Bab 44

2244 Words
Bambang tampak sangat senang dengan melebarkan senyumnya di sepanjang perjalanan menuju pulang ke kediamannya. Namun, Bambang masih merasa melupakan sesuatu yang menurutnya sangat penting, sampai saat ia berhenti tepat di lampu merah, "Astaga!" Bambang mulai mengingat sesuatu yang sejak tadi membuatnya gelisah, "Kan, niat aku ke rumah Lala buat jemput dia... Lah, terus kenapa aku malah pulang sih?!" ucap Bambang lirih kemudian menatap lampu merah yang belum juga menjadi hijau, "Mana masih lama lagi nih lampu...!" Wajah Bambang mulai cemas sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari jalan untuk bisa memutar balik arah, "Mana jauh banget lagi jalan buat putar balik!" Bambang mendengus kesal. Kurang dari satu menit kemudian, lampu berwarna merah yang menyala itupun berubah menjadi warna hijau, tanda sudah diperbolehkan untuk Bambang kembali memacu 'Kuda Hijau-nya'. "Aku harus cepet nih." Bambang memacu 'Kuda Hijaunya' dengan cepat dan menyelip beberapa motor dan mobil yang menghalangi di depannya sampai kurang lebih satu kilometer ia pun menemukan celah pembatas jalan untuk berputar balik. Bambang menikungkan 'Kuda Hijaunya' dengan sangat tajam, mirip seorang pembalap Moto-GP yang handal. "Waah! Udah kayak pembalap aja aku...." ucap Bambang lirih sambil diiringi dengan tertawa kecil. "Sekarang udah jam berapa ya?!" gumam Bambang lirih sambil dengan sangat cepat memacu Kuda Hijaunya di sepanjang jalan menuju kembali ke rumah kediaman Lala. Sampai Bambang tiba tepat di depan gang kecil yang mengarah ke rumah kediaman Lala, ia pun memelankan laju 'Kuda Hijaunya' memasuki ke dalam gang. Sementara itu, raut wajah Lala tampak sangat senang karena Bambang tidak jadi menjemputnya. Lala baru saja berangkat ke pasar dengan berjalan kaki. Namun, saat menelusuri gang, dari kejauhan ia melihat Bambang yang sedang mengendarai motor matiknya dan sedang menuju ke arahnya, "Duuh! Kok dia malah balik lagi sih?!" gumam Lala kesal kemudian menoleh ke arah kanan dan melihat sebuah warung yang sudah buka, "Mending aku sembunyi dulu aja deh!" Lala bergegas berlari ke arah warung dan bersembunyi di dalam warung itu. "Eh, Lala? Kenapa, La?" Ibu pemilik warung langsung menghampiri Lala. "Ssssstttt!" Lala menempelkan jari telunjuknya ke bibir. "Kenapa sih?!" ucap Ibu pemilik warung heran. Lala mengintip ke arah jalan tepat di depan warung dan Ibu pemilik warung pun ikut menatap ke arah jalan, "Ada apa sih, La?" "Ada orang gila ngerjar saya, Bu Anti," jawab Lala pelan kepada ibu pemilik warung. "Hah! Orang gila?! Mana?!" Ibu Anti pemilik warung celingak-celinguk ke arah jalan. "Itu dia orang gilanya, Bu." Lala menunjuk ke arah Bambang yang lewat di depan warung Ibu Anti. "Hah? Itu orang gilanya?" Ibu Anti merasa heran kemudian mengingat-ingat wajah orang yang ditunjuk Lala, "Itu kan, cowo yang kemarin beli gorengan disini, La?" "Iya, Bu... Dia ngejar-ngejar saya mulu..." "Emangnya kenapa? Kok dia ngejar kamu? Haaa, apa jangan-jangan dia itu penggemar kamu ya, La?" ucap Ibu Anti mengejek. "Ah, Ibu... Kalau penggemar yang model begitu mah nggak kepake... Wuuu..." sahut Lala kesal kemudian kembali mengintip ke arah jalan. "Kayaknya dia udah pergi, La," ucap Ibu Anti. "Iya, Bu... Saya mau ke pasar dulu ya, Bu," sahut Lala kemudian setengah berlari ke arah jalan dan dengan hati-hati ia langsung menuju ke pasar. Sementara itu, Bambang masih menjalankan 'Kuda Hijaunya' dengan perlahan dan akhirnya ia pun sampai tepat di halaman depan rumah kediaman Lala. "Semoga aja Lala nya masih ada.." ucap Bambang lirih sambil turun dari motor matiknya dan langsung menuju ke pintu depan rumah kediaman Lala. Tok Tok Tok!! Bambang mengetuk pintu. "Iya.. Sebentar..." Terdengar samar suara perempuan dari dalam rumah kediaman Lala. "Nah, kayaknya itu Lala deh," ucap Bambang lirih setelah mendengar suara dari dalam rumah kediaman Lala. JLEK! Pintu terbuka. "Lala.." ucap Bambang seketika. Namun, ternyata bukan Lala yang membukakan pintu, melainkan Sindi adiknya Lala, "Eh, Lala nya ada?" tanya Bambang. "Kak Lala udah berangkat, baru aja!" jawab Sindi ketus. "Lala nya berangkat pakai apa?" "Jalan kaki! Emang kenapa?!" Sindi balik bertanya. "Oh, nggak apa-apa. Ya udah makasih, ya." Bambang langsung kembali menghampiri 'Kuda Hijaunya' dan bergegas memacunya menjauh dari rumah kediaman Lala, "Duuh... Kasian banget Lala sampai jalan kaki..." ucap Bambang lirih sambil dengan cepat memacu 'Kuda Hijaunya' untuk mengejar Lala, "Lala mana ya?" Bambang menoleh ke kanan dan kiri berharap bertemu dengan Lala. Namun, hingga Bambang tiba di pasar tepat dimana Lala bekerja, ia tak juga bertemu dengan Lala, 'Apa mungkin Lala udah nyampe toko ya? Tapi, kayaknya sih belum pada buka...' pikir Bambang sambil menatap gerbang pasar yang suasana di dalam pasarnya masih terlihat sepi karena belum ada pedagang pasar yang membuka toko, apalagi pengunjung pasar, "Aku samperin ke toko apa nggak ya?" gumam Bambang sambil turun dari motor matiknya, "Ya udah! Aku samperin aja deh." Bambang kembali menaiki motor matiknya dan langsung menjalankannya menuju parkiran tepat di depan pasar. Saat Bambang meletakkan 'Kuda Hijaunya' di parkiran, Sandi berjalan menghampirinya. "Bambang? Kok nggak bareng sama Lala?" tanya Sandi. Sontak Bambang menjadi bingung karena berpikir bahwa Lala tidak ada di toko karena Sandi pemilik toko dimana 'Lala' bekerja juga menanyakan tentang 'Lala' yang tidak datang bersama Bambang. "Loh, ternyata Lala belum nyampe sini..." ucap Bambang lirih. "Mbang?!" panggil Sandi. "Hah?!" sahut Bambang. "Kok kamu kesini nggak bareng sama Lala?" ucap Sandi lagi mengulang pertanyaannya. "I-ini mau jemput Lala." Bambang kembali menyalakan mesin motor matiknya dan langsung beranjak pergi dari parkiran pasar menuju kembali ke rumah kediaman Lala. Sementara Sandi masih berdiri tepat di tempat parkir dan beberapa saat setelah Bambang pergi, Lala datang menghampiri Sandi dengan hati-hati. "Gimana, San? Bambang nya udah pergi?" tanya Lala. "Iya, udah aman kok." "Huuh." Lala menghela nafas. "Emangnya kenapa sih, La? Kan enak kalau ada yang mau jadi tukang antar jemput buat kamu, apalagi gratisan," ucap Sandi. "Iya memang gratis sih... Tapi, aku agak risih," sahut Lala mendengus kesal. "Kok risih? Dia kan sepupu kamu. Mungkin nenek kamu nyuruh dia buat jagain kamu, La." "Nggak!" Lala memalingkan badannya membelakangi Sandi, "Kalau bukan dia sih aku mau aja," ucap Lala pelan sambil melirikkan bola matanya ke arah Sandi yang berdiri di belakangnya. "Kalau aku yang jemput?! Kamu mau emang?" tanya Sandi seketika. "Ma.." "Tapi bo'ong!" sambung Sandi seketika memungkas ucapan Lala yang seketika langsung mendengus kesal lalu berjalan ke dalam pasar meninggalkan Sandi sendirian di parkiran. "La, La, La... Tungguin..." Sandi berjalan cepat mengejar Lala, "Emang kamu mau kalau aku yang jadi tukang antar jemput buat kamu?" tanya Sandi setelah berhasil mengejar dan berjalan beriringan di samping Lala. Namun, Lala hanya diam dan menunjukkan raut wajahnya yang tampak merajuk sambil terus berjalan dengan menghentakkan kedua kakinya menuju toko, 'Jadi cowok kok nggak peka banget sih?!' gumam Lala kesal. "Jangan ngambek gitu dong..." Sandi membujuk Lala, "Kalau mukanya cemberut begitu, entar cepat tua loh!" sambung Sandi menggoda Lala. Sementara itu, Bambang sejak tadi mondar-mandir menelusuri gang kecil yang mengarah ke rumah kediaman Lala. Sampai akhirnya 'Kuda Hijau' yang ditunggangi Bambang tiba-tiba berhenti dengan sendirinya tepat di depan warung Ibu Anti. "Loh, Kuda Hijau, kamu kenapa?" tanya Bambang lirih menatap stang motor matiknya, "Kamu ngambek ya? Jangan ngambek sekarang dong... Ini kan, aku lagi ada urusan penting." Bambang menekan tombol starter yang ada pada sebelah kiri stang motor matiknya untuk menyalakan mesin motor matiknya. Namun, setelah beberapa kali Bambang mencoba menyalakannya, mesin motor matiknya tak juga kunjung menyala dan hanya terdengar suara seperti orang yang sesak nafas dari mesinnya, "Nah loh, kok bunyi kayak gini lagi, sih?" ucap Bambang lirih kemudian turun dari motor matiknya, "Oh mungkin kayak kemarin pas Rudi ngebenerin." Bambang berjalan ke arah belakang motor matiknya, "Kok nggak ada apa-apa ya, di knalpotnya..." gumam Bambang lirih. Dari dalam warung, Ibu Anti melihat Bambang yang berhenti di tepi jalan tepat di depan warungnya, "Itu kan, cowok yang tadi dibilang Lala. Kenapa dia berhenti di situ ya?" Ibu Anti terus memerhatikan Bambang yang tampak kebingungan dengan keadaan motor matiknya, "Samperin nggak ya?" ucap Ibu Anti lirih karena merasa prihatin saat melihat Bambang yang raut wajahnya mulai terlihat cemas, "Samperin aja deh." Ibu Anti keluar dari warungnya dan berjalan menghampiri Bambang, "Motornya kenapa, Mas?" tanya Ibu Anti. "Hah?! Enggak, Bu... Ini motornya mogok, Bu," jawab Bambang mengangguk pelan. "Oh, mogok.. Kenapa nggak dibawa ke bengkel aja, Mas?" "Emang disini bengkel yang deket dimana, Bu?" tanya Bambang. "Ada, tuh di depan gang," jawab Ibu Anti sambil menunjuk ke arah jalan masuk gang, "Bengkelnya baru sih, tapi saya pernah nyervice motor disana dan hasilnya sih memuaskan," tambah Ibu Anti. "Gitu ya, Bu." Bambang mengangguk pelan, "Tapi, mahal nggak, Bu?" tanya Bambang. "Nggak, kok..." jawab Ibu Anti, "Kemarin aja saya nyervice biayanya nggak nyampe lima puluh ribu. Coba aja kalau di bengkel lain, duit seratus ribu mah pasti nggak cukup," tambah Ibu Anti meyakinkan Bambang. "Wah! Nggak mahal dong berarti," sahut Bambang. "Iya, mending kamu coba aja bawa motor kamu ke sana deh." "Iya, Bu," sahut Bambang kemudian mendorong motornya menuju ke depan gang. "Loh, bengkelnya mana sih?" Bambang menoleh ke kanan dan kiri, tapi ia tidak menemukan ada sebuah bengkel saat tiba di depan gang, 'Yang ada cuman toko itu... Tapi, kayaknya itu deh bengkelnya,' pikir Bambang menatap ke arah sebuah toko yang tutup tepat di seberang jalan. Tiba-tiba sebuah motor bebek berbody ramping yang ditunggangi Owel datang menghampiri Bambang. "Mbang, lu ngapain disini?" tanya Owel. "Ini, Kuda Hijau kayaknya ngambek lagi, Wel," jawab Bambang. "Ya udah, lu ikut gua deh," ucap Owel. "Kemana?" tanya Bambang heran. "Ya ke bengkel lah, emang kemana lagi?!" sahut Owel kemudian menyeberang jalan dengan motornya menuju sebuah ruko. "Kok Owel kesana sih? Mau ngapain ya?!" gumam Bambang saat melihat Owel yang menyeberang jalan tepat menuju sebuah ruko yang tadi dilihat Bambang. Owel membuka rolling dor pada ruko itu kemudian menoleh ke arah Bambang yang masih menatap bingung ke arahnya, "Lah, tuh anak kok nggak ngikutin gua sih?!" ucap Owel lirih, "Mbang! Sini cepetan! Lu mau benerin motor nggak!" teriak Owel. "I-iya, bentar." Bambang mendorong motornya dengan hati-hati menyeberangi jalan sampai ke sebuah ruko dimana Owel sudah menunggunya. "Ini bengkel gua, Mbang..." ucap Owel memberitahu. "Ooh, gitu ya.." Raut wajah Bambang hanya terlihat santai. "Sini, mana kunci motor lu, biar gua cek dulu.." "Nih..." Bambang menyerahkan kunci motor matiknya kepada Owel. "Bentar, gua cek dulu." Owel memutar kunci ke arah 'ON', kemudian menekan tombol starter yang ada pada sebelah kiri stang motor matik berwarna hijau milik Bambang. "Lah, kok bunyinya lucu gini ya?" ucap Owel tersenyum pahit setelah mendengar suara seperti orang kumat asma yang dikeluarkan dari mesin motor matik Bambang. Owel membuka jok motor matik Bambang lalu membuka penutup tangki bahan bakarnya, "Dih, pantesan mogok.. Coba lu liat sendiri deh.." ucap Owel seketika setelah melihat ke dalam tangki bahan bakar motor matik Bambang. "Emang ada apa?" Bambang menengok ke arah dalam tangki bahan bakar motor matiknya, "Loh! Kok kosong sih bensinnya?!" "Ya emang kosong, makanya motor lu mogok, Mbang," jawab Owel, "Lagian sih lu. Kalau punya motor harus biasa nge-cek, bensinnya cukup atau nggak buat jalan-jalan?!" tambah Owel. "Padahal aku udah mengira-ngira kalau habisnya dua hari lagi, Wel," sahut Bambang yang tidak memperhitungkan kalau sejak tadi dia sudah mengendarai motor matiknya mondar-mandir di dalam gang kecil yang mengarah ke rumah kediaman Lala. "Bentar, gua cek lagi." Owel duduk berjongkok sambil melihat ke bagian bawah motor matik Bambang, "Selang bahan bakar lu nggak bocor kok, Mbang," ucap Owel. "Di dekat sini ada orang jualan bensin nggak, Wel?" tanya Bambang. "Kalau di pinggir jalan dari sini sampe ke pasar kayaknya nggak ada deh, Mbang," jawab Owel, "Tapi kalau di dalam gang sana, kayaknya ada.. Gua pernah liat." Owel menunjuk ke arah gang kecil yang mengarah ke rumah kediaman Lala. "Dimana?" "Tuuh, lu masuk gang aja, terus ada warung sebelah kiri. Nah, di situ ada jualan bensin," jawab Owel memberitahu. "Warung?" Bambang berpikir sejenak, "Ohhh! Warung yang ada jualan gorengan itu ya?" tanya Bambang seketika. "Iya kali, gua juga nggak pernah mampir buat makan di sana sih," sahut Owel. Saat Bambang masih berada di bengkel milik Owel, tiba-tiba sebuah motor gede berhenti tepat di depan bengkel dan ternyata yang mengendarainya adalah Rudi dengan membonceng istrinya yaitu Nanda. "Eh, Bambang juga ada disini ternyata," ucap Rudi sembari istrinya yang turun dari motor, "Kamu tunggu disini aja dulu, Nan. Aku mau beli makanan dulu," ucap Rudi sambil menatap istrinya. "Iya, Rud.." jawab Nanda seraya menganggukkan kepalanya. "Duduk di dalam aja, Nan," ucap Owel mempersilahkan istri Rudi untuk duduk pada kursi yang ada di dalam bengkelnya dan Nanda pun mengangguk mengiyakan, "Oh iya, Rud. Tadi lu bilang mau beli makanan, kan?" "Iya, kenapa emang?" tanya Rudi, "Lu mau neraktir?" sambung Rudi. "Hedeh, belom juga dapet penglaris, Rud..." sahut Owel kesal. "Iya, iya... Becanda gua.." ucap Rudi tersenyum, "Gua yang neraktir, tenang aja...." "Ini, tadi Bambang ngasih tau kalau di dalam gang sana ada warung jualan gorengan," ucap Owel sambil menunjuk ke arah gang yang ada di seberang jalan kemudian menoleh ke arah Bambang, "Bener kan, Mbang?!" "Iya, bener. Gorengannya enak banget," jawab Bambang tersenyum lebar, 'Wah! Pas banget nih, Rudi mau beli gorengan... Aku minta ah....' pikir Bambang. "Nah, kan pas banget lu lagi nyari makanan, Rud," ucap Owel, "Sekalian aja lu bantu Bambang buat ngedorong motornya ke warung, di sana juga jualan bensin," tambah Owel. "Lu kehabisan minyak, Mbang?!" tanya Rudi heran. "Iya nih," jawab Bambang. "Kok bisa sampe kehabisan sih? Lu nggak ngira-ngira sih kalau jalan-jalan..." ucap Rudi. "Tadi juga gua bilang gitu, Rud..." tambah Owel kemudian tertawa kecil. "Ya udah, sini gua bantu dorongin sampe warung deh.." ucap Rudi. Kemudian Bambang menaiki 'Kuda Hijaunya' lalu Rudi menaiki motor gedenya sambil meletakkan kaki kirinya tepat pada ujung knalpot motor matik Bambang dan mendorong motor matik Bambang menuju ke warung di dalam gang kecil yang mengarah ke rumah kediaman Lala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD