Sore hari tiba dan waktunya Bambang untuk pulang setelah dengan susah payah Bambang menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu setengah hari. Bambang pun terduduk lemas di ruang tunggu karyawan karena kelelahan.
Joni datang dan duduk di sebelahnya sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil.
"Lu lembur Mbang?" Tanya Joni.
"Nggak," kata Bambang sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Oh, kirain lembur kan Lu tadi datangnya telat," sahut Joni sambil terkekeh.
"Nggak, kerjaan aku udah selesai jadi nggak di suruh lembur," kata Bambang dengan suaranya yang pelan.
"Emangnya Lu tadi ngapain sih kok sampai telat gitu datangnya?" Tanya Joni lagi dengan penuh rasa penasaran.
Bambang menatap Joni lama lalu, menjawab pertanyaan Joni setelah yakin bahwa Joni tidak akan menertawakannya.
"Aku tadi ke acara pernikahan dulu baru, baru kesini," jawab Bambang.
"Ooohh.. Sodara lu nikah ya?" sahut Joni kembali bertanya.
"Bukan..." Bambang menggeleng.
"Temen Lu?"
"Bukan..."
"Ooh tetangga Lu?"
"Bukan.."
"Terus siapa?" tanya Joni seketika heran dan mengerutkan keningnya.
"Aku nggak kenal," jawab Bambang.
"Ooh, temen bokap Lu.."
"Bukan..."
"Lah, terus siapa?" tanya Joni mulai kesal.
"Tadi pas di jalan, aku liat ada acara resepsi pernikahan," sahut Bambang, "Habis itu, aku samperin deh..." lanjutnya memberitahu.
"Haah....!" Joni seketika terkejut sambil membelalakkan kedua matanya kemudian menggeleng, "Wah parah lu, demi makan gratis lu rela telat kerja.." Joni kembali menggeleng, "Ya udah, gua pulang duluan deh.." Kemudian Joni pun menjauh dan meninggalkan Bambang untuk pulang lebih dahulu.
Bambang pun menyeret matanya mengikuti ke mana Joni melangkah, "Orang bukan gara-gara makan gratis, wee," gerutu Bambang lirih, "Tapi karena artisnya cantik, whuuuu...." Kemudian Bambang pun mengambil tasnya lalu segera pulang ke rumah.
Ketika di jalan pulang Bambang bertemu dengan sang pujaan hatinya yang tidak lain adalah Lala.
"Kayaknya itu Lala deh..." gumam Bambang dalam hati sambil menajamkan tatapannya ke arah Lala, "Aku samperin ah..."
Lala yang pada saat itu sedang berjalan kaki sambil membawa tas berukuran besar yang dia jinjing dengan kedua belah tangannya setelah pulang dari berjualan pakaian di pasar.
Setelah jarak Bambang tidak terlalu jauh dari Lala, Bambang pun langsung mematikan motor matikya lalu turun dan mendorong motor matiknya itu agar bisa berjalan beriringan dengan Lala.
"Lala!" panggil Bambang dari jarak yang tidak terlalu jauh.
Lala pun menoleh ke belakang mencari arah suara yang memanggilnya itu. Setelah menemukan di mana asal suara yang memanggilnya, Lala dengan cepat mengenali siapa yang sedang memanggilnya itu lalu seketika memalingkan wajahnya lagi dengan berpura-pura tidak mendengar panggilan dari Bambang.
"Bambang," gumam Lala cemas dan langsung mengarahkan pandangannya kembali ke depan kemudian meneruskan langkannya dan mempercepatnya sedikit untuk menghindar dari Bambang.
Namun, Bambang tidak menyerah dan mempercepat langkahnya sambil mendorong kuda hijaunya itu dan semakin mendekat ke arah Lala.
"Lala!" teriak Bambang kembali, "Tungguin aku," kata Bambang sambil mempercepat gerak langkahnya yang sambil menyeret kuda hijaunya.
Lala pura-pura tidak mendengar teriakan Bambang dan menambah laju pergerakan langkahnya.
"Duh, bahaya nih... aku harus cepat-cepat sebelum Bambang sampai ke sini," ucap Lala dalam hati dengan gugup.
Tiba-tiba Bambang sudah ada di samping Lala sembari tersenyum senang berjalan dan sambil menyeret kuda hijaunya yang dari tadi dia matikan.
"Hai Lala," sapa Bambang sambil tersenyum lebar.
"Eh, Bambang...." Sontak Lala kaget kemudian menyahut dengan nada pelan sambil menoleh ke samping ke arah Bambang.
"Kamu mau kemana?" tanya Bambang.
"Pulang," jawab Lala singkat.
"Sini aku bawain tasnya," kata Bambang yang kemudian meraih paksa tas yang berada pada kedua tangan Lala kemudian menggantungnya pada gantungan motornya.
"Eh, nggak usah Mbang, aku bisa bawa sendiri kok," kata Lala mempertahankan dan berusaha untuk mencegah Bambang membawa tas yang berisi barang jualannya itu.
"Tapi itu berat loh, La.." ucap Bambang, "Sini biar aku bawain..." Bambang kembali memaksa sambil berusaha merebut tas yang di bawa Lala.
"Enggak usah, makasih," sahut Lala tersenyum berat.
"Sini aku bawain..." Bambang terus memaksa merebut tas yang di bawa Lala.
Namun saat Bambang berusaha keras merebut tas dari tangan Lala, tas itu pun terjatuh sehinggah membuat Lala geram dan langsung memungut tas yang tadi terjatuh ke tanah.
Bambang terdiam sesaat, namun tidak berapa lama kemudian dia kembali memaksa Lala dengan cara lain.
"Aku boncengin aja ya La, mau nggak?" Tanya Bambang yang tidak peka melihat wajah Lala yang memerah karena menahan marah.
"Nggak usah, aku bisa jalan sendiri kok," jawab Lala ketus.
"Oh, iya udah kalau gitu aku temenin kamu jalan kaki aja ya," kata Bambang dengan penuh semangat.
Lala menghembuskan napas yang sangat panjang karena menahan kesal melihat Bambang yang terus saja memaksanya dengan segala macam cara. Lala pun terus berjalan ke depan tanpa memperdulikan Bambang yang mendorong motor matik beriringan dengannya.
Saat berjalan beriringan dengan Lala, tiba-tiba Bambang malah merebut paksa tas yang di jinjing Lala, sehingga seorang laki-laki yang sedang melihat aksi Bambang sontak berteriak.
"Eh ada copet.... Copet... Copet...!!!" teriak Laki-laki itu sambil menunjuk ke arah Bambang.
"Hah!! Mana copetnya! Mana copetnya!" Bambang malah ikut berteriak sambil menoleh ke kiri dan ke kanan sok jadi jadi pahlawan berharap Lala menjadi kagum kepadanya.
Salah seorang yang berada di sekitar Bambang bergegas menghampiri laki-laki yang berteriak tadi, "Mana copetnya...?"
"Itu copetnya...!!" jawab laki-laki itu sambil menunjuk ke arah Bambang yang memeluk erat tas milik Lala.
Sontak semua orang yang berada di sekitar Bambang pun berlarian ke arahnya.
Sementara itu, Bambang masih celingak-celinguk bingung karena melihat orang-orang yang berlarian ke arahnya, ketika salah seorang yang menyerbu itu hendak menghakimi Bambang, Bambang pun seketika menjadi gemetar karena takut dan langsung berjongkok sambil menutupi kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya. Beruntung Lala dengan sigap menghalau serbuan orang-orang itu.
"Sudah sudah...!" teriak Lala mencoba menghalangi serbuan orang-orang yang berlari ke arah Bambang, "Dia bukan copet," teriak Lala lagi, "Dia ini temen saya dan tas yang di pegangnya itu tas saya..." jelas Lala.
"Ooohhh...!!!!" Serentak semua orang yang menyerbu itupun berhenti setelah mendengar penjelasan dari Lala kemudian satu per satu menjauh dari Bambang dan Lala.
Bambang yang masih gemetaran pun hanya bisa terdiam setelah melihat orang-orang yang menyerbunya tadi.
"Mbang... Kamu nggak apa-apa?" tanya Lala.
"Hah, i-i-iya aku eng-enggak apa-apa," jawab Bambang terbata-bata dan gemetar karena terkejut dengan kejadian yang menimpanya tadi, "Te-terima ka-ka-kasih ya, La," ucap Bambang lagi.
Lala pun mengangguk sambil tersenyum ke arah Bambang, "Ya udah, aku duluan ya," ucap Lala kemudian mempercepat langkah kakinya untuk meninggalkan Bambang.
Bambang kemudian menaiki motor matiknya sambil menatal Lala.
"Baik banget sih Lala," gumam Bambang dalam hati, "Perhatian..." gumamnya lagi sambil tersenyum senang menatap Lala yang sudah agak jauh meninggalkannya.
Kemudian Bambang segera menghidupkan mesin motor matiknya dan menjalankanya untuk kembali menyusul Lala yang sudah agak jauh berjalan di depannya.
"Lala..." panggil Bambang dengan nada lembut setelah menghampiri Lala dan memperlambat laju motornya agar bisa beriringan dengan Lala.
Lala pun mendengus kesal kemudian menoleh ke arah Bambang, "Eh Bambang..." sahut Lala sambil menyunggingkan senyumnya, "Ada apa lagi Mbang?" tanya Lala kemudian.
"Hhmm enggak..." Bambang tampak tersipu malu.
"Ooh... Ya udah, aku duluan ya..." ucap Lala kemudian mempercepat langkahnya lagi mendahului Bambang.
Melihat Lala yang berjalan mendahuluinya, Bambang pun kembali menyusul Lala.
Lala semakin merasa geram karena Bambang yang terus saja mengikutinya.
"Lala..." panggil Bambang.
"Eh, Bambang..." sahut Lala lagi sambil menyunggingkan senyumnya, "Ada apa lagi, Mbang?" tanya Lala kemudian.
"Aa... Anu....."
"Anu apa Mbang?" sahut Lala dengan senyum yang di paksakan.
"Ka-kamu mau aku antar nggak?" tanya Bambang.
Tiba-tiba Lala berhenti berjalan kemudian menoleh ke arah Bambang, "Aku sih mau aja di antar..." ucap Lala, "Tapi ini aku udah nyampe rumah, Mbang," lanjut Lala kemudian melangkah masuk ke dalam rumah kediamannya meninggalkan Bambang yang tampak kebingungan di depan rumahnya.
"Loh, perasaan tadi masih jauh..." gumam Bambang tampak bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya dan menoleh ke kiri dan ke kanan.
Kemudian Bambang memutar balik arah motornya dan langsung menuju pulang ke rumahnya. Ketika di jalan pulang Bambang kembai mengingat Lala dan wajah Lala pun terbayang-bayang dalam ingatan Bambang.
"Lala baik banget deh, perhatian sama aku," gumam Bambang sambil terus-terusan senyum-senyum sendiri.
Tidak terasa Bambang sudah sampai di depan gang di mana dia tinggal. Bambang menghentikan motor matiknya di depan jalan kemudian bercermin lewat kaca spion yang ada pada motornya itu sambil terus membetulkan rambutnya agar terlihat lebih tampan menurutnya. Bambang tidak ingin terlihat jelek di mata semua sepupunya apa lagi Owel, dia ingin selalu terlihat lebih ganteng dari pada Owel meskipun sebenarnya dia selalu saja kalah dari Owel yang memang lebih ganteng darinya.
Setelah selesai menata rambutnya seperti pagi tadi saat dia berangkat bekerja, Bambang menghidupkan kembali mesin motor matiknya dan kemudian memasuki gang dengan penuh percaya diri.
Ketika sampai di depan rumah, Bambang langsung memarkir motornya seperti biasanya, semaunya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Setelah memasuki rumah, Bambang melihat Owel yang sedang asik menumpang menonton televisi di rumah kediaman Bambang sambil rebahan di atas sofa yang ada di ruang tamu sambil sesekali mengutak-atik smartphone-nya.
Owel yang menyadari kedatangan Bambang pun seketika menoleh dab langsung menyapa Bambang karena lucu melihat gaya rambut sepupunya itu.
"Wah, Lu emang tampan Mbang," goda Owel seolah-olah memuji Bambang yang kemudian tersenyum lebar setelah mendapat pujian dari Owel sepupunya itu. "Seharian gaya rambut Lu nggak berubah sedikit pun ya," kata Owel lagi sambil menahan tawanya.
Bambang dengan percaya dirinya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kata-kata Owel karena merasa bahwa dirinya tidak ada bandingannya.
Setibanya Bambang berada di dalam kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya, Owel tidak mampu lagi menahan tawanya dan dia pun langsung tertawa terbahak-bahak. Bambang yang mendengar suara tertawa dari Owel pun bergegas menyelesaikan cuci tangan dan kakinya karena merasa bahwa Owel sedang menertawakannya.
Setelah selesai dari kamar mandi, Bambang pun kembali ke ruang tamu, seketika Bambang menatap marah ke arah Owel.
Owel yang menyadari kedatangan Bambang pun langsung berkata, "Itu acara tivinya lucu banget, Mbang..." ucap Owel kemudian lanjut tertawa terbahak-bahak.
Bambang pun menyeret pandangannya ke arah televisi, "Apanya yang lucu sih?" gumam Bambang dalam hati lalu segera melangkah menaiki tangga dan langsung menuju ke lotengnya.
Setibanya di atas loteng, Bambang pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil tersenyum sendirian memandangi langit-langit atap loteng. Bambang kembali mengingat kejadian yang telah di alaminya hari ini. "Lala baik banget sama aku, perhatian lagi... Hihi," ucap Bambang lirih sambil tersenyum sendirian. Kemudian Bambang mengkhayalkan bahwa dirinya akan bersanding di atas pelaminan bersama dengan Lala.
Namun saat Bambang sudah sangat larut dalam khayalannya, tiba-tiba ia di kejutkan karena suara tertawaan dari Owel yang sedang asik menonton acara televisi di bawah lotengnya tepat di ruang tamu sehingga khayalan Bambang pun terpecah.
"Berisik banget sih," gerutu Bambang lirih setelah terganggu karena suara tertawa Owel yang menurutnya itu sangat mengganggu.
Bambang pun menunggu suara tertawaan dari Owel hingga selesai. Setelah di rasakan suasana sudah lumayan tenang, Bambang pun kembali melanjutkan khayalannya yang tadi terpotong karena terganggu oleh suara tertawaan dari Owel.
Namun ketika Bambang kembali larut dalam khayalannya yang bersanding di atas pelaminan bersama Lala, tiba-tiba Pak Satria menanggilnya.
"Mbang..! Mbang..!" panggil Pak Satria dengan nada kencang.
Bambang yang masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tidak menghiraukan panggilan ayahnya itu.
Pak Satria menoleh ke arah Owel yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa, "Wel, Bambangnya tadi udah datang atau belum?" tanya Pak Satria.
"Tadi Bambang udah ke atas, Om," jawab Owel langsung beranjak duduk, "Mungkin tidur kali, Om," lanjut Owel menerka.
"Pulang kerja kok malah langsung tidur," sahut Pak Satria lirih sambil menggelengkan kepalanya.
"Emangnya ada apa Om?" tanya Owel mencoba menyelidik penasaran karena melihat Pak Satria yang terlihat sedikit marah.
"Bambang nih.. Kebiasaan banget kalau markir motor itu suka sembarangan," jawab Pak Satria, "Motor Om jadi susah naruhnya..." lanjut Pak Satria kesal.
"Ya udah, biar aku yang benerin deh, Om," sahut Owel kemudian beranjak berdiri lalu melangkah ke luar rumah dan mencoba menggeser motor matik Bambang yang memang letaknya menghalangi jalan.
Sementara itu, tepat di seberang rumah kediaman Bambang, tampak Bik Mumun yang geram menatap ke seberang.
"Tuh kan, kebiasaan emang si Bambang..." ucap Bik Mumun yaitu ibunya Owel yang melihat anaknya merapikan letak motor matik Bambang.
Setelah selesai merapikan letak motor matik Bambang, Owel pun kembali masuk ke dalam rumah kediaman Bambang dan Pak Satria.
"Gimana, Wel? Bisa?" tanya Pak Satria seketika setelah melihat Owel yang kembali masuk dan menghampirinya.
"Udah, Om," jawab Owel sembari mengangguk kemudian kembali duduk di atas sofa empuk di ruang tamu.
Pak Satria pun melangkah keluar lalu meletakkan motor beliau di samping motor matik Bambang lalu kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur.
"Nih Wel, kue..." ucap Pak Satria menyuguhkan sepiring kue bolu dan meletakkannya di atas meja di hadapan Owel.
"Waah, pas banget nih..." sahut Owel kemudian segera meraih sepotong kue bolu dari dalam piring di atas meja, "Makasih, Om...." lanjut Owel kemudian menyantap sepotong kue di tangannya, "Enak banget nih kuenya Om... Beli di mana?" lanjut Owel lagi bertanya setelah menelan kue di dalam mulutnya.
"Ini, tadi sewaktu di jalan mau kemari, Om ketemu sama teman sekelas Om di SMA," sahut Pak Satria, "Kebetulan dia bawa kue bolu," lanjut Pak Satria, "Terus dia kasih sama Om..."
"Cewe atau Cowo, Om?" tanya Owel dengan nada bercanda.
Pak Satria mendekat ke arah Owel, "Cewe," bisik Pak Satria.
"Wah..." Owel pun takjub.
"Cewe itu mantan pacar Om di SMA dulu," bisik Pak Satria lagi.
"Rezeki nomplok dong Om.." sahut Owel kemudian mengambil sepotong kue bolu lagi dan langsung menyantapnya.
"Hahaha, kalau suka habisin aja, Wel... Om udah kenyang..." ucap Pak Satria, "Ya udah, Om mau mandi dulu..." lanjut Pak Satria kemudian berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Owel bersama beberapa potong kue bolu yang di letakkannya di atas meja.
Sementara itu, Bambang yang sejak tadi masih belum tidur ternyata menguping pembicaraan Owel dengan ayahnya sambil mengintip ke bawah dari celah kecil di lantai lotengnya.
"Giliran masalah makan aja, nggak ngajak-ngajak.." gerutu Bambang lirih sambil mengintip ke bawah dari celah kecil, "Mumpung ayah mandi, mending aku turun ah..." gumam Bambang kemudian bergegas namun pelan menuruni tangga dengan berjinjit dan langsung menghampiri Owel yang sedang asik menonton televisi.
"Eh, Bambang... Kirain udah tidur..." sapa Owel.
"Nggak..." sahut Bambang singkat kemudian segera mengambil lima potong kue bolu dan hanya menyisakan satu potong kue bolu.
Bambang pun langsung kembali ke atas loteng dengan membawa kelima potong kue bolu di tangannya.
Owel yang melihat tingkah Bambang pun langsung merasa heran, "Itu orang perutnya bertingkat kali ya.." gumam Owel dalam hati sambil menyeret matanya mengikuti Bambang sampai tiba di lotengnya.
"Naaah... kalau begini kan aku bisa tidur nyenyak..." ucap Bambang lirih setelah menyantap kelima potong kue bolu yang di bawanya dari ruang tamu, kemudian Bambang segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat sambil memejamkan kedua matanya dan membayangkan wajah Lala yang tersenyum ke arahnya. Tak lama kemudian Bambang pun tertidur lelap setelah membayangkan wajah Lala yang tersenyum menatapnya dan juga karena perutnya terisi penuh oleh lima potong kue bolu yang telah di santapnya dengan lahap.
Owel tampak terdiam karena sejak tadi masih heran karena tingkah Bambang yang menyelonong langsung mengambil lima potong kue bolu di hadapannya dan hanya meninggalkan satu potong kue bolu di dalam piring.
Beberapa saat kemudian, Pak Satria pun kembali menuju ke ruang tamu setelah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Gimana kue bolunya, Wel? Enak kan?" tanya Pak Satria setelah tiba di ruang tamu dan duduk di atas sofa tepat di samping Owel sambil ikut menonton televisi.
"Hah, i-iya enak Om.." jawab Owel dengan memaksakan senyumnya sambil mengangguk.
"Ntar Om bawain lagi kuenya kalau ketemu lagi sama temen Om tadi," ucap Pak Satria.
"Siap Om..." sahut Owel dengan tersenyum puas, "Aku mau ke rumah temen dulu ah, Om," ucap Owel kemudian beranjak berdiri.
"Temen apa temen...?" goda Pak Satria.
"Temen Om," jawab Owel sambil tertawa kecil.
"Om faham banget kalau sama yang beginian mah..." sahut Pak Satria ikut tertawa kecil.
"Nah itu Om faham..." ucap Owel, "Ya udah Om, aku mau berangkat dulu..." lanjutnya kemudian melangkah menuju pintu depan.
"Eh tunggu, ini habisin dulu kuenya," ucap Pak Satria.
Owel menoleh ke arah Pak Satria, "Udah kenyang Om," sahut Owel sambil mengusap-usap perutnya kemudian lanjut berjalan menuju ke kediamannya yang tepat berseberangan dengan rumah kediaman Bambang dan Pak Satria lalu menaiki motornya dan segera berangkat.