Waktu pada jam dinding di dalam rumah kediaman Bambang dan Pak Satria sudah menunjukan pukul delapan pagi. Hari baru selanjutnya Bambang pun tiba.
Bambang cepat-cepat bangun dari tidurnya yang sebenarnya dia merasa masih sangat mengantuk. Dengan cepat dia turun ke bawah untuk membersihkan badannya lalu mandi tanpa harus membersihkan kasurnya lebih dulu. Tempat tidurnya itu selalu di biarkan Bambang berhamburan tanpa pernah dia bereskan.
"Duh, bisa telat nih udah jam delapan juga, kok kayaknya waktunya jadi berubah cepat gini ya," pikir Bambang.
Bambang menuju dapur dengan setengah berlari. Ketika sampai di dapur Bambang langsung mengurungkan niatnya untuk mandi karena melihat pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam dan sudah jelas Pak Satria sedang memakai kamar mandi itu.
"Huh, nggak jadi mandi deh," gerutu Bambang kesal, "Cuci muka aja deh cuci simpel..." kata Bambang lirih sambil mengambil air yang berada di dalam sebuah botol yang tersusun rapi di dalam lemari es, lalu membawanya ke depan rumah sambil menggerutu tidak jelas karena kesal tidak bisa mandi, "Gara-gara ayah, aku jadi enggak mandi, huh..!" gerutu Bambang sambil mendengus kesal dan kemudian membasuh wajahnya dengan air dari dalam botol yang di bawanya tadi, "Uuhh segeeerrrr..." gumam Bambang dalam hati merasakan sejuknya wajahnya yang telah di guyur air es dari dalam botol.
Kemudian Bambang kembali lagi menuju lotengnya untuk berganti baju dan mengenakan seragam khas karyawan losmen di tempat dia bekerja.
Bambang menatap wajahnya yang terpantul dari cermin di tangannya, kemudian di ambilnya botol minyak rambut dan membukanya. Dia menggosok-gosok minyak rambut yang tadi di coleknya meratakan ke seluruh telapak tangannya, kemudian di usapkannya ke atas kepala sambil menata rambutnya.
Dengan posenya yang unik sambil menatap cermin, Bambang menata rambutnya sedemikian rupa dengan yakin kalau menurutnya model rambutnya itu sangatlah keren, itu menurutnya.
Dengan yakin dan merasa gagah, Bambang melangkah turun ke bawah lalu langsung ke luar rumah dan menghampiri motor matiknya yang kerap dia panggil Si Kuda Hijau itu.
Tampak Owel yang sedang memperbaiki motornya tepat di seberang rumah kediaman Bambang.
"Widiiiih.." goda Owel yang terkejut melihat gaya model rambut yang baru di miliki Bambang, "Rambut baru nih... Ada jambulnya juga," goda Owel lagi sambil memerhatikan rambut Bambang yang tegak lurus ke atas mirip seperti jambul ayam jago.
Mendengar perkataan dari Owel, malah membuat Bambang semakin percaya diri dengan model rambut barunya itu.
Bambang dengan raut wajah yang tersenyum yakin melangkah dan menghampiri motor matik yang dia namai Kuda Hijau itu. Kemudian menghidupkan mesin motor matiknya dan segera pergi menuju ke losmen tempat dia bekerja.
Owel tidak sanggup lagi menahan tawanya karena model rambut Bambang yang lucu sehingga tawanya pun pecah setelah Bambang menjauh darinya.
"Pasti dia pikir dia udah ganteng tuh," kata Owel sambil terus tertawa terbahak-bahak.
Owel melanjutkan kembali pekerjaan yang tadi tertunda karena Bambang dan gaya rambutnya yang sangat unik sambil sesekali gelak tertawa mengingat Bambang dan gaya rambutnya.
Sedangkan Bambang yang sedang menuju losmen tempat dia bekerja belum juga sampai kesana. Di sepanjang perjalanan Bambang terus memperhatikan wajahnya dengan kaca spion yang ada pada motor maticnya. Dia merasa bahwa dengan gaya rambut barunya itu dirinya menjadi bertambah tampan.
Di tengah perjalanan menuju losmen, Bambang terhenti ketika melihat ada sebuah acara pernikahan dengan panggung yang sangat besar dan banyak penyanyi dalam kota di atasnya sedang asik bernyanyi dan sesekali bergoyang dengan asiknya. Maklum lah saat itu memang bertepatan dengan hari minggu di mana hari libur yang seharusnya di dapat oleh Bambang agar bisa jalan-jalan sekaligus liburan, tapi tidak dengan tempat bekerja Bambang, di losmen tidak ada yang namanya hari libur. Setiap hari selalu penuh dengan tamu yang datang silih berganti, boro-boro untuk libur pada hari minggu yang ada malah gajihnya di potong dua kali lipat dari pada hari biasa kalau dia berani libur.
"Wah cantik banget," ucap Bambang dengan takjub ketika melihat seorang penyanyi wanita yang sangat cantik, kulitnya putih mulus dan rambutnya juga terurai lurus nan panjang yang sedang bernyanyi di atas panggung memeriahkan acara resepsi pernikahan.
Bambang memarkirkan motor matik hijaunya di parkiran pada acara pernikahan itu. Dia pun berjalan memasuki acara resepsi pernikahan itu meskipun sebenarnya dia tidak di undang.
"Kuda Hijau, kamu tunggu di sini dulu ya... Bentar aku mau ke sana dulu..." kata Bambang sambil mengusap-usap motor matiknya yang berwarna hijau itu kemudian meninggalkannya di parkiran.
Bambang semakin mendekat ke arah panggung lalu mengambil makanan untuk dia makan yang tersedia di meja besar pada acara resepsi pernikahan itu, kemudian dia duduk tepat di depan panggung untuk memandang lebih dekat para penyanyi yang ada di atas panggung.
"Jadi tambah betah aja aku di sini, penyanyinya cantik-cantik," ucap Bambang sembari berkhayal bernyanyi dan bergoyang bersama para artis lokal yang ada di atas panggung yang di lihatnya.
Bambang bertambah larut di dalam khayalannya bersama para penyanyi panggung yang cantik-cantik sambil sesekali menyuap makanan yang di depannya. Waktu terus berjalan hingga menunjukan pukul satu siang ketika saat itu Bambang tersadar dari lamunannya, dan mengingat kembali kemana sebenarnya tujuannya dan seharusnya sekarang dia berada di mana.
"Astaga!" sentak Bambang kaget kemudian berdiri dan menaruh kembali piring-piring kotor bekas makanannya yang berjumlah ada empat piring, "Aku sudah terlambat pergi ke losmen," kata Bambang lagi.
Bambang kemudian berlari keluar menjauhi kerumunan acara resepsi pernikahan dan menghampiri motor matiknya yang masih terparkir di parkiran, lalu segera menaiki dan menghidupkan mesinnya agar bisa segera berangkat ke tempat kerjanya yang berada tidak jauh dari tempat acara resepsi pernikahan.
Bambang pun melajukan motor matiknya dengan kecepatan tinggi berharap cepat sampai ke losmen tempat dia bekerja. Ketika sampai di parkiran losmen, dia pun segera memarkir motornya asal-asalan sehingga di tegur oleh penjaga parkiran.
"Mbang, kalau parkir motor jangan sembarangan dong, kan susah benerinnya," kata Pak Udin kesal.
"Nggak apa-apa Pak, sekali-sekali," sahut Bambang tidak jelas sehingga membuat Pak Udin pun bingung dengan perkataannya.
Bambang berlari memasuki losmen, tapi ketika masuk Bambang bertemu dengan Pak Rondo yang mencegatnya di tengah jalan, Bambang pun langsung menghentikan langkahnya dan menunduk gemetaran.
"Bambang, kamu dari mana saja?" tanya Pak Rondo tegas.
Bambang hanya menunduk diam tidak bersuara sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan dari Pak Rondo.
"Kamu tahu ini sudah jam berapa?" tanya Pak Rondo kembali sambil menunjuk-nunjuk ke arah jam dinding yang terpajang pada dinding atas tepat di seberang Bambang berdiri.
Bambang pun menatap jam dinding itu dengan datar kemudian memandang lurus ke depan diam tanpa ekspresi.
"Kamu mau masuk kerja apa tidak hari ini?!" bentak Pak Rondo dengan penuh amarah.
"Ma-mau," jawab Bambang gugup seraya mengangguk.
"Lalu kenapa kamu masuk tengah hari begini!" bentak Pak Rondo kembali.
Bambang tersentak kaget lalu menunduk dan diam seribu bahasa.
"Sebenarnya apa mau kamu sih?!" teriak Pak Rondo kesal membuat semua orang yang ada di losmen memandang heran ke arahnya Bambang, "Gajih kamu saya potong hari ini," kata Pak Rondo kemudian berlalu dari hadapan Bambang.
Bambang menatap Pak Rondo merangut dan tangannya menggenggam seolah ingin menerkam ke arah Pak Rondo tapi dia tidak berani, kemudian Bambang hanya menggerutu kesal sambil mengkhayal memaki-maki Pak Rondo tidak jelas seperti biasanya.
"Huh, dasar botak!" ucap Bambang sambil mendengus kesal ke arah Pak Rondo setelah di lihatnya Pak Rondo sudah lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
Bambang langsung menuju ke dapur untuk mengambil peralatan kerjanya kemudian dia melihat jadwalnya untuk hari ini yang tertempel di depan pintu ruangan manager.
"Kamar nomor tiga puluh satu, tiga puluh dua, dan tiga puluh tiga." Bambang meneguk liur, "Eh satu lagi, tiga pulun empat," lanjut Bambang sembari mengingat-ingat di dalam pikirannya, "Eh, untung aku nggak dapat jadwal bersihin kamar nomor tiga lima, hihi..." kata Bambang lagi sembari tertawa kecil dan menutup mulut dengan sebelah tangannya yang kiri.
Kemudian seperti biasa, Bambang pun kembali berjalan menelusuri lorong losmen menuju ke arah deretan kamar kosong yang hendak ia bersihkan.
"Kamar nomor berapa tadi ya?" gumam Bambang dalam hati setelah berhenti di depan salah satu kamar sambil mengerutkan kedua keningnya mengingat kembali urutan nomor-nomor kamar yang akan dia bersihkan, "Oh iya, kalau enggak salah kamar nomor dua puluh satu sampai kamar nomor dua puluh empat ya," pikir Bambang sambil mengangguk yakin kemudian lanjut berjalan menelusuri lorong losmen menuju ke kamar yang nomornya dia ingat.
Setelah beberapa langkah ia berjalan, Bambang pun berhenti di depan kamar yang pada kamar itu bertuliskan nomor dua puluh empat.
"Loh kok mulai nomor dua puluh empat?" gumam Bambang heran sambil menatap nomor yang tertulis pada pintu kamar di tempatnya berdiri, "Biasanya kan mulai kamar nomor dua puluh satu," pikirnya lagi sambil mengusap-usap kening sebelah kanannya dengan jari telunjuk, "Ah enggak penting, masuk aja deh dari pada enggak kelar kelar nih kerjaan...."
Kemudian Bambang pun mencoba membuka pintu kamar nomor dua puluh lima, "Loh, kok di kunci ya?" gumam Bambang heran mencoba membuka kamar, namun tidak karena terkunci, "Coba aku tanya Ifan ah, mungkin dia lupa ngebuka kuncinya," gumam Bambang lagi sambil mengangguk yakin.
Kemudian Bambang pun berjalan ke depan menghampiri Ifan yang masih berjaga di posnya yaitu berdiri di belakang meja resepsionis.
"Kerjaan lu udah selesai, Mbang?" tanya Ifan seketika setelah melihat Bambang yang menghampirinya dan berdiri di depan meja resepsionis.
"Belum," sahut Bambang sambil menggeleng.
"Terus, lu ngapain kemari?" tanya Ifan, "Entar kalo pak Rondo lihat, dia bisa marah lagi loh.." lanjut Ifan memperingatkan Bambang.
"Gimana aku mau kerja kalo pintu kamar yang mau aku bersihin itu masih ke kunci," sahut Bambang.
"Lah, rasanya gua udah ngebuka kunci pintunya kok," ucap Ifan heran, "Oh mungkin pintunya macet kali, Mbang..." sambung Ifan memberitahu, "Coba aja lu kencangin dorong pintunya, pasti kebuka dah tuh..." sambung Ifan lagi memberi usul.
Bambang pun mengangguk faham, kemudian kembali berjalan menelusuri lorong lalu langsung menuju ke kamar yang tadi dia datangi.
Setibanya di depan pintu kamar nomor dua puluh empat, Bambang pun mencoba membuka kembali pintu kamar itu, namun masih tetap terkunci.
"Tapi ini kayak di kunci ya," gumam Bambang penasaran setelah mencoba membuka pintu di hadapannya, "Ah, mungkin bener kata Ifan," gumam Bambang lagi sambil mengangguk yakin.
Bambang pun menyiapkan tenaganya untuk mendorong pintu di depannya itu dengan kencang. Namun, ketika Bambang sudah bersiap mendorong pintu itu, di saat yang bersamaan pintu itu tiba-tiba terbuka, sehingga membuat tubuh Bambang terseruduk tengkurap masuk ke dalam kamar itu.
"Aaaaaaaaa.....!!!" Seketika orang di dalam kamar itu berteriak melengking.
"Aduuh," jerit Bambang kemudian perlahan membangunkan tubuhnya lalu menoleh ke asal suara teriakan yang tadi di dengarnya, "Eh maaf Om..." ucap Bambang sambil menoleh ke arah orang yang berdiri di dekatnya dan belum menyadari bahwa orang itu adalah laki-laki siluman.
"Kok Om siih..." ucap orang itu dengan manja seketika membelai dagu Bambang.
Bambang pun menghindar menjauhkan wajahnya sedikit ke belakang, "Eh maksud saya Tante.." ucapnya lagi sambil tersenyum takut.
"Iiih, si babang kok ganteng banget sih.." ucap orang itu gemas sambil kembali membelai dagu Bambang.
Bambang pun sontak merasa geli dan menjauhkan kembali wajahnya dari belaian laki-laki siluman itu.
"Kabuuurr...!!!" teriak Bambang seketika keluar dan berlari menjauh dari kamar yang di masukinya tadi.
"Babang... Babang... Mau kemana?!!" teriak Laki-laki siluman itu berdiri di depan kamarnya sambil melihat Bambang yang berlari dengan sangat cepat menjauh darinya.
Kemudian Bambang pun segera kembali menuju ke depan losmen tepat di mana Ifan yang masih berjaga di posnya yakni sebagai seorang resepsionis.
"Lu kenapa lagi, Mbang?" tanya Ifan heran setelah melihat Bambang yang menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
"Kamu bilang kamar itu kosong, tapi kok masih ada orangnya.." sahut Bambang kesal sambil menarik nafasnya yang terengah-engah.
"Lah, bukannya daftar yang gua bikin itu udah bener..." sahut Ifan, "Nih coba lu liat..." Kemudian Ifan pun menunjukkan selembar kertas yang berisikan daftar kamar yang sudah di tinggal oleh cekout oleh pemesannya.
Bambang meraih selembar kertas yang di letakkan Ifan di atas meja kemudian menatap selembar kertas itu, "Aduuh..." ucap Bambang sentak menepuk dahinya, "Pantesan..." lanjut Bambang kemudian berjalan menjauh dari Ifan dan masuk ke dalam lorong losmen.
"Pantesan kenapa Mbang?" tanya Ifan heran sambil menatap Bambang yang berjalan menjauhinya.
"Salah kamar.." sahut Bambang kesal tanpa menoleh ke belakang menatap Ifan yang berbicara dengannya.
Ifan hanya bisa merasa heran sambil menggelengkan kepalanya ke arah Bambang tanpa bisa berkata apa-apa.
Sambil berjalan menelusuri lorong menuju ke kamar yang benar, yaitu ke kamar yang akan dia bersihkan, Bambang tampak kesal karena telah salah masuk kamar, "Eerrgggh..!" gerutu Bambang tidak jelas terdengar di sepanjang perjalanan dia menelusuri lorong losmen yang mengarah tepat ke kamar deretan nomor tiga puluh satu hingga kamar nomor tiga puluh empat.
Setelah selesai membereskan kamar mulai dari kamar nomor tiga puluh satu, Bambang pun sampai ke kamar terakhir yaitu kamar nomor tiga puluh empat.
Dengan langkahnya yang menjinjit dan hati-hati, Bambang memasuki kamar nomor tiga puluh empat itu berharap sosok hantu yang berada di kamar sebelah tepat di kamar tiga puluh lima tidak mengganggunya.
"Ah, sampai di sini kayaknya aman.." gumam Bambang dalam hati kemudian menghampiri tempat tidur di dalam kamar di mana Bambang berada.
Bambang merapikan sprei di atas tempat tidur itu, kemudian menyapu lantai dengan sapu yang di bawanya. Selanjutnya Bambang pun mengepel seluruh lantai di dalam kamar itu.
Sekiranya sudah bersih dan rapi, Bambang pun melangkah menuju pintu depan kamar. Namun, ketika melangkah, samar terdengar suara di telinga Bambang yang menurutnya berasal dari kamar sebelah tepat di kamar nomor tiga puluh lima.
"Loh kok, kayak ada orang?" gumam Bambang sambil mendekatkan telinga kanannya ke dinding yang menjadi halat antara kamar nomor tiga puluh empat di mana Bambang berada dengan kamar nomor tiga puluh lima yang berada di sebelahnya, "Iiihh..." Sontak Bambang pun merinding kemudian bergegas keluar dari kamar dan langsung menuju ke ruang tunggu karyawan untuk beristirahat.
Sementara itu, tampak Pak Rondo yang berdiri di depan pintu kamar nomor tiga puluh lima sambil menatap heran ke arah Bambang yang dengan langkah cepat menjauh setelah keluar dari kamar yang sudah dia bersihkan.
"Kenapa sih, tuh Bambang?" gumam Pak Rondo bertanya dalam hati sambil heran menatap Bambang yang tampak bergegas menjauh.
Kemudian tampak seorang laki-laki keluar dari kamar di depan Pak Rondo, "Kran air yang mampet sudah saya perbaiki, Pak..." ucap Laki-laki itu.
"Iya terima kasih," sahut Pak Rondo.
Kemudian seorang laki-laki yang telah memperbaiki kran air yang mampet dari dalam kamar nomor tiga puluh lima itu pun berjalan menjauh dan meninggalkan Pak Rondo sendirian di depan kamar dengan wajahnya yang masih heran setelah melihat tingkah Bambang.
"Kenapa lagi tuh si Bambang," gumam Pak Rondo heran.
Pak Rondo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus melihat Bambang dari kejauhan yang masih kelihatan gelisah dan ketakutan.