Aku tidak tahu bagian mana yang indah dari sebuah perpisahan. Rasa kehilangannya, atau rasa sakitnya yang menciptakan air mata.
***
Setelah menebalikkan ransel kuliahnya hingga menumpahkan segala isi di dalamnya, Sakura menggeledah seluruh laci lemari bukunya, juga laci meja belajarnya. Mengeceknya satu persatu, mencari sebuah buku. Buku itu tidak terlalu bagus, malah tergolong biasa. Harganya juga tidak mahal. Cuma saja, di buku itulah Sakura biasa menuliskan hampir semua keluh kesah yang dirasakannya tiap waktu. Di sanalah Sakura menuangkan rangkaian kata-kata, yang selalu bisa menggambarkan perasaannya.
Jadi, kalau hilang begini, bukan bukunya yang menjadi perkara besar bagi Sakura. Melainkan isinya yang begitu penting baginya.
Lelah mencari namun tak kunjung menemukan apa yang dia cari, Sakura memutuskan untuk berhenti sejenak. Mencoba untuk mengingat-ngingat, di mana terakhir kali ia memakai buku itu. Terakhir kali....
Di saat Pak Sudrajat sedang sibuk menerangkan panjang lebar mengenai filsuf-filsuf di Indonesia, Sakura di kursinya nampak diam tidak memerhatikan. Sebelah tangannya bertopang dagu, sementara sebelah tangannya yang lain, yang memegang sebuah pena, tiba-tiba tergerak menuliskan sebuah kalimat, yang ia tujukan untuk seseorang yang Bima ceritakan padanya tadi, Argalen Elnandhio.
"Satu dari sekian juta detik yang kumiliki, selalu ada tentangmu yang terselip di antaranya."
Selepas ingatannya menerawang ke belakang, Sakura baru ingat, kalau buku itu terakhir ia pakai ketika kelas Pak Sudrajat sedang berlangsung!
"Tapi, kenapa di tas nggak ada, ya?" Gadis itu bergumam sendiri. Mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi padanya setelah diusir dari kelas Pak Sudrajat.
Yang Sakura ingat, saat keluar kelas ia dicegah seniornya, Lola dan Flora. Dan saat itu, Sakura ingat sekali kalau dirinya merasa masih memegang buku sampai ia bertemu dengan Galen berniat ingin membantu. Walaupun niat tersebut ujungnya tidak terlaksana lantaran ada Angkasa di sana. Sehingga setelahnya, Sakura tidak ingat lagi apakah ketika pulang ia masih membawa buku itu dalam pelukannya atau tidak. Karena sebelum itu ia langsung berlari sampai menabrak Bima.
"Jangan-jangan bukunya jatuh pas gue lari?!" pekik Sakura, tertegun. "Mati gue kalau sampai beneran jatuh dan ditemuin orang lain!"
"Ini ambil aja semuanya, Kak. Maaf, ya, aku nggak jadi bantu Kakak. Soalnya aku lupa kalau aku ada kelas." Dengan cepat Sakura menyodorkan kembali semua kertas yang diberi Galen belum lama tadi, di d**a Galen. "Sekali lagi maaf, ya, Kak." Saat Galen sudah memegang kertas yang ia serahkan dengan kasar itu, Sakura cepat-cepat beringsut menjauh. Sampai Galen nampak jelas kebingungan melihat tingkahnya yang aneh.
Berbeda dengan Galen, Angkasa justru mengerti betul tingkah aneh Sakura. Alasan gadis itu pergi sudah pasti karena takut dimintai ganti rugi olehnya. Tadinya Angkasa hendak mengabaikan Sakura. Tidak mau mempermasalahkan perkara mobilnya. Toh uangnya juga masih jauh lebih dari cukup kalau hanya untuk membayar biaya steam dan mengganti body yang lecet.
"Suka aneh, deh, itu anak. Tiba-tiba lari begitu, sampai nggak sadar kalau bukunya jatuh."
Namun seketika tuturan Galen berhasil memancingnya untuk menoleh. Tak lama tatapan Angkasa jatuh pada sebuah buku di tangan Galen.
"Sa, gue nitip tas gue ya. Gue mau kejar Sakura mumpung belum jauh, buat balikin buku ini. Mana tau ini buku penting bagi dia."
"Biar gue aja yang balikin."
Dengan santai Angkasa mengambil alih buku catatan bersampul hitam itu dari Galen. Kemudian berjalan cepat mengejar Sakura. Entah ada dorongan apa dalam diri Angkasa, tidak ada angin-tidak ada hujan, mau-mau saja i melakukan hal yang tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan dirinya itu.
Akan tetapi ketika ia telah berhasil mengejar, Angkasa malah enggan mengembalikan buku itu pada pemiliknya, karena pemiliknya sudah terlanjur membuat ia kesal.
Alhasil, buku itu masih ada pada Angkasa sekarang.
Dengan tubuh merebah di atas ranjang empuk di kamarnya, Angkasa memerhatikan buku hitam milik Sakura. Angkasa ingin membukanya, namun Angkasa ragu. Dari warna sampulnya yang tidak biasa, hitam, Angkasa yakin buku itu pasti bukan sekedar buku kuliah yang berisikan materi-materi pembelajaran di dalamnya.
Akan tetapi, rasa penasarannya yang terlalu besar yang mampu mengalahkan keraguannya lebih dari apapun, membuat tangan Angkasa perlaha tergerak untuk membuka halaman pertamanya.
"Aku tidak tahu bagian mana yang indah dari sebuah perpisahan. Rasa kehilangannya, atau rasa sakitnya yang menciptakan air mata."
Tanpa menunggu lama, esok paginya Sakura ke kampus walau sebetulnya tidak ada matakuliah hari ini. Setibanya di kampus, Sakura segera mencari bukunya di area koridor gedung Sastra. Bertanya-tanya dengan petugas kebersihan gedung tersebut apakah mereka melihat bukunya atau tidak. Semua memberi jawaban yang intinya sama, tidak tahu. Hingga akhirnya Sakura hanya bisa menaruh harapan pada Pak Sobirin. Satu-satunya petugas kebersihan, yang tersisa dan belum ia tanyai.
"Pak, liat buku nggak? Warnanya hitam. Rada tebel, sih."
"Hitam, ya? Saya nggak lihat. Biasanya kalau nemu sesuatu, pasti langsung saya kasih ke sekre."
"Beneran nggak liat, Pak? Coba Bapak inget-inget lagi," paksa Sakura.
"Nggak, Neng. Kemarin saya ngepel dari ujung ke ujung, nggak nemuin apa-apa. Coba tanya sama petugas kebersihan yang lain."
"Udah. Mereka juga nggak liat."
"Yaudah kalau begitu. Berarti emang buku Eneng nggak jatuh di sini."
Karena semua petugas tidak ada yang melihat, terpaksa Sakura akhirnya harus mencari bukunya sendiri. Gadis itu berkeliling, bolak-balik persis seperti setrikaan di area-area yang ia lewati kemarin. Mulai dari blok di mana ia bertemu Lola. Kemudian di koridor tempat ia bertemu Galen. Sampai di ujung koridor tempat di mana ia menabrak tubuh gentong Bima.
"Gue yakin pasti jatuhnya di sekitaran sini! Masa, sih, nggak ada yang nemuin," gerutu Sakura yang masih mengherankan para petugas kebersihan yang bilang tidak menemukan apapun. "Apa perlu gue pasang pengumuman di mading biar cepet ketemu? Ah, tapi masa iya―"
Gerutuan Sakura tidak diteruskan ketika tiba-tiba seseorang menjulurkan buku yang dicarinya tepat di hadapannya.
"Kamu cari ini?"
Melihat itu Sakura tersenyum lega dan cepat-cepat mengambilnya. "Alhamdulillah ketemu. Thanks ya. Buku ini tuh berharga banget buat gu―e." Suaranya mendadak tenggelam ketika ia mengetahui bahwa seseorang yang baru saja mengembalikan bukunya itu adalah Angkasa.
"Lo lagi-lo lagi! Gimana bisa buku gue sama lo?!"
"Kamu sendiri yang jatuhin buku itu. Masih untung saya kembalikan, tadinya mau saya buang."
"Seenaknya lo bilang buang-buang―Eh tapi, kok lo bisa tahu kalau ini buku gue? Jangan bilang lo udah baca isinya?"
Bukannya menjawab, Angkasa malah pergi begitu saja. Berlalu meninggalkan Sakura yang hampir ter-uruk emosi karenanya. Namun tak lama emosi Sakura surut, ketika tak sengaja matanya menangkap sosok Lola dan Flora dari kejauhan, tengah berjalan menuju gedung Ekonomi. Tidak mau ketinggalan arah, Sakura cepat-cepat menyusul dua seniornya itu.
Di samping ingin mencari bukunya, kedatangan Sakura ke kampus hari ini sebenarnya juga karena ia ingin menemui Lola. Karena setelah ia pikir-pikir, benar juga apa kata Pita. Rasanya mustahil kalau dalam tiga bulan ia bisa mendapatkan uang sebanyak 50 juta, hanya dengan mengandalkan upah paruh waktunya di kedai roti Bu Mega. Jangankan 50 juta, 10 juta saja tidak mungkin ia dapatkan.
"Kak!" Panggilan Sakura dengan suara cukup keras seketika membuat Lola dan Flora berhenti, lalu menoleh ke arahnya. Sampai jarak mereka cukup dekat, Sakura bicara lagi, "Gue mau terima tawaran lo yang kemarin."
Meski terheran-heran sesaat akan tuturan Sakura yang berbanding terbalik dengan sebelumnya, tetapi Lola tetap menyunggingkan senyuman miring saat mendengarnya.
"Tapi, untuk imbalannya, gue nggak berharap lo bayarin kuliah gue." Sakura melanjutkan. "Gue cuma mau, lo kasih gue uang, sejumlah 50 juta yang dibayar untuk DP."
"Gampanglah kalau soal itu. Selama lo menjalankan persyaratan yang gue minta dengan benar, lo bisa minta berapapun yang lo mau."
"Oke. Sekarang apa persyaratannya?" tembak Sakura tanpa basa-basi.
Sembari memainkan kuku-kuku jari sebelah tangannya yang nampak habis dipoles kutek, Lola menyahut enteng. "Lo harus bikin mantan gue jatuh cinta sama lo, setelah dia udah jatuh cinta, lo harus tinggalin dia. Kalau bisa lo permaluin dia di halaman depan kampus kita."
"Mantan lo yang mana, nih? Yang mutusin lo di depan banyak orang itu?"
"Iyalah, yang mana lagi yang paling nyakitin!" sewot Lola sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
Melihat itu mendadak Sakura ingin sekali terbahak. "Jadi lo ngelakuin ini dalam rangka bales dendam sama dia?"
"Perlu banget gue jawab pertanyaan lo yang ini?"
"Santai aja, kali. Yaudah, sekarang tunjukin yang mana mantan lo? Kemarin gue nontonnya dari jauh, jadi nggak bisa liat jelas mukanya."
"Kalau itu biar jadi tugas Flora yang ngasih tau lo."
"Ayo, ikut gue." Flora menuntun bahu Sakura untuk berjalan memasuki gedung Hukum. Mengajak Sakura naik hingga lantai dua. Lalu berhenti di depan salah satu kelas yang pintunya terbuka. "Orangnya yang..." Sejenak Flora mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas. "Nah, yang itu, tuh."
"Yang mana-yang mana?" Sakura mengikuti ke mana jari telunjuk Flora mengarah.
"Itu, yang pakai kemeja biru terang. Liat nggak?"
Saat menemukan seseorang yang memakai balutan kemeja biru terang, tiba-tiba mulut dan sepasang mata Sakura membulat selebar-lebarnya.
"Namanya Angkasa Dirgantara. Senior, dua tingkat di atas lo dari Fakultas Hukum. Mantan pacar Lola yang ke 102. Dan sekarang tugas lo adalah, lo harus meluluhkan dia, sekaligus melumpuhkan dia dalam waktu sesingkat-singkatnya. Ngerti?"
Sakura meneguk salivanya susah payah. Memandangi cowok itu penuh keraguan. Dari raut wajahnya saja sudah terbaca, sedingin apa cowok yang menjadi targetnya itu. Membuat Sakura bertanya-tanya, apa dirinya mampu?
Namun apa boleh buat? Keadaan mendesaknya untuk menyanggupi misi itu.
===
To be continue...
Komentar yang banyak kalau mau up cepet yaaaaa☺️