Bab 49: Si Kucing Belang

1311 Words
Sudah sepuluh menit berlalu, tapi Bambang terus bersikeras untuk berusaha merebut sepotong gorengan yang masih berada di mulut Popong si kucing belang. Bambang menundukkan badannya dengan nafas terengah-engah. Tapi, ia masih belum tampak menyerah. Detik berikutnya, ia bangkit dan seketika melihat Popong si kucing belang yang sedang duduk dengan santainya dan tampak meletakkan sepotong gorengan dari mulutnya tepat di depan badannya. "Kamu nantangin aku ya, Pong!" Bambang membentak sembari menunjuk ke arah seekor kucing yang duduk santai di depan kulkas yang ada dalam ruangan dapur di rumah kediamannya. Popong si kucing belang hanya menatap datar ke arah Bambang lalu hendak bersiap menyantap sepotong gorengan yang tergeletak di atas lantai di depannya. "Awas aja kalau kamu nekat makan gorengan itu, Pong!" Bambang melangkahkan kedua kakinya perlahan. Bergerak hati-hati untuk mendekat ke arah kulkas di mana Popong si kucing belang berada. "Kamu sudah aku kepung, Pong! ..." gumam Bambang menggertak pelan sembari menatap ke arah Popong si kucing belang dengan tersenyum licik ketika sudah berdiri cukup dekat dengan Popong si kucing belang tersebut, "... Hap!" Bambang melompat tepat ke arah bagian depan kulkas di mana Popong si kucing belang tersebut berada. Tapi, Popong si kucing belang tak kalah cepat. Ia segera mengambil sepotong gorengan di depannya dengan menggunakan mulutnya dan langsung melompat menghindari tangkapan Bambang. DUG! Bambang terjungkal sekaligus membenturkan kepalanya tepat pada bagian pintu kulkas. "Aduuh!" Bambang memegang kepalanya yang terasa nyeri dengan kedua tangannya. Ia merasa pening akibat benturan pada kepalanya. Kedua keningnya mengernyit sembari terpejam dan menggelengkan kepalanya dengan cepat agar rasa peningnya mereda. Detik berikutnya, Bambang kembali bangkit kemudian menatap ke arah meja makan. Ia melihat Popong si kucing belang yang kembali duduk dengan santai setelah meletakkan sepotong gorengan di depan tubuhnya. Bambang merasa tertantang saat melihat mulut Popong si kucing belang yang membuka lebar. Ia diremehkan oleh seekor kucing yang tampak mulai bosan, "Gorengan itu pasti akan kembali ke tanganku!" Bambang belum menyerah. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan tatapan penuh amarah yang berapi-api menatap ke arah seekor kucing belang yang duduk santai di atas meja makan. Tanpa berlama-lama, ia kembali melompat dengan posisi seperti menerkam ke arah di mana Popong si kucing belang berada. Detik berikutnya, Bambang menyunggingkan senyum kemenangan setelah melirik ke arah tangan kirinya yang sudah berhasil memegang erat sepotong gorengan yang tergeletak di depan Popong si kucing belang di atas meja makan. "Yeah!" seru Bambang tersenyum senang. Namun, Popong si kucing belang tidak mau kalah. Mulutnya langsung menerkam sepotong gorengan yang ada dalam genggaman tangan kiri Bambang. Popong si kucing belang menggeram ketika gigi-gigi tajamnya berhasil menggigit salah satu sisi pada sepotong gorengan tersebut. Tarik menarik tak terelakkan. Bambang tak kalah akal. Tangan kanannya terulur untuk mencubit bagian belakang leher Popong si kucing belang. "Kena kamu, Pong!" ucap Bambang menyeringai sembari mengangkat cubitannya yang erat pada bagian belakang leher Popong si kucing belang yang seketika terkulai lemas. Detik berikutnya, ia dengan kencang meniup ke telinga kiri Popong si kucing belang agar sepotong gorengan itu bisa lepas dari gigitan Popong si kucing belang. Bambang belajar trik itu dari pak Satria ayahnya. Bambang dahulu pernah melihat ayahnya tengah melakukan trik tersebut saat mendapati seekor kucing betina yang sebenarnya berasal dari rumah kediaman nenek Mirah dan sedang menggendong seekor anak kucing dengan cara menggigit bagian belakang leher anaknya untuk membawanya masuk ke dalam kamar yang sekarang didiami oleh Rudi dan Nanda. Dahulu kamar itu adalah tempat di mana pak Satria dan mendiang ibunya tidur. Bambang menyaksikan langsung saat ayahnya menghalangi si kucing betina membawa anaknya masuk ke dalam kamar dengan cara meniup kencang pada salah satu telinga si kucing betina. Dan benar saja, si kucing betina itu dengan pasrah melepaskan gigitannya pada bagian belakang leher anaknya. Anak si kucing betina itu tidak lain adalah Popong si kucing belang yang sekarang menjadi lawan Bambang dalam memperebutkan sepotong gorengan. Mengetahui ada trik jitu seperti itu, kali ini Bambang mau mempraktekkannya langsung pada anak dari si kucing betina, tepatnya pada Popong si kucing belang. *** Rudi mengendarai motor gede berwarna hitam miliknya perlahan dan mulai menepi ke samping kiri jalan dalam gang kecil. Lalu, ia berhenti tepat di depan sebuah warung di mana sebelumnya ia membeli gorengan di sana. Detik berikutnya, ia turun dari motor gede berwarna hitam miliknya dan melangkah cepat ke depan warung. Ibu Anti yang sedang memasak di dalam warung melihat kedatangan Rudi, "Itu kan, mas yang tadi?! ..." Ibu Anti bergumam pelan sembari mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Rudi yang melangkah menuju ke depan warung miliknya, "... Apa ada yang ketinggalan, ya?" gumamnya lagi penasaran dengan apa yang sebenarnya membuat Rudi kembali ke warung miliknya. "Bu, gorengannya masih ada?" tanya Rudi tersenyum tipis menatap Ibu Anti yang juga sejak tadi menatapnya dengan tatapan heran. "Hah! I-iya, masih ada kok, Mas," jawab Ibu Anti mengangguk pelan dengan tetap menatap heran ke arah Rudi. "Bungkus sepuluh biji lagi ya, Bu," pinta Rudi sembari mengulurkan tangan kanannya ke belakang untuk mengambil dompet miliknya dari dalam kantong belakang celananya lalu mengambil selembar uang dari dalam dompet tersebut. "Waaah!" Ibu Anti tersenyum senang lalu bersemangat untuk segera menyiapkan pesanan Rudi, "Gorengan yang saya masak enak ya, Mas?" tanya Ibu Anti tersenyum percaya diri sembari menyiapkan pesanan dari Rudi. "Iya enak, Bu, ..." jawab Rudi mengangguk pelan sembari tersenyum tipis, "... tapi, sebenarnya yang bikin saya beli gorengan lagi itu gara-gara Bambang, Bu," sambung Rudi memberitahu. "Bambang?! ..." Ibu Anti terhenti kemudian mengerutkan kedua keningnya dan terdiam sejenak untuk mengingat nama yang tadi dia ucapkan, "... Ooh, maksud kamu, mas yang tadi kamu bayarin bensinnya, ya?" tanya Ibu Anti memastikan. "Iya, dia." Rudi mengangguk membenarkan. "Emang gara-garanya kenapa, Mas?" tanya Ibu Anti penasaran sembari kembali melanjutkan menyiapkan pesanan dari Rudi. "Gorengan yang tadi saya beli, yang saya titipin sama Bambang nggak datang-datang buat bawain gorengannya ke bengkel, Bu, ..." jawab Rudi sembari tertawa pelan, "... Padahal gorengan itu buat istri saya yang lagi nunggu di bengkel loh, Bu," ucap Rudi memberitahu. "Loh!" Ibu Anti mengerutkan kedua keningnya. Tampak ia telah selesai menyiapkan pesanan dari Rudi, "... emangnya, mas yang tadi ke mana?" tanya Ibu Anti menatap Rudi dengan tatapan bingung. "Kalau saya tau ke mana perginya Bambang, saya nggak repot-repot balik ke sini lagi, Bu," jawab Rudi sembari tertawa pelan. "Bener juga, ya, ..." ucap Ibu Anti tersenyum dan mengangguk, "... Kenapa dia malah ngambil gorengan yang kamu beli tadi, Mas?" tanya Ibu Anti sembari menyodorkan sebungkus plastik berisi gorengan kepada Rudi. "Sebenarnya, saya nggak berani buat mastiin kalau Bambang bener ngambil gorengan itu atau nggak, tapi yang pasti gorengan yang saya titipin itu nggak nyampe-nyampe dari tadi," jawab Rudi menjelaskan sembari menyambut sebungkus plastik berisi gorengan tersebut dan menukarnya dengan selembar uang kepada Ibu Anti. "Apa mungkin kalau mas yang tadi itu nyasar, ya?" ucap Ibu Anti menebak sembari menerima dan memasukan selembar uang yang tadi diserahkan oleh Rudi ke dalam laci yang ada di etalase kaca di atas meja warung miliknya. "Ah! Mana mungkin ada orang yang bisa nyasar di kota kecil kayak gini, Bu," jawab Rudi tertawa pelan. "Bener juga, ya," gumam Ibu Anti sembari mengangguk pelan. "Ya udah, saya balik ke bengkel lagi ya, Bu ..." Rudi tersenyum tipis sembari mengangguk pelan, "... kasian istri saya kelamaan nunggu." "Iya, ..." Ibu Anti mengangguk pelan, "... Hati-hati ya, Mas," ucap Ibu Anti tersenyum ramah. "Iya, Bu, ..." Rudi balas tersenyum sembari mengangguk pelan, "... dibeli ya, Bu." "Iya, dijual, Mas," sahut Ibu Anti ramah. Rudi berbalik badan, lalu bergegas melangkahkan kedua kakinya sembari menjinjing sebuah bungkusan plastik berisi gorengan di tangan kirinya dan membawanya ke arah motor gede berwarna hitam miliknya yang terparkir di depan warung milik Ibu Anti. Digantungnya sebuah bungkusan plastik berisi gorengan pada pegangan stang bagian kiri motor gede berwarna hitam miliknya. Setelah mesin pada motor gede berwarna hitam miliknya berhasil dia nyalakan, ia pun segera menjalankan motor gedenya kembali ke bengkel milik Owel yang letaknya berseberangan dengan gang kecil di mana dia membeli gorengan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD