5

1565 Words
Hidup itu seperti langit malam. Mau seindah apapun yang terlihat, mau sebanyak apapun bintang menghiasinya, sampai kapan pun juga, langit malam akan selalu dingin dan terlihat gelap. Langit malam tidak akan pernah bisa menerangi semesta. Tidak akan pernah mampu menghangatkan segala isinya. *** "Galen, aku bisa bicara sama kamu sebentar?" Suara serta tangan lembut dengan jari-jari lentik yang menyentuh salah satu bahu Galen seketika membuat Galen menolehkan kepalanya. Galen tersenyum, tak lama bertanya halus, "Mau bicara apa, sayang?" "Ada sesuatu yang harus aku omongin sama kamu," ujar Viola. Kekasih Galen sekaligus junior Galen dan Angkasa di Fakultas Hukum. Jika kalian bertanya-tanya apakah Viola merupakan seseorang yang sama dengan yang Sakura dan Bima lihat kala itu, jawabannya iya. Meskipun sebenarnya Bima dan Sakura telat sekali karena mereka baru mengetahui hubungan Galen dan Viola sekarang-sekarang ini, sementara kenyataannya Galen dan Viola sudah berpacaran cukup lama. Bahkan hampir terhitung satu tahun sejak hari pertama Galen menyatakan perasaannya secara langsung pada Viola. Galen yang tidak suka mengekspos hubungannya, juga Viola yang tergolong pendiam berbanding terbalik dengan Lola, membuat hubungan mereka tidak dapat dikentarai oleh siapapun. Tambahan melihat mereka benar-benar berduaan atau mengobral kemesraan di area kampus layaknya pasangan-pasangan lain adalah momen langka bagi pasangan yang satu itu. Jadi tidak heran bukan, kalau sebelumnya Bima membutuhkan waktu yang lama untuk membuktikan pada Sakura, bahwa Galen, seseorang yang Sakura sukai itu, benar-benar telah dimiliki oleh orang lain. "Oke, tapi nanti, ya. Aku selesaikan tugas aku dulu. Nggak apa-apa kan?" Gadis cantik dengan nama lengkap Viola Anaretta itu menggeleng pelan. Membuat rambut panjangnya yang hitam legam segikit merumbai ke kanan dan ke kiri. "Emang kamu mau bicara soal apa?" "Soal aku. Soal hubungan kita juga." Mendengar kata 'hubungan kita', dalam sedetik raut wajah Galen berubah. Entah mengapa perasaan cowok itu mendadak tidak enak. "Udah, lo urus aja dulu urusan lo. Tugas lo biar gue aja yang lanjutin." Angkasa yang berjalan mendekat dan mengambil alih selebaran-selebaran di tangan Galen seketika menjadi solusi. "Serius lo, Sa?" tanya Galen. "Hm," deham Angkasa dengan gedikan dagu. "Ibu makan, ya?" Hanya pada ibunya Sakura bisa berbicara dengan intonasi suara sehalus ini. "Kalau Ibu nggak makan, nanti Ibu sakit. Sakura nggak mau Ibu sakit." Yulianita, wanita yang nampak lebih tua daripada usianya itu melamun. Sesaat setelah Sakura tanya, kepalanya menggeleng pelan. Namun pandangannya masih tetap kosong. Hingga tak lama kemudian setitik air mata lolos dari ujung matanya. "Ibu jangan nangis," tutur Sakura, seraya mengusap lembut kedua pipi ibunya secara bergantian dengan sebelah tangannya, di saat tangannya yang lain masih memegang semangkuk bubur milik ibunya yang belum dimakan satu sendok pun. "Sakura janji akan melunasi hutang ayah, sebelum rentenir itu mengambil alih rumah kita." Sakura tahu, walaupun tadi ibunya tidak keluar, tetapi suara dua pria itu yang terlalu lantang pastilah sampai ke telinga ibunya. Sakura juga tahu, pasti hal itu yang membuat ibunya menitikan air mata saat ini. Ibunya pasti tidak ingin kalau sampai rumah satu-satunya yang menjadi tempat tinggal mereka jatuh ke tangan rentenir itu nantinya. Karena mau bagaimana pun juga, hanya rumah itu yang menjadi peninggalan ayahnya satu-satunya. Ada begitu banyak kenangan yang tak terhapuskan di sana. Meskipun, di rumah itu juga, Sakura melihat ayahnya terbunuh. Entah oleh siapa. Yang jelas, Sakura yakin, pasti bukan ibunya yang melakukan hal sekeji itu pada ayahnya. Tangan Sakura terjulur meraih salah satu tangan ibunya, sampai pandangan ibunya bergeser memberi tatapan tanpa isi ke arah sepasang matanya. "Sekarang Ibu makan dulu, ya? Sakura yang suapi. Biar nanti setelah suapi Ibu, Sakura bisa langsung ke kedai roti Bu Mega. Cari uang untuk melunasi hutang-hutang Ayah." Seperti biasa, mau Sakura mengajak ibunya bicara sepanjang apapun, ibunya tidak pernah menanggapinya dengan ucapan. Yuli selalu membungkam mulutnya rapat. Hingga seketika Sakura menatap miris sosok ibunya yang duduk di pinggir ranjang dengan punggung bersandar pada bantal yang didirikan. Semenjak kejadian itu, tidak tahu kenapa Sakura merasa ibunya telah benar-benar berubah―bahkan sampai Sakura sendiri tidak lagi mengenali sosok ibunya yang ia lihat sekarang. Keseharian ibunya yang lebih sering melamun dan nyaris tidak pernah bicara selama hampir enam tahun terakhir, semakin hari semakin membuat Sakura merasa asing dengannya. Sakura mengeluh dalam batin seperti ini bukan karena Sakura tidak bisa ikhlas dalam menerima takdir. Akan tetapi kadang kala, Sakura merindukan sosok ibunya yang justru malah terbilang bawel lantaran terlalu perhatian padanya. Memarahinya tiap kali ia lupa makan, juga tiap kali ia melakukan kesalahan walau hanya sebatas menaruh sepatu sekolah sembarangan. Sakura sungguh sangat tidak menyangka, kalau kejadian yang telah berlalu hampir enam tahun silam itu ternyata telah berhasil merampas segala kebahagiaan yang Sakura miliki tanpa ampun, hingga tiada satu pun yang tersisa untuknya, selain keberadaan ibunya saat ini. Menyebabkan dunia indah Sakura terasa berbalik menjadi kelam dan gelap seperti langit malam, dalam satu jentikan jari. Kenapa Sakura beranggapan seperti itu? Karena yang kenyataan yang ia hadapi sejauh ini paska kejadian itu seolah menunjukkan padanya bahwa, mau seindah apapun yang terlihat, mau sebanyak apapun bintang menghiasinya, sampai kapan pun juga, langit malam akan selalu dingin dan terlihat gelap. Langit malam tidak akan pernah bisa menerangi semesta. Tidak akan pernah mampu menghangatkan segala isinya. Ditambah kejadian itu juga telah membuat lebih dari separuh kesadaran jiwa ibunya seolah lenyap begitu saja paska kejadian itu. Semua terjadi menimpa Sakura persis kobaran api yang membakar selembar kertas hingga menjadi abu. Lalu dalam waktu singkat, abu itu hilang terbang terbawa angin tanpa meninggalkan apa-apa selain kenangan getir yang menyakitkan untuk diingat. "Satu-satunya kebahagiaan yang Sakura punya sekarang cuma Ibu. Jadi janji, Sakura nggak akan pernah mengecewakan Ibu." Sakura berusaha untuk meyakinkan ibunya kembali. "Jadi, sekarang Ibu makan, ya?" Sampai ketika tak lama kemudian Yuli memberi anggukan samar sebagai jawaban, yang membuat seulas senyum lega akhirnya tersemat di bibir Sakura. Setelah itu barulah Sakura memberi suapan demi suapan bubur pada ibunya. Seperti itulah komunikasi yang terjalin antara Sakura dan ibunya selama enam tahun belakangan ini. Yuli yang enggan berkata-kata, hanya merespon setiap ucapan yang terlontar untuknya dengan gerakan-gerakan samar tidak lebih dari mengangguk dan menggeleng. Pita yang semula cukup keheranan, kini nampak sudah terbiasa menyaksikan interaksi semacam itu antara Sakura dan Tante Yuli―begitu Pita memanggilnya. "Kamu mau bicara soal apa? Tumben kamu mau berdua sama aku kayak gini di tempat sekitaran kampus? Biasanya malu," goda Galen pada kekasihnya ketika mereka telah mendapati meja kosong di salah satu cafe dekat kampusnya. "Ini bukan waktu yang tepat buat becanda, Galen. Aku mau kita bicara serius sekarang." Raut dan nada bicara Viola yang sepadan, membuat Galen sejenak membenarkan posisi duduknya. Membalas sorotan mata Viola yang menatapnya lekat meski dari jarak yang tidak begitu dekat lantaran keduanya kini duduk berhadapan dan tersekat oleh sebuah meja berbentuk persegi. "Hal serius apa yang mau kamu beritahu aku?" "Minggu depan aku pindah ke Ausie." Tiba-tiba Galen melepas tawanya. "Kamu bercanda, ya?" "Tadi aku bilang ini bukan waktu yang tepat buat bercanda, kan?" timpal Viola, masih bertahan dengan ekspresinya yang memang sangat serius. Senyum Galen perlahan memudar. "Tapi kuliah kamu kan belum selesai?" tanyanya yang mulai terbawa serius. "Orangtua aku minta lanjut kuliah di sana. Dan papaku udah urus kepindahannya tanpa sepengetahuanku dari beberapa hari lalu." Sesaat Viola menunduk, menghela napas panjang, sebelum ia kembali melempar tatapannya pada Galen. "Tapi ini bukan tentang kuliah aku. Ini tentang kelanjutan hubungan kita, Galen." "Terus kamu mau kita putus?" "Apa kamu bisa menjalin hubungan jarak jauh?" Viola membalas pertanyaan Galen dengan pertanyaan. "Bisa nggak bisa, yang jelas aku nggak mau kita putus, Vi." Seketika Galen menjulurkan kedua tangannya. Meraih, kemudian menggenggam erat tangan Viola yang tergeletak di atas meja. "Aku sayang sama kamu." Sejak awal memang Galen yang memiliki perasaan lebih dulu pada Viola. Galen yang mengejar-ngejar cinta Viola sampai akhirnya, Viola si gadis cerdas itu luluh juga padanya. Namun, jika biasanya banyak lelaki hanya memperjuangkan perempuan yang mereka sukai di awal saja. Dengan arti ketika mereka berhasil mendapatkan hati perempuan itu sampai akhirnya perempuan itu berbalik menyukai mereka, mereka langsung bersikap tak acuh, Galen ini berbeda. Walau Galen sudah berhasil mendapatkan hati Viola, Galen tidak pernah menyia-nyiakan gadisnya itu. Galen selalu mempertahankan hubungannya, bahkan sampai detik ini, perasaan Galen tidak pernah berkurang sedikit pun pada Viola. Viola yang tidak suka banyak bicara, semakin harinya justru semakin berhasil membuat Galen jatuh dan semakin jatuh hati padanya. Viola selalu spesial di matanya. "Gimana, sih, Mbak?! Saya kan pesannya rasa strawberi, kenapa ini malah rasa cokelat?!" "Eh?" Tiba-tiba mendapat bentakan, tatapan Sakura segera jatuh pada sebuah roti yang ditunjuk ibu-ibu yang merupakan salah satu pelanggannya itu. Saat dilihat ternyata ia memang salah memberikan pesanan. "Maaf, Bu. Sepertinya tertukar dengan pesanan lain. Biar saya gantikan roti Ibu dengan yang baru ya, Bu." Sakura segera meminta maaf. Pikiran Sakura yang kacau ternyata juga mengacaukan pekerjaannya. Membuatnya tidak bisa fokus dalam melayani para pengunjung. "Nggak perlu! Saya udah nggak selera. Saya mau pergi aja." Tidak dapat mencegah lagi, Sakura membungkuk hormat. "Sekali lagi, saya mohon maaf, Bu, atas ketidaknyamanan Ibu." "Aduh, Mama gatal banget, Ma." Seorang anak kecil di meja lain yang bersama dengan ibunya itu, terus mengeluh sambil menggaruk-garuk tangannya yang terasa gatal. "Kamu kenapa, Nak?" "Nggak tau, Ma. Tahu-tahu gatal semua badanku." Sesaat ibu dari anak itu mengecek isi roti milik anaknya, yang tidak habis termakan. Dengan napas terburu emosi, ibu dari anak itu segera mengedarkan matanya. Mencari seseorang yang melayaninya tadi. Sampai saat ia mendapati Sakura tengah mencatat pesanan pelanggan lain, ibu dari anak itu buru-buru bangkit, dan menghampiri Sakura. === To be continue... a/n: kita pemanasan dulu ya sebelum perang perasaan sama cerita ini:')
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD