Helen Christina

1069 Words
Seorang lelaki berparas rupawan, dengan fitur wajah tegas duduk bersandar di sofa tunggal ruang tengah. Saat Freya bersirobok dengan sepasang mata kelam itu, hatinya berderit pilu, berlawanan dengan senyum laki-laki yang melengkung indah. "Pulang?" tanya Banyu, mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut kehadiran sang istri. "Dari mana saja kamu?" tanya lelaki itu kemudian. Senyum Freya terasa getir, penuh rasa sakit yang mengolok-olok. Bisakah ia bilang ia sibuk menyelidiki Banyu hari ini hingga lupa waktu? Pada akhirnya, orang yang ia selidiki telah kembali ke rumah ini entah kapan. "Mas. Kita perlu bicara!" Freya duduk di sisi Banyu, punggungnya tegang seperti busur yang siap memantulkan anak panah. "Ya. Bicara saja. Apa ada masalah?" Banyu sama sekali tak menunjukkan kecemasan. Freya menarik napas panjang, menyiapkan mental untuk mengungkapkan apa yang ia saksikan siang ini "Kamu dari mana saja hari ini?" tanya Freya kemudian. Napas Freya diembuskan perlahan, melonggarkan sedikit ketegangan yang ia rasakan. "'Kan aku udah pamit pagi tadi. Aku ada job pemotretan prawedd dari pagi sampe siang di Kemang." Banyu menjelaskan dengan ringan, sama sekali tak meninggalkan celah kecurigaan. "Kalau begitu, jelaskan kenapa aku melihatmu dengan wanita lain sedang bermesraan di balkon vila Bogor hari ini!" "Apa maksud kamu?" Mata Banyu menyipit, terganggu oleh emosi kuat yang Freya tumpahkan untuknya. "Kamu tidak mengakui itu? Aku mengenalmu luar dalam, Mas. Aku bisa memastikan apakah itu kamu atau bukan meskipun berjarak puluhan hingga ratusan meter. Aku hafal dan mengenal semua hal tentang kamu. Berhentilah membodohiku!" Untuk sampai ke titik ini dan mampu menemukan kecurangan Banyu, Freya telah mendapatkan banyak bukti demi bukti. Tindak-tanduk Banyu yang tidak lagi terbuka seperti sebelumnya, kepergiannya yang sering kali tidak jelas, aroma parfum wanita yang kerap ia bawa pulang, dan tanda-tanda lain yang selama ini coba ia hindari. Hanya saja, semakin kuat Freya menentang, semakin kuat tanda-tanda itu muncul, hingga pada akhirnya, ia membuntuti Banyu dan menemukan pemandangan hari ini. Bukti kuat yang tak bisa ia sangkal lagi kebenarannya. "Jadi kamu sekarang mempertanyakan kesetiaanku?" Banyu bertanya dingin, tidak suka dengan cara istrinya menuduh dirinya. "Karena aku melihatnya sendiri!" "Sejauh itu kamu berusaha memalsukan hal-hal buruk tentang aku?" "Kamu pikir aku memalsukan?" "Aku capek kerja, Frey. Aku lelah. Jika ini cara kamu menyambutku pulang, mungkin aku lebih memilih untuk tetap kerja dan melakukan lembur. Setidaknya, di sana teman-temanku menghargai keberadaanku!" Mendengar ini, Freya menatap Banyu dengan rasa tak percaya. Dia lelah? Bagaimana dengan hati Freya? Apa Banyu pikir hati Freya baik-baik saja dan tidak lelah diguncang oleh rasa sakit dan kekecewaan? "Mas. Apa kurangku sampai-sampai kamu melakukan semua ini? Heh? Ayo bilang baik-baik ke aku, di mana letak salahku. Di mana yang perlu aku perbaiki. Apa yang perlu aku tambal sulam dalam perkawinan ini sehingga kamu bisa menjaga hatimu hanya untuk aku! Apa aku selalu mengeluh? Apa aku sering menuntut sesuatu yang tidak kamu suka? Apa aku—" "Cukup!" Banyu berdiri, menuding Freya dengan jari telunjuknya. "Jangan memperburuk suasana. Aku lelah, oke. Aku lelah. Jika kamu pulang hanya untuk menuduh ini itu, sesuatu yang aku sendiri nggak tahu kejelasannya, tolong, Frey! Tolong, jangan terlalu melangkah jauh. Dari awal, pernikahan kita nggak mudah. Apa sekarang kamu juga akan memperburuk pernikahan ini dengan pertengkaran tambahan lagi? Dari mana aku bisa mendapatkan kedamaian jika begini?!" "Tapi, Mas—" "Apa yang paling aku benci adalah ketidakpercayaan. Jika kamu udah nggak percaya, untuk apa pernikahan ini berlanjut!" Mendengar kalimat ini, rasanya ada puluhan petir yang menyambar hati Freya dengan kekuatan besar. Wajah Freya yang pucat semakin pucat, matanya memerah menahan tangis yang mengancam jatuh. "Bisa-bisanya kamu mengancam dengan pernikahan ini?" Lupakah Banyu apa saja yang telah Freya lalui untuk sampai titik ini? Sekarang di mata Banyu, apakah pernikahan ini tidak layak untuk dipertahankan?" Banyu menyugar rambutnya dengan kasar, menatap Freya tak berdaya. Prinsip Freya terlalu keras. Hatinya lebih keras lagi. Banyu tak tahu harus bagaimana membujuk istrinya. "Aku sayang sama kamu, Freya. Aku ingin pernikahan kita bertahan selamanya. Tidak bisakah kamu percaya sama aku? Kamu pikir, apakah kesetiaanku serendah itu?" Freya memejamkan mata, saat Banyu mendekatinya untuk meminta perdamaian. Ada ketulusan dalam kata-kata Banyu. Di matanya, seolah-olah Freya masih menjadi satu-satunya wanita yang paling bernilai dalam hidup. Hanya saja setelah Freya menyesap aroma parfum samar dari kemeja suaminya, hatinya terpelintir dalam kepiluan. Aroma parfum ini, aroma parfum yang sama dengan wanita asing yang tadi siang ia temui. Jadi, siapa yang berbohong sebenarnya? *** Berdiri di ruang tamu berukuran tujuh kali empat meter, Freya menatap potret perkawinannya dengan Banyu. Potret itu diambil tiga tahun lalu, saat keduanya berusia dua puluh satu tahun. Di sana, Freya sibuk memegang buket bunga, tatapan matanya fokus ke langit. Sementara Banyu, berdiri di belakangnya, memeluk pinggang ramping Freya dengan tatapan pemujaan yang kuat. Semakin lama Freya menatap potret itu, semakin sakit hatinya. Ada keretakan yang terjadi di balik d**a, di mana retakan itu semakin membesar dan menghancurkan pelindung rapuh. "Frey!" Sintia memanggil sahabatnya, ikut merasakan rasa sakit yang ditanggung temannya. Sintia telah menemani Freya sejak mereka masih anak-anak. Hubungan mereka sangat kuat, membentuk pemahaman tanpa kata-kata. Sintia menyebut persahabatan mereka sebagai best friend forever and ever. "Sudahlah, Frey. Jangan bebani hatimu dengan rasa sakit yang nggak perlu!" Mendengar nasihat temannya, Freya berbalik pelan, menyembunyikan duka yang dimilikinya jauh di dalam hati. "Kamu sudah cari tau tentang identitas wanita itu?" tanya Freya hati-hati. Serelaj kejadian di Bogor, Freya meminta bantuan Sintia untuk menemukan identitas selingkuhan Banyu. "Kamu yakin ingin mengulik masalah sejauh ini?" Siapkah Freya dengan rasa sakit yang lebih lagi? Terkadang, mengetahui bisa lebih berpotensi melukai. "Aku ingin tau semua tentang wanita itu!" Freya keras kepala. Tak berdaya dengan keinginan sahabatnya yang terlalu kuat, akhirnya Sintia menyerah. "Aku meminta bantuan kakakku buat cari tau identitas wanita itu. Namanya Helen Christina, seorang desainer yang akhir-akhir ini karyanya menembus pasar Asia dan Eropa. Suaminya bernama Alexavier Feliaz, pengusaha yang terjun dalam bisnis game dan teknologi!" Freya duduk di sisi Helen, membelalakkan matanya yang bulat menawan. "Tunggu tunggu. Jadi wanita itu sudah menikah?" Jejak keterkejutan tampak di wajahnya. Sintia baru saja menyampaikan Helen memiliki suami. Benarkah itu? "Ya. Dan juga sudah punya putra kecil bernama Sean Feliaz." Sintia mengangkat kedua bahunya, ekspresi wajahnya kecut. Freya tertawa getir. Jadi rupanya mereka sama-sama sudah menikah. Banyu dan Helen. Dua orang yang bermain api dengan cara mengkhianati pernikahan masing-masing. Sungguh lelucon. Lelucon yang sangat payah. "Apa kamu tau caranya supaya aku bisa bertemu suaminya?" Freya bertanya beberapa saat kemudian. "Kamu mau ngapain?" Sintia bertanya curiga. "Ingin memberitahu suaminya!" "Apa?!" Sintia merasa telinganya mengalami gangguan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD