Bambang masuk ke dalam kamar kosong yang hendak dia bersihkan kemudian segera membersihkannya dengan cepat. Ketika membersihkan kamar, Bambang menemukan hal yang menurutnya suatu keajaiban kembali.
Kali ini Bambang menemukan sebuah topi yang di tinggalkan oleh pemiliknya, dia pun segera memasang topi itu di kepalanya lalu menatap dirinya di depan cermin dan berpose seperti seorang selebritis yang sedang naik daun.
"Wah, ganteng juga ya aku ini," kata Bambang sambil tersenyum menatap wajahnya di depan cermin.
"Aku ini mirip artis ya," katanya lagi sambil mengkhayal kalau dia mirip dengan salah satu artis korea kesukaannya.
Bambang pun buru-buru menyimpan topi yang baru saja di temukannya di dalam kamar nomor dua puluh empat itu ke dalam tasnya karena takut kalau-kalau ada yang melihatnya menemukan topi itu. Setelah itu Bambang pun kembali melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan kamar.
Sesudah membersihkan kamar nomor dua puluh empat, Bambang pun membawa pelnya ke dapur losmen untuk membersihkannya, kemudian dia duduk sebentar di atas kursi yang ada di dapur berlanjut ke luar Losmen menuju ke warung Pak De untuk membeli makan siang dan minuman karena perutnya sudah mulai keroncongan dan kerongkongannya sudah sangat kering.
Tampak Pak De sedang mencuci piring, gelas, serta sendok dan garpu yang telah di gunakan oleh pelanggan di warungnya.
Bambang langsung duduk pada kursi panjang lalu mengambil dan membuka satu nasi bungkus yang di jual Pak De.
"Teh es Pak De," pinta Bambang sambil mengambil sebilah sendok yang tersusun rapi di dalam wadahnya tepat di atas meja lalu segera menyantap nasi yang di bukanya itu dengan lahap.
Saking cepatnya Bambang makan, mengakibatkan ia menjadi terceguk karena teh es yang sejak tadi ia pesan belum kunjung selesai di buatkan oleh Pak De.
Tak lama kemudian Pak De pun meletakkan segelas teh es di depan Bambang, "Ini Mbang..." ucap Pak De kemudian lanjut untuk mencuci piring yang sudah di pakai oleh pelanggan.
Sembari masih menahan cegukan, Bambang pun segera meraih segelas teh es yang di letakkan Pak De di depannya lalu bergegas meminumnya.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, kemudian Bambang pun segera meneguk air teh es yang masih tersisa di dalam gelas di depannya lalu beranjak berdiri.
"Catat dulu ya, Pak De," ucap Bambang kemudian bergegas berjalan ke luar dari warung Pak De dan masuk ke dalam losmen tempat dia bekerja.
"Hedeh... Nyatet mulu, bayarnya kapan?" Pak De tampak menggerutu kesal sambil menyeret matanya menatap Bambang yang kembali masuk ke dalam losmen, kemudian mengambil buku cacatan hutang yang berada di dalam laci pada meja warungnya, "Duh... udah banyak aja nih nama si Bambang dalam buku..." gumam Pak De dalam hati seketika menggelengkan kepalanya sambil menambahkan nama Bambang pada hari ini dan mencatat apa yang telah di beli Bambang.
Bambang bergegas kembali ke dapur untuk mengambil sapu dan alat pelnya da kemudian membawanya menuju kamar selanjutnya yang terakhir dia bersihkan. Namun, di tengah perjalanan menuju kamar yang ingin dia bersihkan tiba-tiba perutnya mules seketika dia berhenti dan berbalik arah kembali menuju dapur untuk ke kamar kecil.
Setelah sampai di kamar kecil yang ada di dapur, Bambang pun segera masuk dan tidak menunggu lama lagi, dia sudah tidak mampu lagi menahan rasa perutnya yang mules karena tadi kebanyakan makan.
"Duh, udah jam tiga aja nih, sempat nggak ya bersihin kamar sebelum jam lima, aku pengen cepat-cepat pulang," gumam Bambang gelisah sambil menatap jam tangan di lengannya.
Bambang cepat-cepat keluar dari kamar kecil setelah urusannya selesai kemudian terburu-buru menuju kamar yang belum di bersihkannya. Bambang membuka pintu kamar dengan cepat lalu membersihkannya dengan segera. Namun, karena kelelahan Bambang pun berbaring di atas kasur yang ada di dalam kamar losmennya dan hampir saja dia tertidur dan lupa dengan tugasnya sebagai Office Boy di sana.
"Ah, udah jam empat aku harus buru-buru nih," Bambang menggaruk kepalanya dengan kencang.
Akhirnya selesai sudah tugas Bambang di tempat kerjanya dan tepat sebelum jam lima dia pun segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
"Lu nggak lembur Mbang hari ini?" tanya Ifan yang berdiri di sebelah Bambang sambil membersihkan bajunya yang kotor dengan air.
Bambang menggeleng cepat, "Nggak, aku mau pulang aja, udah selesai tugasku hari ini," jawab Bambang pelan.
"Oh, gitu," sahut Ifan sembari membenarkan baju yang sedang di pakainya untuk pulang ke rumah.
"Gue duluan ya Mbang," kata Ifan sembari berjalan dan memanggil Joni yang berjalan duluan di depannya.
Bambang tidak menyahut dengan perkataan Ifan, dia pun segera melangkah ke luar dari dapur tempat dia membersihkan dirinya dan berjalan cepat ke arah parkiran. Dalam hatinya sudah tidak sabar untuk mengajak Neneknya bertamu ke rumah Lala. Bambang pun dengan segera melangkah menuju parkiran dan langsung menaiki kuda hijaunya lalu melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai dengan cepat ke rumahnya. Di depan gang, Bambang bertemu dengan adik sepupu laki-lakinya, yaitu Owel yang baru datang dengan membawa sebungkus gorengan yang di jinjingnya.
"Baru pulang Lu Mbang?" tanya Owel sambil mengangkat kedua alisnya.
Bambang mengangguk tanpa menjawab, tapi hidungnya mencium aroma enak dan gurih dari sebuah bungkusan yang di bawa oleh Owel dan memaksanya untuk bertanya tentang apa yang di bawa oleh Owel, tepatnya di dalam sebuah bungkusan besar yang di jinjingnya.
"Apa yang kamu bawa Wel, kok aromanya enak banget?" tanya Bambang seraya tersenyum lebar.
Owel mengangkat bibirnya mencibir ke arah Bambang, "Giliran makanan aja Lu peka ya," kata Owel kesal, "Udah, masuk aja sana ke rumah, terus mandi ganti baju, kalau nggak, gue nggak bakalan ngasih nih gorengan ke Lu," tambah Owel lagi dengan kesal kemudian berlalu meninggalkan Bambang dan masuk ke dalam rumahnya yang ada di seberang rumah kediaman Bambang.
Bambang memarkir motornya di depan rumah dengan sembarangan sehingga di tegur oleh Bibiknya yang bernama Bik Mumun.
"Eh, Bambang kalau parkir motor jangan suka sembarangan," kata Bik Mumun marah.
Bambang tidak memperdulikan perkataan Bibiknya itu dan tetap membiarkan motornya terparkir sembarangan di depan rumahnya. Bambang hanya berpaling sebentar memandangi Bik Mumun lalu masuk ke dalam rumahnya sambil menggerutu kesal.
"Sukanya ikut campur melulu urusan orang," gerutu Bambang kesal sambil melangkah dan menghentakan kedua kakinya dengan keras ke lantai rumahnya.
Bik Mumun memperhatikan tingkah Bambang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Coba aja kalau bukan ponakan, pasti udah aku bejek-bejek, emang dasar si Bambang," kata Bik Mumun geram kemudian masuk ke dalam rumahnya yang juga kediaman Neneknya Bambang yaitu, Nenek Mirah.
Pak Satria yang tengah tertidur dengan pulas di depan televisi langsung terbangun ketika mendengar hentakan kaki Bambang yang memasuki rumah dan langsung menuju ke dapur.
"Bambang, kalau jalan bisa pelan sedikit nggak?!" teriak Pak Satria ketika Bambang sudah sampai di dapur.
Bambang tidak memperdulikan kata-kata Ayahnya itu dan tetap meneruskan langkahnya memasuki kamar mandi karena ingin cepat-cepat ke rumah Neneknya dan menagih janji untuk meminta gorengan yang tadi di bawa Owel.
"Bodo amat, yang penting aku bisa makan gorengan, udah lapar aja nih perut," gerutu Bambang sambil tertawa terkekeh, "Lagian, ada kamar kok malah tidur di depan tv," gerutunya lagi.
Bambang pun segera memasuki kamar mandi lalu bergegas membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Bambang pun kembali bergegas menuju ke lotengnya dan berganti pakaian, lalu bergegas lagi menuruni tangga dan langsung ke luar rumah, kemudian segera menyeberang dari rumahnya menuju ke rumah Neneknya di mana gorewan yang telah di bawa oleh Owel sudah menunggu.
"Waah, gorengannya banyak banget," gumam Bambang dalam hati setelah tiba di depan pintu rumah Neneknya yang terbuka sambil menengok ke dalam dan melihat dua buah piring besar dengan berisi banyak gorengan di dalamnya yang berada di atas meja di ruang tamu.
Bambang pun dengan langkah cepat menghampiri gorengan yang di lihatnya itu, lalu segera duduk di dekat meja dan mengambil salah satu gorengan.
Namun, saat tangan Bambang hampir menyentuh gorengan yang akan di ambilnya, tiba-tiba saja tangannya langsung di tepis oleh Bik Mumun.
"Cuci tangan dulu..!" tegur Bik Mumun dengan tegas.
"Udah bersih kok," sahut Bambang kemudian lanjut menggerakkan tangannya mendekati salah satu gorengan yang hendak dia ambil tadi.
"Cuci tangan dulu!" bentak Bik Mumun kembali menegur Bambang.
"Iya-iya..." Kemudian Bambang beranjak dari tempat duduknya lalu segera berjalan menuju dapur untuk mencuci tangan, "Orang sudah bersih, di suruh nyuci tangan lagi," gerutu Bambang mendengus kesal sambil berjalan menuju dapur
Setelah selesai mencuci tangannya, Bambang pun bergegas kembali menuju ruang tamu dan siap menyantap gorengan yang sudah tersedia di sana.
"Nek..." panggil Bambang.
"Hhmm..." sahut Nek Mirah mengangguk sambil mengunyah gorengan yang di dalam mulutnya.
"Nenek mau jalan-jalan, nggak?" tanya Bambang.
"Jalan-jalan?" sahut Nek Mirah seketika merasa heran sambil mengerutkan kedua keningnya setelah menelan gorengan di dalam mulutnya, "Tumben tumbenan kamu ngajak Nenek jalan-jalan, Mbang...?" sambung Bik Mirah kemudian mengambil sebuah gorengan lagi dari atas piring lalu melahapnya.
"Cie... mau ngajak Nenek jalan-jalan..." goda Owel sambil ikut menyantap gorengan di atas meja.
"Emangnya mau ngajak Nenek jalan-jalan kemana?" tanya Nek Mirah.
"Gimana kalau kita ke rumah anaknya temen Nenek kemarin?" sahut Bambang memberi usu.
"Anak temen Nenek yang mana, Mbang?" tanya Nek Mirah penasaran.
"Itu Nek... Si Lala sama Sindi yang kemaren itu loh Nek," sahut Owel memberitahu Neneknya.
"Oooh, itu mah bukan anaknya temen Nenek," sahut Nek Mirah, "Ayahnya itu, sepupunya ayah kalian," sambung Nek Mirah menjelaskan.
"Hhmmm." Bambang mengangguk pasti, "Ayo Nek, kita kesana," ajak Bambang dengan semangat.
"Ayo, tapi Nenek ganti baju dulu..." sahut Nek Mirah kemudian beranjak berdiri lalu berjalan menuju ke kamarnya untuk bersalin pakaian.
Lak lama kemudian, Nek Mirah pun keluar dari kamarnya setelah bersiap-siap lalu menuju ke ruang tamu di mana Bambang, Owel, dan Bik Mumun yang sedang menyantap gorengan berada.
"Ayo, Mbang.. Buruan nanti kemalaman..." seru Nek Mirah.
Bambang pun beranjak dari tempat duduk setelah menelan bulat gorengan yang di dalam mulutnya.
"Eh, tunggu dulu Nek," cegat Bambang kepada Neneknya yang sudah menuju ke luar rumah.
"Ada apa lagi Mbang?" Tanya Nek Mirah heran.
"Tapi, Nenek punya uang kan?" Bambang balik bertanya sambil senyam-senyum cengengesan tidak karuan.
Nenek Mirah melongo dan membelalakan matanya, " Ya nih bocah ngajakin jalan tapi nggak punya uang, ayo buruan dah Nenek punya uang kok," seru Nenek Mirah yang kemudian menarik tangan cucunya yaitu, Bambang dengan keras.
Owel tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh Ibunya yaitu, Bik Mumun yang juga tertawa dengan kencangnya sampai hampir terkencing-kencing melihat kelakuan anak ponakannya yang bernama Bambang itu.
Bambang berlalu sembari mendengus kesal ke arah Owel dan juga Bibiknya itu lalu, menaiki motor matic hijaunya dan kemudian melaju dengan kencang bersama Neneknya.
Nenek Mirah menunjukkan arah jalan ke rumah Lala. Namun, di tengah perjalanan Bambang pun kembali mengkhayal bersama Lala. Bambang merasa bahwa yang sedang di boncengnya bukan lah Neneknya melainkan adalah sang pujaan hatinya yaitu, Lala, dia merasa telah berubah menjadi pangeran yang sangat tampan dengan menaiki kuda hijau dan membawa seorang permaisuri yang sangat cantik yaitu, Lala.
Bambang sambil tersenyum dengan mengkhayal bahwa Lala sedang tertawa bahagia karena berkuda bersamanya. Nenek Mirah melihat cucunya yang sedang senyum-senyum sendiri sambil mengendarai motor maticnya itu pun kemudian bertanya karena heran.
"Kamu kenapa Mbang, kok senyum-senyum begitu?" tanya Nenek Mirah dengan nada heran.
Namun, Bambang tetap saja senyum-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaan dari Neneknya itu sehingga membuat Neneknya semakin heran.
Bambang membawa motor dengan sangat pelan. Lalu, Nek Mirah pun semakin erat berpegangan pada pinggang Bambang karena merasa takut. Akan tetapi, di samping itu Bambang semakin terbuai dalam khayalannya yang membayangkan bahwa Nenek Mirah di belakangnya itu adalah Lala yang tersenyum bahagia karena menaiki kuda bersamanya.
"Bambang....!" Tiba-tiba Nek Mirah berteriak sehingga membuyarkan khayalan Bambang.
'GUUBRAAKKK!!' Motor matik berwarna hijau yang di naiki Bambang dan Nek Mirah terjatuh ke dalam semak semak di halamam rumah salah satu penduduk dan juga berada dekat dengan rumah kediaman Lala.
"Aduuh, gimana nih.." ucap Bambang lirih setelah terjatuh kemudian berdiri dan berusaha mendorong motor matiknya ke tepi jalan.
"Bambang...!" teriak Nek Mirah yang masih terduduk di dalam semak semak.
Karena terkejut, beberapa orang di dekat Bambang dan Nek Mirah terjatuh pun menghampiri mereka.
Salah satu orang membantu Bambang mengeluarkan motor matiknya lalu meletakkannya di tepi jalan, sedangkan dua orang lainnya membantu Nek Mirah untuk berdiri lalu membawanya ke tepi jalan.
"Nenek nggak apa-apa?" tanya salah seorang pemuda yang membantu mereka keluar dari semak semak.
"Iya, terima kasih ya..." sahut Nek Mirah.
"Emangnya Nenek mau kemana?" tanya salah seorang tersebut.
"Kami mau ke rumahnya Pak Didin," jawab Nek Mirah. Pak Didin adalah ayahnya Lala dan Sindi.
"Ooh, mari kami antar Nek.." ucap salah seorang pemuda itu.
"Ah enggak usah, udah deket juga kok," sahut Nek Mirah.
Bambang tampak kebingungan setelah beberapa kali menekan tombol starter motornya, namun mesin motor matiknya itu tak kunjung menyala.
"Kenapa Mas?" tanya salah seorang kemudian mendekat ke arah Bambang.
"Hah, enggak.." sahut Bambang sambil terus berusaha menekan tombol starter pada motor matiknya yang berwarna hijau itu.
"Coba hidupin pake pedal aja Mas," ucap salah seorang itu memberi usul.
"Hmm." Bambang mengangguk dengan wajah datar kemudian menaikkan standar dua pada motor matiknya.
Bambang menginjak pedal kick starter pada motor matiknya berkali-kali.
"Gimana, bisa nggak Mbang?" tanya Nek Mirah.
Bambang tidak menyahut dan masih tetap menginjak-injak pedal kick starter pada motornya, hingga pada injakan ke delapan belas kali akhirnya mesin motor matik Bambang pun menyala.
"Yuk, Nek.." ajak Bambang seketika lebih dahulu menaiki motor matiknya.
"Enggak usah, Nenek jalan kaki aja, lagian udah dekat kok, noh di sana rumahnya," tunjuk Nenek Mirah kepada sebuah rumah yang menurut Bambang adalah rumahnya Lala, "Kamu duluan aja deh..." lanjut Nek Mirah.
"Iya, Nek," ucap Bambang dengan tidak sabar kemudian menjalankan motor matiknya yang berwarna hijau lebih dahulu pergi meninggalkan Nek Mirah yang dengan berjalan kaki sedang menuju rumah Lala.
Dengan perlahan Bambang menjalankan motor matiknya yang berwarna hijau menelusuri jalan kecil yang menuju ke rumah Lala hingga Bambang tiba di depan sebuah warung di sebelah kiri jalan.
"Naah, kemaren aku ingat Lala masuk masuk kesini," gumam Bambang dalam hati menoleh ke kiri tepat ke arah di mana ia kemarin melihat Lala memasukinya.
Bambang pun memarkirkan motor matiknya yang berwarna hijau itu di halaman depan sebuah rumah yang terdapat sebuah warung di sampingnya. Kemudian dengan berani, Bambang pun melangkah yakin memasuki rumah tersebut.