Bunyi hentakan sandal terdengar begitu kasar bersamaan dengan suara gemerincing hiasan gantungan kunci yang terayun. Bambang melangkahkan kedua kakinya dengan nafasnya yang mulai engah menelusuri sebuah gang kecil untuk mendatangi 'kuda hijaunya' yang tengah dalam kondisi kehausan. Tak jauh di sebelah kanan jalan, kedua matanya melihat 'kuda hijaunya' yang terparkir bersebelahan dengan sebuah motor gede warna hitam milik Rudi tepat di depan sebuah warung.
"Huh!" Bambang mendengus kesal, "... Untung aja nggak jauh!" gerutunya dengan mulut mengerucut sembari mengerutkan kedua keningnya. Detik selanjutnya, saat semakin dekat dengan posisi 'kuda hijaunya', pandangannya otomatis teralih dengan apa yang ada di belakang 'kuda hijaunya' berada, yaitu pemandangan ketika Rudi sedang duduk pada kursi panjang di depan warung sembari dengan lahapnya menyantap gorengan.
Bambang mempercepat langkah kakinya saat memasuki halaman depan warung milik Ibu Anti dan segera menghampiri Rudi untuk duduk bersebelahan di kursi panjang di mana Rudi duduk.
Rudi terus saja menyantap gorengan di tangannya tanpa menghiraukan kehadiran Bambang.
"Rud, ..." Bambang menatap Rudi, "... Ibu pemilik warung tadi ke mana?"
Rudi hanya menggeleng sambil mengangkat bahunya tanpa menoleh ke arah Bambang.
Karena sikap Rudi, Bambang pun menolehkan kepalanya untuk menatap jauh ke dalam warung.
"Eh, Mas...." Ibu Atun datang lewat samping warung dan mendatangi ke depan warung di mana Bambang dan Rudi berada, "Gimana, udah nemu kuncinya?"
Bambang menoleh ke samping kiri tepat ke arah Ibu Atun, "Iya udah dapat, Bu." Bambang mengangguk pasti sambil beranjak berdiri dari kursi panjang lalu berjalan ke arah motor matik hijaunya yang terparkir di depan warung.
Ibu Atun pun langsung mengambil sebuah botol kaca berisi bahan bakar dan sebuah corong minyak dari rak kayu di depan warung miliknya, lalu melangkah menyusul Bambang yang terlihat sudah membukakan jok dan membuka penutup tangki bahan bakar pada motor matik hijau miliknya.
Kurang dari tiga puluh detik, Ibu Atun selesai menuangkan bahan bakar ke dalam tangki motor matik hijau Bambang melalui corong minyak.
"Berapa, Bu?" tanya Bambang sambil membuka resleting pada tas selempang yang menggantung di bahu kirinya.
"Sepuluh ribu, Mas," jawab Ibu Anti tersenyum ramah menatap Bambang yang sudah mengulurkan tangan kanannya masuk ke dalam tas.
"Sebentar ya, Bu," ucap Bambang sesaat menatap Ibu Anti dan kembali menunduk untuk melihat ke dalam tasnya. Tidak berhasil menemukan uang dari dalam tasnya, tangan kanannya beralih untuk merogoh ke kantong kanan belakang celananya dan hasilnya sama, "Loh! Kok nggak ada?!" Bambang mengerutkan kedua keningnya dan diam sejenak, "Bukannya tadi malam aku masukin uang dari Anton di kantong celana?!" Bambang lanjut untuk merogoh kantong kiri belakang celananya, "Uang dari pak Rondo yang lima puluh ribuan juga nggak ada?!" Wajah Bambang mulai terlihat cemas pucat. Kedua kantong bagian depan pun tak luput dari rogohan tangan kanannya, dan hasilnya tetap sama. Ia tidak berhasil menemukan uang di semua kantong pada celana panjang berwarna hitam yang dikenakannya. Diangkatnya wajahnya sebentar, menatap wajah Ibu Anti dengan senyum yang dipaksakan.
Ibu Anti mengangkat kepalanya sebentar. Dengan bahasa tubuhnya ia menanyakan maksud senyum yang terukir di wajah Bambang.
"Nggak, Bu, ..." Bambang tersenyum pahit sambil menggeleng pelan. Ia kembali merogoh ke seluruh kantong celananya, "Tadi kan, aku taruh di kantong celana, ..." pikir Bambang dengan kedua keningnya yang kembali mengerut dan terdiam lagi, "... Kenapa nggak ada, ya?!" gumam Bambang pelan.
Rudi telah puas menyantap gorengan yang tersaji di atas meja warung milik Ibu Atun. Ia beranjak berdiri dari kursi panjang dan menoleh ke arah belakang di mana Bambang bersama Ibu Atun berada dan penasaran dengan apa yang terjadi di sana, "Itu Bambang kenapa, ya?!" gumam Rudi pelan sambil mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Bambang yang wajahnya tampak gugup. Detik selanjutnya, ia melangkah mendatangi Bambang. Berdiri di belakang Bambang lalu tangan kanannya terulur untuk menepuk pundak kanan Bambang.
Bambang sontak menoleh ke belakang karena terkejut merasakan tepukan pada pundak kanannya dan melihat Rudi yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa, Mbang?" tanya Rudi menatap wajah Bambang yang tampak bingung.
Bambang kembali berpaling dan mengacuhkan pertanyaan Rudi. Tangan kanannya terulur ke belakang leher dan menggaruknya walau tidak terasa gatal, "Ah! Mungkin kececer di bawah si Kuda Hijau kali ya, pas tadi masukin tangan ke dalam kantong?!" pikir Bambang kemudian membungkukkan badannya dan menatap ke bawah motor matik hijaunya dengan harapan berhasil menemukan uang yang sejak tadi dicarinya. Tapi, usahanya tetap tak membuahkan hasil.
Rudi mengerutkan kedua keningnya menatap heran ke arah Bambang yang terlihat sedang mencari sesuatu di bawah motor matik berwarna hijau milik Bambang yang kok motornya masih dalam keadaan terbuka. Ia menggeser pandangannya untuk menatap Ibu Atun si pemilik warung lalu mengangkat kepalanya, dengan bahasa tubuhnya menanyakan kepada Ibu Atun tentang apa yang sedang dilakukan Bambang.
Ibu Atun menggeleng dengan raut wajah bingung. Karena ia juga tidak mengerti dengan apa yang sedang diperbuat lelaki yang dimaksud Rudi.
"Loe nyari apaan sih, Mbang?!" tegas Rudi bertanya menatap Bambang dengan wajahnya yang mulai kesal karena dia belum mendapat jawaban dari pertanyaannya kepada Bambang.
Bambang sontak beranjak berdiri dan berpaling menatap Rudi yang berdiri di belakangnya dan melihat tatapan Rudi yang kesal padanya, "A-anu, ..." Bambang tampak tersenyum takut, "... Uang aku kayaknya ketinggalan di rumah, Rud," ucap Bambang dengan wajah masam menjawab pertanyaan Rudi.
"Ya elah!" Rudi menggeleng pelan dengan senyum kesal, "... Kalau uang loe ketinggalan, terus loe bayar bensinnya pakai apa, Mbang?" tanya Rudi sembari membentuk sudut pada bibirnya. Ia paham dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Bambang tersenyum dengan raut wajah gugup sambil menggeleng pelan menatap Rudi yang berdiri di depannya.
Rudi menghela nafas, "Bambang, Bambang," ucap Rudi sambil menggeleng kesal. Detik selanjutnya, ia mengalihkan tatapannya ke arah Ibu Atun yang sejak tadi menunggu uang dari Bambang, "Bu, tadi saya makan gorengan tiga biji, berapa?" tanya Rudi kepada Ibu Atun si pemilik warung.
"Tiga ribu perak aja, Mas," jawab Ibu Atun sembari tersenyum dan mengangguk ramah kepada Rudi.
"Oh, ..." Rudi balas tersenyum ramah dan mengangguk pelan, kemudian mengambil dompet dari kantong kanan belakang celananya dan mengambil selembar uang berwarna biru dengan nominal lima puluh ribu dari dalam dompetnya, "... Sekalian dibungkus dua puluh dua biji ya, Bu," pinta Rudi sembari mengulurkan tangan kanannya ke arah Ibu Atun untuk menyerahkan uang yang tadi diambilnya dari dalam dompetnya.
Ibu Atun mengangguk pelan sembari menerima uang yang diserahkan Rudi, "Sebentar, saya bungkusin gorengannya sekalian sama kembaliannya ya, Mas," ucap Ibu Atun kemudian melangkah ke arah warung miliknya untuk membungkuskan gorengan sesuai pesanan Rudi.
Rudi kembali menatap Bambang, "Loe tunggu di sini," ucap Rudi sambil menepuk pundak kiri Bambang.
Detik selanjutnya, Rudi berbalik dan melangkahkan kedua kakinya menuju warung, menyusul Ibu Atun yang sudah lebih dulu tiba di warung dan tengah memasukkan beberapa biji gorengan ke dalam sebuah kantong plastik bening berukuran sedang.
"Bu, kembaliannya berapa?" tanya Rudi pelan kepada Ibu Atun yang masih belum selesai menyiapkan pesanan Rudi.
Ibu Atun menatap Rudi, "Gorengannya yang tadi di makan tiga biji, kan?"
"Iya, Bu," jawab Rudi mengangguk mengiyakan.
"Terus yang dibungkus dua puluh dua biji, ..."
"Jadi dua puluh Rima ribu ya, Bu?" pungkas Rudi.
"Bener." Ibu Atun mengangguk pasti lalu lanjut untuk menyiapkan pesanan Rudi.
Rudi menoleh ke belakang menatap ke arah Bambang yang sedang menggaruk kasar bagian belakang kepalanya dan sepertinya masih terlihat kebingungan. Detik selanjutnya, ia menoleh ke depan lagi dan menatap Ibu Atun yang sudah selesai menyiapkan gorengan pesanannya, "Sekalian sama bensin Bambang deh, Bu," ucap Rudi pelan kepada Ibu Atun.
Ibu Atun mengangguk, "Jadi totalnya tiga puluh lima ribu, kan ya?" tanya Ibu Atun memastikan perhitungannya. Tangan kanannya terulur untuk menarik sebuah laci pada etalase kaca di atas meja warung miliknya. Diletakkannya uang dari Rudi ke dalam laci lalu mengambil dua lembar uang dan diserahkannya kepada Rudi, "Ini kembaliannya lima belas ribu, Mas," ucap Ibu Atun tersenyum ramah.
"Beli ya, Bu." Rudi menerima uang kembalian yang diserahkan Ibu Atun padanya lalu berpaling badan dan mulai melangkahkan kedua kakinya.
"Iya, dijual, Mas, ..." Ibu Atun mengangguk ramah lalu tersentak saat melihat sebuah kantong plastik berisi gorengan di atas meja warung miliknya yang tidak dibawa Rudi, "... Eh, Mas! Ini gorengannya." Ibu Atun menunjuk sebuah kantong plastik berisi gorengan di atas meja, mengingatkan Rudi yang sepertinya lupa untuk membawa gorengan yang telah dibelinya.
Rudi berhenti dan menolehkan kepalanya ke belakang menatap ke arah Ibu Atun, "Nanti biar Bambang yang bawain, Bu," ucap Rudi sembari tersenyum dan mengangguk ramah lalu lanjut berjalan mendatangi Bambang.
Ibu Atun hanya mengangguk pelan mendengar perkataan Rudi tadi dan melihat Rudi yang kembali melanjutkan langkah menuju tempat di mana Bambang berada.