2. Keluarga Penerbangan

1357 Words
"Aulia, kabar Kakak lo gimana disana?" tanya Lola. "Cukup senang." "Eh, video call dong." pinta gadis disamping Lola, Desi. "Ngapain sih? Dia ada jadwal terbang." sahut Aulia. Ia mengaduk mie ayam miliknya tanpa minat. Desi dan Lala mendesah kecewa. Niatnya ingin melihat pilot ganteng sebelum pelajaran matematika dengan guru killer itu gagal sudah. "Kak Abraham kenapa gak pernah pulang sih, Li? Kan gue kangen." Lola cengengesan menatap Aulia. "Menurut lo kenapa pilot susah pulang?" Lola menatap keatas, terlihat sedang berpikir. "Karena apa, Des?" "Mana gue tau. Tanya aja Kak Abraham." sahut Desi. "Ish!" Lola mendelik. "Lia, lo nanti lulus mau ngikut Kak Abraham?" Aulia mengangguk sambil menyeruput minumannya. "Jadi pramugari? Gak minat kuliah?" Aulia mengangguk lagi. "Nggak. Mau gue kuliah atau nggak pun tetep sama ujung-ujungnya jadi pramugari juga." "Enak dong ya bisa jalan-jalan mulu. Tapi nanti kita LDR-an dong. Lo di Qatar, kita disini." ujar Desi. "Percaya sama gue. Daripada enak, pramugari itu banyak gak enaknya." ujar Aulia. Dia Aulia Horison, gadis berambut panjang berwarna coklat dan bertubuh tinggi. Selain jago bahasa inggris, dia juga atlet voli. Aulia adalah anak kedua dari seorang Ibu mantan pramugari dan Ayah yang bekerja sebagai Air Traffic Controller di Bandara Soekarno-Hatta. Hidup selama 18 tahun dengan di kelilingi oleh ilmu penerbangan membuat Aulia cukup paham bagaimana dunia penerbangan itu. Selain kedua orangtuanya, Kakaknya---Abraham Horison---adalah salah satu pilot muda yang bekerja untuk Qatar Airways, maskapai penerbangan internasional yang berbasis di Doha, Qatar. Umur Abraham yang masih 23 tahun sudah di percaya oleh maskapai penerbangan besar itu untuk menerbangkan salah satu armadanya. Mengemudikan burung besi itu ke seluruh dunia. Kedua orang tuanya memang tidak memaksa Aulia dan Abraham untuk ikut terjun dalam dunia penerbangan seperti mereka. Mereka membebaskan keinginan dan cita-cita anaknya. Tapi Abraham dan Aulia punya pemikiran yang sama. Bekerja dalam dunia penerbangan memang cukup bergengsi, bahkan dibilang sangat bergengsi. Memiliki gaji yang besar dan dapat keliling dunia secara cuma-cuma. Tapi bukan hanya itu, keluarganya identik dengan kata 'penerbangan', akan terasa aneh jika Aulia atau Abraham bekerja selain dalam bidang itu. "Kenapa gak di Indonesia aja sih, Li?" "Gue nyari yang peluang lulusnya gede. Lagian Kak Abraham bisa bantu gue masuk ke Qatar." ujar Aulia. "Udah deh kenapa melow gini deh. Lagian gue juga masih lama kan. Ujian juga belom." "Padahal kita udah ngebayangin bakalan kuliah bareng tau gak, Li. Ah sayang banget." ujar Lola, kini ia yang mengaduk makanannya tanpa minat. "Idih!" Aulia terkekeh pelan. ?? "AULIA!!!" Gadis itu menoleh ke belakang saat ada yang meneriaki namanya. Iya tersenyum saat melihat Nando berlari kearahnya. Nando adalah teman Aulia di ekskul voli. "Kenapa, Nan?" "Nanti pulang sekolah suruh semua anak-anak voli buat kumpul ya. Gue mau kasih seragam baru sama ngejelasin lebih detail soal lomba itu." ujarnya. "Oh oke. Nanti gue share di grup." Nando tersenyum. "Thanks ya. Kalo gitu gue ke kelas dulu." Aulia mengangguk lalu dia juga berbalik melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. "Wit, wit, Nona Manis." celetuk seseorang yang duduk didepan kelas. Aulia meliriknya sekilas lalu memutar bola matanya. "Sini dulu dong. Temenin gue sini." katanya lagi. "Nona Manis pramugari ya? Gue mau dong jadi pilotnya." ujarnya lalu disusul gelak tawa oleh dua orang temannya. Aulia menghela nafanya berusaha untuk tidak terganggu. Ia melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Bumi si preman sekolah. "Gak usah jual mahal dong Mbak Pramugari!" teriak Bumi dari belakang. Semua orang yang mengenal Aulia memang sudah tau jika keluarga Aulia adalah 'keluarga penerbangan'. Jadi tak heran jika Bumi menggodanya seperti tadi. ?? "Lia, ngafe dulu yuk!" ajak Desi. Aulia yang sedang membereskan bukunya itu menjawab tanpa menoleh, "Gak bisa, Des. Gue ada kumpul voli." "Hari ini kan bukan jadwalnya." sahut Lola yang duduk di belakang mereka. "Emang bukan, tapi kan bentar lagi lomba jadi harus latihan tiap hari." "Lo jadi turun? Kan udah kelas duabelas, Lia." ucap Desi. Aulia menutup tas-nya. "Mau kelas duabelas, mau kelas tigabelas, bagi gue voli itu wajib." Lola mencibir, "Iya voli wajib." Desi malah tertawa pelan. "Yaudah deh. La, kita mending disini aja liat latihannya Aulia. Daripada balik, masih siang nih." "Yaudah deh oke. Sambil makan soto tuh kan enak kan." Lola menepuk tangannya senang. Aulia mengernyitkan dahinya. "Gue duluan ke ruang voli. Kalian ke lapang aja langsung." Desi dan Lola mengangguk. Aulia keluar dari kelasnya dan langsung menuju ruang voli yang berada di lantai satu. Saat ia hendak masuk kedalam lift, ia bertemu dengan Bumi yang juga hendak turun ke lantai satu. "Halo, Mbak Pramugari..." Aulia masuk kedalam lift dan mengabaikan Bumi. Laki-laki itu mengikutinya masuk. "Sombong banget sih. Setau gue pramugari itu harus ramah, murah senyum. Bukan judes kaya gini." Aulia masih diam. Ia menganggap seolah Bumi tidak ada. "Suka nih gue kalo yang sombong begini." katanya sambil mencolek lengan Aulia. "Jangan macem-macem ya lo!" bentak Aulia. "Wih, bisa ngomong juga ternyata. Gue kira bisu." Bumi tersenyum. Jika perempuan lain mungkin langsung terpesona melihat senyum Bumi, tapi Aulia tidak. Saat pintu lift terbuka, Aulia langsung keluar setelah memberikan tatapan tajam pada Bumi. "Aulia! Kalo lo butuh pilot, hubungi aja gue oke!" teriak Bumi. Aulia mendengus keras-keras dan mempercepat langkahnya. Mencoba menghapus bayangan Bumi tersenyum di kepalanya yang membuatnya mual. Aulia masuk kedalam ruang voli yang pintunya terbuka. Sudah ada Nando dan beberapa senior voli. Anak-anak voli kelas sepuluh dan sebelas juga sudah banyak yang datang. "Sorry telat." ucap Aulia. "Nggak kok. Belum di mulai." Aulia mengambil posisi duduk di belakang Nando, didepan junior-juniornya. Nando selaku ketua ekstrakulikuler voli langsung mengucapkan salam untuk pembukaan. Lomba voli akan di gelar dua minggu lagi jadi mereka harus berlatih dari sekarang. Pertandingan yang selalu di adakan setiap tahunnya antar SMA. Dan kali ini Galaxy menjadi tuan rumahnya. Akan sangat memalukan jika tuan rumah kalah. Apalagi ini adalah perlomaan tahunan terakhir bagi Aulia sebelum lulus sekolah. Setelah Nando menjelaskan semuanya. Aulia dan Farah membagikan kaos voli untuk di pakai di perlombaan nanti. Semua anak voli berlatih setelah pembagian kaos. Mereka semua yang akan turun di pertandingan nanti pergi ke lapangan setelah berganti pakaian menggunakan kaos voli sebelumnya. Sebagian yang tidak ikut turun ada yang masih di sekolah dan ada juga yang pulang. Aulia salah satu andalan tim voli putri Galaxy. Gadis itu tentu saja akan berusaha untuk menyabet juara satu di pertandingan nanti. Baik putra atau putri, keduanya harus berhasil mendapatkan juara satu. Tentu saja Nando menjadi pemain andalan tim voli putra. "Ayo semuanya pemanasan dulu sebelum mulai." ucap Bu Hesti selaku pelatih voli. Pelatih voli ada dua, Bu Hesti dan Pak Imam. Mereka melakukan pemanasan sesuai prosedur. Aulia menyepol rambut panjangnya agar tidak menganggunya selama latihan. Lalu gadis itu ikut melakukan pemanasan. Sekitar sepuluh menit melakukan pemanasan, mereka kemudian mulai berlatih. Voli putri dilatih oleh Bu Hesti dan voli putra oleh Pak Imam. Mereka telah sepakat jika selama latihan, waktu latihan akan di bagi dua sesi. Sesi pertama latihan pemain utama dan sesi kedua latihan pemain cadangan. Aulia melakukan hobinya tanpa kendala. Ia memukul bola itu tanpa beban. Selama ini voli adalah hidupnya. Voli mulai dikenal Aulia saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMP, dan sudah sejak itu juga ia mencintai voli dan menjadi atlet. Aulia sejujurnya akan sedih jika ia harus meninggalkan voli saat ia menjadi pramugari nanti. Karena nanti ia tidak akan bisa menyentuh bola voli lagi. Tidak akan memainkannya lagi dan tidak akan pernah ikut lomba lagi. "AULIA, PERTAHANKAN PERMAINANNYA. SETRATEGI KAMU BAGUS!!" teriak Bu Hesti yang memperhatikan mereka. Karena ini latihan perdana, banyak anak-anak voli yang tidak latihan dan menonton di pinggir lapangan. Atau diluar anak voli pun banyak. Salah satunya Desi dan Lola yang baru saja datang dengan semangkuk soto ditangan mereka. Desi dan Lola datang untuk menonton Aulia. Satu jam kemudian, Aulia telah selesai bermain. Gadis itu menghampiri kedua temannya yang masih memakan soto dan istirahat disana. Lola menyerahkan botol air mineral yang ia beli di kantin kepada Aulia, yang langsung diminum oleh Aulia hingga setengah. "Hari ini sampe jam berapa, Li?" tanya Desi. Aulia menoleh sambil mengatur nafasnya. "Sampe jam lima." Desi mengangguk mengerti. "Lo makan soto dari tadi belum selesai? Apa itu mie sotonya gak ngembang apa?" tanya Aulia. "Nggaklah. Lo tau sotonya Bang Bung gimana." Aulia terkekeh. Setiap mendengar nama penjual itu selalu saja membuatnya tertawa. Nama panggilannya terlalu lucu baginya, Bang Bung. "Gue balik lagi ke lapangan ya. Mau lanjut." Lola dan Desi serempak mengacungkan jempolnya. Lalu Aulia berlari ke lapangan dan kembali berlatih bersama pemain cadangan. Seolah tidak ada kata cape saat Aulia bermain voli. Setengah jam berlalu. Aulia hendak melakukan smash, tangannya telah siap untuk memukul bola, tapi belum sempat menyentuh bola, seseorang menarik tangannya dan bola itu refleks terjatuh dari tangannya. "Apa-apaan sih!" teriak Aulia kesal. Ia menoleh dan mengernyitkan dahinya begitu melihat siapa yang menariknya. "Tadi kan lo udah main. Sekarang jangan main lagi, istirahat aja." ??
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD