6

1305 Words
Kekecewaan pasti yang sering dirasakan dalam hidup oleh setiap manusia adalah, ketika kenyataan tidak pernah sejalan dengan apa yang diharapkan. *** Sesaat ibu dari anak itu mengecek isi roti milik anaknya, yang tidak habis termakan. Dengan napas terburu emosi, ibu dari anak itu segera mengedarkan matanya. Mencari seseorang yang melayaninya tadi. Sampai saat ia mendapati Sakura tengah mencatat pesanan pelanggan lain, ibu dari anak itu buru-buru bangkit, dan menghampiri Sakura. "Heh, Mbak! Mbak mau mencelakai anak saya, ya?!" Alih alih meluapkan emosinya, sentakan Ibu dari anak laki-laki yang gatal-gatal itu seketika mampu mengejutkan Sakura hingga Sakura membalik tubuhnya secara otomatis. "Sebenarnya Mbak itu dengar nggak, sih, kalau tadi saya pesannya rasa cokelat, bukan strawberi!" "Ada apa ini ribut-ribut, Sakura?" Bu Mega yang tiba-tiba muncul langsung bertanya pada Sakura. "Ibu yang punya kedai roti ini?" Sambaran ibu dari anak itu sesaat membuat perhatian Bu Mega teralih padanya. "Iya, kenapa, Bu?" "Bu, tolong, ya, kalau mempekerjakan pegawai itu yang benar. Jangan yang ceroboh seperti Mbak ini." Karena Bu Mega tidak mengetahui apa-apa, tentulah Bu Mega tidak mengerti dan bertanya-tanya ketika tahu-tahu ia mendapat semprot dari pelanggannya sendiri. "Maaf, maksud Ibu bagaimana, ya?" Untuk membuktikan, ibu itu segera menuntun anaknya yang tidak henti-hentinya menggaruk untuk diperlihatkan pada Bu Mega. "Liat, nih, badan anak saya jadi gatal-gatal semua gara-gara Mbak ini!" ocehnya, menyalahkan dengan menunjuk-nunjuk Sakura. "Sudah jelas saya pesan rasa cokelat. Eh malah dibawakan rasa strawberi. Dia itu alergi sama apapun yang ada campuran strawberinya!" Ibu dari anak itu menyerang bertubi-tubi, sampai Sakura tidak memiliki kesempatan untuk menyahut walau hanya untuk sepatah kata. "Mohon maaf, Bu. Ini memang kesalahan saya. Tapi saya benar-benar tidak bermaksud untuk membuat anak ibu seperti ini," sesal Sakura. "Halah, sudah cukup! Tidak usah banyak alasan kamu. Saya tidak butuh alasan kamu!" Bola matanya yang melotot tajam pada Sakura, segera beralih pada anaknya. "Sudah yuk, Nak, kita ke klinik. Jangan pernah kita makan di kedai ini lagi!" tekannya kemudian seraya menggiring anak laki-lakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun itu keluar kedai. Saat ibu dan anak yang menjadi pencetus keributan itu pergi, tinggalah urusan Sakura dengan Bu Mega. "Sakura, kamu bisa ikut ke ruangan saya?" Bersama dengan roda sepeda yang terus berputar, Sakura menelusuri ruas jalan dari kedai menuju rumahnya. Sepasang matanya jelas memerhatikan ke depan seakan sedang sangat fokus pada jalan raya sepi yang dilewatinya malam itu. Akan tetapi, siapapun tidak akan ada yang dapat mengira, bahwa jauh di dalam kepalanya, ada begitu banyak hal yang Sakura pikirkan, namun tak kunjung menemukan jalan keluar. Tentang hutang ayahnya, tentang ibunya yang tidak ingin menjual rumah mereka, juga tentang ancaman Bu Mega tadi perkara keteledoran yang dia perbuat di kedai. Yang ketiga-tiganya sungguh membuat kepala Sakura terasa sakit sekarang karena memikirkannya. TINN Suara kelakson mobil yang nyaring seketika membuat Sakura tekejut, dan langsung membelokkan setang sepedanya tanpa sadar ke sembarang arah, sampai-sampai ia terguling bersama sepedanya di pinggir trotoar. "Aw―" Sakura melirih saat ia merasakan perih di area sikunya. Gesekan kasar antara kulit dan permukaan trotoar yang kasar tentulah wajar apabila yang ia lihat sikunya lecet dengan sedikit darah. Tidak langsung bangkit berdiri, Sakura duduk membersihkan luka pada kedua sikunya. Segelumit masalah yang menyerang pikiran Sakura hingga kepalanya terasa sakit, ditambah rasa sakit nyata yang menyerang sikunya secara fisik, entah mengapa seolah memicu sebuah kesesakan yang tak tertahankan di dadanya, yang membuatnya seketika menyadari, bahwa sejak dulu sampai detik ini, dirinya memanglah seseorang yang paling menyedihkan di muka bumi. Seseorang yang tidak pernah ditakdirkan untuk memiliki kebahagiaan apapun dalam hidupnya. Mulai dari ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar, Sakura dikucilkan sendirian, di saat teman-temannya bermain bersama dengan mainan-mainan yang tidak bisa Sakura miliki lantaran kedua orangtuanya tidak mampu untuk membelikannya. "Sakura sana! Kamu nggak punya mainan kayak kita. Jadi kamu nggak boleh main sama kita-kita!" Sakura masih ingat betul perkataan salah satu temannya, yang masih terngiang-ngiang di telinganya. "Ibuuuu," Saat itu, Sakura hanya bisa berlari menghampiri ibunya, yang kemudian ibunya menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat dan usapan lembut di puncak kepalanya. "Nggak masalah, kok, nggak bisa main bareng teman-teman. Sakura kan masih bisa main sama Ibu. Ayuk, pulang, yuk? Kita main di rumah?" Suara ibunya yang terdengar selalu tenang dengan nuansa yang sangat keibuan, entah ada sihir apa, dalam sekejap selalu berhasil meruntuhkan kesedihan Sakura kapan pun dan di mana pun. Didukung dengan ayah yang selalu bisa membuat bibirnya terangkai membantuk lengkungan senyum. "Kenapa anak ayah menangis, Bu?" tanya Ayah pada Ibu. Ibu mengusap kepala gadis kecilnya yang masih mencebik sambil mengucak-ngucak mata agar air mata yang jatuh dapat tersamarkan. "Ini, lho, Yah, Sakura nangis gara-gara nggak diajak main sama temen-temen." "Ngapain nangis? Gitu aja kok nangis. Kalau temen-temen Sakura nggak bisa menemani Sakura apa adanya Sakura, lebih baik Sakura main sama Ibu. Atau sama Ayah juga boleh, mumpung Ayah lagi libur, nih." "Main apa?" Gadis cilik itu bertanya dengan suara bergetar bekas menangis tadi. "Main tebak-tebakan. Nih, Sakura tebak, ya, hewan-hewan apa yang paling jelek?" timpal Ayah yang langsung memberi tebakan. "Monkey?" "Salah!" "Terus apa?" "Pig. Sebentar Ayah tunjukin ke kamu." Dengan cepat Ayah langsung membelakangi Sakura. Sampai beberapa detik kemudian, tiba-tiba Ayah membalik kembali tubuhnya dengan wajah yang super-duper jelek. Hidung mekar, mata dijulingkan, lidah menjulur keluar, dan itu sukses membuat Sakura seketika tertawa. Ya, Sakura memang sempat bahagia. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama ia rasakan. Hingga ketika duduk di bangku SMP, Sakura harus menerima takdir pahit, di saat ia melihat ayahnya terkapar tanpa nyawa, bersama ibunya yang memegang sebuah pisau dengan lumuran darah. "Ayahmu telah meninggal, dan ibumu resmi ditetapkan sebagai pelaku dalam kasus pembunuhan ayahmu." Ingatan itu muncul menyerupai bayangan yang mengerikan di kepala Sakura. Kenapa? Karena mulai saat itulah, kenyataan kian memburuk. Kenyataan ketika Sakura tidak memiliki siapapun untuk membantu dirinya dalam menopang segala keluh kesahnya. Kenyataan ketika tidak ada lagi kalimat-kalimat ibu yang menenangkan hatinya. Kenyataan ketika tidak ada lagi candaan-candaan ayah, yang membuatnya tertawa di tengah tangisan. Kenyataan, yang dengan sendirinya menjadikan Sakura tumbuh lebih tegar dalam menghadapi aral lintang di hidupnya. Meskipun tetap saja, pada situasi tertentu, kadang kala Sakura masih memiliki sisi di mana dia tidak lagi setegar yang orang-orang pikirkan tentangnya. Seperti pada situasi saat ini, Sakura benar-benar merasa dirinya terlalu lemah untuk menghadapi semuanya. Di saat ia menyadari akan rumitnya rentetan masalah yang muncul tiada henti di hidupnya dalam segala hal. Bahkan dalam soal perasaan, Sakura tidak pernah seberuntung Lola yang selalu bisa memiliki lelaki mana pun yang dia inginkan. ketika Sakura mulai beranjak dewasa sekarang, di saat ia mulai menyukai seseorang, nyatanya kenyataan malah mengatakan bahwa seseorang yang ia sukai telah dimiliki oleh orang lain yang membuatnya tidak memiliki harapan lebih. Tidak pernah ada kebahagiaan yang terselip di sana. Semuanya menyakitkan. Sekian lama Sakura berusaha untuk menjalani semuanya dengan kuat, dengan tegar. Bersusah payah untuk sabar dan ikhlas menerima, meski Sakura tahu dua hal itu adalah hal yang tersulit untuk ia lakukan dalam keadaannya yang tak pernah berubah seperti ini. Berusaha untuk menanamkan pola pikir, bahwa mungkin ini adalah hujan badai yang nantinya akan ada pelangi setelah semua berhasil ia lalui. Akan tetapi semakin mendalam Sakura menanamkan pola pikir seperti itu, kenyataan malah membuat Sakura semakin yakin bahwa kini, bahagia sudah terlalu semu untuknya. Tak lama, terdengar suara isakan yang terpendam di dalam lipatan tangan di atas dua lutut Sakura yang tertekuk. Untuk pertama kalinya Sakura menangisi keadaannya sendiri. Sakura menangis di pinggir jalan raya, tanpa peduli berbagai jenis kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Membuang tetesan-tetesan air mata yang sungguh memberatkan dadanya. Ada sebuah pertanyaan yang selalu dilirihkan batin Sakura, yang tak kunjung terjawab sampai detik ini. Sampai kapan ia harus menunggu? Menunggu giliran untuk bahagia. Rasanya hidup sangatlah tidak adil bagi Sakura, jika Tuhan terus-menerus hanya membebankan dirinya dengan masalah dan takdir yang tak pernah sejalan dengan harapannya, tanpa ada kebahagiaan seimbang yang tersisih untuknya. === To be continue... a/n: jangan lupa vote dan komentar yaaa....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD