Tidak terasa jam yang menempel di dinding tepat berada dalam ruang tunggu karyawan sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Ifan dan Joni pun segera bersiap untuk pulang dan mengambil masing-masing tas mereka.
"Mbang, gua duluan ya," ucap Ifan melintas bersama Joni di depan Bambang.
"Hhm." Bambang mengangguk sambil tersenyum menatap smartphone di tangannya tanpa menoleh ke arah Ifan yang lewat bersama dengan Joni di depannya, "Enak banget bisa pulang nggak lembur," gumam Bambang dalam hati sambil mendengus kesal.
Tak lama kemudian Solihin dan Anton masuk ke dalam ruang tunggu karyawan berpapasan dengan Ifan dan Joni.
"Oy, Nton... Lihin..." sapa Ifan.
Ifan dan Joni seketika berhenti.
"Jon... Fan..." sahut Anton tersenyum sambil mengangkat kepalanya kemudian berjalan menuju kursi dan meletakkan tasnya di atas kursi di samping tas Bambang berada, "Mbang..." sapa Anton pada Bambang yang sedang tersenyum menatap layar smartphonenya.
"Hhm." Bambang mengangguk tanpa menoleh ke arah Anton yang menyapanya.
"Kenapa sih dia?" gumam Anton dalam hati kemudian dengan rasa penasaran berjalan menjauh dari Bambang lalu kembali ke depan ruang tunggu karyawan menghampiri Joni, Ifan, dan Solihin.
"Minggu depan kita jadi kan?" tanya Solihin.
"Tenang, jadi kok..." sahut Joni sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Harus jadi dong, gua juga udah ngomong ke cewe gua kalo malam minggu ini nggak ngapel dulu," sahut Anton.
"Iya, jadi..." ucap Ifan, "Tenang aja...." lanjut Ifan.
"Jon.. Fan...." panggil Anton.
"Oy?" sahut Ifan.
"Bambang kenapa sih, dari tadi gua liat senyam senyum sendirian ngeliatin hp-nya?" tanya Anton lirih.
"Nggak tau gua, dari tadi gua juga aneh ngeliat dia kayak gitu," sahut Ifan lirih.
"Ya elah, lu kayak baru ngelihat dia pertama kali aja, Nton," ucap Joni terkekeh-kekeh.
"Oh iya ya, gua lupa kalau dia itu orangnya introvert banget.." sahut Anton ikut tertawa kecil.
"Ya udah, Gua sama Ifan pulang dulu ya...." ucap Joni berpamitan.
"Ya, Ti-ti-di-je ya lu berdua.." sahut Solihin.
Kemudian Joni dan Ifan lanjut berjalan keluar dari ruang tunggu karyawan dan segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Mau ngapain sih mereka?" gumam Bambang dalam hati merasa penasaran sambil mengerutkan kedua keningnya setelah mendengar percakapan antara Anton, Solihin, Ifan, dan Joni di depan pintu ruang tunggu karyawan tadi, "Ah, nggak penting..." gumam Bambang lagi kemudian lanjut menatap smartphone di tangannya dan seketika kembali tersenyum sendiri setelah melihat layar smartphonenya.
Anton dan Solihin masuk ke dalam ruang tunggu karyawan.
Masih dengan rasa penasaran, Anton pun menghampiri Bambang yang masih tersenyum sendirian menatap layar smartphonenya, "Liat apaan sih, Mbang?" tanya Anton seketika mencoba mengintip layar smartphone yang berada di tangan Bambang.
"Apaan sih..." Bambang segera menutup layar smartphonenya dengan telapak tangannya.
"Sini gua liat dong, Mbang.." Anton memaksa untuk melihat layar smartphone Bambang.
Dengan segera Bambang menekan tombol power untuk mengunci smartphonenya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Ya elah, pelit amat sih lu, Mbang," ucap Anton kemudian duduk di salah satu kursi di seberang Bambang.
"Mbang, lu nggak pulang?" tanya Solihin.
"Hhm." Dengan wajah datar Bambang menganggukkan kepalanya.
"Lah, kenapa?" tanya Anton.
Dengan singkat Bambang menjawab, "Lembur."
Anton dan Solihin pun mengangguk bersama-sama.
"Selamat lembur ya," ucap Anton dengan nada bercanda sambil tersenyum kecil.
"Nton, lu sudah denger kabarnya nggak?" tanya Solihin seketika.
"Kabar apaan?" sahut Anton balik bertanya sambil mengerutkan kedua keningnya.
"Itu, kabar orang hilang yang boking kamar 35..." jawab Solihin.
"Kamar 35..." Anton berpikir keras mengingat seseorang yang telah memesan kamar itu, "Oooh, yang cewe itu kah?" tanya Anton seketika setelah mengingatnya.
"Iya, yang cewe waktu itu," sahut Solihin membenarkan.
"Dia hilang kenapa?" tanya Anton.
"Gua juga nggak tahu kenapa dia hilang," sahut Solihin, "Menurut orang di sekitar sini sih, katanya di telan lemari," lanjut Solihin memberitahu.
"Loh, kok lemari?" sahut Anton heran, "Emangnya lemari bisa makan orang apa?" lanjut Anton.
"Iya, kan gua juga denger dari orang," sahut Solihin, "Bener enggaknya sih, gua juga enggak tahu," sambung Solihin.
"Menurutlu gimana, Mbang?" tanya Anton.
"Hah, nggak tahu," sahut Bambang seketika menggelengkan kepalanya, "Ada cewek hilang di telan lemari?" gumam Bambang dalam hati, "Gimana nih... Kok aku jadi takut sih," gumam Bambang lagi.
Bambang mengambil sebuah sabun pembersih muka dari dalam tasnya kemudian beranjak berdiri lalu berjalan menuju ke kamar kecil yang berada di dalam ruang tunggu karyawan meninggalkan Anton dan Solihin.
"Lihin, lu bisa aja ngenakutin si Bambang," bisik Anton dengan terkekeh-kekeh.
"Ssssttt... Entar dia denger," sahut Solihin balas berbisik sambil ikut terkekeh-kekeh.
"Eh tunggu bentar, tapi di kamar 35 itu bukannya udah di kunci ya, soalnya kata Pak Rondo air di dalam kamar itu mampet," ucap Anton.
"Oh gitu ya, berarti gua salah ngasih tahu nomer kamar dong," sahut Solihin seketika menepuk dahinya.
"Ya udah, biarin.." ucap Anton, "Mungkin cukup bikin dia ketakutan kalo-kalo lewat depan kamar yang lo bilang barusan," sambung Anton kemudian tertawa terkekeh-kekeh.
"Bener, bener, bener," sahut Solihin sambil mengangguk kemudian ikut tertawa terkekeh-kekeh bersama Anton.
"Lihin, lu mau tau yang gua lakuin kemarin malam nggak?" tanya Anton berbisik lirih.
"Boleh," sahut Solihin tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Bambang mencuci mukanya di dalam kamar kecil dengan menggunakan sabun pembersih muka yang kemarin malam di temukannya ketika tengah bersih-bersih di dalam salah satu kamar yang sudah di tinggalkan. Khayalannya pun kembali muncul ketika ia menggosok-gosok wajahnya dengan sabun pembersih muka itu. Ia kembali mengkhayal menjadi seorang model sabun pembersih muka dengan wajah yang tampan dan keren sehingga banyak wanita yang memujanya.
Namun di saat Bambang semakin larut dalam khayalannya, tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar kamar kecil.
'BRUK... BRUK.. BRUK...'
Seketika Bambang pun terkejut dan khayalannya pun menghilang setelah mendengar suara gedoran pintu tersebut. Dia pun masih memejamkan kedua matanya karena busa sabun di seluruh wajahnya masih belum di bilasnya.
"Hah, suara gedoran pintu itu lagi..." gumam Bambang dalam hati seketika dengan tubuhnya yang tiba-tiba gemetar karena merasa takut, "Duuh, keran airnya mana sih," ucap Bambang lirih sambil meraba-raba mencari keran air di atas wastafle, "Nah ini dia," sambung Bambang kemudian memutar keran air tersebut setelah berhasil menemukannya.
Bambang pun membersihkan seluruh busa sabun dari wajahnya dengan air dari keran yang di temukanya kemudian setelah selesai ia perlahan membuka kedua matanya, "Loh, kok gelap sih?" tanya Bambang lirih karena seluruh pandangannya menjadi gelap gulita setelah ia membuka kembali kedua matanya.
Dari balik pintu kamar kecil, tampak Anton dan Solihin yang berdiri dengan tertawa pelan terkekeh-kekeh.
"Anjrit lu, Lihin," bisik Anton, "Gua nggak kepikiran ngelakuin ini," bisik Anton lagi.
"Yuk kita pergi dari sini sebelum Bambang keluar," bisik Solihin.
Kemudian Anton dan Solihin pun segera keluar dari ruang tunggu karyawan lalu bergegas menuju ke sebuah warung yang tampak sudah mulai bersiap-siap untuk buka berada tepat di depan losmen, yaitu warungnya Pakde.
Di dalam kamar kecil yang lampunya telah di matikan oleh Solihin, tampak Bambang sedang meraba-raba mencari gagang pintu untuk keluar dari kamar kecil tersebut, namun ia tetap saja belum menemukan gagang pintunya. Bambang pun mulai resah dan takut. Sekujur tubuhnya gemetar.
"Toloong!! Toloong!" Bambang berteriak meminta tolong dari dalam kamar kecil sehingga terdengar oleh Pak Rondo dari dalam ruangannya.
"Ada apa itu?" gumam Pak Rondo dalam hati seketika bergegas keluar dari ruangannya kemudian berjalan menuju ke asal suara meminta tolong yang di dengarnya.
"Toloong! Tooloong!!!" Bambang kembali berteriak dengan menambah kencang suara teriakannya.
Pak Rondo pun membuka pintu kamar kecil lalu, menyalakan lampu yang ada di dalam kamar kecil itu dan betapa terkejutnya Pak Rondo setelah melihat Bambang yang tengah berdiri ketakutan di dalam kamar kecil sambil gemetaran meminta tolong.
"Bambang!" teriak Pak Rondo, "Kenapa kamu teriak-teriak minta tolong?" tanya Pak Rondo kemudian.
Bambang masih gemetaran berdiri di depan pintu kamar kecil tanpa bisa bergerak dan menjawab satu patah kata pun kepada Pak Rondo.
"Bambang, apa yang terjadi, kok kamu teriak-teriak minta tolong?" tanya Pak Rondo kembali.
"A-anu, anu...." jawab Bambang tidak jelas dengan nada gemetar yang masih mengiringi suaranya.
"Ana anu, Apa!?" tanya Pak Rondo heran sambil memperhatikan wajah Bambang yang sedang tertunduk kebawah dan menatap datar kebawah, "Kamu ini nggak jelas, ngomong dong yang jelas biar saya paham!" bentak Pak Rondo dengan kesal karena tingkah Bambang yang semakin tidak jelas.
Bambang menengadahkan wajahnya dan menatap ke depan sambil memutar bola matanya ke sana kemari dan menggerutu tidak jelas.
"Sudah, kembali bekerja saja sana kamu!" bentak Pak Rondo lalu berbalik arah dan berjalan lagi menuju ruangannya.
Bambang pun ke luar dari kamar kecil sambil menggerutu tidak jelas kemudian dia melanjutkan pekerjaaannya yaitu, membersihkan kamar kosong yang sudah di tinggalkan oleh sang penyewa kamar.
Bambang pun melewati kamar nomor tiga puluh lima dan perasaan takut segera menyelinap dalam dirinya.
"Nih kamar emang seram banget deh kayaknya," pikir Bambang sambil berjalan dengan rasa was-was karena takut dengan cerita Solihin bahwa benar-benar ada hantu di dalam kamar itu yang bisa menelan orang lewat lemari.
Malam pun semakin larut ketika Bambang sudah berdiri di depan kamar nomor tiga puluh lima itu, lalu mencoba membuka gagang pintu yang ternyata terkunci. Perasaan takutnya pun datang kembali ketika mengingat kejadian yang menimpanya kemarin malam. Bambang pun menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba untuk tidak mengingatnya lagi. Namun, saat dia menggelengkan kepalanya dengan cepat, kepalanya malah terbentur ke daun pintu sehingga dia pun oleng dan terjatuh ke lantai.
"Aduh!" sentak Bambang ketika badannya sudah terjatuh ke lantai sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena terbentur oleh daun pintu.
Bambang pun kembali menggerutu dengan kesal dan tidak jelas karena dia tidak tahu harus marah dengan siapa. Ketika dia mencoba bangun dan berdiri, perasaan takutnya tiba-tiba datang kembali dan membuat dia berpikir bahwa ada hantu yang tidak suka dengan dirinya karena sudah berada di depan kamar nomor tiga puluh lima, lalu mengganggunya sehingga dia terjatuh.
"Ah, jangan-jangan ini kerjaannya hantu...." gumam Bambang dalam hati dengan nada takut.
Bambang cepat-cepat bangun lalu berjalan cepat menjauhi kamar nomor tiga puluh lima. Namun, saat berjalan dengan tergesa-gesa, dia tidak sadar bahwa tali sepatu yang di pakainya telah terlepas sehingga terinjak oleh kaki yang satunya lagi dan dia pun kembali terjatuh ke lantai.
"Aduh!" teriak Bambang kembali sambil menjerit.
Bambang meringis kesakitan karena kepalanya membentur lantai dan lutut pada kakinya pun juga terbentur ke lantai. Bambang pun berduduk kemudian mengikat tali sepatunya yang tadi terlepas yang mengakibatkan dia terjatuh.
"Dasar tali sepatu, lain kali aku pakai sepatu yang enggak ada talinya aja deh," katanya kesal sambil menyalahkan tali sepatunya.
Bambang pun bangun kemudian berjalan pelan menuju setiap kamar yang akan dia bersihkan karena takut akan terjatuh lagi.
Ketika di dalam kamar kosong, Bambang menemukan sebuah jam tangan yang di tinggalkan sang pemilik yang sudah pulang karena tergesa-gesa. Bambang pun memungut dan menyimpan jam tangan itu ke dalam tas untuk di bawanya pulang ke rumah. Lalu, Bambang pun berlanjut membereskan kamar selanjutnya yang sudah kosong.
Saat membersihkan kamar yang lainnya Bambang kembali menemukan sebuah lotion pemutih yang juga telah di tinggalkan oleh pemiliknya karena lupa atau memang sengaja tidak ingin membawanya karena sudah tidak terpakai lagi. Bambang pun memungutnya kembali dan memasukannya ke dalam tasnya untuk dia bawa pulang ke rumah.
"Lumayan lah buat di pakai," bisik Bambang lirih sambil terkekeh.
Bambang dengan senang membersihkan kamar kosong secara bergantian dan berharap akan menemukan sebuah keajaiban lagi menurutnya, seperti sesuatu yang di tinggalkan oleh pemiliknya kembali.
Bambang ke luar kamar dengan tersenyum sambil memandangi smartphone yang ada di tangannya. Anton mengikutinya dari belakang karena melihat Bambang yang tidak jelas dan senyum-senyum sendiri. Dia lalu mengkhayal sedang melakukan panggilan video bersama sang pujaan hatinya, yaitu Lala. Bambang pun duduk dan istirahat di kursi yang ada di dekat kamar kecil dan tidak sadar bahwa tingkah dia sedang di rekam oleh Anton.
"Wah, parah banget luh Mbang," bisik Anton lirih sambil menahan tawanya dengan salah satu tangannya lagi.
Anton pun melanjutkan aksinya untuk merekam kelakuan Bambang yang baginya sangat lucu dan unik sembari menahan tawanya yang hampir saja pecah, itu karena melihat Bambang yang mengkhayal menjadi artis produk iklan lotion pemutih yang di pungutnya barusan dari kamar kosong sewaktu membersihkan kamar. Bambang juga dengan percaya dirinya mengenakan jam tangan yang juga telah di temukannya dari kamar kosong barusan, dia merasa tampan dan gagah dengan dua bahan temuaannya itu.
Anton sudah tidak tahan lagi menahan tawanya sehingga dia putuskan untuk cepat-cepat pergi kewarungnya Pak De sebelum Bambang sadar bahwa aksinya sudah di rekam oleh Anton.
Anton berlari dengan kencang sambil menggenggam dengan erat smartphone yang ada di tangannya karena takut akan terjatuh, dia sudah tidak sabar lagi untuk menunjukan video rekamannya kepada Solihin yang sudah menunggunya di warung Pak De.
Setelah sampai di warung tepat di depan losmen, Anton pun langsung tertawa dengan gelak sampai membuat Pak De dan Solihin menjadi heran dengan tingkah lakunya itu.
"Kenapa Lu Ton, kok ketawanya gitu banget?" tanya Solihin heran.
"Nih, coba Lu lihat dulu... gua barusan rekam aksinya Bambang," kata Anton sembari menunjukkan layar smartphone-nya kepada Solihin.
Solihin pun langsung menekan tombol putar video berbentuk segitiga yang ada pada layar smartphone-nya Anton dan betul saja yang di katakan Anton, bahwa Solihin langsung tertawa terbahak-bahak ketika melihat aksi Bambang yang baru saja di rekam oleh Anton kemudian Pak De pun juga ikut menonton rekaman video yang ada pada layar smartphone milik Anton.
"Wah, parah si Bambang," kata Pak De sambil tertawa terbahak-bahak.
Solihin pun tidak dapat berhenti tertawa bersama Anton dan juga Pak De.
Tak lama kemudian, Bambang pun datang dan kelihatan bingung melihat teman-temannya yang sedang senyam-senyum dan sesekali tertawa melihat ke arahnya. "Kenapa sih mereka, gila kali ya...." Bambang menggerutu dan bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Eh, Bambang.." sapa Pak De.
"Kopi es dong Pak De, satu," pinta Bambang kepada Pak De ketika sudah duduk di bangku yang berada di samping teman-temannya.
"Loh kok es terus Mbang, apa nggak kedinginan kamu malam-malam gini?" tanya Pak De.
"Iya Mbang, harusnya lu pesan kopi hangat kek atau teh hangat biar badan lu juga hangat," sahut Solihin.
"Nggak ah, aku nggak suka," kata Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi wajahnya yang datar.
Anton dan Solihin pun kembali tersenyum mencibir ke arah Bambang yang tidak perduli dengan tingkah kedua temannya itu. Pak De pun menyerahkan secangkir kopi es kepada Bambang. Kemudian Bambang pun menyeruputnya dengan nikmat.
Bambang pun kembali berkayal duduk berdua bersama sang pujaan hatinya yaitu, Lala sembari menyeruput kopi es buatan Pak De. Bambang kelihatan senyam-senyum sendiri tanpa menyadari bahwa kelakuannya itu kembali di perhatikan oleh Anton dan juga Solihin serta Pak De.
Anton dan Solihin pun saling tatap dan mereka berdua pun tampak menahan tawa mereka karena melihat kelakuan Bambang, dan Bambang pun semakin larut dalam khayalannya sehingga dia tidak sadar bahwa sudah di tinggalkan sendirian di warung Pak De oleh Anton dan juga Solihin.