Kedengkian Aida

1163 Words
"Pernahkah kau merasa lelah? Saat apa yang kau lakukan tak pernah dihargai. Menyerah? Tentu saja tidak, tetapi hati mulai mati rasa. ------------------------- Malam semakin menua, tetapi mata Farida tak mau juga terpejam. Tidur di ruang tamu, beralaskan lapiak pandan pemberian Aida, tanpa bantal, tak membuatnya merasa terhina. Apa yang dilakukan Nusa jauh lebih kejam dari itu. Jika selama tiga tahun dia bisa bertahan, kenapa perkara tidur saja harus dipermasalahkan? Hatinya pun juga begitu, tak ada lagi getar cemburu membayangkan sang suami tidur di kamar bersama sang madu. Justru dia sangat bersyukur tak perlu meladeni Nusa. Perempuan yang belum berganti pakaian sejak datang, menatap langit-langit ruang tamu dengan menjadikan tangan kiri sebagai bantalan, sementara tangan kanan diletakkan di atas perut. Otaknya mengira-ngira apa yang akan dilakukan Aida padanya. Sejak awal masuk ke rumah, dia sudah merasakan aura permusuhan diuarkan si perempuan. Tatapan mata saja seolah-olah ingin menguliti Farida. Seakan dialah sang perusak rumah tangga orang. Dia tersenyum tipis, memang aneh perempuan itu. Siapa yang dizalimi, siapa pula yang merasa terzalimi. Farida mengakui jika Aida jauh lebih menarik dibanding dirinya. Mungkin karena perempuan itu memiliki cukup uang untuk merawat dirinya. Tak usah dibandingkan dengan dia yang untuk makan saja harus berhemat. Mau tidak mau, masa lalu kembali datang menghampiri Farida. Kenangan lampau seakan melambai-lambai menggoda agar dia mengingat betapa indahnya masa-masa remaja di Kota Solok. Sebuah kota yang berada di ketinggian. Hawa sejuk serta air yang jernih membuat udara terasa sangat segar meski siang hari. Air mata Farida meleleh mengingat senyum sang bunda dan raut ayah yang tegas. Dia merindukan semua itu. Pelukan bundanya, nasehat sang ayah, juga teman-teman sepermainan. Lagi-lagi sesal dipanennya. Andai .... lamunan membawanya jauh melayang-layang ke lorong waktu. Samar Farida merasa berada di rumah, di tempat yang sangat dia rindukan untuk pulang. Pelan-pelan kelopak matanya menutup, membawa si perempuan lena ke pulau kapuk. * Azan subuh mengejutkan Farida dari mimpinya. Baru saja dia merasakan bahagia berkumpul dengan ayah, bunda, dan teman-teman sepermainan, dia harus menerima kenyataan bahwa semua hanya ilusi. Mungkin d**a sudah tak mampu membendung rindu yang mengebu, sehingga terbawa sampai ke mimpi. Farida bangkit, lalu menggulung alas tempat dia tidur. Bergerak ke kamar mandi, hatinya kembali berderak patah. Dapur Aida sangat lengkap. Ada mesin cuci yang masih baru, perlengkapan rumah tangga yang masih dalam kotak, juga bungkusan makanan yang sepertinya dipesan secara online. Begitu mewah kehidupan kedua orang itu. Jauh ... sangat jauh dibanding dengan hidupnya yang serba kekurangan. Perempuan tersebut menekan d**a, sekadar menenangkan gemuruh kebencian yang berputar-putar di sana. Dia tak mau menyimpan sampah lagi, biar saja kalau Nusa tak adil padanya. Kelak Tuhan pasti akan memperhitungkan semua perbuatan si lelaki. Saat azan Subuh sudah terdengar lagi, Farida gegas mengambil wudhu. Dia tak mau ketinggalan salat sunnah sebelum subuh. Salat yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Tenang dan lirih bacaan salat Farida. Dia mencoba meresapi seriap ayat dan artinya. Meski tak hapal di dalam kepala semua arti, setidaknya dia paham semua bacaan salat untuk memuja Tuhan dan meminta petunjuk untuk kebaikan diri. Dia merasakan sangat tenang dalam sujud, rasa nyaman saat duduk di antara dua sujud. Sebuah perasaan yang lama tidak singgah ke d**a. Rasanya, semua kesedihan yang membuat sekujur tubuhnya merintih, hilang seketika. Lama Farida duduk menadahkan tangan memohan kepada Rabb-nya. Semua dia tumpahkan kepada Yang Mahakuasa. Dia yakin sekarang, kalau sebaik-baiknya tempat mengadu adalah Allah. Aib saja ditutupi oleh-Nya, tetapi bagi manusia bisa dijadikan senjata untuk menghancurkan. Setelah salat, dia membereskan semuanya. Menyapu rumah yang sudah tebal debunya. Karena sudah terbiasa bekerja, membereskan rumah bukan hal sulit baginya. Setelah rapi, Farida lanjut membuatkan sarapan. Dia sedikit ragu hendak memasak apa. Membuka kulkas dan melihat banyaknya stok bahan mentah. Dia memilih memasak makanan kesukaan Nusa. Nasi goreng pedas dan telur dadar dengan irisan daun kunyit. * "Farida! Ke sini kau!" Suara Nusa terdengar menggelegar mengejutkan si perempuan yang sedang menyapu halaman. Gegas Farida menghampiri Nusa yang sedang duduk di meja makan bersama Aida. "Ada apa, Uda?" "Kau mau meracuniku, ya?!" Mata Nusa menyorot tajam ke arah Farida. Dahi Farida berkerut. "Tidak, Uda. Aku masak seperti biasa." "Tak payah kau berdusta! Kau iri sama Aida, kan, sehingga mau meracuni dia dengan masakanmu? Kau sungguh tak tahu diri." "Sudahlah, Uda. Mungkin Uni Farida tak tau selera Uda dan aku. Maklum pembantu baru," sela Aida mencoba menenangkan Nusa. Namun, bagi Farida kata-kata itu layaknya belati menikam dadanya. Mudah saja perempuan itu mengatakan dia pembantu, yang membuat tubuhnya mengilu, Nusa seakan mengiyakan. "Maaf, Uda. Tapi aku masak seperti biasa. Tak kulebihkan bumbu apa pun." Farida mencoba membela diri. "Masih juga kau menjawab." Nusa menjejalkan satu suap nasi ke dalam mulut Farida hingga perempuan itu terbatuk. "Bagaimana rasanya? Sedapkah?!" Farida merasa lidahnya terbakar dan kering. Rasa pedas dan asin dominan mengisi rongga mulutnya. Dia hendak memuntahkan makanan itu, tetapi Aida lebih dulu berkata, "Jangan dimuntahkan. Telan biar Uni tau rasanya tadi aku makan itu." Jatuh ke dalam air mata Farida. Dia terpaksa menelan makanan itu susah payah. Melihat semua makanan sudah masuk ke dalam mulut si perempuan, Nusa melangkah pergi diikuti oleh Aida. Farida segera meraih segelas air, lalu meneguk perlahan. Lega rasanya saat rasa aneh itu mereda di dalam mulutnya. Dia menyerngit, seingatnya tadi nasi goreng buatannya sangat sedap, rasanya pas. Tetapi mengapa sekarang menjadi lebih asin? Seperti baru direndam dalam air laut? "Uda, nanti aku pesan Go-food saja, ya. Takut aku diracun sama dia. Nanti kenapa-napa sama calon anak kita." Suara Aida terdengar manja meminta kepada Nusa. "Iya, Adek pesan saja seperti biasa." Setelah bercakap sebentar, terdengar deru sepeda motor si lelaki menjauh. Perih hati Farida mendengar itu. Bukan karena dia cemburu, bukan sama sekali karena hatinya pada Nusa mulai mati. Dia yakin seseorang menyabotase masakan yang dia buat. Dan Farida tahu siapa pelakunya. Tak mungkin Nusa. Sejahatnya lelaki itu, tak akan mau bermain dengan makanan. "Apa kau lihat?!" tegur Aida saat mata keduanya bertemu. Tak ada panggilan uni saat di depan Nusa. "Kamu yang menambah garam dan bubuk cabe ke dalam masakanku, kan?" tanya Farida tanpa basa-basi. Aida tersenyum sinis. "Kalau iya kenapa? Kau tak terima?" Farida geleng-geleng kepala mendengar jawaban Aida. "Tega sekali kamu. Aku tak masalah bila difitnah, tapi makanan itu untuk suamiku. Bagaimana dia bisa bekerja kalau tak makan dari rumah?" Tawa Aida tersembur keluar. Dia berdiri menyilangkan tangan di depan d**a. "Suamiku? Ondeh mandeh! Tak sadar kalau Uda Nusa tak berminat lagi sama kau? Sadar dirilah, masih untung mau bawa kau ke sini. Kalau tidak sudah jadi jalang kau di luar sana." "Jaga mulutmu Aida! Uda Nusa belum menceraikanku, karna itu aku masih bertahan. Baktiku padanya masih terhitung pahala," tegur Farida dengan napas memburu. Ingin sekali merenggut rambut perempuan sombong itu, tetapi dia masih berusaha tetap waras mengingat Aida sedang berbadan dua. "Belum. Liat saja nanti, Uda Nusa akan membuangmu ke jalan tanpa ampun." Setelah menunjukkan wajah aslinya, Aida masuk ke kamar dan menutup pintu dengan keras. * Catki Lapiak pandan = tikar dari pandan/ilalang Pulau kapuk = alam mimpi Ondeh-mandeh = sebuah seruan saat ingin mengejek atau mendengar, melihat sesuatu yang mengejutkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD