"Aku akan bertahan sekuat aku bisa. Namun, saat aku memutuskan pergi, percayalah ... menoleh pun tak sudi."
--------------------
"Buk Ratih?"
Farida mencoba tersenyum, meski canggung saat majikan perempuannya ikut memunguti semua pakaian yang tercecer.
"Tak usah, Buk. Biar aku saja ...."
Farida meminta secara halus kain di tangan Buk Ratih. Alih-alih mendengar, dia malah menjawab. "Sudah, kemasi saja semua bajumu, lalu ikut aku ke rumah."
Farida hendak menolak, tetapi Buk Ratih lebih dulu memotong.
"Tak usah banyak alasan. Kau di rumahku sampai si Nusa pulang. Lagi pula tak ada saudara yang bisa kau tumpangi di kota ini, kan?"
Helaan napas panjang dan lemah keluar dari bibir Farida yang memucat. Dia tak lagi membantah. Apa yang dikatakan Buk Ratih benar adanya. Dia tak memiliki sanak saudara di kota ini. Masih untung sang majikan mau berbaik hati menampungnya.
"Makasih, Buk. Maaf, aku merepotkan."
Buk Ratih tak menjawab. Dia menggandeng lengan Farida untuk masuk kembali ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan keduanya diam seribu bahasa. Buk Ratih tak ingin bertanya apa pun, karena tanpa bertanya dia tahu apa yang dialami oleh asisten rumah tangganya itu. Suara pemilik kontrakan perempuan tersebut sangat keras, sehingga tak perlu toa untuk mengabarkan ke semua orang tentang makiannya kepada Farida.
"Kapan suamimu itu pulang?" Akhirnya beku itu pecah oleh pertanyaan Buk Ratih, meski wajahnya masih menunjukkan rasa kesal.
"Seminggu lagi, Buk." Farida menjawab lirih.
"Si Nusa itu!" Buk Ratih mendengkus keras, "apalagi yang kau harapkan dari dia? Kau itu masih muda, Farida. Cantik lagi. Tinggalkan saja lalu tata hidupmu, selagi tak punya anak. Jangan mau terus-terusan dibodohi sama kata cinta."
"Aku tau, Buk. Tapi, tak semudah itu. Saat dia menyiksaku, sering aku meminta cerai, tapi kala dia meminta maaf, secepat itu pula hatiku luluh." Farida mengeluhkan hal yang mengganjal di hatinya.
"Jangan-jangan kau sudah kena pelet sama dia. Ini tidak normal Farida. Kau sudah dibuat babak belur, diselingkuhi, dan diperlakukan seperti sampah. Masih juga kau bertahan. Meminta cerai tak berdosa kalau rumah tanggamu tak ada lagi ketenangan."
"Mana mungkin Uda Nusa berbuat serendah itu, Buk." Farida masih saja membela suaminya.
"Ya Allah Farida. Mungkin otakmu sudah rusak karna sering dipukul suamimu itu. Apa kau menunggu mati, baru sadar kalau dia laki-laki biadab?" Geram sekali Buk Ratih. Farida menurutnya lebih ke arah bodoh. Perempuan itu sebenarnya tahu apa yang dilakukan oleh Nusa, salah. Hanya saja rasa cinta membuat logikanya tumpul.
Farida tak menjawab lagi. Satu sisi hatinya membenarkan ucapan Buk Ratih, di sisi yang lain dia masih ingin memberi Nusa kesempatan sekali lagi. Dia ingin melihat, seperti apa lelaki itu akan menghancurkan hatinya lagi.
*
"Kau tidur di sini. Tenangkan pikiranmu. Coba cerna kata-kataku. Kalau kau ingin pisah dengan Nusa, akan kubantu agar kau mendapat akte cerai."
"Makasih, Buk. Aku belum berpikir sejauh itu. Mungkin suatu saat nanti aku akan meninggalkannya. Hanya menunggu waktu sampai hati ini benar-benar tak ada dia."
Buk Ratih mengelus bahu Farida pelan, seraya tersenyum. "Mungkin kau bertanya kenapa aku mati-matian peduli padamu." Perempuan itu duduk di pinggir ranjang di sebelah Farida. "Aku punya seorang putri. Namanya Laila. Masih terbayang senyumnya saat menikah di usia yang masih sangat muda. Rasanya, tak ada kebahagiaan yang lebih dashyat dari itu. Pesta pernikahan dilakukan tiga hari malam. Semua orang berpesta dan bersuka ria. Kupikir pernikahan putriku baik-baik saja, bahkan saat mengandung dia terlihat bahagia. Namun, sejak bayinya lahir, dia berubah hingga bertahun-tahun. Tak ada lagi putriku yang cerewet, jarang sekali terlihat dia tersenyum. Saat berkunjung ke rumahnya, dia tak pernah bercerita apa pun."
Buk Ratih menganjur napas, jelas sekali ada sesak yang mengimpit saat benaknya menggali kenangan masa lalu. Mata perempuan itu berubah sendu. Buk Ratih bercerita jika suami Laila tak pernah pulang sejak pernikahan mereka menginjak usia lima tahun. Putri Buk Ratih semakin tertekan jiwanya, apalagi mendengar kabar burung kalau lelaki tersebut menikah lagi dengan perempuan lain. Buk Ratih mencoba mencari keberadaan menantunya, tetapi tak menemukan jejak. Pernah dia bertanya pada sang putri, apa hal yang membuat pernikahan mereka kacau balau. Dengan terbata dan isak tangis, Laila bercerita, semua berubah sejak sang suami sering hilir-mudik dari satu kota ke kota lain untuk mencari barang dagangan. Menurut kabar, lelaki tersebut telah terpaut hati pada perempuan lain. Pernah meminta izin menikah lagi, tetapi dia tak meloloskan permintaan tersebut. Sejak itulah semua berubah.
"Kau tau apa yang membuatku sakit hati?" Buk Ratih mengelap air mata yang jatuh ke pipinya. "Laila meninggal di pelukanku karna sakit. Kata terakhir yang dia ucapkan adalah, dia akan tetap menunggu suaminya di surga."
Tangis Buk Ratih pecah. Potongan-potongan kejadian saat sang putri mengembuskan napasnya di detik-detik terakhir, kembali melukai dadanya. Meski luka itu sudah bertahun-tahun lalu tergores, tetapi sakitnya masih terasa sampai detik ini. Mungkin tak akan pernah hilang sampai mati.
"Karna itu Farida, aku tak mau kau mengalami nasib sama seperti putriku. Mungkin kita tak punya hubungan apa-apa, tapi hatiku sudah telanjur sayang padamu. Setiap melihatmu, aku terbayang putriku. Sudahi kebodohanmu, Farida ...."
Hati Farida yang mendengar kisah tersebut ikut merasa nyeri. Dia tak habis pikir, mengapa lelaki suka sekali menyakiti hati perempuan, apalagi seorang istri? Apa karena sudah menikahi lalu merasa berhak melakukan apa saja? Lupakah mereka janji yang diucapkan saat mengucap akad nikah, sebuah janji yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan.
Berkaca pada kisah yang dituturkan Buk Ratih, Farida tak ingin berakhir seperti Laila. Apalagi perempuan yang masih sibuk mengusap air mata begitu mengasihinya. Seperti ada suntikan semangat ke dadanya, membuat tubuh perempuan tersebut menghangat. Farida berjanji, akan memberi Nusa satu kesempatan lagi. Jika lelaki itu masih saja menyakiti, itu saatnya dia harus melangkah pergi.
*
Satu minggu tinggal bersama Buk Ratih, hati Farida mulai tenang. Dia mulai mendekatkan diri kepada Yang Mahakuasa. Buk Ratih yang terkenal dengan ketaatannya, selalu mengajak Farida mengaji bersama. Membaca surah Al-Waqiah setiap pagi, menyarankan salat malam, dan lebih banyak beristigfar sebelum subuh, juga salat dhuha.
Perlahan, tetapi pasti bayang-bayang Nusa tak lagi menyesakkan dadanya. Mungkin benar yang dikatakan Buk Ratih. Dia sudah terlalu jauh menyimpang dari ajaran agamanya. Sejak menikah dengan Nusa, Farida tak pernah salat, bahkan Al-qur'an sampai berdebu di atas lemari. Dia lupa pada Sang Pencipta. Padahal Tuhan telah berkali-kali menyentuh hatinya dengan memberi banyak cobaan, hanya agar perempuan tersebut kembali bersujud pada-Nya. Menjadikan Dia satu-satunya tempat bergantung dan meminta. Alih-alih Farida malah menangis sendirian.
"Farida!" Seruan keras mengangetkan si perempuan yang sedang menyapu halaman. Farida menoleh dan melihat Nusa membuka pagar, lalu melangkah lebar ke arahnya.
"Uda? Udah sudah pu--"
"Di sini kau rupanya!" Belum selesai Farida menyapa, tangan Nusa sudah lebih dulu menarik rambut sang istri yang diikat ekor kuda. "Kenapa tak kau bayar sewa rumah? Sengaja, bikin malu aku?"
"Sakit, Uda ...," lirih Farida memegang rambut yang ditarik Nusa. "Aku sudah bilang tak ada uang, tapi Uda tak mau dengar."
"Alasan kau, sudah kubilang pinjam dulu. Kau sengaja, ya, biar orang-orang menertawakan aku!"
"Bukan begitu Uda. Aku juga tak tau Tek Gadih ke rumah. Saat pulang, pakaian sudah dibuang keluar. Rumah juga sudah digembok. Aku sudah meminta tenggang waktu, Uda, tapi Tek Gadih tak mau."
Farida semakin meringis menahan sakit karena rambutnya semakin kiat ditarik sang suami. Dia sampai harus terbungkuk-bungkuk agar rambut itu tak tercabut.
"Oh, jadi pergi menjalang kau sampai malam? Itu kelakuan kau kalau aku tak di rumah?" Nusa semakin beringas. Dia bermaksud menampar pipi Farida, tetapi seruan Buk Ratih menahan tindakannya itu.
Buk Ratih menyongsong Nusa dan memaksa melepaskan Farida dari cengkeramannya. "Eh, waang tak tau diri. Harusnya membayar sewa rumah itu, waang. Bukan Farida. Waang suaminya, kan? Apa tak punya malu berkata seperti itu?"
"Ibuk jangan ikut campur, ini masalah rumah tangga saya!" jawab Nusa meradang. Dia malu dicerca oleh Buk Ratih. Apalagi tetangga mulai berkumpul melihat keramainan di depan rumah perempuan tersebut.
"Ini memang bukan urusanku, tapi muncuang waang sudah keterlaluan. Si Farida ini hampir mati waang tangani. Untung saja ada yang mendengar, kalau tidak sudah aku masukan waang ke kandang situmbin!"
"Halah, dusta itu. Kapan aku memukul dia." Nusa mengelak, dia menciut mendengar ancaman Buk Ratih.
"Ayo, Farida, katakan kalau si Nusa ini sering mukulin kamu." Buk Ratih menatap Farida agar perempuan itu buka suara.
"Kau itu istriku. Surgamu di kakiku. Mau kau bela orang lain? Tak masuk surga kau nanti!" Nusa ikut melihat ke arah Farida dengan tatapan mengintimidasi.
Farida yang sudah ketakutan hanya diam melihat Buk Ratih dan Nusa bergantian. Dia tak tahu harus menjawab apa. Jika jujur, dia akan mendapat amukan lebih kejam dari Nusa. Dia juga takut kalau Buk Ratih ikut menjadi sasaran kemarahan sang suami. Akan tetapi, jika berbohong tentu Buk Ratih akan kecewa padanya.
"Farida, jawab. Jangan diam saja." Buk Ratih gemas dengan sikap Farida yang plin-plan.
"Mana mau dia bicara, dusta saja isi otaknya," ejek Nusa, sambil menyeringai.
Keringat dingin keluar dari tubuh Farida. Tubuhnya bergetar menahan rasa takut yang berhamburan ke tempurung kepalanya. Dia mendekat ke arah Buk Ratih, lalu memeluk perempuan itu.
"Sudahlah, Buk. Jangan diperpanjang. Uda Nusa masih suamiku. Tak baik meyebarkan keburukannya. Itu aib juga bagiku," lirih Farida dengan suara serak. Mati-matian dia menelan luka agar tak memancing air mata berlinang.
"Farida ...." Buk Ratih menatap prihatin. Terlihat sekali kalau Farida sangat ketergantungan dengan Nusa. Lelaki itu benar-benar telah menanamkan racun yang mematikan buat istrinya, sehingga tak bisa berkutik bila berhadapan.
"Sekarang ambil pakaianmu, ikut denganku," titah Nusa, sambil tersenyum pongah. Terlihat jelas sikapnya yang congkak. Dia tak sadar jika orang-orang mencibir kelakuannya.
Farida menatap Buk Ratih sebentar, lalu masuk ke dalam rumah. Lima menit kemudian dia keluar dengan menenteng kantong plastik berisi pakaiannya.
"Farida, jangan." Buk Ratih mencoba mencegah. Hatinya sangat cemas melepas perempuan itu kembali bersama suaminya.
"Tak apa, Buk. Ibu mengatakan kalau aku tak sendiri. Nanti aku akan sering-sering mengadu ke Tuhan."
Farida melepaskan pegangan Buk Ratih di lengannya, lalu mengekor Nusa yang lebih dahulu berjalan. Sesekali dia menoleh ke belakang sambil mengulas senyum. Seolah-olah mengatakan dia akan baik-baik saja. Sementara Buk Ratih menekan dadanya yang berdebar sangat kencang. Entah ada apa dengan jantungnya, tetapi dia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada Farida.
*
Catki
Waang = panggilan untuk laki-laki
Muncuang = mulut
Kandang situmbin = penjara