Sinar matahari masuk melalui celah jendela, udara terasa dingin begitu menusuk tulang. Suara air dari shower terdengar lembut, tidak lama dari kamar mandi Maggie keluar dengan pakaian rapinya, rambutnya terkuncir. Begitu keluar kamar mandi Maggie buru-buru mencari remot pendingin ruangan dan mematikannya. Kakinya berjinjit menghindari lantai yang terasa sangat dingin saat berjalan menuju meja rias. Sesekali Maggie memeluk tubuhnya sendiri merasakan udara dingin yang menyentuh kulitnya.
Maggie merias wajahnya dengan riasan tipis dan dasar. Dia hanya menggunakan Pelembab, bedak, liptint dan juga maskara. Wajah Maggie sudah cantik, dia memang suka terlihat natural dan tidak terlalu tebak dalam memakai riasan. Setelah selesai merias wajahnya, Maggie beralih kerambut. Dia menyanggul rambutnya keatas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan muulus. Maggie berbalik di depan cermin, menilai riasan dirinya sendiri.
Sempurna.
Ia memakai rok pendek yang sedikit ketat, membentuk bokongnya, kemeja putih yang terlihat pas melekat ditubuhnya dan juga Bladzer biru seiras dengan rok yang ia kenakan. Suara ketukan pintu memecah fokusnya, segera dia mengambil tas dan keperluan rapat yang akan diadakan 15 menit lagi yang dilekatakannya di atas meja nakas samping tempat tidur.
Maggie membuka pintu, saat itu juga matanya bertemu dengan mata berwarna coklat yang indah milik Ansel. Pria itu terpaku, menilai penampilan Maggie dari bawah hingga ujung rambutnya.
"Apa yang kau kenakan?"
"Apa?"
"Kamu ingin menggodaku?" Ansel bertanya dengan senyuman miring yang menggoda.
Maggie mengernyit, memutar kedua bola matanya dengan malas. Memang kapan Ansel tidak tergoda dengan Maggie? Melihat Maggie duduk dengan pakaian tertutup pun Ansel tetap terangsang. Memang dasarnya pikiran pria itu saja yang sudah sangat kotor.
Maggie hendak berjalan keluar dari kamarnya tapi keberadaan Ansel yang berdiri di depan menghalanginya. Maggie mendorong sedikit tubuh Ansel untuk memberinya celah keluar, baru satu langkah, Ansel menarik tangan Maggie. Menghimpit Maggie pada dinding.
Bibirnya tersenyum penuh arti, Jari telunjuknya mengelus lembut pinggir wajah Maggie dari atas hingga kedagunya. Kemudian memegang dagu Maggie dan membuatnya mendongak. Jarak ini sangat dekat, Maggie bahkan bisa merasakan hembusan hangat napas Ansel yang mengenai wajahnya.
Maggie menatap Ansel dengan tajam. Perlahan wajah Ansel semakin mendekati wajahnya, refleks Maggie menutup mata saat benda kenyal dan hangat itu menyentuh bibirnya. mengecup dengan kembut sampai ciuman itu berubah mejadi liar dan panas. Tangan Ansel pun tidak diam saja, menggapai apa yang bisa ia sentuh dan remas.
Selang beberapa menit, akhirnya Maggie tersadar, ia langsung mendorong tubuh Ansel menjauh, melepaskan pagutan mereka. Dengan napas yang masih terengah dan wajah yang memerah, Maggie mengusap bibirnya yang sedikit membengkak dengan punggung tangannya.
Ansel memberikan Maggie tatapannya yang tajam, terlihat jelas di wajah Ansel jika pria itu kesal akibat perbuatan Maggie yang tiba-tiba mendorongnya padahal sebelumnya Maggie juga menikmati dan terbuai.
"Ki...kita ada rapat. Sudah terlambat." Kata Maggie dengan gugup, dia merasa malu dengan dirinya yang ternyata terbuai oleh sentuhan Ansel. Maggie merutuki dirinya sendiri.
"Aku tidak peduli." jawab Ansel acuh tak acuh.
"Tidak peduli bagaimana? Kita kan disini untuk rapat ini."
Ansel melirik jam tangannya. Sebenarnya Ansel tidak peduli dengan rapat itu, dia lebih memilih bersama Maggie daripada datang ke rapat. Tapi sekarang bersama Maggie pun sudah tidak bisa, Maggie sudah menghancurkan suasananya. Ansel menghela napasnya dengan kasar.
"Baiklah, tapi setelah rapat kita melanjutkan kegiatan yang sebelumnya."
Mata Maggie membelalak, "APA?!"
"Kalau kamu tidak setuju, kita masih memiliki waktu yang sangat panjang disini dan melanjutkannya sekarang." Ansel tersenyum miring, sangat licik. Maggie menyumpah serapah Ansel.
"Baiklah!" Kata Maggie pasrah, dengan cepat wanita itu berjalan mendahului Ansel dengan langkah yang menghentak-hentak.
"Kamu yakin ingin rapat dengan penampilan seperti itu?"
Langkah Maggie terhenti, ia melihat pakaiannya. Astaga, sejak kapan jadi berantakan seperti ini?
Lagi - lagi Maggie merasa sangat malu. Maggie berbalik, bergegas masuk kembali ke kamarnya dengan cepat. Untung saja Ansel mengingatkan. Tunggu, untuk apa Maggie merasa berterimakasih pada Ansel? Ini semua karena perbuatan pria itu.
Rasanya sungguh sial.
Begitu masuk kedalam kamar, Maggie langsung berdiri di depan cermin. Penampilannya sangat berantakan, kemeja yang lecak, tidak rapi, rok yang miring, rambutnya juga sangat berantakan.
Maggie menahan rasa kesalnya pada Ansel, tangannya terkepal dengan erat. apa tidak bisa pria itu mencium ku tanpa merusak riasan ku?!
*
*
*
Ansel berdecak kesal saat seorang klien nya menatap Maggie dengan tatapan penuh minat, apalagi matanya yang tak memalingkan tatapan nya dari d**a dan b****g Maggie.
Lihat saja setelah ini Ansel akan menghancurkan perusahaannya tak peduli dia adalah klien nya dia tidak membutuhkan orang seperti itu, dia akan tetap kaya meski tidak bekerja, kekayaannya mungkin tidak akan habis 7 turunan sekalipun, Ansel sambil tersenyum penuh arti pada klien nya itu.
Setelah rapat selesai Ansel memanggil seorang orang kepercayaannya bernama Alan.
"Hancurkan perusahaannya lalu bunuh dia dan anggota keluarganya, sebelum mati congkel matanya dengan belati perak! itu adalah hukuman menatap milikku!" Titah Ansel disertai seringai mengerikan nya.
Iblis telah bangkit.
Mungkin sekarang obsesi nya semakin parah, kini Ansel mengklaim Maggie menjadi miliknya, dan jika dia sudah mengklaim sesuatu menjadi miliknya maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
Seringai Ansel tak kunjung pudar, dia kini kembali menjadi Ansel yang kejam dan licik.
Dia berjalan menyusul Maggie, kini waktunya menagih ucapan gadisnya itu.
Dan Ansel tidak akan melepaskan Maggie begitu saja seperti rencananya sebelumnya, dia tidak ingin siapapun memiliki Maggie selain dirinya.
Cklek!
Seakan tau siapa yang berada di depan pintu, Maggie langsung memeluk tubuhnya erat, alarm bahaya tengah berbunyi berkali-kali di kepalanya.
Ansel melangkahkan kakinya dengan tenang tatapan nya kini penuh dengan kilat gairah, dengan susah payah Maggie menelan ludahnya.
Ansel tersenyum manis pada Maggie, membuat Maggie terpesona untuk sesaat dan sadar kembali saat Ansel mengusap wajahnya dengan lembut mengecup kening Maggie dengan lembut lalu menarik Maggie ke dekapan Ansel, memeluk Maggie dari belakang dengan posesif kemudian menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Maggie.
Maggie menghela nafasnya, dia sangat takut dengan apa yang akan lakukan sekarang, dia juga merutuki perkataan bodohnya saat itu.
Ansel kini bingung dengan rasa nyaman saat bersama Maggie, dia menyeringai, "Aku menagih ucapanmu sebelum rapat, sayang~" bagai disengat listrik, Maggie menenggang.
Ansel mengecup leher Maggie. Maggie memejamkan matanya berusaha mengendalikan tubuhnya yang tak kalah bergairahnya sekarang, apalagi tubuhnya seakan menerima setiap sentuhan dari Ansel.
"Kau milikku Maggie!" bisik Ansel ditelinga Maggie membuat Maggie bergidik ngeri.
"Kumohon lepaskan pelukanmu ini!" mohon Maggie dengan nada yang sangat rendah, namun bukannya melepaskan Ansel malah kian mengeratkan pelukannya itu, nafas hangatnya yang mengenai kulit leher Maggie seakan menggelitiknya.
Suara Maggie terdengar sangat sexy di telinga Ansel membuatnya semakin menginginkan Maggie dan diliputi gairah nya.
To Be Continue