Bab 22

1622 Words
Belum sampai tengah hari Bambang tertidur, dia terbangun dari tidur pulasnya karena perutnya tiba-tiba mules sehingga dia cepat-cepat pergi ke kamar kecil. "Aduh kok perut aku jadi mules gini sih," ucap Bambang panik lalu bergegas berlari dan langsung menuju ke dapur. Bambang langsung masuk ke dalam kamar kecil. Setelah selesai dengan urusannya di kamar kecil, Bambang pun kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan tidurnya. Namun, belum sempat menuju ke ruang tamu untuk kembali tidur, sakit perut Bambang kembali terasa, dan dia pun bergegas kembali ke kamar kecil. Hal itu berulang- ulang dia lakukan sampai seluruh tubuhnya terasa lemas karena dehidrasi. "Kenapa ya, kok jadi mules gini?" gumam Bambang dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri sembari berjalan menuju ruang tamu, "Pasti karena makan nasi bungkus yang di bawa Ayah tadi nih!" tebaknya sambil berpikir sejenak, "Oh, nggak, pasti karena malam tadi aku nggak makan, terus aku hanya ngeganjelnya cuman makan pisang, makanya aku jadi mules," ucap Bambang lagi dengan pasti sambil menyentuh-nyentuh bibir atasnya dengan jari telunjuknya setelah tiba dan duduk di atas sofa yang berada di ruang tamu. Sejenak Bambang berpikir, 'Gimana ya, supaya mulesnya hilang? Oh iya, di kamar ayah kayaknya ada obat deh.' Bambang pun seketika menuju ke kamar ayahnya. Setibanya di dalam kamar ayahnya Bambang, yaitu Pak Satria, Bambang membuka lemari ayahnya untuk mencari obat sakit perut dan juga minyak kayu putih di dalam lemari ayahnya. Setelah menemukan obat dan juga minyak kayu putih yang dia cari, Bambang menutup kembali pintu lemari ayahnya kemudian mengambil air putih yang ada di dapur untuk meminum obat lalu mengusap perutnya dengan minyak kayu putih untuk mengurangi rasa sakit yang di derita pada perutnya. Bambang kembali merebahkan dirinya di atas kasur karpet milik Ayahnya, kemudian menarik selimut lalu menyalakan televisi yang tidak di tonton olehnya melainkan hanya untuk menemani dia tidur siang. Malah televisi yang menonton Bambang sedang tidur. Bambang mengambil smartphone-nya yang dia taruh di samping bantalnya sebelum dia tertidur pulas tadi pagi lalu dia menatap layar smartphone-nya dan tersenyum menatapi foto Lala yang terpampang dengan jelas di layar smartphone yang menjadi wallpapernya. Bambang menjadi berdebar-debar seolah-olah sang pujaan hatinya yang bernama Lala sedang benar-benar berada di sana bersama dengannya. "Lala, kamu cantik banget sih, kapan ya kita bisa ketemu lagi," ucap Bambang lirih sambil tersenyum dengan senang, "Aku pengen banget bisa cepat-cepat ngelamar kamu, La. Biar kamu nggak lama nungguin aku, dan kamu bisa jadi istri aku... Sabar ya, Lala sayang," ucap Bambang lagi sambil terus mengusap-usap foto Lala yang terpampang jelas menjadi wallpaper di layar smartphone-nya. Bambang memejamkan matanya sembari memeluk smartphone-nya dengan sangat erat, seolah-olah dirinya sedang memeluk Lala. Akhirnya Bambang pun tertidur pulas dengan sendirinya dan terbuai dalam untaian mimpi indahnya bersama dengan Lala. Waktu terus berlalu dengan cepat sehingga kini jam dinding yang menempel di tembok tepat beberapa sentimeter di atas televisi sudah menunjukan pukul empat sore. Bambang bangun dari tidurnya dan cepat-cepat membereskan kasur karpet milik ayahnya yang tadi dia pakai untuk tidur siang, karena sebentar lagi Ayahnya yaitu Pak Satria akan menutup gerainya dan kembali pulang ke rumahnya. Tidak lupa juga Bambang mematikan televisi yang dari tadi di nyalakannya untuk menemani tidur siangnya. Bambang duduk diam sejenak di atas sofa yang ada di ruang tamunya sembari menatap datar ke depan ke arah televisi yang sudah dia matikan setelah bangun dari tidur siangnya tadi dengan tatapan matanya yang rait masih menahan rasa kantuk. Bambang pun merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa lalu, memejamkan matanya kembali sejenak kemudian dia duduk lagi dengan tegap dan menatap ke depan dengan tatapan matanya yang datar dan juga kosong. "Masih ngantuk juga, kok siang cepat banget ya rasanya, males banget pergi kerja," keluhnya kesal sambil menggerutu tidak jelas. Bambang bangkit dari duduknya lalu, berdiri sejenak kemudian dengan segera pergi ke atas lotengnya untuk mengambil handuk dan juga baju ganti seragam kerjanya yang sudah di cuci oleh Ayahnya kemaren. Karena dari tadi pagi sejak Bambang pulang ke rumahnya dia belum juga mengganti bajunya dengan baju lain. "Eh, sabunnya ketinggalan," kata Bambang yang sudah turun kebawah untuk mandi, tapi, dia kembali lagi ke atas loteng tempat dia tidur untuk mengambil sabun yang lupa di bawanya ke bawah. Bambang menyimpan peralatan yang di pakainya untuk dia sendiri di atas lotengnya, karena dia memang tidak ingin ada barang-barangnya yang di pakai oleh orang lain terutama Owel yang selalu saja menumpang mandi di rumahnya jika dia dan Ayahnya yaitu, Pak Satria sedang tidak ada di rumah. Bambang sangat pelit dengan semua benda-benda miliknya kecuali memang dirinya sendiri lah yang ingin memberikannya kepada orang lain termasuk Ayahnya sendiri dan juga para sepupunya. Bambang juga tergolong orang yang hemat dengan semua barang-barang yang dia miliki, tapi, sering kali menggunakan barang-barang milik Ayahnya sendiri dan juga para sepupunya. Bambang juga tidak segan untuk memintanya jika dia suka dan senang dengan apa yang di miliki oleh ayahnya dan juga para sepupunya itu. Setelah sampai dan masuk ke dalam kamar mandi, perut Bambang tiba-tiba mules kembali sehingga dia pun keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamar kecil. Bambang kembali bolak-balik ke luar masuk kamar kecil sampai tubuhnya juga kembali lemas. Bambang pun mengambil segelas air putih di dapur yang ada di galon karena merasa dehidrasi, dia pun terduduk lemas di sebelah tempat galon. Bambang terduduk lemas sembari merasa-rasa apakah perutnya akan kembali mules ataukah tidak. Setelah di rasakannya cukup lama dan perutnya pun tidak kembali mules, Bambang beranjak dari duduknya dan berjalan lalu, masuk ke dalam kamar mandi kemudian mandi dengan segera. Tidak berapa lama Bambang selesai mandi dan memakai seragam kerjanya dan naik ke atas lotengnya untuk memakai peralatan tempur lainnya seperti bedak bayi dan juga vitamin rambut yang dia temukan di kamar losmen kemaren juga tidak lupa menyemprotkan minyak wangi yang di buatnya sendiri dari pewangi pakaian dan di letakkannya di dalam botol bekas minyak wangi milik ayahnya. Setelah selesai memakai semua peralatan tempurnya Bambang menatap dirinya di depan cermin lalu, bergantian menatap poster artis korea yang terpampang di dinding loteng tempat tidurnya. "Aku memang ganteng ya, mirip banget sama artis korea, pantesan aja Lala tergila-gila sama aku,hihi," ucap Bambang sembari tersenyum kegirangan menatapi wajahnya di cermin dengan gaya khas miliknya sendiri. Belum lama dia menatapi wajahnya yang menurutnya sangat lah tampan bak artis korea di depan cermin, tiba-tiba perut Bambang kembali mules. "Aduh, kok mules lagi ya," ucapnya lirih sambil menahan rasa sakit. Bambang pun cepat-cepat turun kebawah sambil membawa tasnya dan meletakkannya di atas sofa yang ada di ruang tamu kemudian berlari menuju dapur dan langsung masuk ke dalam kamar kecil. Seperti tadi Bambang kembali bolak-balik ke luar masuk kamar kecil hingga akhirnya dia tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang ada pada perutny dan berteriak memanggil-manggil Neneknya. "Nenek!" Teriak Bambang tapi, tidak ada sahutan dari seberang rumahnya karena Neneknya belum mendengar teriakan darinya, "Nenek!" Panggilnya lagi dengan sangat keras agar suaranya di dengar oleh Neneknya. Namun, tetap tidak ada sahutan dari rumah Neneknya. Bambang berusaha bangkit dan berjalan menuju ke luar kemudian dia berteriak lagi memanggil Neneknya. "Nenek!" Seru Bambang yang sudah terduduk lemas. Nenek Mirah keluar dari rumahnya karena mendengar teriakan dari cucunya yaitu, Bambang. "Iya Mbang, kenapa?" Tanya Nenek Mirah yang kemudian terkejut melihat Bambang sudah terkulai lemas di dalam rumahnya. "Astaghfirullah, Bambang, kamu kenapa?" Tanya Nenek Mirah sembari mencoba mengangkat tubuh Bambang dan menggotongnya untuk naik ke sofa, tapi, beliau tidak mampu mengangkat tubuh Bambang yang tergolong berat sehingga beliau memutuskan untuk memanggil cucunya yang satu lagi yaitu, Owel, "Wel, cepat kesini bantuin Nenek!" Seru Nenek Mirah dari dalam rumah Bambang. "Iya Nek, ada apa?" Tanya Owel yang langsung berlari ke rumah Bambang. "Kenapa Bambang Nek?" Tanya Owel heran yang sedang melihat keadaan Bambang yang terbaring lemas tidak berdaya. "Udah nggak usah banyak nanya, sini bantuin Nenek ngangkat Bambang ke atas sofa," jawab Nenek Mirah yang masih mencoba mengangkat Bambang untuk naik ke atas sofa. "Iya Nek, sini biar aku yang angkat Bambang sendiri," kata Owel kemudian langsung menggotong Bambang dan meletakkannya di atas sofa. "Kamu kenapa Mbang?" Tanya Nenek Mirah tapi, Bambang hanya terdiam tanpa mampu menjawab pertanyaan dari Neneknya itu. Nenek Mirah meraba-raba dahi Bambang yang sudah mulai terasa dingin karena menahan rasa sakit perutnya. "Badan kamu dingin banget Mbang," kata Nenek Mirah yang mulai terlihat cemas, "Coba kamu ambilkan air hangat ke dapur Wel," pinta Nenek Mirah kepada Owel yang sedang berdiri di samping beliau. "Baik Nek," sahut Owel sigap dan langsung berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air panas kemudian membawanya kembali ke ruang tamu dan di berikannya kepada Neneknya. "Kamu panggil Ibu kamu gih, suruh telephone Om Satria, bilangin kalau Bambang sakit," suruh Nenek Mirah kepada Owel dan Owel pun langsung menurutui permintaan Neneknya itu. "Baik Nek," sahut Owel dan langsung pergi ke rumahnya untuk memberi tahu Ibunya dan memintanya menelphone Om Satria dan memberi tahu keadaan Bambang seperti yang di minta Neneknya. Nenek Mirah mengompres kepala Bambang dengan air hangat dan sambil me ngusap-usap tangan dan kaki Bambang dengan minyak kayu putih yang beliau ambil dari dalam lemari Pak Satria. "Aduh kasihan sekali kamu Mbang sakit begini nggak ada yang ngurusin coba aja kalau kamu punya istri pasti nggak bakalan kayak gini," ucap Nenek Mirah pelan sambil terus mengusap minyak kayu putih ke tangan dan kakinya Bambang dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang. Nenek Mirah berjalan pelan mengambil bantal dan juga selimut untuk di letakkan di atas kepala Bambang dan menyelimuti seluruh tubuh Bambang dengan selimut agar badan Bambang yang terasa dingin menjadi hangat kemudian duduk di sebelah Bambang yang masih terbaring lemas sambil terus menjaga Bambang dan mengganti kompresnya agar selalu terasa hangat di kepalanya Bambang yang sedang menggigil kedinginan. Nenek Mirah duduk dengan gelisah sambil menunggu Owel yang dari tadi belum juga kembali dari rumahnya dan juga masih menunggu Pak Satria yang belum juga datang sambil terus menjaga Bambang yang masih terbaring lemah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD