Malam pun berlalu, Bambang berharap hari ini akan lebih indah dari hari kemarin dan hari sebelumnya.
Hari ini Bambang tidak bangun kesiangan karena tadi malam ia bermimpi bahwa Lala membangunkannya dan berkata agar jangan terlambat kerja lagi.
Dengan santai Bambang melangkah turun dari loteng dan langsung keluar rumah menghampiri Kuda Hijaunya.
"Tumben bangun pagi, Mbang?" tanya Owel sambil mencuci motornya di depan rumah yang ternyata sudah bangun lebih dahulu dari Bambang.
Dengan senyum lebarnya, Bambang mengangguk pasti ke arah Owel.
Kemudian Bambang menaiki motor matiknya yang berwarna hijau itu dan lalu mencoba menghidupkannya dengan cara menekan tombol starter yang berada pada stang motornya.
Namun setelah beberapa kali menekan tombol starter, mesin motor matik Bambang tak kunjung hidup.
"Kenapa motornya, Mbang?" tanya Owel seketika menghampiri Bambang yang di lihatnya sejak tadi tidak berhasil menghidupkan mesin motornya.
"Nggak tau nih, kayaknya si Kuda Hijau lagi cemburu," sahut Bambang sambil mengusap-usap lembut jok motornya.
"Cemburu kenapa emang?" tanya Owel lagi.
"Soalnya tadi malam aku mimpi Lala," jawab Bambang sambil tersenyum senang.
Owel pun merasa heran seketika setelah mendengar perkataan Bambang sambil menertawakan Bambang dalam hati, "Terus motor lu gimana?" tanya Owel kemudian.
"Bensinnya mungkin," jawab Bambang kemudian membuka jok motornya lalu mengintip dari lubang pada tangki bahan bakar dan ternyata bensin dalam tangki motor matiknya itu masih terisi.
"Gimana Mbang, bener bensinnya?" tanya Owel lagi
"Nggak," jawab Bambang, "Bensinnya masih penuh," lanjut Bambang memberitahu, "Bener kan, si Kuda Hijau lagi cemburu," lanjutnya lagi.
"Bisa gitu ya motor lu, Mbang," sahut Owel.
Bambang mengangguk pasti kemudian menatap motor matiknya sambil mengusap-usap bagian depan stang motornya itu, "Kuda hijau... jangan ngambek dong," ucap Bambang lirih.
Melihat tingkah aneh Bambang, Owel pun semakin bertambah heran, "Mungkin mesin motor lu lagi dingin, Mbang," ucap Owel, "Coba lu hidupin pake pedal deh," lanjutnya memberitahu.
Kemudian Bambang menaikkan standar dua pada motor matiknya lalu menginjak pedal starter hingga beberapa kali.
Sampai pada injakan ketiga belas dengan nafas Bambang yang terengah-engah karena kelelahan, akhirnya mesin motor matiknya pun berhasil di hidupkan.
"Nah, benerkan mesin motor lu lagi dingin.." ucap Owel.
"Oh." sahut Bambang singkat kemudian sambil menaiki motor matiknya itu dan segera menurunkan standar dua lalu melesat pergi meninggalkan Owel.
"Bukannya terima kasih, eh malah main nyelonong aja" gumam Owel kesal, "Dasar orang aneh... Gua doain biar ban motor lu bocor..." bisik Owel lirih sambil tertawa kecil kemudian melanjutkan kegiatannya untuk mencuci motornya.
Di sepanjang perjalanannya menuju losmen tempat dia bekerja, Bambang memacu motor matiknya sambil mengkhayal menjadi seorang pangeran tampan yang sedang menaiki seekor Kuda Hijau.
Tak lama kemudian saat dia masih mengkhayal, tiba-tiba Bambang merasakan guncangan ketika duduk di atas motor matiknya itu.
"Nah, kenapa lagi nih si Kuda Hijau?" gumam Bambang dalam hati sambil mengerutkan kedua keningnya.
Kemudian dengan hati-hati Bambang pun menepikan motor matiknya di bibir jalan, lalu memeriksa keadaan kedua ban pada motor matiknya. Alhasil, benar saja bahwa ban bagian belakang motor matik Bambang ternyata bocor.
"Aduuh, pake acara bocor lagi.." gerutu Bambang kesal, "Ada tukang tambal ban nggak ya di sekitar sini?" ucapnya bertanya kepada diri sendiri sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, namun sejauh matanya memandang tidak menemukan satu tempat tukang tambalpun di sekitarnya berada.
Kemudian Bambang pun mendorong motor matiknya menelusuri jalan untuk menemukan tempat tukang tambal ban.
"Nah, itu ada... tapi kok sepi ya?" gumam Bambang dalam hati setelah beberapa puluh meter mendorong motornya dan melihat sebuah ban mobil yang tertancap pada sebilah tihang dengan bertuliskan 'Tambal Ban' yang tertulis pada ban mobil itu tepat berada di pinggir jalan.
Bambang pun dengan mendorong motor matiknya bergegas mendatangi tempat tukang tambal ban yang di lihatnya itu.
"Mana sih orang yang punya tambal ban?" ucap Bambang lirih sambil menyeret pandagannya ke segala arah mencari pemilik tempat tambal ban yang di datanginya, "Mungkin belum buka kali ya," gumam Bambang lagi kemudian mengambil sebuah smartphone dari dalam tasnya lalu melihat jam yang ada pada layar smartphonenya, "Masih jam setengah tujuh, tungguin di sini aja deh, kali aja pemilik tambal ban-nya bentar lagi muncul," gumam Bambang lagi kemudian duduk pada sebuah kursi kecil yang berada dalam area tempat tambal ban itu.
Setelah beberapa menit Bambang menunggu, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang berjalan menghampirinya.
"Nunggu siapa, Dek?" tanya Ibu itu.
"Nungguin tambal ban-nya buka," jawab Bambang sambil mengangguk tersenyum.
"Oalah, orang yang punya tambal ban hari ini libur, Dek," sahut Ibu itu lagi.
"Ooh, gitu ya, Bu.." ucap Bambang sambil mengangguk.
"Iya, Dek..." ucap Ibu itu lagi.
Bambang pun kembali mengangguk tidak jelas, sehingga membuat ibu-ibu yang menghampirinya itu pun menjadi heran kemudian ibu itu berjalan lagi menjauh dari Bambang.
"Udak capek capek ngedorong motor sampai kesini eh malah tutup...!" gerutu Bambang kesal kemudian berjalan menghampiri motor matiknya yang masih terparkir di bagian bibir jalan lalu mendorongnya kembali menelusuri sepanjang jalan dan mencari tempat tukang tambal ban lain yang sudah buka.
Setelah lumayan jauh mendorong motor matiknya, Bambang pun akhirnya menemukan sebuah tempat tukang tambal ban yang sudah buka lalu segera menghampiri tempat tambal ban itu.
"Isi angin, Dek?" tanya laki-laki yang merupakan tukang tambal ban sekaligus pemilik tempat tambal ban yang di datangi oleh Bambang.
"Nambal Pak," jawab Bambang.
"Oh, motornya bawa kesini, Dek," seru tukang tambal ban menyuruh Bambang untuk meletakkan motor matiknya itu ke samping jalan.
Kemudian Bambang pun menuruti perintah dari tukang tambal ban itu lalu duduk pada sebuah kursi yang ada di dekat tukang tambal ban berada.
"Waah, bocornya banyak banget ini, Dek... Ada empat lubang ini," ucap tukang tambal ban itu setelah memeriksa bagian yang bocor pada ban dalam dari motor matik Bambang.
Bambang hanya mengangguk ke arah tukang tambal ban itu dan di saat yang sama ia merasa gelisah sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya.
"Duh, kalau begini aku bisa terlambat lagi," gerutu Bambang lirih karena gelisah setelah menengok jam dari layar smartphonenya yang sudah menunjukkan pukul delapan tepat.
Bambang menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekelilingnya, "Eh, ini kan dekat gerai milik ayah," gumam Bambang dalam hati setelah melihat ada sebuah pasar di mana Pak Satria bekerja yang ternyata letaknya berdekatan dengan tempat tukang tambal ban di mana dia berada sekarang.
"Ini ban-nya udah saya tambal, Dek," ucap tukang tambal ban itu.
"Oh iya, berapa Pak?" tanya Bambang seketika beranjak dari tempat duduknya.
"Empat puluh rebu, Dek," jawab tukang tambal ban itu.
"Hah....!" Bambang sontak membelalakkan kedua bola matanya setelah mendengar harga yang di katakan oleh tukang tambal ban itu.
"Lah, kan ada empat lubang, Dek," ucap tukang tambal ban itu memberitahu, "Satu lubang kan harganya sepuluh rebu," lanjut tukang tambal ban itu lagi menjelaskan.
"Enggak bisa kurang, Pak?" tanya Bambang yang mulai gugup karena uangnya tidak cukup untuk membayar upah kepada tukang tambal ban itu.
"Lah, emangnya kamu punya uang berapa?" tanya tukang tambal ban itu.
"Dua puluh ribu, Pak," jawab Bambang seketika merogoh saku sebelah kanan pada celananya dan menunjukkan selembar uang pecahan dua puluh ribu kepada tukang tambal ban.
"Ya udah, kalau gitu saya cabut aja dua tambalannya, ya Dek.." sahut tukang tambal ban itu kemudian berjalan mendekati motor matiknya Bambang.
"Eh ja-jangan jangan, Pak," ucap Bambang seketika.
Tukang tambal ban itu pun berhenti lalu menoleh ke arah Bambang, "Lah, kan kamu punya uangnya cuman dua puluh rebu, sedangkan lubang yang bocor ada empat, jadi saya cabut aja dua lubang tambalannya," ucap tukang tambal ban itu kemudian kembali mendekati motor matik Bambang.
"Ja-jangan Pak... Jangan..." sahut Bambang mencegah tukang tambal ban itu untuk melepas kembali dua tambalan pada ban motor matiknya, "Ya udah, Bapak tunggu disini, saya mau ngambil uang dulu deh, Pak," ucap Bambang.
"Emangnya saya mau kemana lagi, wong tempat saya emang di sini kok," sahut tukang tambal ban itu.
Kemudian Bambang pun berjalan kaki menuju pasar yang letaknya berdekatan dari tempat tukang tambal ban di mana Bambang menambal ban motor matiknya.
"Nambal ban aja mahal amat sih...!" gerutu Bambang lirih sambil berjalan kaki ke arah pasar dan langsung menuju ke gerai milik ayahnya, yaitu Pak Satria.
Setelah tiba di depan gerai milik Pak Satria yaitu ayahnya, tampak Bambang yang menoleh ke kiri dan ke kanan sedang mencari-cari ayahnya.
"Ayah mana ya?" gumam Bambang bertanya dalam hati kemudian berjalan masuk ke dalam gerai milik ayahnya, "Mas mas," panggil Bambang kepada seorang laki-laki yang juga tampak berdiri menunggu di depan gerai.
"Ya?" sahut laki-laki itu.
"Ayah saya di mana ya, Mas?" tanya Bambang seketika.
"Hah? Ayah kamu?" sentak laki-laki itu seketika merasa heran.
"Ya Mas, ayah saya di mana ya?" tanya Bambang lagi.
Laki-laki itu pun hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu tanpa berkata apapun kepada Bambang karena heran.
"Ayah saya, Mas..." ucap Bambang lagi.
"Lah, yang punya ayah kan kamu, kok malah tanya ke saya sih?" ucap laki-laki itu seketika bertanya.
"Aaa.. Anu Mas, ayah saya eh, maksud saya Pak Satria... Pak Satria di mana, Mas?" sahut Bambang.
"Oooh Pak Satria..." Laki-laki itu mengangguk faham.
"Iya Mas, Pak Satria..."
Laki-laki itu kembali mengangguk ke arah Bambang.
Bambang pun heran, "Nah terus Pak Satria nya di mana ya Mas?" tanya Bambang kemudian.
"Nggak tahu, saya juga nggak kenal sama yang namanya Pak Satria," jawab laki-laki itu sambil menggeleng dan mengangkat bahu.
"Terus Mas ngapain di sini?" tanya Bambang.
"Saya di sini cuman numpang ngadem kok," jawab laki-laki itu kemudian berjalan menjauh dari gerai dan meninggalkan Bambang.
Bambang pun terdiam kesal, "Kirain kenal, taunya cuman numpang ngadem..!!" gerutu Bambang lirih sambil menyeret bola matanya mengikuti ke arah di mana laki-laki tadi berjalan.
Kemudian Bambang mengambil smartphonenya yang berada di dalam tas lalu menengok jam pada layar smartphone di tangannya, "Hah...! Udah jam setengah sepuluh..!" ucap Bambang kesal kemudian mengutak-atik layar smartphone lalu mencari nomor kontak milik Ifan dan kemudian menelponnya.
"Ya Mbang, ada apa?" tanya Ifan terdengar dari suara smartphone Bambang yang dia tempelkan ke telinganya.
"Fan, bisa minta tolong ngasih tau sama Pak Rondo nggak kalau hari ini aku telat," jawab Bambang.
"Lu ngomong sendiri aja deh, Mbang," sahut Ifan yang ternyata sedang berada di dalam ruangan manager di mana Pak Rondo berada.
"Halow Mbang, kenapa kamu telat lagi!!!?" Terdengar kencang suara Pak Rondo hingga telinga Bambang terasa sedikit nyeri.
"Ma-maaf, Pak... hari ini sa-saya telat," jawab Bambang berbicara melalui smartphonenya yang masih di tempelkannya pada telinga kanannya.
"Oke, kali ini kamu saya maafkan," sahut Pak Rondo, "Jadi nanti kamu datang ke sini sore aja, biar sift pagi kamu saya gantikan sama Solihin," lanjut Pak Rondo seketika menutup sambungan telpon.
"I-iya, Pak.. Terima kasih ya, Pak," sahut Bambang di saat bersamaan terdengar bunyi 'Tuut... Tuut... Tuut...' dari telinga Bambang tanda sambungan telpon telah terputus, "Belum juga selesai ngucapin terima kasih, eh mala di tutup duluan telponnya," gerutu Bambang kesal sambil memasukkan smartphonenya kembali ke dalam tas.
Kemudian Bambang berjalan ke depan gerai milik Pak Satria yaitu ayahnya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan berharap ayahnya datang ke gerai.
"Duuh, ayah kemana sih?" gumam Bambang dalam hati, "Apa aku cari aja ya?" gumamnya lagi, "Ya udah aku cari aja deh...."
Bambang pun berjalan mengelilingi dan menelusuri seluruh sudut pasar mencari di mana ayahnya berada sambil sesekali kembali ke gerai milik ayahnya berharap ayahnya sudah tiba di gerainya.
"Ayah kemana sih, giliran di perluin kok nggak ada...!!" gerutu Bambang sambil berjalan mengelilingi pasar.
Setelah berkeliling-keliling pasar, Bambang pun tidak merasa bahwa hari sudah mulai sore.
Bambang menengok layar smartphonenya untuk memastikan sekarang sudah pukul berapa.
"Hah...!" sentak Bambang terkejut setelah melihat waktu pada layar smartphonenya yang sudah menunjukkan pukul setengah empat, "Udah jam setengah empat!!" sentak Bambang lagi, "Ayah mana sih?" Bambang terlihat mulai semakin gelisah.
"Mbang... kamu ngapain di sini?" Tiba-tiba terdengar suara dari samping yang tidak asing terdengar di telinga Bambang.
Bambang pun menoleh ke arah samping tepat ke arah asal suara yang di dengarnya tersebur, dan benar saja bahwa suara yang di dengarnya itu berasal dari suara ayahnya, yaitu Pak Satria.
"Eh, Yah..." sahut Bambang sambil mengangguk.
"Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu kerja?" tanya Pak Satria.
"Ho,oh kerja," sahut Bambang.
"Terus, ngapain di sini?" tanya Pak Satria lagi sambil mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah Bambang.
"Tadi pagi aku itu kebocoran ban, Yah..." jawab Bambang, "Terus nambal ban-nya di depan sana," sambung Bambang sambil menunjuk tepat ke arah tempat tukang tambal ban yang kelihatan dari tempat Bambang berada.
"Terus?" tanya Pak Satria lagi semakin bertambah heran.
"Uang aku enggak cukup buat bayar biaya nambal ban-nya, Yah," jawab Bambang tersenyum cengengesan, "Ini aku mau minjem sama Ayah buat bayar biaya nambalnya," sambung Bambang masih tersenyum cengengesan.
Pak Satria pun menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya, "Emangnya berapa?" tanya Pak Satria kemudian mengambil dompetnya yang berada di kantong belakang celananya.
"Enam puluh ribu, Yah..." jawab Bambang lirih.
"Hah...!! Mahal amat...!!" sentak Pak Satria terkejut setelah mendengar jawaban dari anak laki-lakinya itu, yaitu Bambang.
"Iya, lubangnya ada enam, Yah," sahut Bambang.
"Ya sudah, nih..." Pak Satria pun menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu kepada Bambang.
"Waah, seratus ribu..." gumam Bambang dalam hati seketika dengan perlahan mengambil selembar uang pecahan seratus ribu di tangan ayahnya.
"Eeeiittss..." Pak Satria seketika menarik uang di tangannya menghindari tangan Bambang, "Kembaliannya jangan lupa di bawa lagi kesini, soalnya ayah kepake buat beli bensin," ucap Pak Satria seketika.
"Iya, Yah," sahut Bambang sambil mengangguk pasti.
"Nih..." Pak Satria kembali menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu yang di tariknya tadi kepada Bambang.
Setelah meminta uang kepada ayahnya, Bambang pun bergegas kembali ke tempat tukang tambal ban di mana ia meninggalkan motor matiknya tadi pagi.
"Ini, Pak," ucap Bambang sambil menyerahkan selembar uang pecahan seratus ribu kepada tukang tambal ban.
"Naah dateng..." ucap tukang tambal ban itu sambil meraih selembar uang yang di pegang oleh Bambang kemudian merogoh saku celananya untuk memberikan uang kembalian kepada Bambang, "Kok lama banget sih, Dek?" tanya tukang tambal ban itu kemudian sambil menyerahkan uang kembalian kepada Bambang.
Bambang pun segera mengambil uang kembalian yang di serahkan oleh tukang tambal ban itu kepadanya kemudian melihat jumlah uang kembalian yang tadi di serahkan oleh tukang tambal ban, "Loh, kok kembaliannya cuman empat puluh ribu sih, Pak?" tanya Bambang seketika setelah menghitung jumlah uang kembalian yang di serahkan oleh tukang tambal ban tadi.
"Ya kan, biaya buat nambal ban-nya empat puluh rebu, terus karena kamu lama banget ngambil motornya, saya tambah biaya parkir sebesar dua puluh rebu," jawab tukang tambal ban itu menjelaskan dengan rinci, "Jadi, semua totalnya enam puluh rebu," lanjut tukang tambal ban itu memberitahu.
Bambang pun tidak dapat mengelak dan tidak memiliki keberanian untuk menentang perkataan dari tukang tambal ban itu sehingga Bambang hanya bisa pasrah dan ikhlas menerima uang kembalian dari tukang tambal ban itu.
Dengan langkah lesu dan lunglai, Bambang pun menghampiri motor matiknya lalu menghidupkan mesin dan segera pergi meninggalkan tempat tukang tambal ban langsung bergegas menuju ke losmen tempat dia bekerja.