Bab 8

2313 Words
Nek Mirah sampai ke rumah Lala dengan napas yang terengah-engah sehabis berjalan kaki. Nek Mirah memanggil Ibu Atun yaitu Ibunya Lala dari luar rumah sambil mengetuk pintu. "Assalamualaikum," sapa Nek Mirah mengucapkan salam, "Atun!" serunya dari luar. Tampak seorang perempuan paruh baya berjalan cepat ke arah luar yang bergegas menghampiri Nenek Mirah yang berdiri menunggu di depan rumah. "Waalaikumsalam," sahut Ibu Atun dari dalam rumah kemudian berjalan lagi dengan cepat mendatangi Nek Mirah, "Eh, ada Nenek Mirah, ayo masuk Nek," ucap Ibu Atun seraya mempersilahkan Nek Mirah untuk masuk ke dalam rumahnya. Nek Mirah pun masuk ke dalam rumah kemudian duduk di atas sofa yang ada di dalam ruang tamu rumah kediaman keluarga Lala. "Sebentar ya Nek, saya panggilkan Bapak dulu," ucap Ibu Atun kemudian berjalan menuju ke dalam untuk memanggil suaminya. "Eh, enggak usah," ucap Nek Mirah. Seketika Ibu Atun pun menghentikan langkahnya. "Kalau Didin lagi sibuk, jangan di ganggu..." ucap Nek Mirah, "Kami ke sini cuman mau nengokin Lala," lanjut Nek Mirah, "Mana Lala? Coba panggilkan kesini, saya dan Bambang mau bertemu sama Lala," jelas Nenek Mirah kemudian. "Oh, Lala ya Nek," sahut Ibu Atun sambil tersenyum senang, "Sebentar saya panggilkan dulu sekalian bikin minum untuk Nenek," sambung Ibu Atun kemudian masuk ke dalam untuk memanggil Lala yang sedang berada di dalam kamarnya. Tak lama kemudian Lala pun keluar dari kamarnya mendatangi Nek Mirah yang sedang duduk sendirian di ruang tamu. "Nek," sapa Lala setelah sampai di ruang tamu dan langsung mencium punggung tangan Nek Mirah lalu duduk di seberang Nenek Mirah. Nenek Mirah tersenyum sambil memperhatikan Lala yang duduk di seberangnya. "Nenek ke sini sama siapa?" tanya Lala, "Sendirian ya?" tanya Lala lagi sambil celingak-celinguk memperhatikan ke kanan dan ke kiri. "Ah eggak, Nenek enggak datang sendirian," sahut Nek Mirah, "Nenek kan datangnya sama...." lanjut Nek Mirah dan ucapannya pun seketika terhenti ketika mengingat nama Bambang yang dari tadi tidak dia lihat, kemudian Nenek Mirah langsung celingak-celinguk mencari keberadaan cucunya itu, "Bambang... Bambang kemana La?!" tanya Nek Mirah sentak seketika beranjak berdiri dari sofa. Lala dengan heran menatap Nenek Mirah, "Dari tadi Lala enggak lihat Bambang kok Nek," jawab Lala, "Emangnya Nenek datang kemari sama Bambang ya?" tanya Lala kemudian. Nenek Mirah pun seketika terdiam dan melongo, "Beneran, Bambang tadi kesini duluan pakai motornya, La," jawab Nek Mirah. "Tapi, dari tadi Lala enggak ngelihat Bambang, Nek," sahut Lala dengan yakin, "Emangnya gimana ceritanya Nek, kok bisa kepisah sama Bambang sih Nek?" tanya Lala kemudian. Nek Mirah pun kemudian menceritakan bagaimana kejadian di jalan sebelum tiba di rumah kediaman keluarga Lala ketika beliau dan cucunya yaitu Bambang terjatuh dari motor, lalu di tolong oleh warga setempat, dan Nek Mirah menyuruh Bambang untuk pergi lebih dahulu ke rumah Lala, sedangkan beliau menyusulnya dengan berjalan kaki. "Lah, apa mungkin Bambang nyasar ya Nek?" tanya Lala menerka, padahal Lala sudah bisa menebak Bambang tersesat kemana karena kemarin lusa ia pernah mengerjai Bambang dengan berjalan menuju sebuah warung ketika Bambang memperhatikannya dari depan gang. "Nggak tau juga, emang tuh si Bambang, aduuh..." sahut Nek Mirah dengan kesal. Sementara itu di lain tempat, tampak Bambang yang berdiri di depan sebuah rumah yang di hampirinya sambil menunggu Neneknya yang tidak kunjung datang dengan gelisah. "Permisi..." ucap Bambang sambil berdiri di depan pintu rumah yang di hampirinya. "Ya, sebentar..." sahut seseorang dari dalam rumah terdengar samar hingga ke tempat di mana Bambang berada. Pemilik rumah tidak kunjung ke luar sehingga Bambang pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tanpa di persilahkan. "Kemana ya orangnya, kok nggak ada..." gumam Bambang lirih, "Tapi tadi kan ada yang nyahut?" tanya Bambang bergumam lirih kepada dirinya sendiri. Bambang duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu rumah itu, tapi pemilik rumah tetap tidak kunjung ke luar juga. Bambang pun semakin gelisah karena Neneknya belum juga datang menyusulnya. Sedangkan pemilik rumah yang menyangka bahwa Bambang adalah seorang pembeli yang ingin membeli barang dagangannya pun berjalan ke warung melewati jalan sebelah yang berhalat dinding dengan jalan utama di mana Bambang berada, sehingga pemilik rumah itu tidak berpapasan dengan Bambang yang sejak tadi duduk di atas sofa di ruang tamu. "Lah, kok nggak ada orang," gumam Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung itu, "Tadi siapa yang manggil?" tanya Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung bergumam lirih sambil mengerutkan kedua keningnya menoleh ke kiri dan kanan menatap ke depan warung, kemudian di lihatnya sebuah motor matik berwarna hijau yang sudah terparkir di halaman tepat di depan warungnya, "Ini motornya ada, tapi orang kemana?" gumam Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung itu lagi, "Ooh mungkin orangnya lagi pergi sebentar kali ya," gumamnya lagi. Kemudian si Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung itu pun kembali masuk ke dalam rumahnya melewati jalan yang tadi dia lewati. Namun dengan bersamaan, Bambang pun melangkah keluar dari dalam rumah dan menengok ke depan warung karena bosan menunggu di dalam rumah kemudian duduk di atas kursi panjang yang ada di depan warung sambil sesekali menengok ke arah jalan untuk memastikan Neneknya sudah datang atau belum. Bambang pun mulai merasakan resah, "Kok Nenek lama banget ya," gumam Bambang dalam hati setelah menengok ke belakang tepat ke arah jalan. Tak lama kemudian, si Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung itu karena rasa penasaran berjalan kembali ke depan warung untuk memastikan apakah pembeli yang memanggilnya tadi sudah tiba atau belum. "Eeh udah dateng, maaf lama ya..." ucap si Ibu pemilik rumah sekaligus warung itu. Bambang tersenyum mengangguk menatap Ibu pemilik rumah sekaligus warung itu. "Mau minum apa bang?" tanya Ibu itu. "Loh, Ibunya Lala kok wajahnya agak beda ya," gumam Bambang dalam hati, "Oh mungkin karena kemarin memakai kerudung jadi kelihatan agak tua," gumamnya lagi, "Sekarang kan, enggak pakai kerudung, jadi kelihatan lebih muda... Hihi...." gumam Bambang lagi sambil tersenyum cekikikan. "Bang... Bang..." panggil Ibu itu heran karena melihat Bambang yang tersenyum sendirian sambil menatapnya. "Eh iya, Bu.." sahut Bambang tersentak. "Mau minum apa bang?" tanya Ibu itu lagi. "Eemmm, kopi es," jawab Bambang sambil mengangguk. "Oh, bentar ya..." Ibu itu pun kembali masuk ke dalam untuk membuatkan pesanan dari Bambang kemudian segera kembali ke depan mengantarkan segelas kopi es kepada Bambang dan meletakkannya di atas meja di hadapan Bambang, "Gorengan tahunya mau? Biar saya ambilkan piring kecil buat saosnya," ucap Ibu itu kembali menawarkan dagangannya. Bambang pun mengangguk dengan cepat mengiyakan. "Tunggu ya," ucap Ibu itu kemudian kembali masuk ke dalam rumah, lalu membawakan sebuah piring kecil ke depan warung dan meletakkannya di atas meja di hadapan Bambang, kemudian Ibu itu menuangkan saus ke dalam piring kecil itu. Tidak menunggu waktu lama, Bambang pun segera mengambil satu biji gorengan tahu di depannya lalu mencocol gorengan itu dengan saos dan kemudian mendekatkan gorengan itu ke depan mulutnya lalu menelannya langsung satu biji penuh. Ibu itu pun heran melihat Bambang yang dengan lahapnya menyantap salah satu dagangannya itu yaitu gorengan tahu. Tidak terasa Bambang sudah melahap sepuluh biji gorengan tahu, kemudian ia meneguk kopi es di depannya sehingga mulutnya mengeluarkan bunyi sendawa dengan nyaring karena merasa sangat kekenyangan. "Enak nggak gorengan tahunya?" tanya Ibu itu. "Iya, enak Bu," sahut Bambang dengan mengangguk puas. Ibu itu pun tersenyum senang, "Ini gorengan pisangnya mau juga nggak?" ucap Ibu itu kembali menawarkan dagangannya lagi sambil dengan perlahan menggeser maju sebuah piring berisi beberapa gorengan pisang ke depan Bambang. Bambang pun mengangguk kemudian segera menjangkau satu biji gorengan pisang dan langsung melahapnya. Ibu itu pun semakin tersenyum karena melihat Bambang yang begitu lahap menyantap dagangannya. "Nenek saya mana ya?" tanya Bambang sambil menoleh ke belakang menatap jalan setelah menelan gorengan pisang di mulutnya, "Dari tadi saya tungguin kok belum datang juga," ucap Bambang kemudian. "Oh, Nenek kamu ikut kesini juga ya?" tanya si Ibu pemilik rumah. Bambang mengangguk dan bertanya kembali meskipun si Ibu belum menjawab pertanyaan pertamanya. "Terus anak Ibu mana?" tanya Bambang lagi. "Oh, anak Ibu ya... Anak Ibu masih mengaji di tempatnya Pak Didin," jawab Ibu itu sambil tersenyum. "Pak Didin?" sahut Bambang heran yang seolah mengingat sebuah nama yang tidak asing lagi di telinganya. "Iya Pak Didin, yang guru mengaji itu... yang anaknya itu kalo enggak salah namanya Lala sama Sindi," jelas Ibu itu kepada Bambang. Bambang sentak berdiri terkejut mendengar dua nama yang sudah tidak asing lagi di telinganya, yaitu nama Lala dan Sindi, dua kakak beradik anak dari Pak Didin. "Berarti aku salah rumah dong," gumamnya lirih sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ibu pemilik rumah itu menatap Bambang heran karena Bambang tiba-tiba gelisah dan semakin keras menggaruk kepalanya. "Kamu kenapa bang?" tanya Ibu pemilik rumah itu. "A-anu Bu, kayaknya saya salah rumah," jawab Bambang ketakutan. Ibu itu bingung dan tidak paham dengan apa yang di maksud Bambang dan kemudian dia bertanya kepada Bambang. "Maksud kamu apa? Ibu nggak paham," tanya Ibu itu heran. "Saya kirain ini rumahnya Lala, anaknya Pak Didin," jawab Bambang datar menyembunyikan rasa takutnya. "Oalah, jadi dari tadi kamu salah masuk rumah," sentak Ibu itu kaget, "Rumah Pak Didin itu yang di seberang sana," tunjuk Ibu itu ke rumah yang ada di seberang kanan dari rumahnya. "Oh, terima kasih ya Bu," kata Bambang kemudian berjalan menuju ke arah motor matiknya yang terparkir di halaman depan warung. "Eh, tunggu dulu!" teriak Ibu pemilik rumah sekaligus pemilik warung itu sehingga Bambang pun segera berhenti melangkah, "Bayar dulu kopi sama gorengannya," kata Ibu itu lagi. Bambang sontak terkejut mendengar Ibu pemilik rumah yang meminta bayaran untuk kopi es dan juga gorengan yang baru saja di makannya. "Emangnya berapa Bu?" tanya Bambang. "Semuanya jadi dua puluh ribu!" kata Ibu pemilik rumah sekaligus pemikik warung itu dengan tegas dan tiba-tiba berubah jadi pemarah. "Sebentar ya Bu, saya ke rumah Pak Didin dulu, mau panggil Nenek saya, biar Nenek saya yang bayarin," kata Bambang kemudian lanjut berjalan menghampiri dan menaiki motor matiknya yang berwarna hijau. "Iya, saya tunggu di sini, awas kalau kamu kabur!" kata Ibu pemilik rumah itu mengancam, "Eh, nggak usah naik motor, kamu jalan kaki aja dekat kok, motor kamu tinggal di sini dulu buat jaminan!" kata Ibu itu judes. Kemudian Bambang pun turun dari motornya lalu berjalan kaki menuju rumah Lala sambil mengerutu di sepanjang perjalanannya. "Huh, dua puluh ribu aja belagu, sampai minta jaminan motor lagi," gerutu Bambang kesal sambil berjalan menyeberang jalan. Bambang memasuki halaman rumah Lala kemudian berdiri di depan pintu dan mengetuk pintunya dari luar. "Permisi!" teriak Bambang kencang sampai suaranya di dengar oleh Neneknya yaitu, Nek Mirah. Nek Mirah bergegas ke luar rumah untuk menghampiri Bambang yang sudah berada di depan pintu. "Astaghfirullah!! Bambang, kamu kemana aja?!! Di tungguin dari tadi malah baru nongol!" kata Nenek Mirah yang terkejut melihat kedatangan cucunya itu. "Nyasar..." jawab Bambang singkat dengan wajah yang merangut. "Iya sudah masuk dulu," ajak Nenek Mirah kemudian melangkah kembali ke dalam rumah. "Eh, tunggu dulu Nek," sentak Bambang seketika menghentikan langkah Nek Mirah, "Tadi aku nyasar ke warung seberang, terus minum kopi es sama gorengan belum bayar," jelas Bambang kesal. "Iya udah bayar dulu sana gih," kata Nenek Mirah. "Uangnya nggak ada!" sahut Bambang ketus. Nek Mirah pun menghela nafas panjang menahan kesal karena tingkah Bambang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah lalu mengambilkan uang dan menyerahkannya pada Bambang. "Aku ke warung sekalian mau ambil si Kuda Hijau dulu ya Nek," ucap Bambang kemudian berjalan kembali menuju warung. "Ada-ada aja kelakuan si Bambang...." Nek Mirah pun tampak heran sambil menggelengkan kepalanya menatap Bambang yang berjalan menjauh dan menuju ke warung, lalu Nek Mirah pun kembali masuk ke dalam rumah dan menghampiri Lala. "Kenapa Nek?" tanya Lala. "Itu si Bambang, pantesan nggak nyampe-nyampe kesini, eeeh... tau-taunya malah nyasar noh ke warung seberang," jawab Nek Mirah, "Pake acara ngupi sama makan di sana lagi..." lanjut Nek Mirah kesal. Lala pun hanya mampu menahan tawa setelah mendengar berita dari Nek Mirah yang memberitahu kepadanya bahwa Bambang menyasar ke rumah orang. Sementara itu setelah menyeberang jalan, Bambang pun kembali tiba dan berdiri di depan warung. "Permisi..." panggil Bambang setelah kembali tiba dan berdiri di depan warung. "Iya..." sahut Ibu pemilik warung kemudian bergegas ke depan menghampiri Bambang. "Ini Bu, uangnya..." Bambang menyerahkan selembar uang pecahan dua puluh ribuan pada Ibu pemilik warung itu. "Iya," sahut Ibu pemilik warung itu seketika tersenyum menatap Bambang sambil meraih selembar uang yang di serahkan oleh Bambang kepadanya. Lalu, Bambang pun berjalan menghampiri motor matiknya yang berwarna hijau dan segera menghidupkan mesin motor matiknya itu. Setelah itu, Bambang pun bergegas memacu motor matiknya menuju ke rumah kediaman keluarga Lala di mana Neneknya berada. Setibanya Bambang di depan rumah kediaman Lala, Bambang melihat Neneknya yang sudah berdiri di depan pintu dan tampak bersiap untuk pulang. Bambang pun segera menghampiri Neneknya setelah memarkirkan Kuda Hijaunya di depan rumah kediaman keluarga Lala. "Yuk kita pulang," ajak Nek Mirah setelah Bambang menghampirinya. "Loh, kok buru-buru pulang, Nek?" tanya Bambang heran sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Ini kan udah mau gelap," sahut Nek Mirah. "Tapi aku kan baru datang, Nek..." ucap Bambang seketika. "Ini udah mau malam, Nenek masih ada urusan lagi..." sahut Nek Mirah. "Tapi Nek...." Nek Mirah tetap berjalan bergegas meninggalkan Bambang yang berdiri di depan pintu rumah kediaman Lala. Nek Mirah segera menghampiri motor matik berwarna hijau milik Bambang yang sudah terparkir di depan rumah kediaman keluarga Lala. Bambang pun dengan lesu berjalan sambil menoleh ke dalam rumah kediaman keluarga Lala, dan melihat Lala yang duduk di dalam rumah sambil tersenyum puas menatap Bambang. Melihat Lala yang tersenyum ke arahnya itu pun, Bambang seketika menghentikan langkahnya lalu membalas senyum ke arah Lala. Bambang berpikir bahwa Lala senang karena telah bertemu dengannya, sedangkan sebenarnya Lala tersenyum puas karena telah berhasil mengerjai Bambang. "Mbang, cepetan..!" teriak Nek Mirah yang sudah berdiri di samping motor matik berwarna hijau milik Bambang. "Ya Nek...!" Bambang balas berteriak ke arah Neneknya kemudian menoleh kembali menatap dan sambil mendadahkan tangannya ke arah Lala yang masih duduk di dalam rumah. "Mbang...!" Nek Mirah kembali memanggil dengan berteriak ke arah Bambang. Bambang pun bergegas menghampiri Neneknya yang sudah menunggunya berdiri di samping Kuda Hijaunya. Sementara itu, Lala tampak geli karena melihat Bambang yang senyum sambil mendadah ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD