Tidak semua orang mampu mengerti masalah orang lain.
***
Brak!
Lemparan tas yang Sakura layangkan tiba-tiba mendarat tidak mulus di atas ranjang lantaran sedikit mengenai puncak kepala Pita.
"Sakura! Lo apa-apaan, sih?! Sakit tau kepala gue!" keluh Pita sembari mengusap-ngusap kepalanya. "Dateng-dateng bukannya salam kek, permisi, atau apa. Malah main nimpuk orang aja."
"Sori-sori, gue nggak sengaja," tutur Sakura, cuek.
Mendapati raut wajah Sakura yang tidak jauh berbeda seperti kemarin malam, Pita pun mulai menerka-nerka. "Itu muka kenapa ditekuk? Abis dapet anceman lagi dari Bu Mega?"
"Pitaaaa!!!" Tiba-tiba Sakura merengekkan nama Pita dengan nada panjang, membuat dahi Pita seketika mengernyit bingung.
"Kenapa? Ada apa?"
"Lo inget kan cowok nyebelin yang gue pernah ceritain ke lo waktu itu? Yang cuma pesan air mineral di kedai Bu Mega?"
Pita diam sesaat menatap langit-langit kamar Sakura. "Oh, yang mobilnya lo tumpahin bubur?"
"Iya! Lo tau nggak, sih, dia itu ternyata satu kampus sama gue! Dia akrab juga kayaknya sama Kak Galen."
"Terus?"
"Lo inget juga nggak, tentang Senior gue yang nawarin gue buat melakukan sesuatu yang dia minta, dan kalau gue berhasil lakuin, dia bakal bayarin uang kuliah gue?"
"Oh, yang orkay itu? Kenapa emangnya?"
"Gue nerima tawaran dia, tapi gue minta uang 50 juta buat imbalannya. Buat ganti hutang bokap gue. Lo tau sendiri kan, mana mungkin gue bisa dapet uang sebanyak itu dalam waktu singkat, kalau nggak dengan cara nekat?"
"Iya, terus apa hubungannya seniorkay lo, sama cowok itu?"
Kebingungan Pita terjawab, setelah Sakura menceritakan semuanya dengan detil. Tanpa celah, tanpa ada yang terlewat untuk tidak diceritakan. Sakura bercerita tentang apa yang Lola minta untuk ia lakukan pada mantan pacarnya demi balas dendam. Yakni meluluhkan sekaligus melumpuhkan sampai mantan pacarnya itu jatuh cinta pada Sakura.
Tidak lupa Sakura juga bercerita tentang mantan pacar Lola yang bernama Angkasa. Yang ternyata merupakan cowok yang sama dengan yang ditemuinya pertama kali di kedai roti Bu Mega. Dengan begitu artinya, Angkasa akan menjadi target utama sekaligus penentu berhasil atau tidaknya Sakura, dalam menjalankan misi yang diberikan Lola untuknya.
"Hah?!" Saking terkejutnya, Pita sampai tidak sadar kalau mulutnya menganga terlalu besar. "Jadi lo harus meluluhkan cowok yang udah lo kotorin mobilnya waktu itu, bikin dia sampai jatuh cinta sama lo, dan setelah itu lo harus putusin dia di depan umum?" simpulnya, menambahkan.
Sakura mengangguk dengan bibir melengkuk ke bawah.
Dengan cepat Pita menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah, kalau begitu jatoh banget harga diri lo, Sa. Sama aja lo kayak ngambil lagi makanan yang udah lo injek-injek dan lo buang ke tong sampah. Ya, kasarnya lo jilat air ludah lo sendiri gitu."
"Tapi kalau nggak kayak begitu, gue bisa dapet uang dari mana lagi buat lunasin hutang Ayah gue, coba?"
Seketika Pita menggaruk kepalanya, sedikit mencerna kembali kata-kata Sakura. "Iya, juga ya. Itu satu-satunya jalan yang lo bisa lakuin buat dapetin uang yang halal sebegitu banyak, di waktu yang singkat. Eh, tapi, Sa," Tiba-tiba Pita mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Sakura di tengah ranjang. "gue pernah denger sebuah teori. Ketika lo ketemu seseorang di area publik, mustahil lo bisa ketemu dia lagi, bahkan sampai berurusan panjang. Kecuali―"
"Kecuali apa?!" Sakura memotong ucapan Pita dengan nada tinggi.
"Kecuali dia jodoh lo!" seru Pita, menimpali.
Tanpa menyungut lebih, Sakura hanya mengekspresikan kekesalannya dengan menimpuk sepupunya yang satu itu dengan sebuah bantal yang berada paling dekat dengan jangkauannya.
"Argh, bodo amat!" Sakura mengacak rambutnya. Lalu menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. "Gue nggak peduli!"
Tapi tak lama Sakura menurunkan sedikit selimutnya dengan cepat, karena teringat akan ibunya. "Eh, iya, ibu gue udah makan malam belum, Pit?"
"Udah."
"Udah minum obat?"
"Udah," tandas Pita lagi. Sesaat gadis yang masih mengenakan seragam putih abu-abunya itu menengadah pada jam bulat yang tergantung rada tinggi di dinding kamar Sakura. "Udah mau setengah sepuluh, gue balik, ya," ucapnya seraya bergegas untuk bersiap-siap.
"Iya, makasih banyak, Pit. Jangan bosen berbuat baik, ya."
"Lagak lo udah kayak orang beneran," tepis Pita yang tidak terbiasa mendengar Sakura berkata-kata bijak seperti itu.
Jarak perumahan Pita dan rumah Sakura yang tidak terlalu jauh, membuat Pita hanya perlu waktu sekitar lima menit untuk sampai di rumahnya. Dan lingkungan perumahan Pita yang terbilang sangat aman, membuat orangtua Pita tidak khawatir jika Pita pulang malam, selama belum sampai lewat dari pukul 22.00.
Siang itu, Sakura yang baru selesai dengan kelasnya, kebetulan berpapasan dengan Bima yang baru datang keluar dari area parkiran. Bagai pepatah, 'kuncup dicinta, wulan pun tiba', Bima memunculkan diri di hadapan Sakura, tepat di saat Sakura memang sedang membutuhkan dirinya.
Sakura menyambutnya dengan senyuman semanis mungkin yang ia miliki. "Hai, Bima. Kurusan ya lo kayaknya. Keliatan makin ganteng aja."
Tahu yang Sakura katakan sangatlah terdengar tidak tulus ataupun murni dari hati, Bima sama sekali tidak merasa tersanjung dibuatnya. Bima malah sewot karena Sakura yang seperti itu berarti ada maksud terselubung di balik pujian-pujian tadi. Hal itu didukung dengan firasatnya yang mendadak tidak enak saat melihat senyum sok manis Sakura.
"Perasaan gue nggak enak, nih."
"Bon, anterin gue mau nggak?"
Bima mendengus. "Kan bener kan. Anter ke mana?"
"Ke gedung Hukum," lantun Sakura, lembut.
"Udah deh, nggak usah fake mulu. Gue nggak suka liat lo senyam-senyum lembut begitu. Nggak pantes. Udah, lo mah pantesnya marah-marah aja, jadi galak. Mana pake manggil Bima segala, lagi. Biasanya juga manggil Bon, atau Bibon!"
"Iya, elah. Gue kan lagi ngerayu, hargain dikit kek usaha orang," ketus Sakura yang kembali lagi menjadi dirinya sendiri yang seperti hari-hari biasa, galak. "Anterin gue ke gedung anak Hukum, ayo!" paksanya yang main langsung menarik tangan besar Bima.
"Eh, bentar-bentar." Buru-buru Bima menahan dirinya di pijakan. "Mau ngapain lagi lo di gedung Hukum? Mau mandangin Kak Galen? Kak Galen kan udah punya pacar. Istigfar, Sa."
"Bukan Kak Galen, sih. Sotoy amat lo. Ayo, udah buruan anterin aja. Gue juga butuh bantuan lo nih buat nyusun strategi di langkah awal gue."
"Nyusun strategi, langkah awal, gaya lo udah kayak detektif gadungan tau nggak. Strategi apaan? Emang lo mau ngapain?"
Tidak sengaja melihat Sakura di depan kelasnya, Galen menghampiri seraya memanggil. "Sakura? Tumben aku liat kamu di sini. Lagi apa?"
"Eh, Kak Galen." Sakura memberi cengiran canggung. "Aku mau cari temen Kakak yang kemarin, aduh, siapa tuh namanya? Aku lupa." Gadis itu berpura-pura mengingat.
"Angkasa?"
"Nah, iya. Dia di mana, ya, Kak? Kakak liat nggak?"
"Hari ini kayaknya dia nggak ada kelas, deh. Kenapa emangnya? Kalau ada perlu sesuatu, bilang aja ke aku, nanti biar aku sampein ke dia. Kebetulan rumah kami deketan."
"Nggak, Kak, jangan. Kakak ada nomornya nggak?"
"Nomor siapa? Nomor aku? Atau Angkasa?"
"Nomor Kakak―Eh," Segera Sakura menutup mulutnya, kemudian meralat. "maksud aku nomor Kak Angkasa."
"Bentar-bentar, aku cari dulu, ya."
Usai menemukan nomor Angkasa yang tersimpan di kontak ponselnya, Galen menyebutkannya pada Sakura.
"Thanks, ya, Kak. Kalau Kakak mau kasih nomor Kakak ke aku juga nggak apa-apa."
Plak!
Geplakan tangan besar Bima di kepala Sakura seakan mengingatkan Sakura untuk menyadari apa yang dia lakukan barusan.
"Gaya lo tadi ngomongin strategi-strategi, taunya begini," seruak Bima meski tidak sedang diajak bicara. "Bilang aja mau modus lo, curut."
"Sssstt," Sakura segera berdesis pada Bima, agar laki-laki plontos itu lebih baik menutup mulutnya. Sebelum kemudian ia beralih lagi pada Galen. "Ya udah, Kak. Aku permisi duluan, deh. Soalnya ribet, nih, bawa jin tomang."
Dengan buru-buru, Sakura menarik tangan besar Bima menuruni anak tangga, lalu keluar dari gedung Fakultas Hukum.
"Lo apa-apaan, sih, Sa, narik-narik gue? Emangnya gue sapi kurban apa?" protes Bima sembari membebaskan lengannya dari tangan Sakura. "Kurus aja belagu narik-narik tangan gue. Gue berontak sedikit juga langsung mental lo."
"Gue ada misi, mau deketin Angkasa," Tidak meladeni ocehan Bima, seketika Sakura berujar serius. "Kira-kira lo punya strategi apa, biar misi gue ini berjalan mulus, semulus paha Kendall Jenner?"
Di kamarnya, Angkasa duduk tenang di kursi meja belajarnya. Dalam diam Angkasa memandangi sebuah kotak musik terbuka di hadapannya, yang menemaninya dengan alunan instrumental merdu. Yang di tengahnya terdapat petung ballerina mini, dengan pose layaknya seorang ballerina sungguhan yang sedang menari. Salah satu kaki dan tangannya terangkat, sedangkan tangannya yang lain meliuk di depan d**a.
Patung ballerina mini itu terus berputar mengelilingi area kotak musik, selama kotak musik itu menyala.
"Aaaah!"
Brak!
Suara hantaman mobil yang menabrak tubuh seorang gadis ditambah jeritannya malam itu masih terngiang sangat jelas di telinga Angkasa. Berulang kali, secara terus-menerus memekak pendengaran Angkasa tidak peduli walau dirinya sedang berada di tempat yang sunyi-senyap. Mengganggu pikiran Angkasa lantaran telah berhasil membuat ingatannya tentang kejadian itu semakin membekas dan melukai dirinya dalam-dalam. Membuatnya seolah tidak bisa lepas dari bayang-bayang rasa bersalah.
Jauh seperti yang orang-orang kira, Angkasa memiliki alasan tersendiri kenapa ia sulit sekali untuk membuka hatinya pada siapapun. Alasan yang tidak diketahui oleh siapapun, selain dirinya sendiri. Tentang masalalu dan rasa sakitnya, yang tidak bisa ia ceritakan pada siapapun, termasuk Galen.
Drt drt drt
Suara getaran ponselnya sendiri, sesaat menyadarkan Angkasa dari lamunannya. Yang membuat Angkasa segera mengalihkan perhatiannya dari kotak musik menyala itu, ke benda pipih yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya. Tatapannya seketika jatuh pada pop up chat yang muncul pada layar ponselnya, terkirim dari kontak tanpa nama, yang membuat dahinya berkerut otomatis.
===
To be continue...
A/n: jangan lupa vote dan komentar yang banyak yaaaa