bc

A L F I A N [Anderson Family]

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
possessive
family
doctor
billionairess
tragedy
sweet
humorous
secrets
brothers
like
intro-logo
Blurb

Terlahir dalam keluarga yang tak utuh. Terlahir menjadi yang pertama. Dituntut keadaan agar selalu menjadi sosok kuat nan panutan.

Hidup berkuat diri tanpa lelah. Berlindung dari sedih tanpa peduli. Menutup rapat kisah kelam tanpa celah, meski matanya tajam, namun kesedihan terpaut jelas disana. Menghadapi berbagai macam badai yang dihadirkan oleh seseorang, membuat kebencian itu semakin menguat dalam dirinya.

Ia ingin mengadu, namun semesta seolah ingin dirinya tetap bungkam. Menatap sekeliling yang tampak kacau. Bagaimana cara ia menata sesuai keinginannya?

"Aku bukan yang sempurna. Namun untuk sekitarku, aku ingin yang terbaik."

-Alfian Rigelio Anderson-

-----------------------------------------------

Copyright: 2021, November

Source by: Pinterest

Edit by: Canva

chap-preview
Free preview
1. P R O L O G
?Happy Reading? . . . "Daddy." Seorang pria berusia kisaran 30 tahun yang bernama lengkap itu menunduk menatap putra sulungnya yang tengah menatapnya dengan wajah sendu. "Kenapa boy?" Anak lelaki berusia dibawah umur itu berucap yang dimana ucapan itu mampu membungkam mulut seorang Edgar Anderson. "Vino dan Fika selalu menanyakan Mommy, kemana Mommy, Dad?" tanyanya polos. Edgar menatap langit-langit kamar putranya dengan tatapan kosong. Apa yang harus ia katakan? Ia bingung, kenapa harus jalannya seperti ini? Haruskah ia jujur? Atau justru ia harus berdusta kepada putranya sendiri? -Flashback On- "RIANA!!!" Teriakan suara bariton itu menggema dimansion megah milik Edgar Anderson. Pria itu tengah mencegah pergerakan istrinya yang tengah menarik koper. "Kau tidak bisa meninggalkan anak-anak!" Edgar menahan koper yang berada ditangan istrinya. Dengan kasar Riana mendorong suaminya. "Kau tidak berhak mengaturku Edgar!" "Jika kau tidak bisa bertahan untukku setidaknya bertahan untuk anak-anak kita Riana. Mereka membutuhkan ibunya." Riana menulikan telinganya, wanita itu melangkah pergi keluar dari mansion milik suaminya dengan Edgar yang sebisa mungkin berusaha menghalangi niat istrinya. Setibanya diluar mansion alangkah terkejutnya Edgar kala melihat sosok pria yang tak asing dimatanya, Franco Prasetya, mantan pacar Riana. "Maaf tapi ini keputusanku Edgar." putus Riana menatap Edgar. Edgar menatap istrinya tak percaya. Memang mereka menikah karena perjodohan tapi tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiran Edgar jika wanita yang dipilih orang tuanya akan meninggalkan dirinya saat kondisinya seperti ini. "Aku masih bisa memberimu dan anak-anak makan juga kebutuhan kalian jika itu yang kau takutkan." ucap Edgar. "Memangnya apa yang kau punya? Bahkan mansion ini harus kau jual bukan untuk menutupi semua kerugian yang dialami perusahaan keluargamu. Sekarang kau punya apa Edgar? Kau tidak punya apa-apa lagi." sentak Riana. Wanita itu dengan keras menentang ucapan suaminya yang seharusnya ia hormati yang seharusnya ia dampingi disaat kehancurannya. Riana menggeleng. Wanita itu menatap suaminya. Ia tidak bisa melanjutkan apa yang ia jalani dengan Edgar. "Aku tidak mau! Lepaskan Edgar!" bentak Riana keras dengan kekuatan penuh wanita itu merebut kopernya dan melenggang pergi bersama dengan pria yang tengah tersenyum sinis pada saingan bisnisnya, Edgar Anderson. Edgar menatap kepergian mobil sport hitam dari mansionnya. Riana benar, ia sudah tidak punya apa-apa lagi. Ia bangkrut. Semuanya hilang, ia kehilangan perusahaan milik keluarganya dan yang paling menyakitkan adalah ia kehilangan istrinya. Edgar mengepalkan tangannya kuat. Disaat kondisinya hancur, ia tidak memiliki daya untuk menahan istrinya, yang ia butuhkan saat ini adalah istrinya, namun Riana lebih memilih pergi darinya. Tanpa Edgar sadari, sedari perdebatan sengit diantara ia dan sang istri itu dilihat oleh seorang anak lelaki yang bersembunyi dibalik tembok pembatas ruang tamu dan ruang makan. Air mata mengalir deras dipipi mungil dan gembul milik anak itu. "Mommy." lirihnya dengan isak tangis tanpa henti. -Flashback Off- Edgar mengusap lembut puncak kepala putra sulungnya. Pria itu tersenyum. Senyum yang selalu ia tampilkan dihadapan putra putrinya. "Mommymu sedang ada pekerjaan." jawab Edgar berdusta. Ia fikir dengan berjalannya waktu mereka akan paham dengan sendirinya. Anak itu menatap Daddynya. "Lalu Mommy dimana Dad?" tanyanya polos. "Mommy diluar negeri sayang." jawab Edgar, meski kini ia dan Riana sudah bukan suami-istri namun ia masih selalu mencari tahu tentang Riana. "Kapan Mommy pulang Dad?" tanyanya lagi. Edgar menghela nafasnya berat. "Nanti. Pasti Mommy akan kembali." jawabnya pasti. Edgar menatap putranya yang menatapnya dengan tersenyum membuat hati pria itu menghangat, putranya tidak perlu tahu detail bagaimana kerumitan rumah tangganya. "Senyum mu sama seperti Mommymu, Alfian." gumam Edgar yang masih mampu didengar oleh telinga putranya meski mata polos itu memejam. "Jika itu yang kau inginkan, aku akan menepati janjiku. Segeralah kembali, perlu kau tahu aku mencintaimu Riana Nura Almeera." Edgar membathin dengan tangannya yang tak berhenti mengusap lembut puncak kepala putra pertamanya, Alfian Rigelio Anderson. - - - Bagaimana Prolog nya? Semoga suka ya❤️

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Kali kedua

read
220.2K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook