Bab 4

1742 Words
Bambang dengan tergesa-gesa memacu motor matik hijaunya untuk segera tiba di losmen tempatnya bekerja sehingga ia tidak menyadari bahwa telah menerobos lampu merah. Tak lama kemudian, terdengar sirine polisi dari belakang yang mengiringi Bambang. Tampak seorang polisi melaju dengan motornya tepat di samping Bambang sambil memberi isyarat untuk menepi. "Nah, kenapa lagi nih..." gumam Bambang dalam hati mulai takut lalu menepikan motornya tepat di samping jalan. "Maaf Pak..." ucap Pak Polisi seketika mencabut kunci motor yang tertancap pada motor matik Bambang setelah menghampirinya. Bambang hanya mengangguk gugup menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Pak Polisi yang berdiri di sampingnya. "Apa anda tahu apa kesalahan anda?" tanya Pak Polisi. "Hah, apa ya Pak?" sahut Bambang malah balik bertanya. "Anda sudah melanggar rambu tanda lampu merah, seharusnya anda berhenti tapi anda malah menerobosnya," jawab Pak Polisi. Bambang hanya kembali mengangguk seolah-olah perbuatannya adalah hal yang sepele. "Kenapa anda hanya mengangguk?" tanya Pak Polisi. Bambang kembali mengangguk. Pak Polisi itu pun geram, "Maaf, apa anda panas dalam atau tidak mendengar apa yang saya katakan?!" bentaknya seketika. "A-anu... a-a-anu...." Bambang menyahut lirih dengan terbata-bata. "Maaf, apa yang anda katakan?" tanya Pak Polisi, "Saya tidak mendengarnya," lanjutnya, "Maaf, bisa tunjukkan SIM anda?" tanya Pak Polisi kemudian. Bambang kemudian mengambil dompet miliknya dari dalam tasnya, lalu menyerahkan SIMnya kepada Pak Polisi. "Maaf, masa berlaku SIM anda sudah lewat," ucap Pak Polisi. Bambang hanya mengangguk dengan wajah datarnya menunjukkan ekspresi gugup sambil menggerutu lirih, "Gimana mau memperpanjang SIM, orang belum gajihan juga!!" "Kalau bicara itu yang jelas, saya tidak mengerti apa yang anda katakan!!" bentak Pak Polisi lagi. "I-i-iya, Pak...." sahut Bambang dengan wajah datar sambil mengangguk. Pak Polisi itu pun menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan tingkah Bambang yang aneh, "Anda saya tilang," ucap Pak Polisi kemudian menyerahkan selembar surat tanda tilang kepada Bambang. Bambang pun mengambil selembar surat tanda tilang dari Pak Polisi. "Silahkan anda turun dari motor anda," ucap Pak Polisi. "Ta-tapi... tapi saya mau kerja, Pak," sahut Bambang. "Memangnya anda kerja di mana?" tanya Pak Polisi. "Itu, di losmen seberang sana, Pak," jawab Bambang menunjuk losmen tempatnya bekerja yang ternyata tidak jauh dari dia berada sekarang. "Anda kan masih punya kaki, nah itu bisa di gunakan untuk pergi ke tempat kerja anda," ucap Pak Polisi, "Apalagi ini juga udah deket, kan?" lanjutnya. Bambang pun turun dari motor matiknya, "Lalu ini nanti gimana Pak kalau mau ngambil motornya?" "Anda bisa ambil motor anda di kantor, setelah anda membayar denda serta memperpanjang SIM anda," jawab Pak Polisi kemudian meraih sebuah ponsel di kantongnya, "Pak Budiman, tolong anda kesini sebentar," panggil Pak Polisi berbicara di telepon. Tak lama kemudian seorang polisi datang lagi menghampiri Bambang dengan berjalan kaki. "Ya, Pak?" tanya rekan Pak Polisi yang baru datang setelah menghampiri Pak Polisi yang lebih dahulu berada di sana. "Ini kuncinya, tolong Pak Budiman bawa motor ini ke pos," sahut Pak Polisi sambil menyerahkan kunci motor Bambang kepada rekannya. "Baik, Pak...!" Kemudian motor matik berwarna hijau milik Bambang pun di bawa ke pos polisi yang letaknya tidak jauh dari tempat Bambang di tilang. "Selamat jalan, Pak..." ucap Pak Polisi sambil menepuk-nepuk bahu Bambang kemudian menaiki motornya lalu pergi menjauh dari Bambang yang masih berdiri di tepi jalan. Kemudian Bambang pun dengan terpaksa melangkahkan kedua kakinya berjalan menuju ke losmen tempat dia bekerja, "Dasar Pak Polisi... Padahal sedikit lagi sampai, kok di tilang sih..." gerutunya kesal sambil berjalan. Tak lama dia berjalan, Bambang pun tiba dan langsung masuk ke dalam losmen tempat dia bekernya. "Oy, Mbang..." panggil Ifan yang berdiri di belakang meja resepsionis. Dengan wajah murung sambil berjalan menuju ruang tunggu karyawan, Bambang mengangkat kepalanya menoleh ke arah Ifan. "Kok lu telat lagi, Mbang?" tanya Ifan. Bambang tidak menyahut pertanyaan rekannya itu, "Nanya mulu kayak wartawan!!" gerutu Bambang kesal melintas di depan Ifan sambil berjalan menuju ruang tunggu karyawan. "Dih, di tanya baik-baik kok gitu," gumam Ifan dalam hati merasa heran sambil mengerutkan kedua keningnya setelah melihat Bambang yang lewat di depannya langsung masuk ke dalam ruang tunggu karyawan yang berada berdekatan dengan meja resepsionis di mana Ifan berada. Bambang pun meletakkan tasnya di atas kursi setelah masuk ke dalam ruang tunggu karyawan, kemudian ia duduk di atas kursi di samping tasnya dan meraih sebuah smartphone dari dalam tas lalu mengutak-atik smartphonenya dengan senyam-senyum sendiri sambil menatap smartphone di tangannya itu. Joni yang ternyata juga berada di dalam ruang tunggu karyawan pun merasa heran melihat Bambang yang terlihat senyum sendiri, lalu ia berjalan menghampiri dan duduk di samping kiri Bambang. "Lu telat kenapa, Mbang?" tanya Joni, "Kayaknya bahagia banget...." "Tadi aku kena tilang," jawab Bambang yang tersenyum sendiri sambil menatap dan mengutak-atik smartphonenya tanpa menoleh ke arah Joni yang duduk di sampingnya. "Lah, emang kena tilang di mana?" "Itu, dekat pos polisi yang di samping jembatan," jawab Bambang sambil menolehkan kepalanya ke arah kanan menunjukkan letak pos polisi berada. "Bukannya pos polisi itu di seberang sana ya?" sahut Joni sambil menunjuk ke arah yang benar dengan tangannya. Bambang hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun dan masih sambil mengutak-atik smartphone di tangannya. "Tapi, kok lu bahagia banget kena tilang?" selidik Joni masih merasa heran dengan tingkah Bambang yang senyum sendirian, "Lu suka sama Pak Polisinya ya?" lanjut Joni dengan nada bercanda. "Enak aja," sahut Bambang seketika menoleh ke arah Joni yang duduk di sebelahnya. "Terus... Emangnya lu kena tilang kenapa?" "Kata Pak Polisi, aku nerobos lampu merah...." jawab Bambang yang masih tersenyum menatap dan mengutak-atik smartphone di tangannya. "Ooh, pantes..." "Jon... Joni...." Tiba-tiba, terdengar suara pemilik losmen memanggil Joni dari dalam ruangan manager yang berada bersebelahan dengan ruang tunggu karyawan. Pemilik losmen itu bernama Pak Rondo. "Ya, Pak..." sahut Joni kemudian beranjak dari tempat duduk lalu bergegas menuju ke ruangan manager meninggalkan Bambang, "Ya, ada apa Pak?" tanya Joni setelah masuk ke ruangan manager. "Duduk Jon.." seru Pak Rondo mempersilahkan Joni untuk duduk pada kursi di depan mejanya. Joni pun berhati-hati duduk berhadapan dengan Pak Rondo dan hanya berhalat oleh meja, "Ada apa ya, Pak?" tanya Joni kemudian. "Bambang sudah datang atau belum?" tanya Pak Rondo. "Sudah, Pak," jawab Joni dengan sopan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, suruh Bambang juga kemari," seru Pak Rondo. "Ya, Pak..." Joni pun beranjak dari tempat duduk lalu keluar dari ruangan manager. Joni mengampiri Bambang yang sejak tadi masih duduk sambil mengutak-atik smartphone di tangannya, "Mbang.." panggil Joni. "Hah?" sahut Bambang menoleh ke arah Joni. "Ke ruangan manager, Mbang..." seru Joni. Bambang mengangguk kemudian memasukkan smartphonenya di dalam tas lalu beranjak dari tempat duduknya. Kemudian Bambang dan Joni pun bersama-sama masuk ke dalam ruangan manager di mana Pak Rondo berada. "Duduk..." ucap Pak Rondo. "Aaa... ini kursinya cuman satu, Pak," sahut Joni dengan sopan. "Ya sudah, kamu yang duduk di depan sini, Bambang biar berdiri saja," ucap Pak Rondo. Joni menoleh pelan ke arah Bambang yang masih tampak tersenyum dan berdiri di sampingnya, kemudian Joni berjalan menuju kursi di depan meja dan duduk. "Mbang, kemari..." ucap Pak Rondo sambil mengawai Bambang dengan tangannya. Bambang pun berjalan mendekati meja dan berdiri di samping Joni yang duduk. "Apa kalian berdua tahu kenapa kalian saya panggil kemari?" tanya Pak Rondo. "Tidak tahu Pak," jawab Joni pelan dengan bersamaan Bambang yang hanya menggelengkan kepalanya. "Ini tentang Bambang..." ucap Pak Rondo seketika menatap tajam ke arah Bambang yang tersenyum sendirian dan berdiri di samping Joni yang duduk. "Kenapa dengan Bambang, Pak?" tanya Joni. Kemudian Pak Rondo pun memberitahu apa yang menjadi permasalahan kenapa Joni dan Bambang di panggil ke ruangan manager untuk menghadap pada Pak Rondo. Permasalahan itu adalah karena Bambang yang terlalu sering terlambat tiba di losmen. Pak Rondo menambahkan sebuah peraturan dan menerapkannya. Peraturan itu adalah, jika karyawan terlambat maka karyawan itu akan lembur tanpa di beri bonus lembur dan gajihnya akan di potong setengah hari kerja setiap karyawan yang datang terlambat. Anehnya, ketika Pak Rondo menjelaskan apa yang menjadi permasalahan kenapa dia dan Joni di panggil ke ruangan manager, Bambang malah melamun dan berkhayal bahwa sosok yang duduk di depannya itu adalah Lala. Bambang tersenyum dan tersipu malu melihat Lala. "Bambang!!!" bentak Pak Rondo seketika berdiri sambil menghentak meja karena melihat Bambang yang tersenyum sendiri menatapnya. Bambang pun sontak terkejut dan seketika membuyarkan khayalannya setelah mendengar suara hentakan dari meja. "Kamu tahu kalau ini adalah kesalahanmu!" bentak Pak Rondo. "E.... I-iya, Pak," sahut Bambang terbata-bata seketika merasa takut dan gugup menatap Pak Rondo. "Terus, apa kesalahanmu?!" bentak Pak Rondo bertanya. Bambang pun seketika terdiam sambil menggelengkan kepalanya. 'BLAAAKK!!' Pak Rondo kembali menghentak meja di depannya sehingga sontak membuat Bambang gemetar semakin takut dan gugup. "Gaji kamu hari ini saya potong separuh, dan malam ini kamu harus lembur lagi!" bentak Pak Rondo seketika. "Ke-kenapa gaji saya di potong, Pak?" tanya Bambang seketika merasa bingung. Pak Rondo menggelengkan kepalanya karena kesal, geram, dan kewalahan melihat tingkah Bambang. Pak Rondo menghela nafas panjang lalu perlahan menghembuskannya, "Nanti kamu tanyakan pada Joni saja," sahut Pak Rondo, "Sekarang kalian berdua boleh kembali bekerja," sambung Pak Rondo kemudian. "Ayo, Mbang.." ajak Joni setelah beranjak berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan manager. Bambang pun mengikuti Joni yang berjalan keluar dari ruangan manager. "Tunggu, Mbang..." ucap Pak Rondo sebelum Bambang keluar dari ruangannya. Bambang pun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap Pak Rondo, "I-iya Pak?" tanya Bambang kemudian. "Kamu malam ini lembur..." sahut Pak Rondo. "Tapi....." "Tidak ada tapi-tapian...." pungkas Pak Rondo seketika menghentikan perkataan Bambang yang hendak mengeluh. "Baik, Pak...." Kemudian Bambang pun kembali lanjut melangkah keluar dari ruangan manager di mana Pak Rondo berada. "Kok masih ada ya, manusia kayak gitu..." gumam Pak Rondo dalam hati dengan heran menatap Bambang yang melangkah keluar dari ruangannya. Bambang dengan wajah lesu dan murung kembali duduk di atas kursi di samping tasnya, "Biarin ah lembur, enggak apa-apa," gumam Bambang dalam hati lalu mengambil sebuah smartphone dari dalam tasnya dan seketika tersenyum sendiri sambil mengutak-atik smartphone itu. Ifan pun masuk ke dalam ruang tunggu karyawan dan berjalan menghampiri Joni. "Tadi kenapa Jon?" tanya Ifan. "Semua gara-gara Bambang nih..." jawab Joni lirih. "Gara-gara Bambang kenapa?" tanya Ifan lirih. "Bos sering melihat Bambang telat, jadi Bos bikin peraturan baru lagi," jawab Joni lirih. "Peraturan apa?" "Kalau nanti karyawan ada yang telat, gajihnya bakalan di potong setengah hari kerja sekalian di suruh lembur," jawab Joni menjelaskan. "Astaga... Sadis banget peraturan barunya..." sahut Ifan lirih. "Coba lu liat tuh si Bambang, kayak nggak ngerasa bersalah..." Joni menyeret matanya ke arah Bambang yang duduk berseberangan dengannya. "Dia emang gitu..." sahut Ifan kemudian tertawa kecil. Joni hanya menggelengkan kepalanya sambil dengan geram menatap Bambang yang kembali tersenyum sendiri dan sambil menatap smartphonenya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD