Bab 24

1049 Words
Setelah selesai makan, Bambang pun akhirnya merebahkan tubuhnya di ruang tamu tepat di atas sofa karena Nek Mirah tidak membolehkan Bambang yang belum memiliki cukup tenaga untuk naik ke lotengnya. "Kamu tidur di sini saja dulu, Mbang. Nggak usah tidur di loteng dulu," ucap Nek Mirah. Bambang hanya mengangguk kemudian segera merebahkan tubuhnya di atas sofa untuk tidur karena merasakan kedua matanya yang sudah mulai rait setelah perutnya terisi penuh lagi kekenyangan. Setelah dilihat Bambang sudah tertidur, Nek Mirah pun kembali ke kediamannya bersama Bik Mumun dan anak laki-lakinya yaitu Owel yang tepat berada di seberang rumah kediaman Bambang dan Pak Satria ayahnya. *** Suasana hening kembali muncul menyelimuti malam yang gelap dan hanya di hiasi oleh lampu-lampu depan rumah yang dikerumuni oleh beberapa serangga malam. Namun, hanya suasana hening di rumah kediaman Nek Mirah saja yang terpecah karena beberapa orang termasuk Pak Satria yang suara beliau terdengar nyaring sampai ke seberang rumah dan sedang memperdebatkan perihal Bambang. "Sat... Nggak salahnya kita nikahkan Bambang.." ucap Nek Mirah pelan. "Iya, memang nggak salah, Bu." Pak Satria memalingkan wajahnya dari Nek Mirah ibunya. "Tapi, kalau kita hanya mendengar dari Bambang saja, aku ragu, Bu..." lanjut Pak Satria kembali menatap ke arah ibunya. "Nah, sama anak sendiri kok kamu ragu?" tanya Nek Mirah seketika merasa heran. "Ibu lihat aja kelakuan Bambang, orangnya aja tertutup kayak gitu.." jawab Pak Satria. "Bener sih, Bu," sahut Bik Mumun. "Saya juga nggak pernah lihat Bambang bawa cewe ke rumah," lanjut Bik Mumun. "Ya, mungkin dia malu buat nunjukin pacarnya, Mun," sahut Nek Mirah. Perdebatan semakin panas karena permasalahan tentang Bambang yang ingin menikah. Namun, ketika perdebatan itu masih berlanjut, Owel malah mengundang beberapa temannya untuk berkumpul di depan rumah. Sehingga semua orang di dalam rumah kediaman Nek Mirah pun merasa terganggu karena keributan dari suara di depan rumah. Kemudian, seorang pria paruh baya berbadan gemuk yang usianya kira-kira lebih muda dua tahun dari Pak Satria keluar dari salah satu kamar di dalam rumah kediaman Nek Mirah, dan pria itu tidak lain adalah suaminya Bik Mumun yang bernama Pak Wasil dan sekarang berada di rumah setelah pulang kerja. Pak Wasil merupakan adiknya Pak Satria yang bekerja di sebuah Bank yang menjabat di bagian administrasi. Pak Wasil berdiri di depan pintu sembari menatap tajam dengan melotot ke arah Owel anaknya. Namun, Owel tidak menghiraukan Pak Wasil dan tetap saja berbincang-bincang dengan beberapa temannya di depan rumah. "Wel...!" seru Pak Wasil memanggil. "Ya, Yah... Bentar..." sahut Owel tanpa beranjak dan tidak juga menghampiri Pak Wasil. "Wel...!" Pak Wasil kembali berteriak memanggil Owel. "Hedeh, ganggu aja," gumam Owel dalam hati, "Tunggu ya Bro, gua mau nyamperin Bokap dulu," ucap Owel kepada beberapa temannya. Owel bergegas menghampiri Pak Wasil yang berdiri tepat di depan pintu. "Ya, Yah?" tanya Owel setelah tiba dan berdiri di depan Pak Wasil ayahnya. "Teman-teman kamu mending suruh pulang dulu aja, kasian tuh sepupu kamu kan lagi sakit..." jawab Pak Wasil. "Tapi, Yah..." "Suruh pulang dulu!" Pak Wasil mengerutkan keningnya menatap Owel, kemudian tanpa sepatah katapun masuk ke dalam rumah dan duduk bersebelahan dengan Pak Satria kakak beliau. Dengan langkah lesu dan wajah murung, Owel kembali menghampiri teman-temannya. "Bro, lu pada mending pulang dulu deh ya..." ucap Owel. "Lah, napa lu, Wel? Bukannya tadi lu yang nyuruh kita kesini..." sahut salah satu temannya. "Bokap gua tuh yang nyuruh." Owel tampak kesal kecewa karena privasinya dibatasi. "Emang kenapa bokap lu, Wel? "Bokap gua nggak kenapa-kenapa, tapi noh yang di seberang." Owel memonyongkan bibirnya menunjuk ke seberang tepat ke arah rumah kediaman Bambang. "Siapa maksud lu, Wel..? Bambang?" tanya salah satu teman Owel lagi seketika menebak siapa yang di tunjuk oleh Owel. "Hhmm," sahut Owel. "Emang Bambang kenapa, Wel?" tanya salah seorang teman Owel lagi. "Bambang lagi sakit, katanya," jawab Owel remeh dengan nada mengejek. "Lah, Bambang bisa sakit juga ya ternyata." Seketika beberapa teman Owel mulai tertawa pelan. Namun, Pak Wasil kembali berdiri di depan pintu, "Wel..!" teriak Pak Wasil. "Ya udah Bro, lanjut nanti aja deh ya," ucap Owel kemudian menuju ke rumah kediamannya meninggalkan teman-temannya di depan rumah. Lalu, akhirnya teman-teman Owel pun pulang. Owel seketika berlewat di depan Pak Wasil ayahnya dan kemudian segera masuk ke kamarnya. "Ah, bete..." gumam Owel kesal sembari bertengkurap di atas tempat tidurnya dan menyembunyikan wajahnya di dalam bantal, "Mana berisik banget di depan," gumam Owel lagi. "Oh iya, di seberang kan sepi," ucap Owel lirih kemudian seketika beranjak duduk, "Mending gua ke seberang aja deh, sekalian nengok Bambang," gumam Owel lagi seketika keluar kamar dengan membawa sebuah bantal dan berjalan melewati ruang tamu. Bik Mumun ibunya Owel pun heran melihat anak laki-lakinya itu. "Kamu mau kemana, Wel?" tanya Bik Mumun. "Mau ke seberang, Bu..." jawab Owel tetap melangkahkan kedua kakinya tanpa menoleh ke arah ibunya. Owel membuka pintu rumah kediaman Bambang dan Pak Satria. Matanya mengedar ke segala arah tepat di ruang tamu. "Kayaknya Bambang tidurnya pules banget," ucap Owel lirih seketika melihat sekaligus mendengar Bambang yang sedang tertidur di atas sofa yang sembari mendengkur, "Gua tidur di depan tv aja deh," gumam Owel seketika menggelar kasur karpet milik Pak Satria tepat di depan televisi lalu merebahkan tubuhnya. Namun, bukannya tidur, Owel malah semakin terganggu karena mendengar suara dengkuran Bambang yang nyaring dengan irama yang lucu. "Ini nge-dengkur apa nge-DiJe, sih! Bengek kali ya...!" gerutu Owel pelan dengan kesal, "Hedeh, di rumah nggak bisa tidur, dikirain disini bisa...! Eh, disini malah dengerin kaset rusak!" gerutu Owel lagi dengan kesal seketika menutup wajah sampai ke kedua telinganya dengan bantal yang tadi di bawanya. Setelah terbiasa dengan irama dengkuran Bambang, akhirnya Owel pun tertidur. Tak lama setelah Owel tertidur, Pak Satria pun kembali ke kediamannya dan melihat Owel yang sedang tertidur pulas tepat di depan televisi. Pak Satria berjalan pelan agar tidur keponakannya itu tidak terganggu. Namun, saat Pak Satria melangkah tepat di samping Owel, seketika Owel tersadar dari tidurnya dan langsung beranjak duduk. "Eh, maaf, Om," ucap Owel kemudian menguap sambil mengucak-ucap kedua matanya yang masih terasa rait karena mengantuk. "Iya, nggak apa-apa, Wel..." sahut Pak Satria tenang. "Kamu tidur di sini aja, nggak apa-apa... Sekalian bisa temenin Bambang," sambung Pak Satria. "Iya, Om." Owel mengangguk kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan tidur. Pak Satria berlanjut melangkah menuju ke kamar mandi untuk mencuci kedua tangan dan kedua kakinya. Setelah selesai, beliau pun segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat dan tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD