Rudi mengendarai motor gedenya sambil mendorong motor matik yang dinaiki Bambang memasuki gang kecil di seberang jalan dari bengkel milik Owel dan berhenti tepat di depan sebuah warung yang pemiliknya bernama Bu Anti.
Bambang dan Rudi bersama-sama turun dari motor yang mereka tunggangi.
"Lu panggilin deh orang yang punya warungnya, Mbang," pinta Rudi, "Terus isi bensin Lu," sambung Rudi sembari menggerakkan tangan kanannya merogoh saku belakang celananya dan mengambil dompet, kemudian Ia duduk pada kursi panjang yang ada di depan warung.
'Wah! Kayaknya aku mau dibayarin nih sama Rudi,' gumam Bambang dalam hati, 'Tapi padahal aku males banget manggilin orang yang punya warung,' pikir Bambang sambil menggaruk kepalanya, "Kok aku sih yang harus manggil pemilik warungnya?!" tanya Bambang yang masih berdiri menatap Rudi.
"Ya elah, tinggal manggil doang kok, males banget sih Lu, Mbang!" ucap Rudi kesal. Ia pun beranjak berdiri, "Permisi!" seru Rudi sedikit mengencangkan suaranya ke arah dalam warung. Namun, tak terdengar sahutan dari pemilik warung.
"Mbang, bantu panggilin napa!" ucap Rudi dengan kesal menatap Bambang yang hanya diam dan berdiri di depan warung
Bambang menganggukkan kepalanya. Ia berjalan ke arah samping kiri dari sebelah warung tepat menuju pintu depan rumah kediaman pemilik warung dan mendapati bahwa pintu depan rumah kediaman pemilik warung itu tampak sudah lebih dulu terbuka.
"Nah, gitu dong..." ucap Rudi pelan sembari kembali duduk. Tangan kanannya meraih satu biji gorengan yang ada di dalam piring di atas meja warung.
Bambang berdiri di depan pintu rumah pemilik warung, "Bu... Beli bensin, Bu!" seru Bambang ke arah dalam rumah pemilik warung. Namun, sahutan dari pemilik warung tak kunjung terdengar. Bambang pun menoleh ke arah Rudi yang sedang duduk di depan warung sambil memegang gorengan yang disantapnya. Bambang kesal melihat Rudi, "Huh! Aku disuruh manggil, dia enak-enakan makan gorengan!" gerutu Bambang. Ia kembali menoleh ke arah dalam rumah pemilik warung.
"Bu! Beli bensin, Bu!" teriak Bambang, dan tetap saja tidak terdengar sahutan dari dalam rumah kediaman pemilik warung itu.
Karena begitu kesalnya, Bambang akhirnya tanpa henti dengan keras menggedor daun pintu depan rumah kediaman pemilik warung sambil meneriakkan kalimat yang sama berulang-ulang kali. "Bu! Beli bensin!"
"Woy! Jangan kenceng-kenceng dong! Berisik amat! Nggak tau apa kalau gua lagi sakit gigi!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria setengah baya di seberang jalan dari warung tepat di depan pagar sebuah rumah dengan cat berwarna biru.
Bambang tersentak dan langsung merasa takut, sementara Rudi dengan santainya duduk dan terus menyantap beberapa gorengan.
Wajah Bambang memucat, "Bu... Beli bensin, Bu..." ucap Bambang langsung memelankan suaranya.
"Iya sebentar!"
Bambang mendengar seru seorang wanita dari dalam rumah itu, "Huh! Giliran dipanggil pelan ibu ini malah denger! Ngeselin!" Bambang menggerutu kesal. Bibirnya langsung mengerucut dan wajahnya tampak masak.
Ibu Anti si pemilik warung menatap Bambang, "Bensinnya berapa liter, Mas?" tanyanya.
"Sekitar aja, Bu... Soalnya saya belum gajihan," jawab Bambang pelan sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar sampai menampakkan giginya yang terkatup rapat.
Ibu Anti tampak tidak enak setelah melihat gigi yang ditunjukkan Bambang kepadanya. Ia melihat gigi Bambang yang warnanya menguning. Tangan kanannya mengipas di depan hidung, "Maaf, Mas... Kalau bisa, mulutnya nggak perlu dibuka kayak gitu... Emh! Aromanya itu loh, Mas," ucap Ibu Anti langsung menyelonong melewati Bambang menuju sebuah rak yang terbuat dari kayu dan mengambil botol berisi bensin dari rak itu, lalu membawanya menuju salah satu motor, yakni motor matik berwarna hijau yang terparkir di depan warungnya. Bambang mengiringinya dari belakang.
Ibu Anti masih berdiri di samping motor matik berwarna hijau sambil memegangi botol kaca berisi bensin dan corong. Begitu juga Bambang yang sama-sama berdiri di samping Ibu Anti.
"Mas, ini kita cuman berdiri aja nih?!" tanya Ibu Anti menatap heran ke arah Bambang.
"Ya nggak lah, Bu... Kan, Ibu mau ngisi bensin ke motor saya?!" Bambang tidak mengerti maksud Ibu Anti.
"Terus, saya ngisi bensinnya kayak gimana, Mas?! Wong joknya aja belum Mas buka," ucap Ibu Anti.
"Eh, iya, ya...." Bambang tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya. Lalu meraba-raba kantong depan dan belakang celananya mencari di mana letak kunci motornya berada, "Loh, eh, loh, eh!" Bambang tidak menemukan kunci motornya di semua kantong celananya.
"Kenapa lagi, Mas?!" Ibu Anti heran menatap Bambang.
"A-anu, Bu... Kuncinya..." Bambang tersenyum malu, "Aku lupa di mana naruh kuncinya, Bu," sambung Bambang kembali tersenyum lebar sampai giginya yang terkatup rapat kembali ditunjukkannya.
"Mas! Tolong! Jangan sampai saya suruh Mas buat minum bensin, ya!" ketus Ibu Anti.
Bambang tidak menghiraukan kekesalan Ibu Anti. Ia terus saja meraba seluruh kantong celananya, lalu menumpahkan seisi tas selempangnya ke atas tanah di depan warung, tapi Ia tetap tidak menemukan kunci motornya.
"Loh! Kok tetap nggak ada, ya?!" Wajah Bambang tampak bingung sambil menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.
"Mbang!" teriak Rudi yang menatap ke arah Bambang dari depan warung.
"Apa!" sahut Bambang balas berteriak menoleh ke arah Rudi, lalu berpaling lagi, "Nggak tau apa kalau aku lagi pusing nyari kunci!" gerutu Bambang pelan sambil menengok ke dalam tas selempangnya.
"Ya elah, mau dikasih tau malah ngedumel!" ucap Rudi pelan, "Woy, Mbang! Tadi Owel nge-chat gua kalo kunci motor Lu ketinggalan di bengkel!" teriak Rudi memberitahu.
Bambang tersentak. Jleb! Wajahnya memerah menahan rasa malu. Perlahan menoleh ke arah Rudi yang tampak kembali lanjut menyantap gorengan, menoleh lagi ke arah Ibu Anti yang masih berdiri di sampingnya dan menatap kesal ke wajahnya.
Bambang tersenyum cengengesan sambil mengangguk pelan menatap Ibu Anti, "Hehe... Bu, sebentar, aku ambil kunci motornya dulu di bengkel," ucap Bambang tersenyum malu dan wajahnya tampak merah.
"Dari tadi kek! Huh!" Dengan kesal Ibu Anti berbalik badan dan langsung mendatangi Rudi yang duduk di depan warungnya, "Belom juga siang, udah ada aja orang yang ngeselin kayak mas yang itu!" gerutu Ibu Anti sambil duduk di samping Rudi.
"Maklumin aja, Bu... Bambang itu orangnya rada dikit geser," ucap Rudi sambil tertawa pelan, dan Ibu Anti pun menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, Bambang terpaksa berjalan kaki kembali ke bengkel milik Owel sepupunya.
"Nih kunci motor Lu, Mbang," ucap Owel menyerahkan sebuah kunci motor kepada Bambang yang tampak merangut kesal.
Bambang hanya diam. Bibirnya terus mengerucut sambil meraih kunci yang diserahkan Owel kepadanya. Kemudian, tanpa mengucapkan apapun Ia langsung kembali berjalan kaki menyeberang jalan dan memasuki gang kecil mendatangi motor matiknya yang ada di depan warung Ibu Anti karena kehabisan bahan bakar.