Bab 25

2073 Words
Seisi rumah yang ada di dalam rumah kediaman Bambang pun kini tertidur pulas, sama halnya dengan semua orang yang juga ada di rumah kediaman Nenek Mirah. Suasana kembali hening karena memang saat itu malam sudah semakin larut. Bambang terus saja mendengkur dengan kerasnya. "Hantu....!!!!!!" Teriakan Bambang memecah suasana keheningan malam disaat semua orang sudah terlelap. Semua keheningan itu terpecah karena kegaduhan yang terjadi pada ulah Bambang yang mengigau dengan berteriak. Sontak Pak Satria ayahnya Bambang pun terbangun kemudian bergegas beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju ke ruang tamu menghampiri anaknya itu, begitu juga dengan Owel yang juga terbangun karena dia memang tidur di depan televisi di ruang tamu dan berdekatan dengan Bambang yang tidur di atas sofa yang juga di ruang tamu. Bambang tampak berdiri dengan kedua matanya yang terpejam. "Kenapa Mbang?!" tanya Pak Satria seketika setelah menghampiri Bambang. "Hah, hantu, dimana?!" tanya Owel heran seketika berdiri di samping pak Satria. Namun, Pak Satria dan Owel semakin dibuat bingung karena ulah Bambang yang kembali merebahkan dirinya di atas sofa dan kembali tertidur seperti tidak terjadi apa-apa. "Lah, ni anak kenapa? Kok, malah tidur lagi?" tanya Pak Satria heran sembari menggaruk kepalanya karena bingung. "Bambang ngigo kali, Om," jawab Owel sembari tertawa kecil. "Ada-ada aja nih si Bambang," ucap Pak Satria sambil menggeleng, "Ya sudah, kamu lanjut tidur aja lagi, Wel... Om juga masih ngantuk ini...." sambung Pak Satria sembari melangkah kembali menuju kamar beliau. "Iya, Om," sahut Owel yang juga kemudian kembali ke depan televisi dan segera kembali merebahkan tubuhnya, "Macam-macam aja kelakuan si Bambang," gumam Owel dalam hati, "Udah tidurnya ngedengkur, pake acara ngigo pula.... Bambang... Bambang...." Suasana keheningan malam kembali terasa di dalam rumah kediaman Bambang dan Pak Satria. Owel kembali tertidur dengan nyenyaknya, begitu pula dengan Pak Satria yang juga sudah tertidur pulas di dalam kamar beliau. Namun, ketika Pak Satria di dalam kamar, tidurnya kembali terganggu karena mendengar suara berisik yang berasal dari dapur. Pak Satria pun beranjak bangun dan duduk di atas tempat tidurnya. "Kayaknya di dapur ada tikus, nih," ucap Pak Satria lirih sembari beranjak dari tempat tidurnya kemudian dengan perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan langsung menuju ke arah dapur. Suara berisik semakin jelas terdengar di telinga Pak Satria ketika beliau sudah hampir sampai di dapur. "Bener nih tikus, dari suaranya kayaknya gede nih tikus...." gumam Pak Satria, "Lah, kalau aku menciduknya langsung, bisa-bisa tikusnya malah kabur," ucap Pak Satria lirih kemudian ia menyebarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata untuk menghajar tikus yang ada di dapurnya, "Nah, pakai itu aja...." Pak Satria mengendap-endap melangkah dan kemudian perlahan mengambil sebuah alat penyedot wc yang ada di depan ruangan dapur. Pak Satria berniat hendak menyalakan lampu ruang dapur, "Eh, kalau aku nyalain lampunya, entar tikusnya kabur duluan," gumam Pak Satria yang seketika menghentikan niatnya untuk menyalakan lampu ruang dapur. Kemudian dengan langkah menjinjit, Pak Satria pun memasuki ruang dapur. Ketika di dalam dapur, ia melihat bayangan hitam besar berada di bawah meja makan. "Nah, benarkan, tikusnya gede..." gumam Pak Satria dalam hati sambil dengan perlahan berjalan mendekat ke arah meja makan. Pak Satria bersiap melancarkan serangannya dengan menggunakan sebuah alat penyedot wc tepat ke arah bayangan hitam yang ada di balik meja makan. "Nah, kena!" teriak Pak Satria setelah serangannya berhasil mengenai tepat ke arah bayangan hitam yang ada di bawah meja makan. Namun, Pak Satria terkejut dan takut seketika melihat sosok bayangan hitam yang di bawah meja makan itu keluar. Samar-samar Pak Satria melihat sesosok bayangan hitam yang berdiri berhadapan dengannya. "Hantu....!!!" teriak Pak Satria seketika berlari keluar dari ruangan dapur menuju ke ruang tamu setelah sebelumnya beliau sempat menendang sosok bayangan hitam itu di dapur. "Kenapa, Om?" tanya Owel seketika beranjak berdiri karena kembali terkejut mendengar teriakan Pak Satria. "Itu ada hantu di dapur!" seru Pak Satria seraya menunjuk ke arah dapur yang tampak gelap. "Hah, hantu?!" Owel sentak heran dan terkejut. Sementara itu, karena mendengar suara ribut yang berasal dari seberang rumah kediaman Nenek Mirah, sontak Nenek Mirah pun terbangun dari tidurnya. "Mun, Mun!" panggil Nenek Mirah seketika berdiri sambil mengetuk pintu kamar Bik Mumun menantunya. Bik Mumun keluar dari kamarnya, "Ada apa, Bu?" tanya Bik Mumun seketika. "Di seberang kayaknya ada suara ribut-ribut, Mun... Coba kamu lihat deh," ucap Nenek Mirah. "Sebentar aku panggil mas Wasil dulu, Bu," sahut Bik Mumun kemudian kembali masuk ke dalam kamar untuk memanggil suaminya. Bik Mumun pun kembali keluar dari kamar bersama dengan suaminya yaitu, Pak Wasil. "Ada apa, Bu?" tanya Pak Wasil. "Itu di seberang kayaknya ada ribut-ribut apa, coba deh kamu samperin kesana," sahut Nenek Mirah. "Iya deh, Bu," ucap Pak Wasil yang kemudian bersama Bik Mumun istrinya bergegas menuju ke rumah kediaman Pak Satria dan Bambang. Pak Wasil dan Bik Mumun pun tiba tepat di depan rumah kediaman Pak Satria dan Bambang. "Loh, ini pintunya di kunci, Bu," ucap Pak Wasil setelah mencoba membuka pintu. "Ketuk aja deh, Pak..." sahut Bik Mumun. TOK... TOK... TOK... "Mas Satria... Owel... Bambang...!" panggil Pak Wasil dari depan pintu sembari sesekali di iringi dengan mengetuk pintu. Owel yang mendengar suara ayahnya yang di depan rumah pun langsung membukakan pintu. "Ada apa, Wel? Kok, tadi kata nenek kamu dia denger suara ribut?" tanya Pak Wasil seketika seraya masuk ke dalam rumah bersama istrinya yaitu, Bik Mumun. "Itu, Yah.. Om Satria katanya ngelihat penampakan hantu," jawab Owel. "Hah! Hantu?" ucap Bik Mumun heran, "Beneran, Mas? Masa zaman sekarang masih ada hantu?" lanjut Bik Minah, "Emang yang Mas liat itu beneran hantu?" tanya Bik Mumun kemudian. "Enggak tahu juga sih, soalnya lampu di dapur nggak aku nyalain," jawab Pak Satria, "Tapi, beneran loh, ada bayangan hitam tadi aku lihat," sambung Pak Satria dengan gugup karena merasa takut. "Ya sudah, Gimana kalau kita lihat ke dapur," ajak Pak Wasil kemudian melangkah lebih dahulu menuju ke dapur. Pak Satria, Owel, dan Bik Mumun pun mengikuti di belakang Pak Wasil. Setelah tiba di depan ruangan dapur, Pak Wasil pun menyalakan lampu. Namun, betapa herannya Pak Wasil melihat seseorang yang terlihat seperti sedang bersembunyi di bawah meja makan. "Itu siapa?" tanya Pak Wasil lirih kepada Pak Satria seraya menunjuk ke arah bagian bawah meja makan yang tepat terdapat seseorang yang bersembunyi di sana. Pak Satria menggeleng, "Ini sih manusia..." lanjut Pak Wasil lirih. Kemudian, Pak Wasil kembali melangkah dengan perlahan menghampiri seseorang yang bersembunyi di balik meja makan itu. "Mas, Mas," panggil Pak Wasil sembari menepuk bahu seseorang yang berada di bawah meja makan tersebut. Namun, seseorang yang berada di bawah meja makan itu tampak seperti ketakutan. "Ha-hantu...! Ja-ja-jangan ganggu a-aku," ucap seseorang tersebut. Pak Wasil dan Pak Satria pun merasa heran karena mengenali suara dari siapa itu yang di dengar mereka. "Kayaknya itu suara Bambang deh, Mas," ucap Pak Wasil lirih menoleh ke arah kanan tepat menatap Pak Satria. "Tapi, bukannya Bambang lagi tidur di ruang tamu?" tanya Pak Satria. "Lah, terus ini siapa?" sahut Pak Wasil balik bertanya. Pak Satria dan Pak Wasil pun menarik tangan seseorang yang bersembunyi di bawah meja makan itu dibantu dengan Owel. Sontak semua orang di dapur itu pun terkejut setelah melihat bahwa Bambang yang sejak tadi bersembunyi di bawah meja makan. Tampak sebuah alat penyedot wc yang menempel pada kepala Bambang sembari berdiri di hadapan Pak Satria, Pak Wasil, Bik Mumun, dan Owel. "Ngapain lu ,Mbang? Kok, sembunyi di situ?!" Teriak Owel kaget. "A-anu, anu...." sahut Bambang terbata-bata dan ketakutan. "Ana... Anu," jata Pak Satria, "Kenapa kamu bisa ada di sini!" Teriak Pak Satria lagi dengan marah. "Pas tadi Ayah bilang ada hantu, aku langsung sembunyi di bawah meja karena takut," sahut Bambang pelan. "Iya yang di maksud ayah lu hantu itu kan, elu Mbang," kata Owel sembari tertawa. "Lagian, lu ngapain malam-malam begini di dapur, ngendap-endap lagi mana gelap, tumben lu berani?" tambah Owel masih dengan gelak tawa yang tidak bisa berhenti terdengar dari mulutnya. "Iya nih, bukannya kamu masih sakit Mbang? Kok, bisa ada di sini sih?" Tanya Bik Mumun heran. "Aku juga nggak tahu Bik, waktu aku bangun, aku udah ada di dapur terus di pukul sama ayah pake penyedot WC ini," jawab Bambang datar sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Wah, jangan-jangan Bambang ngigo lagi Om, sambil berjalan ke dapur!" Teriak Owel. "Parah Lu Mbang, tadi teriak hantu, sekarang malah ngigo tidur sambil jalan," ucap Owel sambil geleng-geleng kepala. Pak Satria menatap piring di atas meja yang bersisa setengah di dalamnya, kemudian bertanya kepada Bambang. "Lah, ini makanan siapa yang makan?" Tanya Pak Satria sambil menatap ke arah Bambang, "Kamu juga yang makan?" Tanya Pak Satria lagi. Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak tahu, "Nggak tahu Yah," jawab Bambang pelan dengan gerakan yang masih lunglai. "Iya Bambang lah yang makan, emangnya siapa lagi," sahut Bik Mumun cepat, "Bambang tiduran sambil jalan, terus dia nggak sadar kalau udah makan di dapur, makanya pas Mas Satria ke dapur di kira hantu," jelas Bik Mumun lagi. "Emang dasar ya si Bambang, sampai tidur makanan mulu yang di pikirin," ucap Owel yang kemudian berjalan ke ruang tamu dan kembali merebahkan dirinya di depan televisi milik Pak Satria. Begitu pula Pak Satria, Bik Mumun, dan juga Pak Wasil yang kemudian juga berjalan ke luar meninggalkan Bambang sendirian di dapur sambil menghabiskan sisa makannya yang masih ada di dalam piring. "Uh dasar! Mendingan aku makan aja," gerutu Bambang, "Dari pada laper, nambah lagi aj," gumam Bambang kemudian kembali menambah nasi ke dalam piringnya. Bambang berlanjut makan di dapur. Seperti biasa tumpukan nasi yang di lahap Bambang tampak seperti anak gunung krakatau. Tanpa terasa, Bambang sudah menghabiskan total dua piring. Setelah makan, Bambang pun kembali menuju ke ruang tamu dan duduk di sofa. Ketika Bambang duduk, ia bersendawa dengan nyaring sehingga Owel yang mendengarnyapun merasa geli. "Iih, jorok banget lu, Mbang!" teriak Owel kesal seketika menutup hidungnya dengan tangannya, "Mana bau lagi!" teriak Owel lagi. Tanpa menghiraukan teriakan Owel, Bambang kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa dan segera menarik selimutnya kemudian berbalik membelakangi Owel. Di saat Bambang tidur miring membelakangi Owel, tiba-tiba terdengar suara kentut dari arah Bambang. "Woy, kentut lagi!" bentak Owel kesal. Namun, Bambang tetap tidak menghiraukan perkataan Owel dan tetap berlanjut untuk tidur. Sementara itu, Owel masih melindungi penciuman pada hidungnya dengan menggunakan kedua tangannya agar tidak terkontaminasi oleh gas yang tadi dua kali di hembuskan oleh Bambang. "Mending gua pulang aja! Lama-lama di sini entar hidung gua bisa cepet pensiun gara-gara gas beracun Bambang!" gerutu Owel seketika beranjak bangun kemudian berjalan keluar dari rumah sembari membawa bantalnya meninggalkan Bambang sendirian yang sejak tadi tidak menghiraukannya di ruang tamu. "Gua pulang, Mbang! Pintu rumah lu nggak gua kunci!" ucap Owel dengan nada kesal ketika membuka pintu yang kemudian segera berlanjut kembali ke kediamannya untuk tidur dengan selamat dari Bambang. Bambang tersenyum puas, "Huh! Rasain senjata andalanku!" gumam Bambang puas sembari tertawa cekikikan. Sementara itu, di rumah kediaman Nenek Mirah, tampak Owel yang dengan kesal melangkah masuk ke dalam rumah. Kebetulan kedua orang tuanya masih belum tidur dan sedang asyik menonton acara sinetron kesukaan Bik Mumun. "Loh, Wel? Kamu nggak jadi nginep di rumah Om?" tanya Bik Mumun kepada anak laki-lakinya itu. "Nggak jadi!" sahut Owel kesal. "Emang kenapa?" tanya Pak Wasil. "Gimana mau tidur, Bambang sendawanya bau banget! Tambah lagi sama ketutnya itu... Edehhh!" jawab Owel kemudian masuk ke kamarnya. *** Kembali ke kediaman Pak Satria dan Bambang. Bambang kembali beranjak bangun dan duduk di atas sofa, "Bosen," gumam Bambang, "Naah! Mending aku nonton tv aja deh," gumam Bambang lagi kemudian mendekat ke arah televisi dan menyalahaknnya, "Tidur di sini aja ah," gumam Bambang kemudian merebahkan sekuruh tubuhnya tepat di atas kasur karpet yang tadi di gelar oleh Owel. "Loh, kok acara jam segini enggak rame?" tanya Bambang bergumam, kemudian beranjak bangun lagi untuk menggonta-ganti chanel televisi yang di tontonnys. Pak Satria yang sejak tadi mendengar bahwa chanel televisi miliknya itu yang digonta-ganti Bambang karena merasa bosan. Akhirnya Pak Satria segera keluar dari kamar dan langsung menghampiri Bambang "Mbang, kalau mau mindah chanel tv itu jangan cepat-cepat," kata Pak Satria mengingatkan "Hhhmm..." sahut Bambang tanpa menoleh ke arah Pak Satria karena sedang asyik menonton televisi. Pak Satria pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk berlanjut tidur. Namun, ketika Pak Satria hampir larut dalam tidurnya, beliau kembali terganggu karena Bambang terlalu keras memutar volume televisinya. Pak Satria kembali menuju ke ruang tamu menghampiri Bambang. Tanpa sepatah kata, Pak Satria pun mematikan lampu yang ada di ruang tamu sehingga hanya sedikit cahaya saja yang ada di ruang tamu. "Kok, dimatiin sih lampunya?" gumam Bambang kesal. Namun, Pak Satria tidak menghuraukan Bambang yang saat ini tidur dalam kegelapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD