Suami Zalim

1139 Words
"Berbuatlah semaumu, lukai hatiku sedalam yang engkau bisa. Namun, saat semua sudah dibatas akhir, saat itulah kau menyadari, cinta sejati itu aku." --------------------- Farida tak tahu hendak dibawa ke mana. Dia hanya diam duduk di belakang Nusa. Tatapan perempuan itu kosong. Masih terbayang raut cemas dari Buk Ratih. Ingin rasanya kembali ke rumah sang majikan, tetapi dia takut Nusa berbuat lebih kejam. Tiga tahun bersama sang suami, Farida paham, Nusa tipe temperamental. Mudah saja bagi lelaki tersebut melayangkan tangan serta makian. Setelah amarahnya reda, si lelaki akan kembali baik seolah-olah tak terjadi apa-apa. Lupa bahwa ucapan kasar lebih menyakitkan dari pada siksa fisik. Luka di raga mungkin bisa sembuh, tetapi luka batin akan terus ada selama ingat siapa yang menorehkan. Farida tak mau Buk Ratih ikut menanggung getah dari pernikahannya yang sekarat. Lamunan Farida tersadar saat sepeda motor Nusa berhenti di depan rumah permanen. Perempuan itu melihat ke sekeliling. Matahari sudah hampir tenggelam seluruhnya, menyisakan selarik cahaya merah di ujung cakrawala. Keadaan rumah tampak sepi. Ada beberapa pot tanaman sebangsa keladi. Farida lupa apa namanya, tetapi pernah viral hingga dihargai ratusan ribu per-helai. Melihat situasi sekitar rumah, Farida ingat tetangga yang pernah memberi tahu alamat rumah istri baru Nusa. Benar adanya, rumah tersebut hanya berjarak sepuluh kilo meter dari kontrakannya. Ada yang mengilu di dadanya melihat keadaan luar rumah lebih bersih dari rumah lamanya. Pekarangan yang cukup luas dan sangat layak. Nusa bilang tak punya uang untuk membayar kontrakan yang sebulan lima ratus ribu rupiah, tetapi sanggup membayar rumah yang lebih bagus. Perempuan itu memperkirakan, mengingat lokasi yang stategis dan kondisi rumah, harga sewanya bisa mencapai jutaan perbulan. "Ayo masuk. Ingat, kau harus tau diri di sini," ucap Nusa, sambil mencabut kunci motornya. Farida tertegun mendengar ucapan sang suami. "Maksud, Uda, aku tinggal di sini?" "Iya, memang kau mau tinggal di mana lagi? Masih untung tak kubiarkan berkeliaran di jalan." Serasa ada beban yang dijatuhkan dari ketinggian ke d**a Farida, membuat hatinya yang sudah remuk, semakin hancur. "Aku tak mau, Uda. Bagaimana Uda bisa berbuat sekejam ini. Aku tak mau tinggal bersama kalian. Lebih baik aku kembali ke rumah Buk Ratih." Farida hendak berjalan, tetapi Nusa cepat mencengkeram lengannya. "Jangan macam-macam kau! Kau itu masih istriku. Tak ada yang mau menerima kecuali aku. Orang tua kau saja sudah tak peduli lagi. Apalagi orang lain." Nusa kembali menyuntikkan racun ke tempurung kepala Farida. Mata Farida memanas menahan tangis. Selalu perkataan yang sama untuk melemahkan mentalnya. Ingin dia membalas, tetapi sang suami telanjur menyeret untuk mengikuti dari belakang. "Uda, baru pul--" Mata Aida melebar melihat siapa yang dibawa oleh Nusa. Seketika wajah perempuan berkulit putih bersih itu memerah. "Kenapa Uda bawa dia ke sini?!" Nusa melepaskan tangan Farida. Dia mencoba menenangkan Aida, istri barunya. "Tenanglah, Dek. Biar Farida tinggal di sini dulu. Dia diusir dari kontrakan. Orang-orang tau dia masih istriku. Aku nanti yang dipersalahkan." Aida mengibaskan tangannya, melirik sini sebentar ke arah Farida yang menunduk melihat perdebatan kedua orang di hadapan. "Uda ceraikan saja dia. Selesai perkara. Aku tak sudi, ya, dia ikut tinggal di rumah ini." Aida meradang, dia sangat keberatan dengan keputusan Nusa membawa Farida tanpa bicara terlebih dahulu padanya. Melihat gelagat yang tidak baik, Nusa membawa Aida ke kamar untuk berbicara. Perempuan bertubuh sintal itu mengikuti Nusa dengan langkah menghentak. Di dalam kamar, sang lelaki mendudukkan Aida di pinggir ranjang, sementara dia duduk di sebelah. "Sebenarnya, aku bawa Farida ke sini buat bantu-bantu, Adek. Adek, kan, sedang hamil. Sering ngeluh mual, pusing, sampai-sampai memasak saja tak bisa. Nah, si Farida ini bisa Adek suruh-suruh." "Halah! Alasan Uda saja biar dia sama dia lagi. Ceraikan saja aku kalau Uda masih mau sama dia." Aida memasang wajah cemberut Nusa tertawa kecil, sambil mencubit pelan pipi Aida. "Aih ... istri Uda yang cantik ini cemburu rupanya. Mana mungkin Uda mau sama dia. Adek liat sendiri, badannya kurus seperti kurang gizi, wajahnya juga tak menarik lagi. Sangat jauh bila dibanding dengan kesayangan Uda ini." Aida masih memasang muka masam, tetapi pipinya terlihat merona merah, pertanda hatinya bahagia mendengar kata-kata Nusa. "Adek menyuruh si Farida melakukan apa saja. Dia itu telaten. Untung, kan, kita tak perlu menyewa pembantu atau antar baju ke laundry. Uang bisa disimpan buat keperluan kita nanti." Lagi, Nusa meyakinkan Aida. Perlahan sudut bibir Aida terangkat naik. Dia membenarkan ucapan Nusa. Lagi pula, dia yakin sang suami tak akan tertarik pada kakak madunya itu. Dia saja sebagai perempuan, jengah melihat penampilan dan kondisi Farida. Jelas, dari sisi mana pun dia lebih unggul. Aida adalah janda tanpa anak. Tubuhnya masih terjaga seperti perawan, meski sudah tiga kali kawin cerai. Nusa adalah suaminya yang ke-empat. Sebelum menikah, Aida bekerja di supermarket di dekat toko mebel di mana Nusa bekerja. Berawal dari pertemuan di ampera saat makan siang, keduanya langsung akrab dan merasa cocok. Pertemuan demi pertemuan terus terjadi. Bahkan, Aida sengaja mengintai Nusa agar bisa pulang bersama sebab mereka searah. Siapa yang tak suka melihat lelaki tersebut. Kulit bersih, wajah tampan persis pemain film, Iko Uwais, dan tulang hidung yang tinggi. Aida tergila-gila kepada lelaki itu. Dia bahkan tak peduli saat mengetahui Nusa sudah beristri. Dia semakin gencar menggoda si lelaki dengan tubuhnya. Sementara di luar kamar, Farida mengelilingi rumah yang dicat dengan warna putih bersih itu dengan matanya. Rumah satu kamar itu, memiliki perabotan yang sangat lengkap. Mulai dari sofa, meja makan, kulkas, lemari pajang, dan lemari kaca. Itu yang terlihat saja, belum yang di bagian dapur. Jantung Farida seperti dire-mas tangan kasar berduri. Aida hidup sangat layak. Perempuan itu bahkan sudah dibawa bertamasya oleh Nusa. Sedangkan dirinya ....? Alih-alih dibawa bersenang-senang. Untuk makan sehari-hari saja Farida yang mencari sendiri. Dia seperti bersuami tetapi tidak. Farida menengadah agar linangan di kelopak mata tak jatuh ke pipi. Dia berulang kali membaca istigfar, meminta ampunan kepada Tuhan, agar Yang Mahakuasa ridho padanya. Dia yakin, apa pun yang dialami adalah ketentuan dari-Nya. Farida hanya mengikuti arus nasib hendak membawa ke mana. Jika Tuhan merasa penderitaannya sudah cukup, pasti akan ada hal-hal yang membuatnya berani pergi. Farida menoleh ke arah kamar saat mendengar langkah kaki. Dadanya bergemuruh hebat melihat Aida keluar dengan senyum lebar mengembang di bibir. Madunya itu bergelayut manja di lengan Nusa. Entah apa yang membuat perempuan itu bahagia. "Farida, mulai hari ini kau boleh tinggal di sini, tapi ingat kau harus tau diri. Aida sedang hamil muda, jadi kau harus bantu-bantu di sini," ucap Nusa dengan wajah datar. "Iya, satu lagi, kamar di sini cuma satu. Jadi, maaf kalau Uni tidur di ruang tamu saja. Nanti kukasih lapiak agar tak kedinginan," imbuh Aida berkata selembut mungkin, tetapi bagi Farida laksana racun yang membuatnya menggelepar menahan sakit. Jelas sekali tujuan Nusa membawanya ke sini. Dia hendak dijadikan pemban-tu di rumah madunya sendiri. Meski darahnya mendidih, tetapi bibir Farida tetap mengulas senyum. Biarlah, dia ingin melihat sampai di mana kezaliman Nusa padanya. * Catki Ampera = warung makan/ restoran kecil Lapiak = tikar
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD