9

1468 Words
Sejatinya bahagia itu tidak ada. Karena semua bersifat sementara. *** Drt drt drt Suara getaran ponselnya sendiri, sesaat menyadarkan Angkasa dari lamunannya. Yang membuat Angkasa segera mengalihkan perhatiannya dari kotak musik menyala itu, ke benda pipih yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya. Tatapannya seketika jatuh pada pop up chat yang muncul pada layar ponselnya, terkirim dari kontak tanpa nama, yang membuat dahinya berkerut otomatis. 08364836478: Selamat malam, saya Fitri dari bagian kemahasiswaan Universitas Nusa. Bersama dengan pesan ini saya hanya ingin meminta jadwal mata kuliah mahasiswa, untuk kelengkapan proses pendataan setiap mahasiswa. Terimakasih. Menuruti strategi yang dirancangnya sedemikian rupa bersama Bima di kedai tadi, Sakura memanfaatkan nomor Angkasa pertama-tama untuk mendapatkan jadwal kuliah Angkasa semester ini. Dengan tujuan, agar ia tahu, hari apa saja Angkasa berada di kampus. Akan tetapi karena Sakura yakin Angkasa pasti tidak akan mau memberitahu jadwal kuliahnya secara cuma-cuma pada orang lain, terutama dirinya, alhasil Sakura menerapkan ide Bima untuk berpura-pura menjadi seseorang yang bekerja di bagian pendataan mahasiswa kampus. Dengan perasaan ketar-ketir, alias berharap-harap cemas akan balasan cowok itu di seberang sana, Sakura menatapi layar ponselnya yang sengaja telah diatur dalam mode terus menyala. Drt drt Angkasa: Buat apa kamu minta jadwal saya dengan cara rendahan seperti ini?" Kurang dari sedetik mata Sakura melotot membacanya. "Mampus gue! Gimana dia bisa tahu?" Drt drt drt Pertanyaan Sakura benar-benar terjawab ketika ia membaca balasan Angkasa yang kedua ini. Angkasa: Lain kali kalau mau nipu, jangan pake profil foto sendiri. Seketika Sakura mengecek profil fotonya.  Dor dor dor dor dor! Gedoran pintu pagi-pagi buta itu sukses membangunkan Sakura yang diperhitungkan baru tidur sekitar tiga jam lalu. Tugas kampus yang menumpuk ditambah ia tiba di rumah pukul sepuluh malam, membuat Sakura mesti begadang semalaman. Dor dor dor dor! Takut kalau sampai ibunya yang masih terlelap, terbangun lantaran kebisingan, Sakura segera beranjak untuk membukakan pintu. "Saya ke sini untuk menagih hutang ayahmu!" Belum apa-apa Sakura sudah mendapat semprot saja dari tamu tak diundang itu. Yang Sakura sudah dapat pastikan, dia adalah rentenir yang dipinjami uang sejumlah 50 juta oleh almarhum ayahnya sebelum beliau meninggal. "Bukannya saya udah minta jangka waktu tiga bulan? Emangnya ajudan-ajudan Bapak nggak ngasih tau apa?!" Tidak terima dengan perlakuan Bapak rentenir itu yang membentak-bentak dirinya seenaknya, lantas Sakura menandas balik. "Tidak bisa. Hutang sebanyak itu, tidak bisa mendapat jangka waktu tambahan lebih lama lagi. Kamu harus bayar sekarang juga. Atau kalau tidak, saya akan sita rumah ini, beserta dengan segala isinya." Sakura berdecak. Sepasang matanya menyorot tajam Bapak itu. "Tapi apa harus nagihnya sepagi ini?! Gedor-gedor rumah orang tanpa permisi?! Nggak ada etika banget. Oh iya, ya, saya lupa. Kan uang nggak bisa menjamin atittude seseorang." Bukannya Sakura tidak sopan atau tidak hormat pada yang lebih tua, akan tetapi Sakura hanya tipe orang, yang memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang orang lain itu lakukan padanya. Sakura seperti itu supaya orang itu tahu, kalau tidak enak rasanya diperlakukan seperti apa yang dia lakukan padanya. "Beraninya kamu!" sentak Bapak itu dengan pelototan. Namun Sakura malah mengabaikannya, seraya bilang, "Apa yang saya lakukan ke Bapak itu cerminan perlakuan Bapak ke saya. Ya udah, saya mau permisi ambil uang untuk melunasi utang ayah saya dulu di dalam." Setelah masuk dan berada di dalam beberapa saat, Sakura kembali keluar dengan membawa amplop cokelat yang berisikan uang tunai sejumlah dengan hutang ayahnya pada rentenir itu, 50 juta. "Ini uangnya. Sekarang mana surat rumah ibu saya?" Bapak itu mengambilnya, lalu mengecek isinya. Usai itu ia tersenyum puasn. Sementara Sakura, jujur saja, kekesalannya pada Bapak itu masih belum berkurang sedikit pun. "Mana surat rumah ibu saya?" "Tidak bisa." "Lho? Kenapa nggak bisa?! Kan saya udah lunasi hutangnya?!" tanya Sakura yang intonasi suaranya mendadak naik. "Bapak jangan macam-macam, ya." "Yang kamu lunasi ini baru hutangnya saja. Belum bunganya yang berbunga. Dan semua tertulis dalam surat perjanjian. Jadi, yang harus kamu lunasi sebetulnya masih ada 100 juta lagi. Memangnya kamu tidak baca?" "Dasar lintah darat!" gumam Sakura. Seketika itu juga ia benar-benar terburu emosi. "Saya akan lunasi secepatnya. Sekarang Bapak bisa pergi dari rumah saya?" "Tenang saja, tanpa kamu usir pun saya tidak betah berlama-lama di lingkungan sempit seperti ini. Dan kalau pun rumah kamu nantinya jadi milik saya, Saya akan rubuhkan bangunannya, dan menjualnya kembali pada orang lain." "Sayangnya itu-nggak-akan-pernah-mungkin-terjadi," tandas Sakura dengan memberi penekanan pada setiap katanya. Menanggapi ucapan Sakura, Bapak itu hanya tersenyum culas, seraya berlalu bersama ajudan-ajudannya yang berbadan kekar itu. Sakura Evelyna: Kalau gue berhasil menjalankan misi yang lo minta, gue boleh kan minta apa aja yang gue mau? Lola: Sure Sakura Evelyna: Uang 100jt? Lola: Of course baby Sakura tersenyum sedikit lega. Karena setidaknya, ia masih memiliki harapan untuk melunasi bunga dari hutang ayahnya pada rentenir itu, agar rumahnya tidak diambil alih oleh siapapun. Masih memiliki harapan untuk mendapatkan uang sebanyak yang tidak akan mungkin bisa ia dapatkan dari kerja paruh waktunya. Dari dulu, persoalan hidup yang Sakura hadapi selalu terkendala dengan uang, uang, dan uang. Uang memang bukan segalanya, tetapi bagi Sakura, uang bisa menjadi kendala segalanya. Usai mengantungi ponselnya, Sakura bergegas merapikan alat-alat tulis di mejanya, lalu keluar dari kelasnya yang sudah sepi itu, lantaran memang sudah berakhir sekitar sejak sepuluh menit yang lalu. Dengan terburu-buru ia berjalan menuju parkiran. Untuk mengecek, apakah mobil Angkasa sudah ada di sana atau belum. Karena kalau sudah, itu pertanda sang pemilik mobil juga ada di kampus ini. Dan kebetulan, Bima lewat. Sesegara mungkin Sakura menghalanginya. "Eh, Bon, Kak Angkasa udah dateng belum?" "Mana gue tahu," jawab Bibon, alias Bima. "Lo tanya ke gue, emang gue nyokapnya!" "Ya, lo kan bawa motor, tuh, di parkiran ada mobilnya nggak?" Sekian detik Bima berusaha mengingat-ingat. Tapi ternyata ketika memarkirkan motornya tadi, ia sama sekali tidak memerhatikan sekelilingnya. "Lo liat sendiri sana deh. Gue nggak merhatiin, lagi buru-buru. Udah telat gue." Bima yang sudah lari duluan, membuat Sakura tidak bisa lagi menahannya. Dan ternyata, setelah ia berada di area parkir mobil mahasiswa, matanya yang memandang jauh berhasil menangkap seonggok mobil yang pernah dikotorinya terparkir tenang. Tak lama seseorang yang merupakan pemiliknya turun dari pintu pengemudi yang terbuka. Tanpa banyak berpikir Sakura segera menghampiri, memanfaatkan momen itu untuk misinya. "Hai, Kak Angkasa," Sakura tersenyum lebar dengan melambaikan tangannya. "Hari ini Kakak ada kelas apa?" Mendapat perlakuan ramah dari Sakura seketika justru membuat Angkasa menautkan dua ujung alisnya rapat-rapat. Namun setelahnya Angkasa berlalu mengabaikan senyum dan sapaan gadis itu. Tidak sedikit pun ia berminat untuk meresponnya. "Eh, tunggu, Kak. Kak Angkasa!" panggil Sakura seraya mengejar. "Kak― Aduh!" Angkasa yang tiba-tiba berhenti dan berbalik, membuat Sakura tidak ada waktu lagi untuk mengerem langkah cepatnya. Sehingga yang terjadi, tubuhnya menabrak Angkasa sampai mundur selangkah ke belakang. "Kamu tahu nomor saya dari mana?" Bingung ingin menjawab apa, tiba-tiba mempunyai ide untuk menghindari percakapan lebih lanjut. Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Berpura seakan-akan ada yang menghubunginya via telepon. "Halo? Iya. Ada apa? Gue mesti buru-buru ke sana? Yaudah, gue langsung otw. Lo tunggu, ya." "Aduh, maaf banget, Kak. Aku jawab nanti ya. Aku mesti buru-buru. Ada urusan." Persis seperti sedang menonton orang aneh yang sedang berlakon, Angkasa diam tanpa ada guratan ekspresi segaris pun. Pikirnya tidak salah kalau sejak awal bertemu, dirinya langsung mampu beranggapan kalau gadis itu memang tidak jelas. Berbeda sekali dengan namanya, Sakura, yang Angkasa baru tahu ketika Galen memanggilnya. "Sibuk banget, ya?" Galen bertanya pada gadisnya, Viola, yang nampak sedang sibuk mengurus berkas untuk persyaratan kepindahannya ke Ausie yang tinggal menghitung hari itu. "Aku boleh minta waktu kamu sebentar?" Sambil terus melanjutkan aktivitasnya, tanpa menatap lawan bicaranya Viola membalas, "Maaf, tapi hari ini aku benar-benar nggak bisa ke mana-mana sebelum persyaratan dokumen buat kepindahan aku terpenuhi." "Kalau besok bisa?" "Besok aku harus packing semua barang-barangku, karena lusa aku berangkat." "Hm, gitu ya." Galen berusaha keras untuk mengertikan posisi Viola. Viola memberi anggukan samar. "Ya udah, kalau gitu aku ke kelas dulu, ya. Kalau emang kamu butuh apa-apa, atau kalau kamu udah ada waktu luang, langsung hubungi aku aja." Galen pergi meninggalkan senyuman, yang terlihat jelas ada sebuah kekecewaan mendalam di garis bibirnya. Setelah tidak mendapati lagi sosok Galen di hadapannya, tiba-tiba Viola terdiam dalam hening. Sejujurnya ia sungguh merasa bersalah pada kekasihnya itu. Viola yang sadar betul bagaimana perasaan Galen terhadapnya, sedalam apa cinta Galen padanya, merasa kalau yang dia lakukan ini terlalu jahat. Dan sudah pasti akan menyakiti Galen. Tetapi Viola terpaksa melakukan hal tersebut, karena menurutnya ini adalah yang terbaik untuk Galen. Agar Galen dapat lebih mudah melupakannya. Viola tidak mau Galen akan merasa lebih sakit dari ini nantinya. Terlebih ketika tahu bahwa setelah ini, ia akan menetap di Negeri Kangguru itu. Lantaran kedua orangtuanya tidak akan pernah mengizinkan dirinya untuk kembali lagi ke Indonesia. Maafin aku, ya, Galen. Kamu harus terbiasa tanpa aku mulai sekarang. === To be continue.... A/n: malu banget nggak sih jadi Sakura? Mau nipu tapi pake profil sendiri Kenapa aku selalu menciptakan cewek aneh ya wkwk
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD