecut di bibirnya.
"Kamu kesini mau nengokin aku ya?" tanya Bambang lagi dengan senyum lebarnya.
"Iya, di ajak sama Ibu," jawab Lala lagi masih dengan senyum kecut di bibirnya.
Bambang tersenyum lebar selebar mulutnya karena merasa di perhatikan oleh Lala. Sedangkan Lala merasa tidak senang dengan tingkah laku dari Bambang padanya.
Nenek Mirah terus memperhatikan gerak-gerik Bambang dan juga Lala yang duduk berseberangan dengannya. 'Ini kok, kayak Bambang yang nyosor-nyosor.' Nenek Mirah mulai merasa heran melihat tingkah Bambang.
Lala yang merasa semakin risih karena Bambang duduk semakin dekat dengannya pun mulai mengambil smartphone-nya dari dalam tasnya kemudian mengutak-atik smartphone-nya untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya. Tapi, Bambang malah ikut-ikutan memperhatikan layar smartphone milik Lala. Tingkah laku Bambang itu membuat Lala bertambah geram karena merasa privasinya di ikut campuri oleh Bambang. 'Duh, nih orang kenapa sih? Mana nafasnya bau!' gumam Lala kemudian menutup kedua lubang hidungnya dengan satu jari. Lala menoleh ke arah pintu dan tampak Pak Didin bersama Ibu Atun yang kembali dan langsung mengobrol dengan Bik Mumun. 'Nah, pas banget ibu sama ayah udah datang.' Kemudian Lala langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengajak kedua orang tuanya yaitu Pak Didin dan Ibu Atun untuk segera pulang ke rumah dengan alasan bahwa dia sebentar lagi akan berangkat kerja.
"Pak, Bu... Kita pulang yuk!" ajak Lala menatap ayah dan ibunya, "Kan, sebentar lagi aku mau ke pasar, jualan," lanjut Lala kepada kedua orang tuanya yang masih mengobrol dengan Bik Mumun.
"Iya La," sahut Ibu Atun seketika, "Ayo Pak, kita pulang dulu, nanti Lala bisa terlambat pergi ke pasar," sambung Ibu Atun menoleh ke arah Pak Didin.
"Ayo, Bu," sahut Pak Didin sembari mengangguk kemudian menoleh ke arah Nenek Mirah yang duduk di dalam rumah, "Nek Mirah, Bu Mumun, kami pulang dulu ya, nanti kapan-kapan mampir kesini lagi, ini soalnya Lala mau pergi ke pasar dulu mau jualan," lanjut Pak Didin berpamitan kepada Nenek Mirah dan Bik Mumun.
"Iya Pak Didin, terima kasih ya sudah mau ke sini nengokin Nenek sama nengokin Bambang," sahut Bik Mumun kemudian mengantar Pak Didin dengan Ibu Atun dan juga putrinya yaitu Lala ke depan rumah.
"Kami pulang dulu ya Nek... Assalamualaikum," ucap Pak Didin berpamitan.
"Walaikumsalam," sahut Nenek Mirah dan Bik Mumun bersamaan.
Kemudian Pak Didin bersama Ibu Atun istrinya dan Lala pun pergi dengan berjalan kaki kembali ke rumah kediaman mereka.
Sementara itu Bambang masih duduk terpaku di atas sofa milik neneknya sambil tersenyum sendirian. Melihat tingkah Bambang itu pun sehingga membuat Bik Mumun merasa geli.
"Kenapa kamu Mbang, kok senyum-senyum sendiri begitu, ngigo lagi ya?" tanya Bik Mumun menggoda Bambang yang masih saja tampak tersenyum sendirian.
"Ah, kamu Mun! Kayak nggak tahu aja kalau Bambang itu seneng setelah ketemu sama Lala," sahut Nenek Mirah senang sembari ikut menggoda Bambang.
Raut wajah Bambang pun semakin tampak senang ketika di goda oleh Nenek dan juga Bibiknya itu.
Bambang semakin melebarkan senyumannya selebar mulutnya tanpa menghiraukan godaan dan ejekan yang sudah di lontarkan oleh Bik Mumun, di dalam pikirannya hanya ada Lala dan wajah Lala selalu terbayang di dalam ingatannya. "Lala memang cantik, baik lagi," gumam Bambang lirih agar tidak terdengar oleh Nek Mirah dan Bik Mumun yang masih saja terus menggodanya.
"Kamu mandi dulu gih sana Mbang!" seru Bik Mumun, "Sakitnya kan udah mendingan," tambah Bik Mumun.
Bambang menatap Bik Mumun sesaat, tanpa menyahut perkataan Bik Mumun kemudian Bambang bergegas ke luar dari rumah kediaman Nenek Mirah dan menyeberang jalan untuk segera pulang ke kediamannya.
Setelah sampai di rumah kediamannya, Bambang yang masih merasa mengantuk pun kembali berbaring di atas kasur karpet yang masih terbentang tepat di depan televisi di ruang tamu dan berencana untuk melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda karena kedatangan Lala.
Bambang kembali menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut yang di tariknya lalu mulai memejamkan kedua matanya kembali dan akhirnya dia pun dengan mudahnya kembali tertidur dengan sangat pulas.
Pak Satria terlihat tergesa-gesa karena sudah terlambat ke pasar untuk membuka gerainya, "Mbang, nanti kalau kamu mau makan, makanannya ada di lemari, tadi dibawain oleh-oleh dari Pak Didin sama Ibu Atun," ucap Pak Satria sembari melewati Bambang yang berbaring di depan televisi, tapi Bambang tidak menyahut karena dia sudah tertidur.
Bambang hanya samar-samar mendengar sedikit perkataan ayahnya yang mengatakan bahwa ada makanan di dalam lemari.
Pak Satria langsung menghidupkan motornya dan pergi.
Setelah itu Bambang tidak mendengar lagi suara ayahnya karena dia sudah terlarut dalam buaian tidur lelapnya.
Tak lama kemudian, tampak Owel yang masuk ke rumah kediaman Bambang dan melihat Bambang yang masih tidur berbaring di atas kasur karpet di depan televisi tepat di ruang tamu.
'Lah, kok dia tidur lagi, bukannya tadi gua dengar suara Bambang di rumah,' gumam Owel kemudian duduk di atas sofa. "Nonton tv ah," ucap Owel lirih kemudian beranjak dari sofa kemudian berjalan menuju televisi dan menyalakannya.
Owel duduk di samping Bambang sambil menonton televisi acara kesukaannya dan sesekali matanya menatap serius ke arah smartphone yang dipegangnya di tangan kanan.
Bambang mendengkur dengan kerasnya sehingga mengalahkan suara dari televisi yang ditonton Owel.
'Ganggu banget sih, dengkuran Bambang,' gumam Owel kesal kemudian berniat mengencangkan volume televisi.
Seketika Bambang langsung berbalik ke samping tepat ke arah Owel yang saat itu ingin meraih sebuah remote televisi yang tepat berada di atas televisi.
"Lala..." ucap Bambang lirih sambil tersenyum dengan kedua matanya yang masih menutup.
"Diihh, si Bambang ngigo lagi nih," gumam Owel sembari memonyongkan bibir atasnya kemudian kembali duduk di samping Bambang yang berbaring miring ke arahnya.
Ketika Owel sedang asik menonton televisi sambil sesekali menatap layar dan mengutak-atik smartphone yang ada di tangannya, tiba-tiba saja Bambang memegang tangan Owel dengan erat sampai-sampai smartphone yang ada di tangan Owel terhempas ke lantai.
"Eh, busyet!! Ngapain lu, Mbang!!" sentak Owel, "Pake pegang-pegang tangan Gue lagi," lanjut Owel kesal sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Bambang yang masih dengan erat memegang tangannya, "Mbang!! Lpasin tangan gue Mbang! Eh, dasar nih anak! Tuh kan, handphone gue sampe jatuh ke lantai," bentak Owel kesal sambil terus mencoba melepaskan genggaman tangan Bambang tapi, Bambang malah semakin erat memegang tangan Owel.
Bambang tiba-tiba beranjak bangun dan langsung bertekuk lutut dihadapan Owel.
"Aku cinta sama kamu Lala, kamu mau nggak jadi istri aku...." ucap Bambang dengan kedua matanya yang masih terpejam dan mulutnya yang tampak senyum menyungging menatap Owel.
"Woi, Mbang lepasin ini tangan gue!" teriak Owel, "Wah parah lu, Mbang!! Ngigo aja sampe gini amat!!" Owel semakin kesal dan dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya yang digenggam Bambang.
Bambang sontak terkejut dan langsung membuka kedua matanya.
"Kalau ngigo jangan libatin gue dong, Mbang!" teriak Owel lagi ketika Bambang sudah membuka kedua matanya dan tersadar dari igauannya.
Bambang menatap Owel kemudian menunduk ke bawah karena malu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Kemudian Bambang berdiri dan langsung berjalan ke dapur tanpa menghiraukan Owel yang masih saja memakinya di ruang tamu. "Emang dasar tuh si Owel!! Lagian, ngapain juga dia duduk di sebelah aku, aku kan jadi kepegang tangan dia," gerutu Bambang kesal sambil terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika tiba tepat di depan kamar mandi lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah itu Bambang duduk di meja makan di dapur, "Duh laper...." ucap Bambang lirih sambil memusut-musut perutnya yang bergetar dan mengelurkan suara keroncongan. 'Oh iya, tadi ayah ngomong apa ya?' gumam Bambang dalam hati sambil berpikir sejenak mengingat perkataan ayahnya pagi tadi yang terdengar samar-samar di telinganya. Kemudian sedikit demi sedikit mengingat bahwa ayahnya yang mengatakan ada makanan di dalam lemari untuk dia makan.
Bambang bergegas membuka lemari penyimpanan makanan dan menemukan satu buah rantang berukuran besar dari dalam lemari, kemudian mengeluarkan rantang itu dari dalam lemari dan menaruhnya di atas meja.
"Wah, banyak banget makanannya nih," ucap Bambang lirih setelah membuka rantang di hadapannya.
Bambang langsung memakan semua makanan yang ada di dalam rantang itu tanpa meletakkannya dulu ke dalam piring. Bambang melahap semua makanan itu tanpa tersisa sedikitpun. Setelah selesai makan, Bambang pun bersendewa dengan sangat nyaring sampai-sampai suaranya terdengar oleh Owel yang ada di ruang tamu dan membuat Owel yang mendengarnya merasa jijik.
"Woi Mbang, kalau sendawa tutup mulut dong! Nggak sopan tahu!" teriak Owel dari ruang tamu.
Bambang hanya tersenyum puas sendiri mendengar teriakan Owel dan tidak menghiraukan kata-kata dari sepupunya itu.
"Salah sendiri, ngapain juga kamu di sini! Pulang sana ke rumah kamu!" gerutu Bambang sambil tertawa cekikikan sendiri di dapur. "Sukanya ngurusin urusan orang aja, kayak hidupnya benar!" gerutu Bambang lagi kesal karena sikap sepupunya itu.
Bambang menggeliat duduk di dapur, sepertinya dia enggan ke luar untuk duduk di ruang tamu karena akan bertemu dengan Owel yang masih ada di sana. "Ngapain sih Owel di sini?! Kan, di rumahnya juga ada tv!" gerutu Bambang, "Ya udah duduk di sini aja dulu deh!" Bambang mendengus kesal.
Bambang lebih memilih duduk sendirian di dapur sambil menunjukan wajah cemberutnya yang menatap nanar ke arah depan tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Huh, bete! Ngapain lagi ya, Owel sih gangguin aku tidur!" gerutu Bambang kesal sambil menghentakan kakinya ke lantai, "Coba aja aku bisa ketemu sama Lala," pikir Bambang mencoba mencari ide untuk bisa bertemu dengan Lala lagi, "Ah, gimana kalau aku pergi ke pasar aja bantuin Lala jualan." Bambang lanjut berpikir dan wajahnya yang datar pun seketika berubah mejadi cerah dan berwarna karena merasa bahagia.