"Mbang, ..." ucap Rudi sembari menepuk pelan pundak kanan Bambang, dan sontak membuat Bambang menoleh padanya, "... Yuk, kita ke bengkel," ajaknya.
"Ta-tapi..." Bambang masih tampak gugup dan menatap cemas ke arah Rudi.
"Tenang aja, bensin loe udah gue bayarin, ..." ucap Rudi tersenyum sembari mengangkat alis kirinya menatap Bambang.
Bambang seketika semringah menatap wajah Rudi setelah mendengar ucapan Rudi tadi, "Waaah! Kalau rezeki emang nggak ke mana," gumamnya dalam hati sembari menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum dengan perasaan senang.
"Oh iya, gue minta tolong sama loe buat bawain gorengan gue ke bengkel Owel, ya. Soalnya motor punya gue nggak ada gantungan buat ngegantung kantong plastik," pinta Rudi langsung berlalu dari Bambang dan melangkah ke arah motor gede warna hitam miliknya. Ia menoleh lagi ke arah Bambang ketika sudah menaiki motor gedenya, "Oy, Mbang!" seru Rudi sedikit mengeraskan suaranya ketika melihat Bambang yang masih tersenyum sendirian dan belum juga beranjak untuk mengambil gorengan sesuai permintaannya.
"Eh!" Bambang tersentak mendengar teriakan Rudi, lalu menatap ke arah Rudi sambil mengangguk pasti. Detik setelahnya, ia berbalik badan dan melangkahkan kedua kakinya menuju warung untuk mengambil sebungkus gorengan yang dimaksud Rudi.
Bambang sontak kembali menoleh ke arah Rudi ketika mendengar bunyi mesin motor gede milik Rudi yang telah dinyalakan.
"Gue duluan ya, Mbang!" seru Rudi menatap jauh ke arah Bambang dari tempatnya berada dan mulai menjalankan motor gede miliknya untuk kembali ke bengkel milik Owel mendatangi Nanda dan Owel di sana.
Bambang mengulurkan tangan kanannya meraih bungkusan plastik berisi gorengan yang tergeletak di atas meja warung dengan kasar, "Sok sibuk banget sih itu si Rudi!" Bambang menggerutu kesal dengan wajah merengut setelah melihat Rudi yang membuatnya tertinggal di warung sendirian. Dibawanya bungkusan plastik berisi gorengan itu menuju motor matik hijaunya yang terparkir sendirian di depan warung lalu dikaitkannya bungkusan plastik itu pada gantungan yang ada di motor matik hijau miliknya. Kemudian, kembali termenung dengan raut wajah bingung, "Uangku yang dikasih Anton sama pak Rondo ke mana, ya?!" gumamnya pelan sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Mas?!" sapa Ibu Atun si pemilik warung tiba-tiba berdiri di belakang Bambang.
"Eh!" Bambang kembali tersentak dan seketika berpaling ke belakang menatap Ibu Atun, "I-iya, Bu?" tanya Bambang dengan tatapan heran menatap Ibu Atun.
"Nyari apa lagi, Mas?" tanya Ibu Atun sembari mengangkat kepalanya menatap Bambang.
"Hah, e-e-enggak, Bu. Saya nggak nyari apa-apa kok," jawab Bambang kemudian menggeleng cepat, lalu melangkahkan kaki kanannya untuk menaiki motor matik hijau miliknya.
Ibu Atun pun menatap heran ke arah Bambang yang dipikirnya tingkah Bambang itu tidak jelas. Detik selanjutnya, ia tersenyum risih melihat Bambang yang kembali turun dari motor matik untuk memeriksa kedua ban pada motor matiknya itu.
"Ban-nya kenapa, Mas?" tanya Ibu Atun menatap Bambang dengan tatapan heran.
Bambang menoleh sebentar ke arah Ibu Atun, "Hah, e-enggak," jawabnya menggelengkan kepalanya lalu kembali menaiki motor matiknya. Tangan kanannya terulur ke arah kunci motor yang sudah tertancap pada lubang kunci dan langsung memutar kunci motor tersebut. Setelah mesin motor matiknya menyala, ia pun segera memacu motor matiknya tanpa berpamitan kepada Ibu Atun.
Ibu Atun hanya menggeleng heran dan tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk menggambarkan tingkah aneh lelaki yang baru saja dia temui. Tingkah yang sangat langka menurutnya, karena baru pertama kali melihat tingkah lelaki seperti Bambang.
"Sok kaya banget sih itu si Rudi!" gerutu Bambang dengan wajah kesal sembari mengendarai motor matik hijaunya menelusuri jalan kecil. Ia kesal kepada Rudi walau sebenarnya Rudi tidak ada salah sedikitpun padanya, tapi ia tetap kesal karena Rudi lebih dulu pergi meninggalkannya di warung. Bahkan rasa terima kasih kepada Rudi yang sudah mau membayarkan bensinnya tidak terlintas sedikitpun di pikirannya. Yang dia pikirkan hanyalah keuntungan. Detik selanjutnya, terlintas lagi dalam benaknya tentang rasa penasaran terhadap uangnya yang hilang, "Apa aku cari aja ya uangku?! ..." Bambang mengerutkan kedua keningnya, "... Mana belum gajihan! Apa uangnya kececer di jalan, ya," pikir Bambang mengangguk pelan sambil terus menjalankan motor matiknya menelusuri jalan kecil dalam gang.
Setelah keluar dari gang kecil tersebut, Bambang langsung membelokkan arah motor matik yang dinaikinya ke arah kiri tanpa singgah ke bengkel milik Owel. Ia berniat menelusuri jalan yang sudah dia lewati dengan harapan menemukan uang miliknya yang tercecer di jalan dan melupakan amanah dari Rudi yang memintanya untuk membawakan bungkusan plastik berisi gorengan ke bengkel milik Owel.
***
Rudi, Nanda, dan Owel sedang duduk pada kursi plastik di dalam bengkel milik Owel. Mereka bertiga sepertinya sedang menunggu kedatangan Bambang untuk membawakan bungkusan plastik berisi gorengan yang dijanjikan Rudi kepada Nanda dan Owel.
"Rud, mana gorengannya?!" tanya Nanda menatap Rudi suaminya dengan tatapan kesal.
"Tungguin sebentar lagi, Nan. Mungkin motor Bambang lama nyalanya, soalnya kan baru diisi bensin, ..." jawab Rudi dengan raut wajah cemas menatap Nanda, lalu menoleh ke arah Owel, "... Bener nggak, Wel?" tanya Rudi kepada Owel untuk memastikan perkiraannya adalah benar.
Owel tersenyum masam. Digelengkannya kepalanya sembari mengangkat kedua bahunya, "Kalau motornya kayak motor punya loe Rud, bisa jadi, ..." jawab Owel menjelaskan, "... tapi, untuk motor jenis matik kayak punya Bambang sih kayaknya nggak ada kendala deh kalau bensinnya sampai kering."
"Nah! Gimana, Rud?!" Nanda mulai merangut sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan d**a dan menghentakkan kedua kakinya lalu mendengus kesal.
"Eh, loe berdua itu kan udah nikah, ..." Owel mengerikan kedua keningnya menatap Rudi dan Nanda bergantian, "... tapi kok, masih manggil nama?" tanya Owel.
"Terus?!" tanya Rudi dan Nanda serentak menatap Owel dengan tatapan heran.
"I-iyaaa, ya gue bingung aja, ..." Owel tersenyum gugup, "... Kan, kalau orang udah jadi suami istri itu biasanya saling manggil 'sayang, papah-mamah, papi-mami, ayah-bunda', kayak gitu."
Rudi tertawa pelan bersama dengan Nanda yang mulai tersenyum mendengar perkataan Owel.
"Gini, Wel, ..." Rudi menatap Owel dengan serius, "... sebenarnya ini permintaan Nanda."
Nanda hanya mengangguk pelan sambil terus tersenyum.
"Permintaan?!" Owel mengerutkan kedua keningnya menatap Rudi kemudian menatap Nanda.
"Iya, Wel, ..." Nanda mengangguk, "... ini tuh permintaan gue ke Rudi. Gue minta sama Rudi buat jangan manggil panggilan mesra dulu sebelum kita berdua selesai resepsi," ucap Nanda menjelaskan.
"Owh...." Owel mengangguk paham sembari menyunggingkan senyum tipisnya.
"Kok Bambang belum nyampe juga, ya?" tanya Nanda cemas kembali mengingatkan pembahasan awalnya kepada Rudi dan Owel.
"Apa bungkusan gorengan yang loe titipin sama Bambang, dibawa Bambang pulang ya, Rud?" Owel menerka karena mengingat kebiasaan Bambang yang rakus.
"Coba kamu cek deh ke sana, Rud," pinta Nanda.
"Kalau dia nggak ada di sana gimana?" tanya Rudi dengan raut wajahnya yang mulai ragu dan bingung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lah?! Terus gimana?! ..." Nanda mengerutkan kedua keningnya, "... Ini udah kelamaan nunggunya. Mana perut juga udah lapar banget!" rengek Nanda menatap Rudi dengan tatapan kesal.
Rudi menghela nafas, "Ya udah, aku samperin ke sana lagi deh, ..." Rudi beranjak berdiri, "... Tapi, kalau Bambangnya malah nggak ada gimana?"
"Ya tinggal beli lagi aja gorengannya, Rud," jawab Nanda kemudian mendengus kesal.
"Iya iya deh, tunggu bentar," sahut Rudi ikut kesal.
"Hhm!" Nanda mengangguk pelan dengan wajah terus merengut, "Jangan lama-lama kayak Bambang ya, aku udah lapar banget nih," ucap Nanda pelan.
Rudi hanya mengangguk pelan, lalu melangkah ke luar bengkel milik Owel dan segera menaiki motor gede warna hitam miliknya.
"Haduh!" Rudi mendengus kesal sembari menghidupkan mesin motor gede miliknya, "Bensin udah dibayarin, masih aja ngerepotin!" gumamnya kesal lalu dikendarainya motor gedenya menuju ke seberang jalan dan langsung masuk ke dalam gang untuk kembali ke warung di mana dia membeli gorengan.