Bambang pulang ke rumah berjalan kaki dengan langkah yang lunglai karena kelelahan, sesekali dia menengguk air mineral yang di bawanya dari losmen tempat dia bekerja.
"Aduuh, mana perjalanan masih jauh," katanya sembari menggerutu kesal dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Bambang duduk di pinggir jalan lalu mengambil smartphone yang ada di dalam tasnya. Kemudian di bukanya layar smartphone-nya dan muncul lah wajah sang pujaan hatinya di dalam kayalannya. Bambang pun senyam-senyum sendirian di pinggir jalan sambil memandangi layar smartphone yang ada di tangannya.
Setelah lama Bambang duduk sambil mengkhayalkan wajah sang pujaan hati yang menurutnya sangat cantik dan manis itu sehingga membuatnya menjadi semangat kemudian Bambang pun melanjutkan perjalanannya kembali.
Ketika sampai di rumah, Bambang pun langsung duduk di atas sofa yang ada di ruang tamunya karena kelelahan. Ayah Bambang yaitu Pak Satria yang sedari tadi hanya berbaring di depan televisi pun langsung beranjak bangun dan menghampiri Bambang.
"Kamu kenapa, Mbang?" tanya Pak Satria ketika sudah berdiri di hadapan Bambang yang kelihatan pucat setelah melakukan perjalanan jauhnya dengan berjalan kaki.
Bambang hanya diam dan menatap datar ke depan tepat ke arah televisi tanpa menjawab sepatah kata pun kepada ayahnya.
"Lah, ini anak di tanya kok malah diam," kata Pak Satria kesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kamu sakit ya?" tanya Pak Satria lagi.
Bambang hanya mengangguk cepat kemudian menatap datar lagi ke depan masih dengan wajah pucatnya.
Pak Satria menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berjalan ke luar menuju ke seberang rumah, tepatnya menuju rumah Neneknya Bambang yaitu Nenek Mirah dan memanggil beliau untuk memeriksa keadaan Bambang.
Setelah memanggil Nenek Mirah, Pak Satria pun kembali ke rumahnya yang letaknya berseberangan dengan rumah Nek Mirah dan di ikuti oleh Nenek Mirah di belakangnya yang tampak mulut beliau mengunyah sirih dan di campur dengan biji pinang yang ada di mulutnya.
"Kenapa kamu Mbang, sakit ya?" tanya Nenek Mirah setelah masuk ke dalam rumah dan menghampiri Bambang yang duduk di ats sofa.
Pak Satria hanya berdiri di samping Nenek Mirah sambil berkacak pinggang dan menatap ke arah anaknya yang sedang terduduk setengah berbaring di atas sofa yang ada di ruang tamunya.
Bambang hanya diam lalu mengangguk perlahan. Kemudian Nenek Mirah pun perlahan menyentuh dahi Bambang dengan telapak tangannya sambil di bolak-balikannya.
"Nggak panas kok, Mbang," kata Nenek Mirah, "Tapi, kok muka kamu pucat banget ya," lanjutnya lagi.
Bambang hanya terdiam sambil menatap cemberut ke depan lalu memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri.
"Coba kesini duduk tegap," pinta Nenek Mirah kepada cucunya itu.
Bambang pun duduk di sofa dengan tegap dan sedikit tegang. Nenek Mirah lalu mengunyah sirih dan juga biji pinang yang ada di mulutnya dengan sangat cepat setelah itu beliau langsung menyemburkan air sirih dan juga pinang yang ada di dalam mulutnya ke wajah Bambang, dan Bambang pun sontak terkejut seketika langsung berdiri di depan Nenek dan juga Ayahnya.
"Aduh, Nek!" teriaknya seketika sambil melompat.
"Nah, kenapa kamu berdiri, Nenek kan lagi ngobatin kamu Mbang!" teriak Pak Satria setelah Bambang berdiri dan sambil menyapu wajahnya dengan sapu tangan yang tergantung di samping tempat dia duduk.
Bambang pun menggaruk-garukan tangannya ke kepala bagian belakangnya dan kemudian membuka mulutnya untuk bersuara perlahan.
"Aa-anu, Yah, sebenarnya aku nggak sakit, tapi kecapekan sehabis pulang kerja jalan kaki," ucap Bambang dengan suaranya yang pelan.
"Lah, emangnya motor kamu kemana, kok malah jalan kaki?" tanya Pak Satria sambil melototkan matanya ke arah Bambang sehingga membuat Bambang menjadi gugup dan ketakutan.
"Ke-kemaren a-aku kena tilang Yah, pas wa-waktu per-pergi ke lo-losmen," jawab Bambang terbata-bata.
"Di mana? Di dekat losmen tempat kamu bekerja?" tanya Pak Satria dengan suara nyaringnya yang begitu khas.
"I-iya Yah, kata pak polisinya aku melanggar lampu merah," jawab Bambang lagi masih dengan terbata-bata dan kaku.
"Aduh... Bambang... seharusnya kamu perhatikan jalan, emang apa sih yang kamu pikirkan sampai kamu menerobos lampu merah begitu!" teriak Pak Satria kesal.
"Lala," jawab Bambang spontan.
"Apa?" tanya Pak Satria heran karena tidak mengerti dengan jawaban yang di berikan oleh anaknya itu.
"A-anu, maksudnya aku saat itu sedang bernyanyi la-la-la sewaktu menerobos lampu merah," jelas Bambang sambil menatap ke depan dan memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri.
Pak Satria pun terduduk lemas di atas sofa tempat Bambang tadi terduduk lemas. Sedangkan Nenek Mirah menatap Bambang dengan heran sambil terus mengunyah sirih dan pinang yang ada di dalam mulutnya.
"Iya sudah, mandi dulu sana," suruh Nenek Mirah lalu menarik Bambang yang masih berdiri tegang dan menatap datar ke depan.
Bambang masih terdiam meskipun sudah di tarik-tarik oleh Neneknya seolah enggan untuk bergerak karena dia sangat malas untuk mandi.
"Ayo, mandi!" sentak Nenek Mirah sambil melotot ke arah Bambang.
"I-iya Nek," kata Bambang seraya berjalan menuju ke dapur untuk mandi.
Bambang menggerutu kesal ke arah dapur karena kesal di paksa oleh Neneknya mandi.
"Masih dingin juga, siapa yang mau mandi kalau dingin kayak begini," gerutu Bambang kesal.
Di dapur pun Bambang kembali mengkayal sambil memegang gayung mandi yang ada di tangannya.
"Enakan juga jadi orang kaya, pasti mandinya kalau dingin begini pakai air hangat, nggak kayak di sini rebus air panas aja di omelin, huh," kata Bambang mendengus kesal sambil terus mengumpat dan tidak berhenti menggerutu sehingga dari tadi tidak satu gayung pun air yang di guyurkan ke badannya.
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arah dapur lalu, mengetuk pintu yang ada di dapur dengan sangat keras.
"Bambang, kamu ngapain aja di dalam... kok mandinya lama banget!" teriak Nenek Mirah yang dari tadi sudah menunggu Bambang selesai mandi meskipun Bambang tidak kunjung selesai mandinya.
Dengan seketika, lamunan Bambang untuk menjadi orang kaya tersentak sehingga dengan cepat dia mengguyurkan air yang dia ambil dari gayung mandinya.
"I-iya Nek, ini baru juga mau mandi!" teriak Bambang dari dalam kamar mandinya.
"Emangnya dari tadi kamu ngapain?" tanya Nenek Mirah dengan nada marah dari balik pintu kamar mandi.
Bambang hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Neneknya dan berpura-berpura tidak mendengar kata-kata dari Neneknya yang karena kesal lalu mengomelinya dari balik pintu kamar mandinya itu.
"Huh, emang gue pikirin mau lama kek, mau cepat kek," gerutu Bambang kepada Neneknya sambil terus mencuci wajahnya dengan sabun muka yang sering di pakainya.
Bambang selalu berharap bahwa suatu hari wajahnya akan banyak di kagumi oleh para wanita yang di sukainya. Meskipun sebenarnya Bambang sudah merasa bahwa dirinya sangat lah tampan, tapi dia selalu saja ingin membuat dirinya terlihat lebih menonjol dari pada para sepupu-sepupu dan juga teman-temannya.
Tidak lama kemudian Bambang ke luar dari kamar mandi dan menuju ke lotengnya untuk mengambil pakaiannya dan segera pergi ke losmen kembali setelah makan di rumah Neneknya untuk pergi bekerja. Karena motornya sedang di tahan oleh Pak Polisi, Bambang akhirnya di antarkan oleh Ayahnya ke losmen tempat dia bekerja.
Saat di dalam perjalanan menuju losmen bersama dengan Ayahnya dan berhenti di lampu merah, Bambang pun kembali larut di dalam khayalannya.
Sambil duduk di belakang Pak Satria, Bambang menoleh ke kiri tepat menatap seorang wanita gemuk yang juga sedang berhenti menunggu lampu hijau tanda boleh berjalan.
Dalam khayalannya, wanita gemuk yang di tatap Bambang seketika berubah menjadi Lala yang sedang tersenyum manis menatapnya. Bambang pun tersenyum malu menatap wanita gemuk itu.
Di samping itu, wanita gemuk yang di tatap Bambang malah merasa geli karena Bambang yang sejak tadi senyam-senyum memandangnya.
"Cowo itu kenapa sih?" gumam wanita gemuk itu heran sambil mengerutkan kedua keningnya melihat Bambang yang tersenyum memandangnya, "Iiiiiii...." Wanita gemuk itu tampak geli kemudian dengan cepat menolehkan kepalanya menatap lurus ke depan dan segera memacu motor yang di tungganginya setelah lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau dan melaju meninggalkan Bambang yang di bonceng oleh Ayahnya.
Bambang pun masih tersenyum dan sesekali tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Pak Satria menjadi heran dengan tingkah laku anaknya itu.
"Kamu kenapa Mbang?" tanya Pak Satria heran sambil terus melajukan motornya agar segera tiba di tempat tujuannya yaitu, losmen tempat Bambang bekerja dengan tepat waktu dan tidak telat.
Bambang terus tersenyum-senyum sendiri dan masih sesekali dengan gelak tawanya yang masih berkhayal bahwa sang pujaan hatinya yaitu, Lala masih menatapnya dengan tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu kenapa Mbang?!" teriak Pak Satria sehingga membuat Bambang tersentak dari lamunannya dan kaget lalu diam dan menatap datar ke samping kanannya.
"Ada yang lucu Yah," jawab Bambang datar dan tanpa menunjukkan ekspresi di wajahnya.
"Apanya yang lucu?" tanya Pak Satria sambil menatap ke kanan dan ke kiri mencari-cari arah dari jawaban Bambang.
"Sudah nggak lucu lagi Yah," jawab Bambang datar.
Pak Satria pun terdiam mendengar jawaban dari anaknya itu sambil berpikir keras di dalam hatinya, sebenarnya hal apa yang membuat Bambang merasa bahwa ada sesuatu yang lucu sedangkan dari tadi dia tidak melihat satu pun ke lucuan yang terjadi di sepanjang perjalanan.
Bambang dan Pak Satria pun sampai ke parkiran motor di samping losmen tempat Bambang bekerja. Setelah menurunkan Bambang di depan parkiran itu Pak Satria pun memutar balik arah motornya untuk segera menuju ke pos polisi dan mengurus motor Bambang yang kena tilang kemaren di seberang jalan.
Setelah sampai di pos polisi, Pak Satria pun segera mengurus dan membawa pulang kembali motor matik hijaunya Bambang lalu membawanya ke losmen untuk menyerahkannya kepada Bambang yang saat itu sedang sibuk membersihkan kamar kosong setelah si penyewa kamar pulang.
Pak Satria pun segera menelpon Bambang ketika sudah sampai di depan parkiran motor. Namun, Bambang tidak juga mengakat telpon dari Ayahnya itu meskipun sudah beberapa kali di hubungi.
Pak Satria akhirnya menunggunya dengan duduk di parkiran motor sambil terus berusaha menghubungi Bambang lewat telpon genggamnya dan Bambang pun mengangkat telpon dari Ayahnya itu ketika sudah hampir setengah jam menunggu di parkiran.
"Ya, hallow," sahut Bambang ketika mengangkat telpon dari Ayahnya itu.
"Kamu kemana aja sih, kok dari tadi Ayah telpon nggak di angkat?" tanya Pak Satria marah.
"Aku lagi bersihin kamar tamu, Yah dan hp-nya aku tinggal di dalam tas," jawabnya dengan gaya khas bicaranya yang sangat pelan dan datar.
"Ya sudah, ambil sini kunci motor kamu, Ayah tunggu di parkiran!" kata Pak Satria lalu segera menutup telponnya.
"Ba-baik Yah," sahut Bambang yang kemudian kesal karena belum selesai berbicara, Ayahnya sudah menutup telponnya lebih dahulu.
Bambang pun menggerutu kesal sambil menaruh sapu dan pel yang ada di tangannya ke dapur losmen dan berjalan ke luar menuju ke parkiran untuk mendatangi Ayahnya yang sedang menunggunya di sana.
Sewaktu di jalan menuju parkiran, Bambang bertemu dengan temannya yaitu Joni, dan Joni pun menyapanya ketika melihat Bambang yang berjalan sambil menggerutu tidak jelas dan tidak karuan.
"Woi, Mbang mau kemana Lu?" tanya Joni yang ketika itu sedang berpapasan dengan Bambang yang berjalan dengan membawa segelas kopi es di tangannya.
"Mau ke parkiran," jawab Bambang datar tanpa menoleh ke arah Joni sedikit pun.
"Oh, mau ngapain?" tanya Joni lagi.
Bambang berpaling dan menatap Joni dengan kesal. "Mau nyamperin Ayahku yang lagi nunggu di parkiran," jawabnya kemudian melanjutkan perjalanannya menuju parkiran.
Joni mengerutkan kedua alisnya dan mengangkat bahunya, lalu kembali masuk ke dalam losmen dengan tergesa-gesa sambil membawa teh es yang ada di tangannya.
"Bambang, Bambang...." ucap Joni lirih sambil geleng-geleng kepala.
Bambang langsung menghampiri Ayahnya yang sudah lama menunggunya di parkiran. Setelah Bambang tiba di sana, Pak Satria pun langsung menyerahkan kunci motor matiknta kepada Bambang anaknya itu.
"Ingat tuh Mbang, kalau bawa motor lain kali perhatikan rambu-rambu lalu lintas," kata Pak Satria menasehati anaknya itu.
Bambang hanya mengangguk kemudian berdiri diam ketika Ayahnya berjalan ke luar parkiran losmen lalu menyeberang jalan untuk mengambil motornya yang masih terparkir di depan Pos Polisi.
Setelah Pak Satria menyeberang jalan, Bambang pun segera masuk kembali ke losmen untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda. Bambang berharap agar malam ini dia tidak di suruh lembur oleh Pak Rondo seperti malam kemarin karena dia ingin segera mengajak Neneknya untuk bertamu ke rumah Lala.
Bambang mengambil sapu dan pel yang tadi di letakkannya di dapur losmen kemudian membawanya menuju kamar kosong. Namun, ketika melewati kamar nomor tiga puluh lima, Bambang pun kembali terdiam mengingat kejadian yang menimpanya tadi malam, dia pun seketika berhenti dan berniat untuk membuka kamar itu lagi, tapi kamar itu tetap terkunci dengan rapat dan Bambang pun menjadi penasaran kemudian mencoba mengintip dari lubang kunci yang berada pada pintu kamar nomor tiga puluh lima itu.
Ketika Bambang sedang sibuk mengintip dari luar, tiba-tiba dia di kejutkan oleh Joni yang menepuk pundaknya dengan keras.
"Lu lagi ngapain Mbang?" tanya Joni.
Bambang tersentak kaget lalu seketika menegapkan badannya kembali dan berpura-pura bahwa dia tidak sedang ketakutan dan tidak melakukan apa-apa.
"Lu ngintip ya...." Ledek Joni yang seketika langsung tertawa terbahak-bahak.
"Apaan sih, orang pintunya di kunci juga," sahut Bambang gugup.
"Ya emang di kunci orang kamar ini udah nggak...."
"Joni!" Teriak Pak Rondo memanggil.
Kata-kata Joni pun terputus ketika tiba-tiba suara teriakan Pak Rondo terdengar, dan tampak Pak Rondo berjalan menghampiri Bambang dan Joni.
"Nah pas banget ada Bambang juga, sekalian bersih-bersih dulu di ruangan saya, itu lagi kotor," kata Pak Rondo yang langsung menggandeng Joni dan Bambang untuk segera menuju ke ruangannya.
"Tapi, Pak," ucap Bambang terbata-bata.
"Tapi, apa?" tanya Pak Rondo.
"Saya kan belum selesai," kata Bambang gugup.
"Ah, udah nggak ada tapi-tapian, turutin aja apa perintah saya!" kata Pak Rondo dengan nada keras.
Bambang dan Joni pun menurut saja dengan Pak Rondo yang menyuruh mereka berdua untuk membersihkan ruangan beliau. Namun, belum selesai bersih-bersih, tiba-tiba Pak Rondo kembali dengan raut wajah yang kelihatannya sangat marah kemudian langsung memanggil Bambang dan memarahinya.
"Bambang, kenapa kamar nomor dua puluh empat belum kamu bersihkan?!" bentak Pak Rondo.
Bambang hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan tanpa ekspresi meskipun sebenarnya dia sangat gugup.
"Seharusnya langsung kamu bersihkan ketika tamu yang ada di dalam kamar tadi sudah keluar!" teriaknya Pak Rondo.
"Tapi tadi kan saya sudah mau bilang sama Bapak kalau saya belum selesai membersihkan kamar nomor dua puluh empat," sahut Bambang, "Tapi Bapak tidak mau mendengarkan saya dan langsung menyuruh saya kesini," lanjut Bambang lagi dengan santainya.
"Lalu, dari tadi kamu ngapain aja!" teriak Pak Rondo lagi.
Bambang terdiam kemudian menggerutu lirih, lalu pergi untuk membersihkan kamar nomor dua puluh empat dan meninggalkan Pak Rondo yang sedang mengomel karena ulahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Pak Rondo heran.
"Ya mau bersihkan kamar Pak," sahut Bambang sembari berlalu dari hadapan Pak Rondo dengan membawa sapu dan juga pel di tangannya berjalan dengan terburu-buru.
"Tapi saya belum selesai ngomong," kata Pak Rondo.
"Nanti saja Pak, saya kembali kesini setelah selesai bersihkan kamar!" sahut Bambang sambil berlari dan terjatuh ketika kakinya terkait gagang sapu yang di bawanya, "Dasar sapu," gerutu Bambang menatap kesal ke arah sapu yang di bawanya.