Bambang masih memacu pelan motor matik hijaunya menelusuri jalan. Ia menoleh ke kiri dan kanan menatap permukaan jalan, berharap menemukan uang miliknya yang diperkirakan telah tercecer di jalanan ketika tadi pagi ke rumah Lala. Tapi, tanpa sadar dia bersama motor matik hijau yang dikendarainya hampir tiba di pertigaan yang salah satunya mengarah ke rumah tempat kediamannya berada.
"Loh?! Kok aku malah mau nyampe rumah sih?! ..." Bambang mengerutkan kedua keningnya sembari menghentikan laju motor matik hijau yang dia kendarai, lalu menatap ke arah jalan yang di depannya terdapat sebuah gapura bertuliskan Jalan Geteng, "... ya udah, pulang dulu deh, mungkin aja uangku ketinggalan di loteng," gumam Bambang mengangguk pelan. Detik berikutnya, ia kembali menjalankan motor matik hijaunya memasuki jalan yang mengarahkannya ke rumah tempat kediamannya.
Kurang dari satu menit, Bambang tiba di depan rumah kediamannya. Diletakkannya motor matik hijau miliknya secara asal. Wajahnya menunduk sembari tangan kanannya yang terulur dan akan meraih kunci motornya yang masih tertancap pada lubang kunci motor.
"Hah?! ..." Bambang mengerutkan kedua keningnya menatap sebuah bungkusan plastik yang menggantung di gantungan motor matik hijaunya, "... Ini apaan?! ..." gumam Bambang sembari meraih lalu membuka bungkusan plastik tersebut. Detik selanjutnya, ia langsung teringat bahwa bungkusan plastik yang dilihatnya itu adalah sebungkus gorengan yang dititipkan Rudi kepadanya ketika di warung ibu Anti, "Ini kan, gorengan yang tadi dititipin sama Rudi pas di warung dekat rumahnya Lala? ..." gumam Bambang dalam hati bertanya pada dirinya sendiri, "... Ah, lumayan nih buat sarapan." Bambang tersenyum sumringah menatap isi dalam bungkusan di tangannya.
Bambang turun dari motor matik hijau miliknya, "Kuda hijau, ..." Bambang menatap dan mengulurkan tangan kirinya ke stang motor matik hijaunya lalu mulai mengelusnya perlahan, "... kamu istirahat dulu di sini, ya. Nanti kalau udah malam, kita berangkat lagi, OKE?" ucap Bambang pelan sembari tersenyum menatap stang motor matik hijau miliknya. Detik selanjutnya, ia bergegas melangkah ke pintu depan rumah kediamannya. Tangan kanannya terulur untuk membuka pintu depan rumah dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah kediamannya.
Bambang mempercepat langkahnya melewati ruang depan dan langsung menuju ruang dapur karena sudah tidak sabar untuk segera menyantap gorengan yang ada dalam bungkusan yang dijinjingnya di tangan kirinya.
Setelah tiba di dalam ruang dapur, Bambang meletakan sebuah bungkusan plastik berisi gorengan ke atas meja makan, "Aku ambil piring dulu deh biar lebih nikmat buat nyantap gorengannya," gumam Bambang tersenyum senang kemudian membalik badannya lalu berjalan ke arah lemari dapur. Tangan kanannya terulur untuk membuka pintu lemari dapur.
"Nah! Ini apa?" Bambang mengerutkan kedua keningnya menatap sebuah mangkuk yang terdapat di dalam lemari dapur yang tadi dibukanya. Kedua kakinya berjinjit agar badannya bisa lebih tinggi, "Waaah! Ternyata bakso." Wajah Bambang kembali sumringah ketika melihat isi di dalam mangkuk tersebut. Kedua tangannya terulur masuk ke dalam lemari dapur dan meraih sebuah mangkuk berisi bakso yang porsinya lengkap.
"Lumayan nih, rezeki nomplok," gumam Bambang tersenyum lebar menatap isi dalam mangkuk yang dia pegang dengan kedua tangannya. Empat biji bakso kecil dan satu biji bakso ukuran besar dengan bihun dan mie yang telah dibaluri saus tomat, kecap, dan sayur-sayuran yang bertabur rapi di atasnya. Detik berikutnya, ia membalik badannya lagi lalu kedua kakinya segera melangkah keluar dari ruang dapur dan membawa semangkuk bakso yang tadi diambilnya dari dalam lemari dapur menuju loteng tanpa berpikir panjang untuk mencari tahu siapa pemilik dari bakso yang telah diambilnya. Membuatnya sesaat melupakan tentang uang miliknya yang diperkirakan telah tercecer di jalan. Uang yang sebenarnya adalah pemberian dari Anton dan pak Rondo tadi malam ketika di losmen tempat dia bekerja.
***
Kurang dari sepuluh menit, Bambang telah usai menyantap semangkuk bakso yang tadi ditemukannya di dalam lemari dapur.
"Kok aku belum kenyang sih! ..." pikir Bambang sambil menatap dan mengelus perutnya yang dia rasakan masih belum terisi penuh, "... Makan apa lagi ya, biar perutku kenyang dan aku bisa tidur dengan nyenyak?!" Bambang mengerutkan kedua keningnya. Detik selanjutnya, ia termenung sejenak ketika merasa ada sebuah kejanggalan terlintas dalam benaknya. Dia merasakan telah melupakan sesuatu yang penting menurutnya.
"Astaga! Gorengan!" Bambang berteriak sembari menepuk dahinya dengan telapak tangan kanannya yang telah berlumuran saus karena tidak memperhatikan kebiasaan dalam menyantap makanan yang sopan. Ia beranjak berdiri lalu bergegas menuruni anak tangga dan melangkah kembali ke ruang dapur tanpa menghiraukan dahinya telah ternodai oleh saus dari telapak tangan kanannya karena tidak sabar untuk mengambil sebuah bungkusan plastik berisi gorengan yang baru diingatnya.
Setibanya di ruang dapur, Bambang melihat seekor kucing yang memiliki belang hitam bercampur putih dengan ekor yang pendek. Kucing itu memasukkan kepalanya ke dalam bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja makan dalam ruang dapur dan tampak seperti sedang memakan makanan di dalam bungkusan plastik tersebut.
"Popong!" Bambang berteriak kesal lalu berlari ke arah meja makan di mana kucing tersebut berada, "Hus! Hus!" Bambang mengibaskan kedua tangannya ke arah kucing di atas meja agar bisa membuat kucing itu berlari menjauh.
Kali ini usaha Bambang berhasil. Kucing belang hitam putih bernama Popong itu berhasil diusir Bambang.
Popong berlari setelah mengetahui keberadaan Bambang yang telah mengibaskan tangan ke arahnya.
"Hah! Itu gorengan punyaku, Pong!" teriak Bambang kesal sembari menunjuk ke arah gorengan yang berada di gigitan kucing belang hitam putih tersebut, "Kembalikan!" teriak Bambang lagi kemudian langsung melompat seperti hendak menerkam ke arah kucing belang hitam putih yang sudah berlari dan bersembunyi ke bawah meja makan.
"Aduh!" Bambang merasakan nyeri di ubun-ubunnya karena kepalanya membentur sudut siku-siku pada salah satu kursi di meja makan. Ia kembali berdiri sambil memusut ubun-ubunnya dengan tangan kanannya dan membuat ubun-ubunnya kembali ternodai dengan saus yang masih tidak dia bersihkan pada telapak tangan kanannya.
Bambang menoleh ke arah meja makan tepat menatap sebuah bungkusan plastik berisi gorengan, "Kalau nggak diikat nanti Popong bakal nyuri gorenganku lagi!" dengus Bambang langsung mengulurkan kedua tangannya meraih sebuah bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja, lalu diikatnya erat bungkusan plastik itu agar kucing belang bernama 'Popong' tidak bisa lagi untuk mencuri gorengan yang ada dalam bungkusan plastik.
Setelah selesai mengikat bungkusan plastik tersebut, Bambang membungkukkan badan untuk bisa melihat ke bawah meja makan. Menatap seekor kucing belang hitam putih di bawah meja makan yang terlihat jelas sedang melanjutkan menyantap sepotong gorengan yang tadi sempat dibawa kucing tersebut.
"Popong! Kembalikan gorenganku!" bentak Bambang. Detik selanjutnya, ia menyusup ke bawah meja makan untuk merebut kembali sepotong gorengan yang masih disantap seekor kucing belang hitam putih.
Tapi, dengan gesit kucing belang bernama 'Popong' tersebut mengamankan sepotong gorengan yang seketika dibawanya lari.
Bambang tersungkur tepat di bawah kolong meja makan karena tidak berhasil merebut sepotong gorengan yang telah diamankan oleh 'Popong' si kucing belang. Kemudian 'Popong' menghuyungkan ekor pendeknya tepat ke arah wajah Bambang lalu meninggalkan jejak 'spray' yang tepat mengenai wajah Bambang.
"Popong!" teriak Bambang kesal sembari mengusap wajahnya yang basah karena 'spray' dari kucing belang yang dihadapinya. Detik berikutnya, ia dengan cepat mengulurkan kedua tangannya untuk meraih kucing belang. Tapi, kucing belang tersebut dengan lincahnya cepat menghindar dan berhasil lolos dari kedua tangan Bambang yang ingin menangkapnya.