Bab 21

1641 Words
Waktu terus saja berlalu, jam melaju terasa lebih cepat dari biasanya, detik demi detik pun kian berganti. Bambang terus menunggu waktu pagi tiba meskipun kantuknya sudah melanda tapi, tetap dia tahan. Bambang membuka tasnya dan mengambil sebiji pisang yang di bawanya dari rumah untuk menahan rasa laparnya, karena niatnya menabung demi melamar Lala membuat dia berpikir untuk menghemat uangnya, sehingga dia tidak ingin lagi menambah hutangnya di warung Pak De. "Duh, masih lapar nih." Bambang mengusap perutnya, "Nggak cukup makan pisang doang," gerutunya kesal. Bambang mengambil satu buah apel lagi dari dalam tasnya yang tadi juga dia bawa dari rumah dan segera melahapnya sampai habis, kemudian mengambil air minum di dalam botol minumnya yang di isinya dengan teh panas, tapi karena sudah terlalu lama dia simpan di dalam botol sehingga kini teh itu pun sudah menjadi dingin. "Huh, udah dingin jadi kurang enak nih tehnya," gerutu Bambang kesal sambil menggaruk-garuk dengan cepat bagian belakang kepalanya, "Masih lapar juga nih perut, andai aja aku punya roti atau apa kek yang bisa bikin perut aku kenyang," gumam Bambang sambil duduk dan mengkhayal bahwa dia sekarang sedang memakan gorengan tahu dan tempe juga pisang goreng. "Emm, lezatnya," ucap Bambang sambil terus mengkhayal mengunyah gorengan tahu kesukaannya. Bambang mengambil air minumnya yang ada di botol lalu meneguknya sambil berimajinasi bahwa sedang meneguk minuman bersoda yang dingin. "Coba aja ada Lala di sini, pasti lebih asik, minum berdua dengan minuman bersoda yang dingin, duh, romantisnya," pikir Bambang sambil senyum-senyum sendirian. Bambang memejamkan matanya dan berkhayal pujaan hatinya yang bernama Lala sedang duduk bersamanya, menatap lekat dengan senyuman indahnya penuh dengan kebahagiaan dalam sanubarinya. Di dalam khayalannya, Bambang mengenakan sebuah pakaian indah dan mewah bak seorang pangeran tampan dan begitu pula dengan Lala yang juga sedang mengenakan gaun indah dan juga mewah laksana seorang permaisuri yang sangat cantik dan anggun. Lala semakin memperlihatkan senyum manisnya dan Bambang pun membalasnya dengan tersenyum lebar selebar mulutnya. Tanpa sadar Bambang tertidur di atas kursinya dengan begitu pulasnya karena terus mengkhayalkan Lala menjadi permaisurinya, sehingga khayalannya pun berubah menjadi untaian mimpi indah tentang dirinya bersama dengan sang pujaan hatinya yaitu Lala. Malam berlalu dengan cepatnya, kini pagi datang menyambut hari baru yang mulai menampakan sang surya bersama keindahan berwarna emasnya. Namun, Bambang terus saja tertidur dengan pulasnya dan tidak menyadari dengan datangnya pagi. Bambang terus saja larut dalam buaian mimpi indahnya bersama Lala, sehingga dia enggan untuk bangun dan membuka kedua kelopak matanya. Para karyawan yang bertugas di siang hari mulai berdatangan untuk berganti sift dengan para karyawan yang bertugas di malam hari, salah satunya adalah Ifan temannya Bambang yang seharusnya berganti tugas dengan Bambang, tapi Bambang tidak menyadari yang masih duduk dan tertidur pulas di ruang tunggu karyawan. Ifan menghampiri Bambang yang masih tertidur pulas, dia tahu kalau Bambang tidak menyadari bahwa waktu pergantian sift sudah tiba. Ifan mencoba membangunkan Bambang meskipun agak kesulitan karena Bambang kelihatannya enggan bangun dan membuka matanya. "Mbang, Bambang, bangun Mbang udah pagi," kata Ifan sambil menepuk-nepuk wajah Bambang tepat di bagian pipi dengan keras untuk membangunkannya. "Apaan sih, ganggu orang tidur aja," sergah Bambang dengan mata yang masih terpejam seraya menampik tangan Ifan yang sedang menepuk-nepuk pipinya. "Yee, nih anak di bangunin kok susah amat," keluh Ifan kesal. "Bangun Mbang, udah pagi nih, Lu mau tidur di sini sampai jam berapa?!" Teriak Ifan di telinga Bambang sehingga membuat Bambang sontak terbangun lalu berdiri dengan cepat. Dengan raut muka cemberut Bambang menatap wajah Ifan karena kesal sambil terus mengucak-ucak matanya yang masih mengantuk. Tapi, Ifan tidak menghiraukannya dan langsung berlalu dari hadapan Bambang. "Untung juga kan, lu tadi Gue bangunin, coba kalau nggak, lu bakalan tidur seharian di sana, hahahaha!" Teriak Ifan ketika berlalu keluar ruang tunggu karyawan sambil tertawa dengan gelak menertawakan Bambang. Bambang cepat-cepat memasang tasnya dan kemudian langsung berjalan ke luar menuju ke tempat parkir untuk mengambil motornya yang masih terparkir dengan rapi di sana. "Loh, Mbang, kok baru pulang?" tanya Pak Udin dengan heran menatap Bambang. Bambang hanya membalas tatapan Pak Udin lalu mejawab pertanyaan dari Pak Udin singkat, "Ketiduran!" jawab Bambang ketus kemudian mengeluarkan motor matiknya dari barisan parkiran losmen dan dengan segera berlalu dari hadapan Pak Udin yang masih menatapnya dengan tatapan heran. "Bambang, Bambang," kata Pak Udin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Bambang mengusap-usap matanya yang masih mengantuk, dia pun juga terus-terusan menguap. Dengan santai Bambang melajukan kuda hijaunya menuju ke kediamannya. Sesekali ia tidak menyadari bahwa matanya kembali terpejam di saat sambil mengendarai motornya dengan lambat dan kembali terbangun ketika motornya melintas di atas lubang retakan kecil yang ada di jalanan. Bambang berhenti sesaat ketika perutnya mulai terasa lapar dan mengambil buah pisang yang masih tersisa satu biji dari dalam tasnya kemudian melahapnya sampai habis lalu melempar kulitnya ke jalanan. Namun, karena mengantuk Bambang tidak sempat lagi memperhatikan di sekitarnya. Ketika Bambang melempar kulit pisang ke jalanan, ternyata kulit pisang itu mengenai wajah seorang pria yang tengah mengendarai motornya di jalan. Tak ayal perbuatan Bambang membuat pria itu marah lalu berteriak kasar ke arah Bambang. "Kurang ajar Lu, buang sampah sembarangan!" bentak si pria itu dari arah jalanan, "Lu pikir muka Gue tempat sampah! Sini Lu kalo berani!" bentak pria itu lagi dengan sangat marah dan kemudian membawa motornya untuk mendatangi Bambang yang sedang menatapnya ketakutan. "Ampun Bang! Saya nggak sengaja!" teriak Bambang ketakutan seraya menghidupkan kembali motornya yang tadi dia matikan dan melaju segera dengan kecepatan tinggi meninggalkan pria yang tadi di lemparnya dengan kulit pisang yang masih terus-terusan memakinya dengan kasar. "Woi! Mau lari kemana Lu dasar penakut!" teriak pria itu dengan sangat marah. Bambang terus melaju dengan cepat meninggalkan si pria yang tadi di lemparinya dengan kulit pisang. Tidak terasa dia sudah sampai di depan gang rumah kediamannya dan cepat-cepat Bambang masuk ke dalam gang dan memarkir motor matiknya itu di depan rumah kediamannya. "Huh, untung aku selamat." Bambang menghela nafas, "Kalau nggak, habis aku di gebukin, mana badannya besar begitu, takut aku," ucap Bambang sambil kembali menghela napas panjang. Bambang masuk ke dalam rumah kediamannya dan langsung menuju ke loteng untuk segera melepas penat setelah dianggapnya begadang tanpa mencuci kaki dan tangannya terlebih dahulu. Setelah sampai ke atas loteng, Bambang pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur lalu segera menutup kedua kelopak matanya. "Mbang, Bambang!" teriak Pak Satria dari arah bawah loteng tempat Bambang tidur. Namun, Bambang tidak menyahut dan hanya diam saja mendengarkan teriakan Ayahnya. "Duh, ngapain sih Ayah panggil-panggil, udah ah, aku pura-pura tidur aja," ucap Bambang pelan menggerutu supaya suaranya tidak terdengar oleh Pak Satria ayahnya. "Mbang, Bambang!" teriak Pak Satria lagi, "Apa udah tidur ini anak, tapi baru naik masak langsung tidur, ya udah lah, biarin aja mungkin dia kecapekan," ucap Pak Satria lirih kemudian menjauh dari loteng tempat tidurnya Bambang. Pak Satria menaruh sebuah nasi bungkus ke dalam lemari yang ada di atas rak piring karena Bambang tidak jua menyahut panggilannya, ternyata Pak Satria hendak memberikan nasi bungkus kepada Bambang, tapi karena Bambang tidak juga menyahut, beliau pun meletakkan nasi bungkus itu ke dalam lemari. "Biar nanti saja lah dia makan kalau dia udah bangun, tapi nanti kan nggak enak kalau udah dingin," gumam Pak Satria sambil memasukan sebuah nasi bungkus ke dalam lemari penyimpanan makanan yang ada di dapur, "Udah biarin aja lah, siapa suruh dia tidur duluan sebelum makan," tambah Pak Satria lagi dengan bergumam. Pak Satria bergegas menuju ke depan rumah dan menghidupkan motornya untuk pergi ke pasar lalu membuka gerainya. Setelah suara motor Pak Satria sudah tidak terdengar, Bambang pun mengendap-endap turun ke bawah untuk memastikan bahwa ayahnya memang sudah berangkat ke pasar. Ketika melihat bahwa ayahnya memang sudah pergi ke pasar, Bambang langsung menuju ke dapur karena tadi dia mendengar ayahnya membuka lemari penyimpanan makanan. Dia pun langsung berpikir bahwa tadi Ayahnya membawakan makanan untuknya, tapi karena dia berpura-pura sedang tertidur pulas dia pun malu untuk turun ke bawah. "Nah kan benar ada nasi bungkus, makan dulu ah, biar tidurnya nyenyak, hihi," ucap Bambang lirih dengan senang seraya mengambil nasi bungkusnya lalu meletakannya di atas piring kemudian langsung menyantapnya. Ketika Bambang hendak menyuap nasi, tiba-tiba Pak Satria kembali datang sehingga spontan langsung mengejutkan Bambang yang masih berada di dapur. "Loh Mbang, bukannya tadi kamu tidur?" tanya Pak Satria heran menatap anaknya. Bambang seketika melongo karena melihat Ayahnya yang tiba-tiba kembali ke rumah sehingga dia terciduk sedang menyantap nasi bungkus di dapur. "Eh, Ayah kenapa pulang?" tanya Bambang dengam senyum masam. "Ayah ketinggalan kunci gerai," jawab Pak Satria yang langsung paham dengan tingkah laku anaknya itu. "Iya udah Mbang, Ayah pergi ke pasar dulu ya," lanjut Pak Satria sambil menepuk-nepuk pundak Bambang, "Kalau makan jangan cepat-cepat nanti keselek," ucap Pak Satria lagi, kemudian beliau pergi meninggalkan Bambang yang mengunyah nasi dengan cepat di dalam mulutnya. "Huh, untung Ayah nggak marah sama aku," gumam Bambang lega sambil menggaruk kepalanya dengan ujung sendok di tangannya. "Lanjut makan lagi ah..." Kemudian Bambang segera kembali menyuap nasinya dan mengunyahnya dengan cepat. "Enak nasi bungkusnya, mana isinya banyak lagi, Ayah tau aja kalau aku lagi lapar, hihi," lirih Bambang senang. "Eh, bukannya aku setiap saat lapar ya?" gumam Bambang dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri, "Ah, nggak apa-apa lah, yang penting aku ganteng," kata Bambang lagi dengan percaya dirinya yang sangat tinggi. Setelah selesai makan Bambang menutup pintu depan rumahnya yang di biarkan terbuka oleh Ayahnya. "Aku tidur di sini aja biar pintunya aku tutup supaya si Owel nggak bisa masuk, enak aja ganggu orang tidur!" gerutu Bambang kesal karena Owel kerap masuk dengan semena-mena ke dalam rumah kediaman Bambang tanpa permisi. Bambang membuka kasur karpet milik Ayahnya yang sering beliau gunakan untuk menonton televisi, kemudian mengambil bantal dan guling dan segera tidur dengan pulasnya bersama buaian mimpi indah dan khayalan tentang sang pujaan hatinya yaitu, Lala. Semuanya tentang Lala, bagi Bambang Lala adalah tujuan hidupnya. Menurut Bambang, Lala pun juga mencintainya sehingga dia ingin cepat-cepat melamar Lala. "Lala...." Bambang akhirnya sudah tertidur pulas, sepertinya dia mengigau dengan menyebut nama Lala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD