Bab 20

1878 Words
Anton tiba di ruang tunggu karyawan, dan melihat Bambang yang baru saja keluar dari kamar kecil. "Lu kemana aja, Mbang..?! Kok tadi lu langsung pergi, gue jadinya kan, yang disalahin sama Pak Rondo...!" seru Anton seketika menghampiri Bambang. "Aku dari tadi di sini, Nton... Nggak kemana-mana.." sahut Bambang heran. "Bukannya tadi lu dari kamar nomor dua puluh lima Mbang?" tanya Anton memaksa. "Nggak," jawab Bambang datar sambil menggeleng. "Ah, bohong lu, Mbang... Orang tadi kita ketemu!" sahut Anton geram ke arah wajah Bambang yang masih tampak diam dan datar seperti biasanya. "Beneran Nton, aku dari tadi di sini," sahut Bambang heran dengan tingkah Anton yang kelihatan begitu menyolot. Anton menghela napas panjang kemudian duduk di kursi yang ada di ruang tunggu karyawan. "Tadi itu lu habis beresin kamar nomor dua puluh lima kan, Mbang?" tanya Anton. "Iya, emang kenapa?" sahut Bambang balik bertanya. "Lu ada nemu dompet di dalam kamar itu nggak?" tanya Anton kembali. "Nggak ada, emangnya kenapa?" tanya Bambang heran. Anton menatap Bambang dengan penuh selidik, dia memajukan wajahnya semakin mendekat ke arah wajah Bambang yang menjadi gugup karena tingkah Anton yang aneh. "Aku cuman nemu ini," kata Bambang sambil menyerahkan sebuah botol bergambar gajah yang berukuran kecil kepada Anton setelah lama menahan rasa takutnya akibat di tanya berlebihan oleh Anton. Anton menatap botol itu sesaat lalu menajamkan matanya ke arah botol bergambar gajah itu kemudian seketika merebutnya dari Bambang. "Wah, parah lu, Mbang..." ucap Anton kembali memerhatikan botol kecil di tangannya. "Lu nemu di mana ini?" tanya Anton cemas seketika menyimpan botol kecil bergambar gajah itu ke dalam saku kantongnya. "Lu jangan bilang siapa-siapa ya kalau nemu nih botol," lanjut Anton setengah berbisik. "Emangnya kenapa?" tanya Bambang heran. "Udah nggak usah banyak nanya, biar gue yang simpan, nanti gue yang kasih tahu Pak Rondo soal ini," jawab Anton sambil berlalu pergi dari hadapan Bambang kemudian dia berbalik lagi untuk mengingatkan sekaligus mengancam Bambang. "Lu jangan kasih tahu siapa-siapa soal ini, antara kita sama Pak Rondo saja, ngerti Lu!" kecam Anton kemudian cepat-cepat pergi ke luar dapur sambil membawa dengan hati-hati botol yang di simpannya di dalam kantong saku celananya itu. Sedangkan, Bambang yang sedari tadi tidak faham dengan apa yang di katakan oleh Anton hanya mengangguk takut dengan wajah lugunya yang datar. Bambang bertanya-tanya di dalam hatinya dan berusaha memahami dengan apa yang di maksud oleh Anton barusan. Namun, semakin Bambang berpikir keras, semakin pula dia kebingungan dan tidak memahami sikap Anton dengan ancamannya. "Bodo ah!" gumam Bambang sembari mengambil kembali sapu dan alat pel yang tadi dia letakan di samping kamar kecil sebelum dia masuk ke dalamnya, "Aku lanjutin kerja aja biar cepat selesai dan istirahat," gumam Bambang lagi seraya tersenyum lebar selebar mulutnya. Di lain tempat, Anton yang membawa botol kecil bergambar gajah pun tiba-tiba menghentikan langkahnya sejenak dan berusaha mengingat kembali kata-kata Bambang yang mengatakan bahwa dirinya tidak bertemu Anton dan juga wanita cantik tamu kamar nomor dua puluh lima yang sedang mencari dompetnya yang tertinggal di dalam kamar losmen sehingg Anton pun menjadi kebingungan. Begitu juga dengan Pak Rondo dan wanita cantik tadi yang juga mengatakan bahwa mereka tidak melihat Bambang ketika Anton ada di dalam kamar nomor dua puluh lima itu, Anton pun enjadi semakin penasaran. "Bukannya gue tadi ketemu Bambang di sana," gumam Anton lirih. "Apa jangan-jangan yang gue lihat tadi hantunya si Bambang ya?" gumam Anton dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri. "Tapi kan, si Bambang masih hidup ya, masak dia jadi hantu, hiiiiiiiii...." kata Anton bergidik seram. Setelah beberapa saat berpikir, Anton pun melanjutkan lagi jalannya. Namun, dia tetap berpikir sambil berjalan menuju meja resepsionis. "Ah, paling-paling si Bambang lagi ngerjain gue," gerutu Anton kesal sambil terus berjalan dengan cepat. Namun, tanpa sepengetahuan Anton, ternyata Bambang memperhatikannya dari belakang karena gerak-gerik Anton yang menurut Bambang sangat mencurigakan. Tapi, Bambang yang lugu masih tetap tidak mengerti tentang maksud Anton dan apa yang sedang terjadi dengan Anton dengan barang temuan Bambang dari dalam kamar nomor dua puluh lima tadi. "Aku belum sempat kasih tahu Anton kalau aku juga nemu pelembab rambut," kata Bambang lirih sambil tetap mengintai Anton dari belakang. "Nggak usah kasih tahu deh, nanti Anton malah ngambil lagi kayak botol yang tadi," gerutu Bambang kesal karena botol yang dia temukan tadi di ambil dan di bawa oleh Anton. "Ya udah lah, aku lanjutin kerja aja, biarin aja si Anton yang nggak jelas begitu...! Mungkin dia suka sama botol itu, hihi," lanjut Bambang lirih sembari tertawa kecil menertawakan Anton. Ketika sudah sampai di kamar selanjutnya, yaitu kamar nomor tiga puluh empat, Bambang pun segera masuk dan membersihkan seluruh bagian sudut kamar dengan menyapu dan mengepel lantainya dan mengganti sprei yang sudah kotor dengan sprei yang baru yang di ambilnya dari dalam lemari kamar kemudian dia masukan sprei yang kotor di dalam keranjang yang ada di dalam kamar itu dan di bawanya ke dapur untuk di cuci di sana. Setelah selesai merapikan kamar nomor tiga puluh empat dan menaruh sprei kotor yang tadi di ambilnya dari kamar itu, Bambang kembali melanjutkan lagi untuk membersihkan kamar nomor tiga puluh lima. Ketika Bambang semakin larut dengan pikirannya tentang Anton dan botol temuannya, sehingga ia tidak ingat dengan cerita seram pada kamar nomor tiga puluh lima yang dia dengar dari Solihin. Dengan pasti Bambang membuka pintu kamar, tapi seketika ia kembali teringat tentang cerita seram dari kamar yang pintunya sudah dia buka. "Loh, i-ini kan, ka-kamar...." Bambang bergegas menutup kembali pintu kamar tersebut. "Duh, aku harus gimana?" gumam Bambang merasa bingung ingin masuk ke dalam kamar atau tidak, "Gimana kalau aku dengar suara-suara lagi.. Hiiii," gumam Bambang lagi seketika tubuhnya bergidik takut. Namun, Bambang masih bingung dengan keputusannya akan masuk ke dalam kamar atau tidak. "Ini Anton benar nggak sih ngasih daftarnya, kok ada kamar ini sih..." keluh Bambang lirih, "Masuk aja deh...." gumam Bambang sambil dengan gemetar perlahan tangannya menyentuh gagang pintu mencoba meningkatkan rasa beraninya dan menyurutkan rasa takutnya. Dengan ragu-ragu dan perasaan yang tidak karuan Bambang berusaha untuk membuka pintu kamar itu karena masih merasa takut dengan kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu. "Duh, apa nggak apa-apa ya?" gumam Bambang dalam hati bertanya dengan perasaan takut. "Ini kan masih jam dua subuh, kok aku jadi takut ya," gumam Bambang lagi merasa cemas sembari masih berdiri dengan lutut gemetar di depan pintu kamar dan belum juga membuka pintu kamar nomor tiga puluh lima itu. Perlahan Bambang menggerakkan gagang pintu untuk membukanya, tapi dia lupa bahwa pintunya masih terkunci. "Loh, kok ng-nggak bi-bisa dibu-bu-buka..." gumam Bambang lirih, "Oh iya, a-aku lupa ka-kalau su-sudah b-b-bawa kunci," guman Bambang lagi sambil meraih sebuah kunci yang tergantung di lubang ikat pinggang celananya. Seluruh tubuh Bambang menjadi semakin bertambah gemetar sehingga kunci yang di pegangnnya untuk membuka pintu di kamar yang akan di bersihkannya itu pun terjatuh ke lantai. "Aduh, pa-pa-pakai jatuh ke-ke lantai lagi," gumam Bambang lagi terbata-bata karena menahan rasa takutnya yang semakin menjadi. Bambang memberanikan diri untuk mengambil kunci yang terjatuh ke lantai di depan kamar nomor tiga puluh lima itu. Sementara tubuhnya terus saja bergetar karena menahan rasa takut. Perlahan di masukannya anak kunci ke dalam lobang kunci pintu yang berada di bawah gagang pintu kamar. GEKLEK.... Kunci pintu di kamar itu terbuka, Bambang mencoba menghela nafas, tapi nafasnya malah dengan tersendat karena sekujur tubuhnya masih gemetar. Bambang memberanikan diri meskipun tubuhnya terus saja bergetar menahan rasa takutnya. Dengan pelan dan hati-hati, Bambang mendorong pintu kamar lalu perlahan-lahan melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam kamar itu. "Kok ge-gelap sih...?" gumam Bambang, "Oh, mu-mungkin la-lampunya belum di hi-hidupin," gumam Bambang lagi kemudian perlahan kedua tangannya meraba-raba menelusuri dinding kamar untuk mencari sakelar lampu. Tidak lama, Bambang pun menemukan sakelar lampu dan segera menyalakan lampu yang ada di dalam kamar itu. "Nah, sampai sini ma-masih a-a-aman...." Dengan perlahan Bambang menyapu lantai sampai bersih lalu mengepelnya sampai licin. Tidak ada kejadian yang aneh, tapi Bambang tetap saja takut, apalagi jika harus menatap lemari yang ada di dalam kamar itu dan melihat wajahnya di cermin. "Nggak ada apa-apa, kok..." gumam Bambang heran setelah ia mulai berani. "Istirahat dulu aja deh, kasurnya enak nih...." Karena tidak ada apapun yang terjadi di dalam kamar itu, Bambang pun akhirnya merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang sudah dia rapikan, rasanya dia sangat lelah dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Ketika Bambang berbaring di atas tempat tidur, tiba-tiba dari dalam lemari ada sesuatu yang bergerak-gerak sehingga menyebabkan suara gaduh. Sontak Bambang pun bangun dan berdiri. "Suara apa tuh.." gumam Bambang heran sambil menatap lemari di dalam kamar. Dengan rasa penasaran, Bambang perlahan berjinjit melangkah menuju ke arah lemari yang ada di samping tempat tidur kemudian dejgan hati-hati Bambang mencoba membuka pintu lemari itu. Namun, belum sempat pintunya terbuka, lampu tiba-tiba padam sehingga Bambang menjadi sangat panik dan ketakutan. "Nah loh...." Bambang mulai takut dan cemas. Bambang meraba-raba sambil berjalan mencari ponsel yang tadi dia letakan di atas meja di sebelah tempat tidur, tapi salah satu kakinya tersangkut sudut tempat tidur sehingga membuat dia terjatuh dan tersungkur di atas lantai dan kepalanya terasa membentur meja. Bambang membalikan tubuhnya yang masih berada di atas lantai kemudian tangannya berusaha meraba-raba meja yang ada di sebelahnya dan menemukan ponselnya yang masih berada di sana. Bambang menyalakan senter yang ada di smartphone-nya lalu berdiam di atas kasur karena ketakutan. Sambil menahan tubuhnya yang gemetar, Bambang mencoba memejamkan matanya. Namun, tidak berapa lama lampu kembali menyala dan Bambang pun langsung mengambil sapu serta alat pelnya dan membawanya pergi ke luar kamar. Dengan bergegas Bambang menutup pintu kamar dan menguncinya kembali dari luar membiarkan lemari yang masih bergerak-gerak di dalam kamar nomor tiga puluh lima itu, Selanjutnya Bambang dengan cepat berlari menuju ke dapur. "Huh, untung aja bisa sampai sini," kata Bambang ketika sudah sampai di dapur. "Duuh, kok perutku mules sih?" gumam Bambang heran seketika merasakan sakit di bagian perutnya. Bambang pun bergegas masuk ke dalam kamar kecil. Setelah selesai, Bambang mencuci wajahnya dengan sabun lalu membersihkannya kembali dengan air bersih. Selanjutnya seperti ritual yang biasa di lakukannya, Bambang kemudian merapikan rambutnya yang berantakan dengan pelembab rambut yang masih di simpannya di dalam saku celananya lalu merapikan pakaiannya pula. Setelah keluar dari kamar kecil yang berada di bagian dapur losmen, Bambang melangkah ke arah kursi lalu duduk sebentar sembari menatap layar smartphone-nya dan melihat foto Lala yang masih terpampang jelas di sana. Dengan cepat Bambang pun terhanyut kembali dalam khayalannya bersama sang pujaan hatinya dan seketika melupakan semua kejadian yang dialaminya tadi bahkan sebelumnya. "Banyak perempuan cantik di luar sana La... Tapi, aku cintanya cuman sama kamu... Bagi aku, cuman kamu yang paling cantik," gumam Bambang lirih sambil tersenyum bahagia membayangkan bahwa Lala sedang menemaninya duduk di sampingnya dan juga tersenyum manis kepadanya. Karena terlalu larut dalam khayalannya, Bambang mulai merasa mengantuk dan tidak sadar ia pun terlelap. Namun, karena ia tertidur sambil duduk sehingga membuatnya terjatuh dari atas tempat duduk dan terjerembab ke lantai, seketika membuat imajinasinya bersama khayalan tentang Lala menghilang. "Aduh....!" jerit Bambang yang langsung bangkit dan berdiri. "Dasar kursi..! Ganggu aja...! Eggak bisa lihat orang senang apa...?!Huh...!" gerutu Bambang geram tidak jelas. "Ah, mendingan aku istirahatnya di ruang tunggu aja deh, di sini sepi, takutnya ada hantu, hiii," kata Bambang kembali bergidik. Bambang melangkah ke luar dapur dan segera menuju ke ruang tunggu karyawan untuk beristirahat di sana sembari menunggu waktu pagi datang dan dia bisa segera pulang ke rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD