Di malam hari, Bambang mendengar suara ramai dari atas lotengnya, kemudian ia pun turun dan mencoba menengok ke luar melalui jendela yang berada di depan rumah. Bambang melihat Owel sepupunya yang ketika itu sedang asik berkumpul dan berbincang-bincang bersama teman-temannya di depan rumah neneknya. Melihat itu, Bambang kembali menggerutu, "Malam-malam, berisik banget...."
Bambang tidak sadar dengan gerutuannya dan ternyata di dengar oleh Ayahnya yang sejak tadi sedang menonton televisi di ruang tamu.
"Kamu kenapa, Mbang?" tanya Ayah Bambang merasa penasaran sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Hah, nggak apa-apa," jawab Bambang sentak terkejut lalu tersenyum cengengesan malu karena tidak menyadari keberadaan Ayahnya.
"Nanti kalau kamu mau makan, itu ada ikan di lemari dapur," ucap Ayah Bambang memberitahu.
"I-iya," sahut Bambang yang kemudian melangkah menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Bambang pun segera mengambil piring dan mengaut nasi yang berada dalam pemanas beserta ikan yang berada dalam lemari dapur. Piringnya penuh dengan nasi yang tampak hampir menyerupai gunung. Kemudian Bambang membawa makannya ke atas loteng untuk segera melahapnya.
"Mbang?" panggil Ayahnya ketika melihat anaknya itu berjalan tergesa-gesa dengan membawa sebuah piring berisi nasi dan seekor ikan goreng.
"Hah..." Bambang berhenti tepat di depan tangga lalu menoleh ke arah Ayahnya, "Ya, Yah?" tanyanya kemudian dengan gemetar memegang piring di tangannya karena nasi di dalam piring itu masih panas.
"Apa nggak salah? Perutmu sanggup menghabiskan itu?" tanya Ayah Bambang menatap ke arah piring yang sedang di bawa Bambang.
"Iya, habis kok," jawab Bambang yang kemudian segera melanjutkan langkahnya menuju ke loteng.
Ayah Bambang hanya terheran sambil menggeleng ketika mendengar perkataan anaknya tersebut yang sanggup menghabiskan makanan yang banyaknya terlihat seperti gunung.
Sesampainya di atas loteng, Bambang pun duduk dengan menyilangkan kedua kakinya dan meletakkan makanannya di depan.
"Waaah, makan banyak, bisa tidur nyenyak..." gumam Bambang dalam hati sambil melihat makanan di hadapannya kemudian dengan segera melahap makanannya sampai habis hingga ke tulang dan yang hanya menyisakan piring.
Setelah selesai menghabiskan makanan, Bambang merebahkan dirinya dan bermaksud hendak tidur. Sebelum tidur, sembari merebahkan badannya, Bambang kembali berkhayal layaknya seorang pangeran sedang menjemput permaisurinya yang dalam khayalannya itu adalah Lala dan mengajaknya untuk berkeliling istana dengan menaiki kuda berwarna hijau. Bambang larut dalam khayalannya hingga dia tertidur sangat pulas.
Karena tidurnya yang terlalu pulas, membuat Bambang lupa dengan pekerjaannya. Perlahan Bambang membuka matanya, kemudian menengok jam yang menempel pada dinding di lotengnya.
"Masih jam setengah tujuh pagi," gumam Bambang dalam hati kemudian melanjutkan tidurnya.
Namun ketika perlahan kembali terlelap, Bambang tersentak ketika mendengar suara ayahnya yang memanggil dirinya.
"Mbang! Mbang! Mbang!" teriak Ayah Bambang terdengar dari bawah.
"Hhmmm..." sahut Bambang yang masih memejamkan kedua matanya dan belum beranjak dari tempat tidurnya.
"Kamu nggak kerja?" tanya Ayah Bambang.
"Iya kerja kok," sahut Bambang.
"Ini udah jam delapan lewat loh," ucap Ayah Bambang memberitahu, "Kamu masuk siang ya?" tanya Ayah Bambang kemudian.
"Jam delapan lewat?" gumam Bambang dalam hati kemudian membuka kedua matanya dan kembali menatap jam dinding, "Ini masih setengah delapan..." ucapnya menyahut pada ayahnya.
"Setengah delapan apanya, ngawur jam kamu..." ucap Ayah Bambang.
Mendengar itu, Bambang pun segera beranjak dari tempat tidurnya lalu dengan tergesa-gesa turun dari loteng. Sambil menuruni satu per satu anak tangga, Bambang melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Melihat itu, Bambang pun mempercepat langkahnya menuruni anak tangga.
"Kamu masuk siang ya Mbang?" tanya Ayah Bambang setelah melihat Bambang yang turun dari lotengnya.
"Enggak, masuk pagi kok," jawab Bambang lalu mempercepat langkahnya langsung menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan langsung menghampiri motor matiknya yang berwarna hijau dan biasa terparkir di depan rumah.
Bambang segera menaiki motornya. Namun, ketika tangannya ingin memutar kunci agar mesin motor matiknya itu bisa di hidupkan, seketika dia tersadar karena kunci motornya masih berada di dalam tas yang tertinggal di atas lotengnya.
"Aaduuuhhh..." ucap Bambang lirih dengan rasa geram.
Kemudian Bambang pun bergegas kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya yang tertinggal di atas loteng.
"Kenapa lagi Mbang?" tanya Ayah Bambang yang heran melihat tingkah Bambang yang grasak-grusuk.
"Anu, kunci ketinggalan," sahut Bambang sambil menaiki anak tangga lalu menarik tali pada tasnya di atas loteng.
Setelah mengambil tasnya, Bambang pun kembali bergegas menghampiri motor matiknya dan menancapkan kunci motornya yang di ambilnya dari dalam tas lalu menyalakan mesin motor matiknya yang berwarna hijau. Kemudian Bambang pun segera melaju dengan motor matiknya yang berwarna hijau menuju ke losmen di tempat dia bekerja.
Ketika mengendarai motor matiknya di jalan yang lebarnya hanya seukuran satu buah mobil, tampak sebuah mobil berwarna hitam yang sedang berputar balik menggunakan parkiran pasar tradisional.
"Duh, pake acara macet lagi..." gerutu Bambang seketika menghentikan motor matiknya di depan pasar masih di daerah dekat rumahnya, "Lagian, ngapain juga mobil masuk ke sisi, udah tau jalannya sempit," gerutunya lagi.
Setelah mobil di depan Bambang berhasil melakukan putar balik, Bambang pun dengan segera memutar pedal gas pada motor matiknya dan melaju.
Namun ketika Bambang mengebut dengan motor matiknya, tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak yang ternyata sedang menyeberang jalan dan Bambang hampir saja menabrak perempuan itu, beruntung Bambang sempat menggenggam tunggkai rem.
Bambang hanya diam menatap perempuan yang memakai masker penutup wajah dan hampir di tabraknya itu.
Bambang masih terdiam duduk di atas motor matiknya sambil menyeret matanya menatap perempuan yang hampir di tabraknya itu melintas di hadapanya.
Bambang menghirup udara, "Wangi banget... Hhmmm...."
Setelah perempuan itu berhasil menyeberang jalan, ia berhenti di depan pasar lalu melepaskan masker penutup wajahnya sambil berjalan memasuki pasar.
"Itu kan, Lala..." gumam Bambang dalam hati yang mengetahui setelah perempuan yang hampir di tabraknya tadi melepaskan masker penutup wajah yang ternyata adalah Lala.
"Wooy!!! Macet...! Macet!" Terdengar suara teriakan dari belakang motor matik berwarna hijau yang di naiki Bambang.
"I-iya, maaf Om..." Bambang pun menjalankan motor matiknya memasuki parkiran pasar, "Beneran Lala nggak sih?" gumamnya dalam hati sambil celingak-celinguk menatap ke dalam pasar, "Samperin ah," gumamnya lagi kemudian berjalan memasuki pasar untuk memastikan bahwa yang dia lihat benar-benar Lala.
Bambang berjalan menelusuri blok-blok di dalam pasar untuk mencari dan memastikan bahwa perempuan yang dia lihat itu adalah Lala.
"Tadi dia kemana, ya?" gumam Bambang dalam hati setelah berhenti di persimpangan jalan blok pasar sambil menyeret matanya ke segala arah di dalam pasar.
Lala pun melintas di samping kiri Bambang.
DEG!! Bambang kembali mencium aroma wangi dari farfum yang ia kenal.
Bambang menoleh ke kiri dan benar, ternyata perempuan yang di lihatnya tadi adalah Lala.
Bambang pun segera mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Lala.
"Lala..." sapa Bambang sambil berjalan beriringan di samping kanan Lala.
Sontak Lala menolehkan kepalanya ke kanan, "Eh, siapa ya?" tanyanya kemudian dengan tatapan heran menatap Bambang.
"Ini aku, Bambang cucunya Nek Mirah," jawab Bambang.
"Oooohh, iya aku ingat..." sahut Lala sambil menganggukkan kepalanya, "Ada apa ya?" tanyanya kemudian dengan tersenyum.
"Heh, e-enggak... A-anu, tadi aku mi-mi-minta maaf ya kalau udah hampir nabrak kamu," ucap Bambang terbata-bata sambil tersenyum cengengesan.
"Oh iya, enggak apa-apa," sahut Lala tersenyum sambil mengangguk.
"Ma-mau nyari apa?" tanya Bambang dengan terbata-bata setelah melihat senyum Lala.
Lala pun heran dan mengerutkan keningnya menatap Bambang, "Ini sudah..." sahutnya sambil menatingkan dua kantong kresek berisi sayur yang telah di belinya di pasar, "Aku duluan ya," lanjutnya kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan Bambang.
Bambang kembali menghampiri dan berjalan beriringan di samping Lala, "Ma-mau aku an-an-antar eng-enggak?" tanyanya menawarkan tumpangan.
"Eh, enggak usah deh, nanti ngerepotin..." sahut Lala tersenyum kemudian kembali mempercepat langkahnya.
"E-enggak ngerepotin kok, a-aku ju-juga sekalian mau nemuin a-ayah kamu, soalnya ada yang mau di tanyain," ucap Bambang terbata-bata setelah kembali menyusul langkah kaki Lala.
"Eemmm, ya udah..." sahut Lala.
"Yeesss...!" Bambang bergumam dalam hati karena telah berhasil mengajak Lala untuk ikut dengannya.
Kemudian Bambang pun mengantarkan Lala pulang ke rumah dengan motor matiknya yang berwarna hijau.
Dalam perjalanan ketika mengantarkan Lala untuk pulang, Bambang kembali masuk ke dalam dunia khayalannya.
Bambang mulai mengkhayal kembali menjadi seorang pangeran tampan yang menunggangi kuda berwarna hijau dengan membonceng seorang permaisuri dan itu adalah Lala.
Bambang memacu cepat kuda yang di tunggangnya sehingga permaisuri yang di belakangnya berpegangan erat pada pinggangnya.
Bambang menoleh ke belakang tersenyum menatap permaisuri yang di boncengnya.
Ketika di bonceng Bambang, Lala merasakan sedikit risih karena melihat tingkah Bambang yang tersenyum cengengesan.
"Aneh banget sih ni orang," gumam Lala dalam hati sambil sedikit mengundurkan duduknya.
Dalam dunia khayalannya, Bambang melihat beberapa orang yang berbaris di samping kiri dan kanan ketika ia membonceng permaisuri dengan kuda hijaunya. Orang-orang itu menebarkan bunga di sepanjang perjalanan yang di lalui Bambang. Terdengar sorak-sorai yang menyambut kedatanyan Bambang dengan permaisurinya.
"Mbang... Mbang...!!" Terdengar suara yang memanggil Bambang dalam dunia khayalannya.
"Mbang... Mbang...!!" Suara itu kembali terdengar.
"Bambang...!!!!" Tiba-tiba suara itu berteriak memanggilnya, sontak khayalan Bambang pun buyar.
"Hah.." sentak Bambang terkejut.
"Jalannya kelewatan, Mbang!" ucap Lala dengan nada sedikit kesal.
"Oh, kelewatan ya..." sahut Bambang seketika menghentikan laju motornya tiba-tiba.
"Woy! Kalo ngerem itu jangan mendadak!" teriak seseorang membentak dengan kesal yang melewat di samping Bambang dan Lala.
Bambang pun gugup dan hanya mengangguk menatap orang yang lewat dengan berteriak membentaknya.
Kemudian Bambang dengan hati-hati berbalik arah lalu melanjutkan perjalanan untuk mengantar Lala.
"Di mana?" tanya Bambang sambil pelan menjalankan motor matiknya.
"Itu belok sana," sahut Lala menunjuk persimpangan gang kecil sebelah kanan di ujung jalan.
Bambang pun lanjut menjalankan motor matiknya menuju ke arah gang kecil yang di tunjuk Lala.
"Udah, sampai sini aja," ucap Lala sambil menepuk-nepuk bahu Bambang ketika Bambang ingin masuk ke dalam gang kecil itu.
Bambang pun menghentikan jalan motor matiknya tepat di depan gang kecil. Setelah itu, Lala segera turun dari motor matiknya Bambang, lalu dengan cepat melangkah pulang menuju ke rumahnya.
"Katanya tadi kan, mau ketemu ayah?" gumam Lala dalam hati sambil menyeret matanya ke kiri dan masih dengan cepat melangkahkan kedua kakinya menjauh dari Bambang.
Bambang masih duduk di atas motor matiknya sambil memperhatikan Lala yang berjalan memasuki gang kecil menuju pulang ke rumahnya.
"Kok dia belum pergi sih?!" gumam Lala kesal menyadari bahwa Bambang belum beranjak dari depan gang, "Aku kerjain ah," gumamnya lagi sambil tersenyum usil lalu berjalan belok ke kiri menuju sebuah warung. Lala berdiri di halaman depan warung itu.
"Ooh, rumahnya di situ..." gumam Bambang mengangguk yakin setelah melihat Lala berjalan belok ke arah kiri memasuki sebuah rumah. Tak lama kemudian Bambang pun tersentak setelah mengingat kembali bahwa dia sudah terlambat datang ke tempat kerjanya, "Astaga, aku lupa..." ucapnya lirih kemudian beranjak pergi dari depan gang kecil dengan memacu cepat motor matiknya menuju ke losmen tempat dia bekerja.
Perlahan Lala mengintip dan melihat bahwa Bambang sudah tidak berada di depan gang, "Syukur deh, dia udah pergi," ucapnya lirih sambil memusut d**a, "Rasain...!! Emang enak aku kerjain...." Lala kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya sambil tertawa cekikikan.