Bab 23

1704 Words
Bik Mumun ibunya Owel menghubungi Pak Satria ayahnya Bambang lewat telpon genggamnya dan mengatakan kepada Pak Satria yang juga adalah kakak iparnya Bik Mumun, bahwa Bambang anak beliau sedang sakit dan jatuh pingsan. Pak Satria tidak bertanya begitu banyak kepada adik iparnya, beliau hanya mengatakan bahwa akan segera pulang ke rumah secepatnya. Bik Mumun pun pergi ke rumah Pak Satria untuk menyampaikan pesan dari Pak Satria kepada Ibu mertuanya yaitu, Nenek Mirah. "Gimana Mun, udah kamu hubungi Ayahnya Bambang?" Tanya Nenek Mirah ketika melihat Bik Mumun datang. "Kata Mas Satria dia akan secepatnya pulang ke rumah, Bu," jawab Bik Mumun setelah sampai ke rumahnya Pak Satria dan duduk di sebelah Ibu mertuanya. "Emangnya Bambang sakit apa sih Bu? Kok bisa sampai pingsan begitu?" Tanya Bik Mumun heran. "Nggak tahu juga, Mun." Nek Mirah menggeleng. "Tadi, pas ibu sampai ke sini, Bambang udah jatuh pingsan di lantai," jawab Nenek Mirah. "Mungkin dia kecapekan kerja Bu, makanya dia jatuh pingsan," sahut Bik Mumun mencoba mengutarakan pendapatnya tentang anak keponakannya yang sedang sakit itu. "Iya kali, kasihan emang si Bambang, udah umur segini nggak ada yang ngurusin," ucap Nenek Mirah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap cucunya yang sedang terkulai lemah di atas sofa. Bik Mumun pun menatap Bambang dengan rasa iba di dalam hatinya, meskipun kadang-kadang Bambang membuat hatinya menjadi kesal dengan tingkah lakunya yang tergolong aneh. Tapi, saat Bambang jatuh sakit begini, Bik Mumun pun tidak tega melihatnya. "Mungkin karena sifatnya yang aneh gini, Bu. Jadi sampai saat ini Bambang nggak punya pacar," kata Bik Mumun keceplosan. "Aneh gimana, ah ngaco kamu Mun... Udah ah, nggak usah di bahas di sini. Kasihan kan kalau orangnya dengar, biar begini dia kan juga masih keponakan kamu!" Kata Nenek Mirah dengan nada sedikit meninggi. Bik Mumun menjadi senyum-senyum karena merasa kata-katanya itu salah, dia pun menjadi malu dengan ibu mertuanya itu. "Iya Bu, maaf saya keceplosan," sahut Bik Mumun sambil cengengesan. "Makanya, kalau ngomong di saring dulu Mun," kata Nenek Mirah mengingatkan anak menantunya itu. Ketika mereka berdua tengah duduk sambil berdebat kecil tiba-tiba Pak Satria datang dan memarkir motor matiknya di depan rumah lalu masuk ke dalam rumah dengan segera. "Gimana keadaan Bambang?" Tanya Pak Satria dengan nada cemas. "Dari tadi belum sadar juga, apa kita bawa ke rumah sakit aja ya, Sat?" Kata Nenek Mirah balik bertanya kepada Ayahnya Bambang yang baru sampai ke rumah. Pak Satria langsung memeriksa keadaan Bambang dengan mengusap-usapkan tangannya ke jidat Bambang yang masih terasa dingin. "Jadi, dia nggak bisa masuk kerja ya hari ini, Bambang kan masuk malam ya," kata Pak Satria sambil berpikir sejenak, "Biar nanti saya yang ngabarin ke tempat kerjanya, Bu," kata Pak Satria setelah berpikir sejenak. "Kan, kasihan Bambang kalau nggak di kasih tahu ke tempat kerjanya kalau dia sakit, bisa-bisa dia di marahi bosnya," Tambah Pak Satria lagi seraya berpikir sambil berdiri. "Apa kita panggil dokter ke rumah aja ya, Sat?" Tanya Nenek Mirah kepada anaknya yaitu Pak Satria, "Kan susah juga bawa si Bambang ke rumah sakit," usul Nenek Mirah. "Iya Bu, panggil dokter aja ke rumah," jawab Pak Satria dengan cepat, "Mun, kamu hubungi dokter ya," suruh Pak Satria kepada adik iparnya yaitu Bik Mumun. Bik Mumun pulang ke rumahnya mengambil telpon genggam miliknya dan langsung menghubungi dokter untuk menyuruhnya segera datang ke rumah Pak Satria. Setelah menghubungi dokter, Bik Mumun kembali ke rumah Pak Satria bersama dengan anaknya yaitu Owel yang baru selesai mandi. "Dokternya sudah aku hubungi tadi, Mas Satria, katanya sebentar lagi bakal menuju ke sini," kata Bik Mumun kepada Pak Satria setelah masuk ke dalam rumah. "Oh iya terima kasih, Mun," sahut Pak Satria pelan sambil menyunggingkan senyum pahit. "Hmm...." Nenek Mirah menghela napas panjang, "Ini lah sebabnya Ibu itu kepengen banget si Bambang bisa cepat-cepat nikah," ucap Nenek Mirah sambil menatap datar ke arah anak laki-lakinya itu. "Tapi kan, Ibu tahu sendiri kalau si Bambang nggak pernah satu kali pun pacaran, bener nggak Wel?" Tanya Pak Satria kepada anak keponakannya itu yaitu Owel sambil menatapnya meyakinkan. Namun, Owel hanya mengangguk sambil tersenyum ragu-ragu menatap pamannya itu, "Coba kalian ingat-ingat lagi, pernah nggak si Bambang bawa anak gadis ke rumah?" Tanya Pak Satria lagi sambil terus menatap Owel dan juga Ibunya yang sedang berdiri sambil menatap ke arah Pak Satria yang tengah sibuk mencari dukungan supaya Ibunya tidak selalu menyalahkan dirinya karena tidak menyetujui usulan Ibunya untuk segera menikahkan Bambang. "Bambang bilang kalau dia sukanya sama Lala, anaknya Pak Didin, kan kita bisa jodohkan mereka," sahut Nenek Mirah dengan setengah memaksa. "Tapi kan Bu, uangnya si Bambang belum cukup buat ngelamar anaknya Pak Didin, lagian juga belum tentu anaknya Pak Didin mau sama Bambang!" Kata Pak Didin dengan nada tinggi dan nyaring. "Bambang bilang kalau Lala juga suka sama dia," ucap Nenek Mirah mencoba membelakan Bambang. "Ibu percaya sama si Bambang?" Tanya Pak Satria kesal, "Bambang itu sifatnya nggak sama kayak laki-laki seusianya Bu... Seharusnya Ibu tahu itu, bergaul aja dia jarang, sukanya mengurung diri saja di dalam loteng sama kayak anak perempuan!" Seru Pak Satria. "Sudah, sudah, kita kan nggak seharusnya bahas ini pas Bambang sedang sakit dan tidak sadarkan diri begini," ucap Bik Mumun seraya meleraikan perdebatan antara Pak Satria dan juga Nenek Mirah. "Mendingan kita berdo'a saja supaya dokternya cepat datang dan Bambang bisa cepat sadar," tambah Bik Mumun lagi kemudian dia berjalan ke dapur untuk mengganti kompresnya Bambang karena sudah dingin. Sedangkan Owel dari tadi hanya diam sambil sesekali mengutak-atik smartphone-nya untuk mengirimkan kabar berupa pesan kepada semua sepupu dan juga kakak perempuannya yang sedang berkuliah di Jakarta untuk mengabari kepada mereka semua bahwa Bambang sedang sakit. Tidak lama kemudian, dokter datang untuk memeriksa Bambang dan mengatakan bahwa, 'Bambang sedang mengalami diare karena jadwal makannya yang tidak teratur. Bambang hanya perlu di beri obat dan sedikit beristirahat sampai sakitnya sembuh, dia juga harus makan yang teratur dan juga harus banyak minum air putih.' "Bagaimana keadaan Bambang dokter?" Tanya Pak Satria ketika dokter sudah selesai memeriksa Bambang. "Bambang hanya mengalami diare karena sering telat makan," kata dokter. "Bukannya Bambang makannya rakus ya," sahut Owel yang langsung di cegah oleh Ibunya karena menyahut pembicaraan antara Pak Satria dan dokter. "Iya, tapi kelihatannya akhir-akhir ini Bambang jarang sekali makan," ucap dokter yang tersenyum ke arah Owel. "Oh..." Owel mengangguk yang seolah paham dengan apa yang di katakan oleh dokter. Dokter pulang setelah memberikan resep untuk Bambang kepada Pak Satria dan menyuruh beliau untuk segera menebus obatnya di apotek. Sedangkan Bambang yang masih terkulai lemah, kini mulai sadar meskipun masih belum bisa bangun sendiri. Owel membantunya untuk bangun dan menyandarkan diri di sofa agar kepalanya tidak terlalu pusing karena berbaring terlalu lama. Pak Satria yang sudah sampai ke rumah setelah menebus resep yang di berikan oleh dokter di apotek terdekat dari rumahnya langsung menyuruh Bambang untuk meminum obatnya dan Bik Mumun membuatkan segelas teh hangat untuk Bambang dan menyerahkannya kepada Bambang supaya Bambang bisa meminum obatnya dengan teh hangat yang telah di buatkan olehnya. Bik Minah kemudian pergi ke rumahnya mengambilkan makanan untuk di makan oleh Pak Satria dan juga Bambang yang dari tadi pagi hanya menyantap satu nasi bungkus saja. Nenek Mirah menyuapi Bambang yang dengan cepat menghabiskan makanannya. "Kamu lapar ya Mbang?" Tanya Nenek Mirah sambil tersenyum tipis. "Mau nambah lagi nggak?" Tanya beliau lagi. Bambang langsung mengangguk dengan cepat karena perutnya memang sangat lapar. "Mun, ambilkan lagi ya, Bambang kayaknya masih lapar," pinta Nenek Mirah kepada anak menantu yaitu, Bik Mumun. "Baik Bu, sebentar saya ambilin dulu," sahut Bik Mumun, kemudian mengambil piring yang tadi di berikan oleh Nenek Mirah kepadanya. "Sekalian bawain juga untuk Mas Satria juga ya, Mun!" Seru Nenek Mirah. "Baik Bu!" Sahut Bik Mumun yang sudah sampai di seberang yaitu, rumahnya. Ketika Bik Mumun mengambil makanan tambah ke rumahnya dan Pak Satria juga sedang makan di dapur, Nenek Mirah bertanya kepada Bambang tentang apa yang sedang menyebabkan dia akhir-akhir ini sering telat makan. "Sebenarnya kenapa sih kok kamu sampai nggak teratur begini makannya Mbang?" Tanya Nenek Mirah kepada Bambang, "Biasanya kan kamu yang paling doyan makan?" Tanyanya lagi kemudian tersenyum hati-hati. "Aku mau cepat-cepat nikah, Nek," jawab Bambang sambil tersipu malu, "Makanya aku nggak makan di tempat kerja karena mau ngumpulin uang," katanya lagi. "Uhuk!" Pak Satria yang sedang makan di dapur mendengar pembicaraan Bambang dan juga Nek Mirah di ruang tamu dan seketika langsung tersedak. "Bambang mau nikah?" Gumam Pak Satria lirih, kemudian melanjutkan kembali makannya. Tidak lama kemudian Bik Mumun datang dengan membawa dua buah piring berisi nasi dengan di campur lauk pauk di dalamnya dengan kedua belah tangannya. "Ini Bu, makanannya," kata Bik Mumun seraya menyerahkan satu piring nasi kepada Nenek Mirah yang langsung menyambutnya dengan kedua tangannya. "Saya mau ke dapur dulu mau ngasih makanan ini kepada Mas Satria ya Bu," katanya lagi sambil berjalan menuju dapur. "Iya Mun," sahut Nenek Mirah yang kemudian menyuapi Bambang kembali. Nenek Mirah menatap Bambang dengan rasa iba di dalam hatinya, kemudian beliau bertanya lagi kepada Bambang. "Jadi kamu sampai nggak makan begini karena mau nabung ya?" Tanya Nenek Mirah kepada Bambang. Bambang pun mengangguk sambil tersenyum malu-malu dan seketika wajahnya memerah. "Iya udah kalau kamu pengen cepat-cepat nikah nggak apa-apa kok nabung, tapi kalau makan jangan di tahan Mbang nanti malah sakit begini kamu nggak bisa kerja," kata Nenek Mirah mencoba menasehati cucunya itu. Bambang menatap Neneknya lekat kemudian mengangguk tanda setuju dengan nasehat yang telah di berikan oleh Neneknya itu. "Baik Nek," ucap Bambang tersenyum tipis. "Nanti kalau tabungan kamu udah banyak, Nenek akan tambahin pakai uang tabungan Nenek ya," ucap Nenek Mirah sambil membelai rambut Bambang dengan penuh kasih sayang. Bik Mumun datang dari dapur setelah menyerahkan satu piring nasi tambah beserta lauk pauk di dalamnya kepada Pak Satria, kemudian duduk di sebelah Nenek Mirah dan ikut memberikan saran kepada Bambang. "Ada baiknya sih begini Mbang, kalau Bibik boleh kasih saran, kamu tanya dulu sama Lala, dia mau nggak nikah sama kamu," ucap Bik Mumun. Bambang menoleh ke arah Bibiknya, lalu berpikir sejenak memikirkan saran dari Bibiknya itu, kemudian dia mengangguk seolah-olah paham dengan saran yang telah di berikan oleh Bibiknya itu. "Benar juga tuh saran Bibik kamu Mbang, kamu kan bisa pendekatan dulu sama Lala," sahut Nenek Mirah membenarkan saran dari anak menantunya itu. "Iya udah makan dulu Mbang, biar kamu cepat sehat," ucap Nenek Mirah sembari menyuapi Bambang kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD