Bab 9

2260 Words
Dengan rasa kecewa, Bambang pun melangkah lesu masuk ke dalam rumah kediamannya karena telah gagal bertemu dengan Lala. Pak Satria pun heran melihat Bambang melangkah dengan wajah murung. "Mbang, dari mana?" tanya Pak Satria ayahnya Bambang setelah mendengar suara pintu yang di buka dan melihat Bambang yang masuk ke dalam rumah. "Habis ngantar Nenek ke rumah Pak Didin," jawab Bambang seketika duduk di atas sofa di ruang tamu sambil menatap televisi yang sejak tadi di tonton oleh ayahnya. "Ooh, ke rumah Pak Didin ya..." sahut Pak Satria. "Hhm.." ucap Bambang singkat kemudian tanpa basa-basi bergegas menuju tangga lalu menaikinya dan tiba di atas loteng. Kemudian Bambang pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Tadi itu nanggung banget..." gumam Bambang dalam hati, "Nenek sih buru-buru pulang," gumamnya lagi, "Eh, tapi enggak apa-apa deh, Lala kayaknya seneng banget melihat wajah aku yang tampan ini," gumam Bambang seketika rasa percaya dirinya mulai tumbuh setelah tadi melihat Lala yang melemparkan sebuah senyuman ke arahnya. Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Bambang kembali tersenyum sendiri karena kembali mengingat wajah Lala yang tersenyum ke arahnya. Bambang pun seketika beranjak duduk dari atas tempat tidur kemudian segera mengambil sebuah cermin yang tergeletak tertelungkup di samping tempat tidurnya. Bambang menatap wajahnya dari pantulan cermin di tangannya, "Kayaknya ketampananku masih belum cukup untuk menaklukan hati Lala," gumam Bambang dalam hati, "Gimana lagi ya caranya supaya memancing Lala buat berkata jujur kalau dia suka sama aku," gumamnya lagi dengan percaya diri bahwa Lala menaruh rasa kepadanya. "Mbang... Bambang..." Tiba-tiba Pak Satria memangil Bambang yang terdengar dari bawah loteng di mana Bambang berada. Sontak Bambang pun menjadi geram karena ayahnya itu mengganggu waktunya memikirkan Lala. "Aduuh, Ayah ganggu aja," gerutu Bambang lirih kesal sambil dengan cepat menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Sambil tersenyum sendirian, Bambang pun kembali mengingat dan membayangkan wajah Lala yang tersenyum menatap ke arahnya. "Mbang..." Pak Satria kembali memanggil anaknya yang berada di atas loteng itu. "Aduuh, Ayah ini ganggu aja," gerutu Bambang lagi dan tetap tidak menghiraukan panggilan ayahnya itu kemudian sambil tersenyum sendirian lagi, Bambang pun kembali mengingat dan membayangkan wajah Lala yang tersenyum. Sementara itu dari bawah loteng tempat Bambang berada, Pak Satria penasaran kenapa sejak tadi Bambang tidak menyahut panggilan darinya. "Lagi tidur kali ya...?" gumam Pak Satria menerka dan mengira anak laki-lakinya itu sudah tertidur pulas. Pak Satria memiliki sebuah gerai yang bergerak di bidang jasa, yaitu sebagai tukang service jam. Beliau sangat tersohor di kalangan tukang service jam lainnya yang juga memiliki gerai di pasar. Setelah beberapa kali memanggil Bambang, kemudian Pak Satria pun membuka sebuah bungkusan berisi martabak yang telah di belinya sepulang dari pasar di mana Pak Satria bekerja. Aroma sedap dari martabak itu pun tercium sampai ke hidung Bambang. "Hhhmmmm, aroma enak apa ini?" gumam Bambang dalam hati setelah merasakan aroma sedap masuk ke dalam rongga hidungnya sehingga sementara membuatnya lupa akan senyuman dari Lala. Ketika Bambang menikmati aroma yang di ciumnya itu, samar-samar terdengar dari bawah lotengnya suara piring yang dengan pelan bersenggolan, "Kayaknya ayah lagi makan," pikir Bambang, "Eh, apa mungkin aroma sedap ini datang dari bawah?" sentaknya bergumam dalam hati seketika. Dengan rasa penasaran, Bambang pun beranjak dari tempat tidur lalu dengan perlahan bergerak menuju tangga loteng dan perlahan lagi menuruni satu per satu anak tangga di lotengnya. Setelah menuruni anak tangga, benar saja bahwa Bambang melihat ayahnya yang sedang dengan nikmatnya menyantap martabak yang berada di dalam piring. "Wah, ayah makan martabak nggak ngajak-ngajak," gumam Bambang dalam hati sambil menyeret bola matanya tepat ke arah piring melihat di mana seiris martabak yang tersisa, "Sisa satu iris lagi," gumam Bambang lagi kemudian dengan perlahan berjalan lewat di depan ayahnya menuju ke dapur dan berharap ayahnya itu memanggilnya dan menawari padanya satu iris martabak yang tersisa. Namun sampai Bambang ke dapur, tak terdengar satu patah kata pun terdengar dari mulut Pak Satria ayahnya yang memanggil namanya. Hingga ketika Bambang kembali berjalan dari dapur kembali menuju tangga dan dengan perlahan lewat lagi di depan ayahnya itu, beliau juga tak kunjung menawarkan satu iris martabak yang tersisa itu, malah Pak Satria melahap habis satu iris martabak yang tersisa itu. Melihat itu, Bambang pun dengan kesal kembali melangkah menaiki tangga langsung menuju ke loteng lalu segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Enak banget makan martabak nggak nawarin ke aku," gerutu Bambang, "Awas aja nanti kalau aku udah gajihan," gerutu Bambang lagi sambil mendengkus kesal. "Mbang... Mbang..." Pak Satria kembali memanggil dari bawah loteng. "Hhmm.." sahut Bambang dari atas loteng kemudian mendeham. "Kalau kamu mau makan, kamu goreng telur aja, tuh telurnya ayah taroh di dalam kulkas," ucap Pak Satria memberitahu kepada Bambang. "Hhmm..." sahut Bambang kembali mendeham dari atas loteng. Dari atas loteng di mana Bambang berada, ia mendengar suara pintu depan yang di buka yang tak lama kemudian terdengar bunyi mesin motor yang baru di hidupkan. "Ayah mau kemana?" gumam Bambang dalam hati setelah mendengar dan sangat mengenal bunyi khas dari mesin motor milik ayahnya itu. Tak lama kemudian bunyi mesin motor yang merupakan milik Pak Satria itu pun perlahan terdengar sedang menjauh, tanda bahwa ayahnya sudah berangkat entah kemana. Kemudian Bambang pun segera beranjak dari tempat tidurnya lalu bergegas turun dan langsung menuju ke dapur. "Mending makan dulu..." ucap Bambang lirih kemudian membuka lemari es dan melihat terdapat tiga biji telur di dalam lemari es itu, "Ambil dua biji ah.." gumam Bambang lirih sambil mengambil dua biji telur dari dalam lemari es dengan kedua tangannya lalu menutup pintu lemari es itu dengan menggunakan ujung tumit kaki kirinya. Bambang membuka lemari rak piring lalu mengambil sebuah mangkuk kosong beserta sebilah sendok dengan berniat untuk mendadar satu biji telur dan satu biji telur lagi di masaknya jadi telur mata sapi. Setelah Bambang memecahkan cangkang telur dan menuangkannya ke dalam mangkuk lalu langsung mengaduknya dengan sendok, kemudian Bambang mencari ke rak di dapur di mana ia biasa menemukan bumbu berupa garam dan lainnya di sana. Namun, setelah Bambang menyisir matanya di sepanjang rak, ia tidak menemukan sebuah toples yang biasa di gunakan untuk menyimpan garam. "Lah, garamnya mana!" gerutu Bambang kesal karena tak kunjung menemukan toples garam di rak dapur, "Mana telurnya udah di aduk.." gerutu Bambang lagi, "Ya udah nggak usah pakai garam deh," ucap Bambang lirih sambil mendegus kesal lalu kembali mengaduk rata telur di dalam mangkuk yang di pegangnya. Kemudian Bambang mengambil dan meletakkan sebuah wajan berukuran sedang tepat di atas kompor. Selanjutnya Bambang pun meletakkan mangkuk berisi telur yang sudah di aduknya tepat di samping kompor, kemudian kembali menoleh ke arah rak dapur dan mencari botol yang biasa berisi minyak goreng. Namun, setelah kembali menyeret bola matanya di sepanjang rak, lagi-lagi Bambang juga tidak menemukan botol berisi minyak goreng. "Lah, terus aku masak telurnya pakai apa?" gumam Bambang dalam hati kemudian mendengus kesal sambil dengan cepat menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, "Ya udah, nggak usah pake minyak goreng deh," ucap Bambang lirih kemudian menghidupkan api kompor lalu perlahan mengecilkan api kompornya. Setelah wajan di atas kompor di kira sudah cukup panas, Bambang pun kemudian mengguyur telur yang telah di aduknya tadi dari mangkuk tepat di atas wajan. Dengan sangat sulit Bambang berusaha membalik telur yang di dadarnya hingga bagian sisi bawah telurnya menjadi gosong. "Aduuh, susah amat sih...!" gerutu Bambang masih dengan susah payah membalik telur dadarnya, "Nah, gosong kan.." ucapnya kesal ketika melihat bagian gosong setelah berhasil membalik telur dadarnya. Kemudian Bambang dengan segera mengangkat telur dadarnya dan meletakkannya di atas piring kosong. "Ya udah, enggak apa-apa deh biar gosong yang penting masih bisa di makan," ucap Bambang lirih mencoba menghibur dirinya sendiri. Kemudian, Bambang memecahkan satu biji telur yang tersisa dan menuangkannya langsung ke dalam wajan. Dengan perlahan dan hati-hati Bambang membalik telur ceploknya itu, namun karena tidak menggunakan minyak goreng Bambang tetap sulit untuk membaliknya sehingga bagian bawah telur ceploknya juga ikut menjadi gosong sama seperti telur dadar yang pertama tadi di masaknya. "Hedeeeuuuh... Gara-gara enggak ada minyak goreng nih, jadi ikut gosong juga kan!" gerutu Bambang kesal sambil membangkit telur ceploknya dan meletakkannya di dalam piring tepat menindih telur dadar yang lebih dahulu di masaknya tadi. Kemudian Bambang mengambil satu piring lagi dari dalam lemari rak piring, lalu mengaut nasi dari dalam alat pemanas nasi dan meletakkannya di dalam piring tadi. Tampak tumpukan nasi yang di kaut Bambang yang berbentuk menyerupai anak gunung krakatau. Lalu Bambang membawa dua piring menuju tangga dengan masing masing piring berisi telur dadar yang gosong dan telur ceplok yang juga gosong, dan satu piring lagi berisi nasi yang bentuknya menyerupai anak gunung krakatau. Namun ketika Bambang hendak melangkah menaiki tangga, Pak Satria pun masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu. Tampak Pak Satria yang sedang menjinjing dua buah kantong kresek berukuran sedang pada masing masing tangannya. "Mbang, kamu udah masak telurnya?" tanya Pak Satria seketika menghampiri Bambang yang berdiri di depan tangga. "Iya udah.." jawab Bambang sambil menatingkan dua piring di kedua tangannya. "Loh, jadi kamu masaknya enggak pakai minyak goreng?" tanya Pak Satria lagi, "Ini ayah baru beli minyak goreng sama garam, soalnya ayah lupa kalau tadi itu minyak goreng sama garamnya habis, makanya ayah buru-buru beli," sambung Pak Satria memberitahu, "Eh, tau-taunya kamu udah masak telur duluan," sambung Pak Satria lagi kemudian langsung membawa dua kantong kresek berukuran sedang di tangannya itu menuju dapur. Bambang pun seketika meraut wajahnya menjadi merangut setelah melihat ayahnya yang baru saja membelikan minyak goreng dan garam. Kemudian Bambang dengan kesal melangkah menaiki anak tangga langsung menuju ke loteng. "Eerrggghh..." Bambang tampak kesal setelah tiba dan duduk bersila di lotengnya lalu meletakkan dua piring yang di bawanya tadi tepat di hadapanya, "Kenapa enggak dari tadi bilangnya!" gerutu Bambang geram, "Tau gitu, nanti aja aku masak telurnya," gerutu Bambang lagi kemudian mendengkus kesal, "Aduuuh.." ucap Bambang lirih kemudian sambil dengan cepat menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya, "Lupa bawa sendok lagi.." lanjutnya kemudian beranjak dan segera kembali turun ke bawah untuk mengambil sebilah sendok di dapur. Bambang pun bergegas turun dari loteng melalui tangga kemudian berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil sendok yang lupa di bawanya. Lalu segera kembali ke loteng dengan membawa sebilah sendok dan segera duduk bersila dan menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. "Biarin gosong, lepek, hambar..." gumam Bambang dalam hati sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya sampai lanik, "Yang penting kenyang..." gumamnya lagi kemudian menelan makanan yang di dalam mulutnya itu. Setelah menyantap habis makanan di hadapannya, Bambang pun tersadar ketika hendak minum, namun ia lupa membawa botol air dari dalam lemari es, sehingga membuat Bambang terceguk karena belum minum setelah selesai makan. Kemudian Bambang pun bergegas kembali turun dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil sebotol air es dari dalam lemari es di dapur lalu langsung meneguk air es itu. "Aaahhh... Sedapnya...." ucap Bambang lirih sambil pelan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan setelah meneguk air es dari dalam botol yang di pegangnya. "Bambang...!" bentak Pak Satria ayahnya Bambang seketika membuat Bambang terkejut. "Hah... A-apa, Yah?" tanya Bambang seketika tampak gugup karena terkejut mendengar bentakan ayahnya. "Kalau minum itu pakai gelas, jangan langsung dari botol...!" bentak Pak Satria kesal setelah melihat Bambang yang meneguk air langsung dari botol tanpa menuangkannya ke dalam gelas, "Kalau gini, semua botol bekas mulut kamu doang!" bentak Pak Satria lagi kemudian berjalan menuju ke depan tepat ke ruang tamu menjauh dari Bambang yang seketika berdiri kaku terdiam tepat di depan lemari es. Setelah Pak Satria menjauh, Bambang pun dengan cepat menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sembari lirih berkata, "Serba salah...." Kemudian Bambang dengan langkah pelan dan menjinjit mencoba menengok ke depan tepat ke ruang tamu, memastikan apakah ayahnya berada di sana. "Ayah mana?" gumam Bambang dalam hati setelah memperhatikan seluruh sudut di ruang tamu dan tak melihat batang hidung ayahnya di sana. Bambang pun bergegas menuju ke tangga untuk segera naik ke loteng setelah tahu bahwa Pak Satria ayahnya itu tidak ada di ruang tamu. Setelah Bambang berhasil tiba di loteng tanpa bertemu dengan Pak Satria yaitu ayahnya sendiri, Bambang pun dengan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian melanjutkan khayalannya mengingat wajah Lala yang melempar senyum kepadanya sore tadi. Bambang kembali tersenyum sendirian setelah berhasil memunculkan wajah Lala dalam pandangannya. "Lala... Lala... Kamu itu adalah calon permaisuri aku..." ucap Bambang lirih sambil tersenyum sendiran menatap langit langit loteng di mana dia berada dan berkhayal bawah wajah Lala tergambar jelas pada langit langit loteng yang di tatapnya. Kemudian Bambang pun memejamkan kedua matanya sambil tetap tersenyum sendirian. Dalam lamunannya, Bambang kembali berkhayal menjadi seorang pangeran yang tampan dan menjadi satu-satunya idola bagi seluruh rakyatnya. Ia berjalan dengan pose yang di pikirnya sangat menawan melintasi karpet merah yang berada di bawah kakinya dan membentang ke sepanjang jalan sejauh mata memandang. "Bambang, Lu ngigo ya?" tanya Owel tiba-tiba berdiri di depan loteng di mana Bambang berada. Sontak Bambang pun seketika beranjak duduk dan menoleh ke arah Owel yang menatap heran ke arahnya, "Eh, Wel..." sahut Bambang sambil dengan gugup mengangguk. "Lu di panggil ke rumah noh sama Nenek," ucap Owel memberitahu kemudian segera turun dari loteng di mana Bambang berada. Kemudian Owel pun kembali menuju ke kediamannya yang berada tepat berseberangan dengan rumah kediaman Bambang dan Pak Satria. "Hah, ada apa ya Nenek manggil aku?" gumam Bambang bertanya dalam hati dengan di barengi rasa penasaran, "Apa mungkin Nenek mau nemuin aku sama Lala lagi ya?" gumam Bambang lagi dalam hati sambil tersenyum sendiri, "Aku samperin sekarang ah, mungkin Lala juga ada di sana," ucap Bambang lirih kemudian beranjak dari tempat tidur dan langsung turun dari loteng, "Kan kasian kalau Lala kelamaan nunggu aku, nanti dia jadi sedih," ucap Bambang lagi dengan lirih kemudian mempercepat langkahnya menyeberang jalan setelah keluar dari rumah kediamannya dan bergegas menuju ke rumah kediaman Neneknya yaitu Nek Mirah di seberang rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD