4

1347 Words
Segala sesuatu akan menjadi mungkin, ketika kita terus bekerja keras dan berdoa. *** "Bukan, Sa, gue telepon lo bukan masalah Tante Yuli," ucap Pita di seberang sana dengan tergesa-gesa. "Terus?" "Di depan rumah lo ada yang ngetuk-ngetuk. Pas gue intip dari jendela, badannya besar-besar, terus tampangnya serem-serem. Lo ke sini dong, Sa. Gue takut banget, tau." "Yaudah, gue balik sekarang, tunggu. Bilang aja lo tamu di rumah gue." Setelah mengantungi ponselnya kembali, Sakura menyempatkan diri untuk menepuk satu sisi bahu Bima sambil bilang, "Bon, gue balik duluan, ya." "Iya, hati-hati, Sa." Sakura menipiskan bibirnya. Namun baru tiga langkah ia hendak berlalu, tiba-tiba dirinya teringat kalau ia hampir melupakan seseorang. "Oiya, sori, ya. Gue nggak ada waktu buat berurusan sama lo," tunjuknya pada Angkasa seraya memutar bahunya. Jika biasanya Sakura memerlukan waktu sekitar 15 menit lebih dari kampus untuk sampai ke rumahnya, kali ini Sakura hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit untuk sampai sana. Karena tadi, Sakura mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa lakukan. Dari ujung gang Sakura sudah bisa melihat dua orang berbadan besar seperti yang dikatakan Pita kepadanya melalui sambungan telepon. Selepas memasang standar sepedanya, barulah Sakura menghampiri. Kedatangan Sakura saat itu sudah seperti dewi keberuntungan bagi Pita, yang sebelumnya nampak sedang diinterogasi oleh dua orang pria berwajah mengerikan itu. "Ada apa, nih, ramai di rumah saya?" "Anda putrinya Pak Rendi?" Salah satu dari mereka bertanya sesaat setelah bangkit berdiri menghadap Sakura. Tanpa ada rasa takut, Sakura menjawab lantang, "Kalau iya, emang kenapa?" "Kami Debt Kolektor yang ditugaskan untuk menagih hutang Pak Rendi yang belum dilunasi sampai sekarang, dan sudah jatuh tempo." "Hutang?" seruak Pita seraya saling toleh dengan Sakura. "Ayah saya punya hutang?" tanya Sakura dengan kenyitan di dahi. "Iya," sahut pria yang satunya lagi, seraya mengulurkan sebuah amplop putih berukuran panjang pada Sakura. "Untuk jumlah dan keterangan lain yang lebih jelasnya, dapat dilihat di sini." Sakura menerimanya dengan ragu-ragu. Kemudian, membuka rekatan lemnya, dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat resmi dari dalamnya. Sakura sungguh bergeming saat membacanya. Pada surat itu tertera jelas, bahwa ayahnya, memiliki hutang yang harus dilunasi dalam kurun waktu selambat-lambatnya lima tahun yang terhitung setelah tanda tangan kontrak. Dalam perjanjian hitam di atas putih tersebut, baik Pak Rendi Suryo maupun seseorang yang meminjamkan uang, membubuhkan tanda tangan mereka masing-masing di atas materai. Lebih dari itu, Sakura bahkan sangat-sangat terkejut, ketika ia kembali menyadari nominal angka yang merupakan jumlah pinjaman ayahnya. "Lima puluh juta?!" Mendengar jumlah pinjaman yang lolos dari lontaran Sakura seketika membuat Pita terpancing untuk melihatnya dengan langsung pada surat perjanjian yang masih berada di tangan Sakura. Apa ia tidak salah dengar, lima puluh juta? Akan tetapi kenyataannya memang tidak salah. "Buat apa ayah saya meminjam uang sebanyak itu?" Sakura menegakkan kepalanya, menuntut jawaban pada dua penagih itu. "Kalau soal itu, kami tidak tahu-menahu. Yang jelas, kami hanya menjalankan tugas," terang salah satunya. "Lo ada uangnya, Sa?" tanya Pita yang membuat Sakura menoleh, lalu menggeleng pelan. Dengan keadaan yang seperti sekarang ini, Sakura sungguh sangat tidak yakin bisa menggantinya dalam waktu dekat. Jangankan uang untuk membayar hutang, untuk memberi upah Pita karena telah menjaga ibunya saja, Sakura tidak mampu. Gajinya sebagai pekerja paruh waktu benar-benar hanya bisa mencukupi biaya hidup untuk ia dan ibunya, juga untuk membeli obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh ibunya secara rutin. "Tapi saya nggak ada uang sebanyak ini, Pak," jujur Sakura. "Kalau gitu, kami harus mengambil barang-barang berharga anda, beserta surat rumah ini sebagai gantinya." "Eh, jangan, Pak!" Baru saja dua pria itu ingin menerobos masuk rumah Sakura, Sakura segera menghadangnya. "Saya minta jangka waktu tiga bulan lagi. Dan setelah itu saya janji akan melunasi hutang ayah saya semuanya." "Kami hanya menjalankan perintah dari bos kami. Jika ingin perpanjang tempo, harus ada sesuatu yang dapat dijadikan jaminannya. Anda tetap harus menyerahkan surat rumah ini, sebagai jaminannya." Tanpa bicara sepatah kata pun, Sakura masuk ke dalam rumahnya. Lalu kembali lagi dengan membawa apa yang mereka minta untuk dijadikan jaminan. Bahkan sampai dua pria berbadan besar itu pergi dari rumahnya, Sakura masih terus membungkam mulutnya rapat-rapat, bertahan di pijakannya. Sampai akhirnya Pita bertanya, "Lo serius, Sa, sama keputusan lo?" Sakura mengangguk. "Gue janji, gue akan bekerja keras biar bisa melunasi semua hutang ayah gue," jawab Sakura dengan embusan napas yang cukup membebankan dadanya. "Tapi tetep aja nggak mungkin, Sa. Apalagi dalam kurun waktu cuma tiga bulan, doang." "Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin, Pit. Segala sesuatu akan menjadi mungkin, ketika kita terus bekerja keras dan berdoa." Sakura meyakinkan Pita dengan senyumnya. "Udah, lo tenang aja. Sekarang mending kita masuk, yuk," ajaknya kemudian seraya merangkul bahu Pita. "Udah lo balikin?" tanya Galen sesaat setelah melihat Angkasa kembali. Angkasa hanya menipiskan bibirnya membentuk senyuman miring. Sebetulnya Angkasa tidak mengiyakan pertanyaan Galen, namun Galen sudah terlanjur mengartikan senyum samar itu sebagai jawaban yang pasti. Sembari melakukan tugasnya menempelkan selebaran di mading yang belum terselesaikan, Galen bertanya lagi, "Eh, iya, Sa. Ngomong-ngomong gimana lo sama Lola?" "Gue udah putus sama dia kemarin," singkat Angkasa. "Sial!" umpat Galen dan langsung menghentikan aktivitasnya. Bahunya berputar menghadap Angkasa. "Jadi beneran soal gosip lo mutusin Lola di halaman depan kampus?" "Sesuai kesepakatan kita kan?" Angkasa menyahut enteng, seraya berlalu ke mading yang masih kosong, meninggalkan Galen yang akhirnya memilih untuk kembali pada apa yang dia lakukan sebelumnya, yang sempat tertunda. Sesuai kesepakatan. Memang. Hubungan Angkasa dan Lola yang terjalin selama tidak lebih dari dua bulan kemarin itu memang berawal dari tawaran Galen pada Angkasa, yang Angkasa tolak. Sehingga akhirnya, Galen mengajukan sebuah kesepakatan yang tidak resmi pada Angkasa yang meminta Angkasa untuk mencoba membuka hati pada Lola dengan cara menerima cinta Lola, menjadi pacar Lola, dalam jangka waktu paling tidak dua bulan lamanya. Jika dalam dua bulan itu Angkasa masih tetap tidak memiliki perasaan lebih pada Lola, Galen memperbolehkan Angkasa untuk mengakhiri hubungannya dengan Lola. Tanpa kesepakatan yang Galen buat itu, tidak mungkin Angkasa akan menerima gadis yang paling sering mencari perhatian dengan drama-drama yang dilakoninya sehari-hari itu. Tidak peduli walaupun ia tahu kalau kenyataannya sejak awal semester satu, Lola memang sudah jelas sekali mengejar dirinya. Sedangkan alasan Galen memberikan tawaran itu pada Angkasa adalah, semata-mata demi menepis segala rumor palsu yang beredar mengenai Angkasa. Rumor yang sempat Galen dengar mengatakan Angkasa tidak suka perempuan, Angkasa tidak punya hati, Angkasa robot manusia, dan lain semacamnya. Karena Galen tahu, rumor-rumor itu tidaklah benar kenyataannya. Galen mengenal Angkasa sejak hari pertama ia dan keluarganya menghuni rumah baru mereka. Selain tetangga lantaran rumah mereka yang berseberangan, Galen dan Angkasa juga dapat dibilang teman kecil. Saat Galen pindah dari Bandung ke Jakarta, saat itu usia Galen masih belum genap lima tahun. Galen dan Angkasa sering bermain bersama sejak mereka masih seusia itu, dikarenakan mereka bersekolah di playgroup yang sama. Yang lokasinya tidak begitu jauh dari perumahan mereka tinggal. Galen yang selalu bisa mengatur emosi dan juga bisa lebih bersikap dewasa daripada Angkasa, membuat pertemanan mereka tetap terjaga sampai detik ini. Di saat Angkasa egois, Galen selalu mengalah dalam hal apapun. Galen kerap kali mengibahkan apa yang menjadi miliknya pada Angkasa, termasuk robot kesayangannya. Maka dari itu, saat keduanya beranjak remaja, Angkasa sangat menghargai segala kebaikan Galen sejak mereka kecil. Karena hanya Galen yang menemaninya, dan mau menerima segala sikap dan sifat buruknya yang sekaligus membuatnya menjadi sulit untuk mendapat teman atau berteman dengan siapapun. Pernah ketika mereka duduk di bangku SMA, Angkasa tidak diperbolehkan oleh anak-anak laki yang lain untuk masuk klub sepak bola sekolah. Dan saat itu, Galen membelanya karena Galen merasa tidak adil. Terlebih ketika sudah jelas-jelas Angkasa handal dalam segala teknik bermain sepak bola. Galen adalah satu-satunya teman yang paling berharga bagi Angkasa. Galen selalu ada di saat Angkasa membutuhkannya. Galen tulus berteman dengan Angkasa. Galen tidak pernah mengharapkan apa-apa, meminta apa-apa sebagai imbalan. Hingga untuk pertama kalinya, Galen mengajukan sebuah kesepakatan pada Angkasa untuk menerima cinta Lola. Yang tidak bisa lagi ia tolak. Walaupun sesungguhnya ia tidak peduli akan rumor-rumor yang beredar mengenai dirinya sendiri. "Galen, aku bisa bicara sama kamu sebentar?" Suara serta tangan lembut dengan jari-jari lentik yang menyentuh salah satu bahu Galen seketika membuat Galen menolehkan kepalanya. === To be continue... a/n: mau cepet lanjut? komen yang banyak dulu yaaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD