Setelah hampir sampai di rumah kediaman Nek Mirah, Bambang pun seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan bergegas kembali ke kediamanya langsung menuju ke loteng.
Setibanya Bambang di loteng, ia dengan tergesa-gesa mengenakan bedak bayi yang berlebihan di wajahnya lalu menyemprotkan pengharum pakaian ke bajunya, berharap wajahnya akan terlihat lebih mempesona setelah memakai bedak bayi itu di wajahnya dan pengharum pakaian yang dia pakai akan membuat Lala tidak mampu berpaling lagi dari pandangan matanya.
"Nah udah ganteng aku, sama udah wangi juga... Hmm..." gumam Bambang sambil menghirup aroma wangi dari tubuhnya yang tidak lain berasal dari pengharum pakaian yang sudah di semprotkannya pada bajunya.
Bambang juga tidak lupa menyisir rambutnya dan membuatnya agar terlihat lebih lurus dengan menggunakan sedikit minyak rambut.
Setelah selesai dengan ritualnya kemudian Bambang pun turun ke bawah loteng dan langsung menuju ke seberang rumahnya untuk memasuki rumah Neneknya. Ketika di dalam rumah Neneknya, bola mata Bambang di putarnya ke sana ke mari untuk mencari sang pujaan hatinya yaitu Lala. Namun, ternyata Lala tidak ada di sana, yang ada hanya lah para sepupu laki-lakinya yang berkumpul di sana. Salah satunya bernama Andi yang datang membawa gorengan dengan kantong yang besar sehingga membuat Bambang ingin menitikkan air liurnya setelah melihat tumpukan gorengan yang di taruh oleh Bibiknya yaitu Bik Mumun ke dalam empat piring berukuran besar.
"Wah, ada gorengan, aku jadi lapar lagi," gumam Bambang lirih di depan pintu rumah Neneknya itu, "Tapi, di mana Lala?" tanyanya dalam hati kepada dirinya sendiri sambil matanya terus memutar mencari keberadaan Lala, namun tetap hanya melihat sepupu-sepupunya yang ada di sana.
Bambang melangkah memasuki rumah Neneknya dan langsung duduk di sebelah Neneknya, kemudian bertanya kepada Neneknya tentang di mana keberadaan Lala.
"Nek, Lala di mana?" tanya Bambang kepada Nek Mirah.
Nenek Mirah berpaling menatap Bambang yang berada di samping kirinya itu kemudian menjawab pertanyaan Bambang dengan segera.
"Lala di rumahnya, emang kenapa?" sahut Nek Mirah balik bertanya kepada Bambang.
"Jadi, Lala nggak ada di sini Nek?" tanya Bambang lagi dengan rasa kecewa.
"Ya nggak ada, masak Lala di sini, Lala di rumahnya, Mbang," jawab Nek Mirah dengan nada kesal karena pertanyaan dari Bambang baginya membuat dirinya bingung.
"Kirain di sini ada Lala, percuma kan aku dandan tampan-tampan begini kalau Lala juga nggak ada," gerutunya kesal.
Owel melihat wajah Bambang dengan seksama, di perhatikannya terus menerus lalu dia tertawa terbahak-bahak.
"Lu pake bedak ya Mbang?" tanya Owel yang tidak mampu lagi menahan tawanya.
Bambang menatap cemberut ke arah Owel kemudian menggerutu tidak karuan.
"Anak laki-laki kok pakai bedak," ledek Owel lagi dan terus tertawa terbahak-bahak sehingga semua sepupu laki-lakinya yang juga ada di sana yang juga adalah sepupu Bambang ikut menoleh ke arahnya. Salah satunya Bahkan ada yang datang menghampirinya.
Sepupu Bambang yang bernama Rudi datang menghampiri Bambang dan juga Owel, dan Owel terus saja menertawakan tingkah laku Bambang yang mengenakan bedak bayi di wajahnya.
Rudi adalah salah satu sepupu Bambang yang memiliki paras tampan bak laki-laki idaman. Cara berpakaiannya pun juga sangat menarik sehingga banyak perempuan yang mendekatinya. Cara berpakaian Rudi kerap sekali di tiru oleh Bambang tapi, tidak pernah cocok dengan Bambang yang tidak memiliki postur badan yang tidak sama seperti Rudi.
Rudi juga seorang pemusik yang lumayan terkenal di kota kediamannya itu dan ketika menyanyi suaranya juga sangat merdu. Bambang juga sangat ingin menjadi Rudi dan kerap berkhayal bahwa dirinya seperti Rudi sepupunya itu.
"Hai Wel," sapa Rudi ketika datang menghampiri Owel yang dari tadi sibuk menertawakan Bambang, "Eh, Bambang, gimana kabar Lu, Mbang?" tanya Rudi kepada Bambang yang masih mematung berdiri di sebelah Owel dengan cemberut.
"Hmm, baik," jawab Bambang singkat dengan wajah datar.
"Kok Lu wangi banget, Mbang?" tanya Rudi, "Pasti waktu nyuci baju banyak banget ya ngasih pewangi?" tanya Rudi lagi yang mencium aroma wangi dari pewangi cucian yang Bambang semprotkan di bajunya.
Bambang pun mengangguk dan tersenyum senang karena Rudi mengatakan bahwa dirinya wangi yang padahal mengira bahwa baju Bambang di rendam dengan pewangi cucian yang berlebihan.
Bambang menatapi wajah Rudi dan cara berpakaiannya dengan gaya yang baru, dia lihat dari atas hingga ke bawah. Namun, dia tidak berani memandangi Rudi secara langsung hanya sekedar curi-curi pandang saja. Jika Rudi berpaling ke arahnya Bambang buru-buru menunduk dan pura-pura tidak memperhatikannya.
"Bajunya bagus, nanti aku beli yang kayak gitu juga ah entar pas gajihan," gumam Bambang lirih dan tidak terdengar oleh siapa pun setelah melihat pakaian yang di kenakan oleh Rudi.
Di tengah kerumunan para sepupunya, Bambang pun mencoba menyendiri karena sulitnya untuk bergaul bersama semua sepupunya itu. Ketika Bambang duduk di atas kursi sendirian di teras rumah Neneknya, dia pun berkhayal memakai baju yang sama seperti Rudi, di dalam khayalannya seluruh perempuan yang ada di kotanya itu sangat mengaguminya dan jatuh cinta kepadanya sehingga dia jadi senyum-senyum sendiri.
Tingkahnya itu ternyata di lihat oleh sepupunya yang bernama Andi dan merasa aneh ketika melihat kelakuan Bambang yang bicara sendiri sambil senyum-senyum sendirian.
Andi berjalan mendekati Bambang dan memastikan bahwa yang di lihatnya adalah memang benar bahwa Bambang yang sedang berbicara sendiri. Andi pun duduk di sebelah Bambang dan ternyata Bambang tidak juga menghiraukannya malah semakin larut dalam khayalannya.
"Mbang," panggil Andi mencoba menyadarkan Bambang sambil mendadahkan tangannya di depan wajah Bambang. Namun, Bambang tak kunjung sadar juga.
Andi menepuk-nepuk bahu Bambang, tapi Bambang tetap tidak sadar dan masih saja senyum-senyum sendiri.
"Kesurupan kali ini anak, hiii," kata Andi bergidik seram kemudian kembali ke dalam untuk bertanya kepada Bibiknya tentang keadaan Bambang.
Andi berjalan cepat ke dalam rumah Neneknya untuk memanggil Bibiknya dan memberitahu bahwa dia menghampiri Bambang dan dari tadi Bambang tidak menyahut sewaktu dia panggil dan hanya senyum-senyum sendiri.
Bik Mumun pun mendatangi Bambang yang sedang duduk di pelataran bersama Andi dan ternyata memang benar Bambang masih senyum-senyum sendiri.
Bik Mumun pun mencoba memanggil, namun setelah di panggil, Bambang tetap tidak menyahut.
"Kesurupan kali ya?" tanya Bik Mumun kepada Andi dan Andi pun lalu mengangguk cepat memastikan perkataan Bibiknya itu.
"Sebentar," kata Bik Mumun seraya kedalam rumah lalu kembali lagi keluar sambil membawa segayung air kemudian mengguyurkannya ke wajah Bambang.
Bambang seketika tersadar dari khayalannya dan langsung berdiri terkejut mendapat guyuran air dari Bik Mumun. Bambang langsung memasang wajah marahnya kepada Bik Mumun lalu berpaling kepada Andi yang juga ada di sana.
"Sukanya ganggu aja," gerutu Bambang kesal.
"Kamu kenapa Mbang, di panggil nggak nyahut?" tanya Bik Mumun.
Bambang hanya menatapnya kesal tanpa menyahut. Bambang kembali duduk di pelataran. Bik Mumun kembali ke dalam rumah setelah Bambang sadar dan kembali duduk sambil cemberut.
Andi duduk di sebelah Bambang untuk menemaninya. Namun, Bambang malah merasa risih karena tidak suka dengan keberadaan Andi yang baginya mengganggu dirinya saja.
"Lu baik-baik aja kan Mbang?" tanya Andi.
"Hmm," jawab Bambang dengan wajah datar sambil mengangguk.
"Lu kerja di mana sekarang Mbang?" tanya Andi lagi.
"Kerja di kota ini," jawab Bambang.
Andi bingung dengan jawaban dari Bambang yang kedengaran tidak nyambung dari yang dia tanyakan.
"Maksudnya, tempat kerja Lu di mana?" tanya Andi lagi memastikan bahwa kali ini Bambang akan menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Iya kerja di kota ini juga," jawab Bambang marah.
Andi menatap Bambang dengan heran kemudian masuk ke dalam rumah Neneknya lagi dan membaur dengan sepupu-sepupunya yang lain meninggalkan Bambang sendirian duduk di pelataran.
"Ganggu orang aja," gerutu Bambang kesal setelah perlahan menoleh ke dalam dan melihat Andi yang duduk di dalam rumah kediaman Neneknya.
Bambang masuk ke dalam rumah mendatangi Neneknya lalu mengambil gorengan yang ada di dalam piring tepat di hadapan Neneknya, kemudian melahapnya langsung satu biji penuh di dalam mulutnya.
Bambang terus melahap gorengan yang ada di hadapan Neneknya itu sampai habis satu piring sendiran. Nenek Mirah dan para sepupunya pun memperhatikan Bambang yang melahap hampir semua gorengan yang ada di dalam piring itu tanpa menghiraukan yang lain.
"Kamu lapar ya Mbang?" tanya Nek Mirah menatap miring ke arah cucunya itu yaitu Bambang.
"Hmm," sahut Bambang menganguk sambil terus melahap gorengan yang kini piring di depan Neneknya tadi sudah dia pindah ke hadapannya.
Semua sepupunya melongo ke arah Bambang, tapi Bambang tetap tidak memperdulikan semua sepupunya itu, dia sangat kesal karena telah di panggil ke rumah Neneknya hanya untuk berkumpul dengan para sepupunya itu dan tidak adanya Lala di sana membuatnya bertambah kesal.
Setelah kekenyangan melahap satu piring besar penuh gorengan yang ada di hadapannya, Bambang pun pulang ke rumahnya tanpa berpamitan dengan Nenek dan juga para sepupunya itu. Dengan tergesa-gesa dia pun menyeberang ke rumahnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Namun, sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, Bambang terjatuh di depan pintu masuk dan terserudup ke bawah karena terlalu cepat mengayunkan kaki.
"Aduh!" jerit Bambang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, "Kok bisa jatuh ya, apa pintunya pindah?" tanya Bambang kepada dirinya sendiri.
Bambang meraba-raba pintu yang ada di depannya lalu mencoba bangun dan berdiri, tapi agi-lagi dia terjatuh karena kakinya terasa lemah tidak berdaya.
"Aduh!" teriak Bambang kembali dan kali ini sambil memukul-mukul bagian kakinya yang terasa lemah.
"Kamu kenapa Mbang?" tanya Pak Satria yang sudah ada di hadapan Bambang.
Bambang hanya menatap Ayahnya sebentar kemudian berusaha untuk bangun dengan berpegangan pada dinding di sebelah pintu rumahnya.
Sebenarnya Bambang terjatuh karena rasa kantuk yang berlebihan akibat kekenyangan setelah melahap gorengan di rumah Neneknya satu piring besar tanpa sisa, dan juga sehabis menyantap satu piring penuh nasi seperti anak gunung krakatau dan dua biji telur tadi di rumahnya, sehingga mengakibatkan dirinya kekenyangan dan menjadi mengantuk sambil berjalan sempoyongan. Di tambah lagi dia berjalan dengan cepat membuat kakinya tidak mampu lagi menahan tubuhnya.
Bambang memasuki rumah dan berjalan sempoyongan sambil sesekali menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia pun menaiki anak tangga menuju lotengnya untuk segera beristirahat. Matanya yang sudah sangat rait tidak mampu lagi menahan rasa kantuk.
Setelah sampai di atas lotengnya, Bambang segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan kemudian dia kembali larut dalam khayalannya bersama Lala sambil mengingat kembali senyuman yang di lontarkan oleh lala kepadanya, sampai dia benar-benar tertidur dengan pulas.