6. Paris

849 Words
Maggie sedang menyiapkan pakaian dan keperluannya nanti saat di Paris, sebenarnya dia sangat tidak ingin pergi, selain karna lelah, dia tidak ingin terjebak di dalam satu pesawat bersama boss mesumnya itu. Maggie menghembuskan nafasnya berat, "Untung saja aku dapat bayaran lebih untuk ke Paris" gumamnya, entah mengapa saat ini dia jadi materialistis semenjak mentandatangani kontrak bodoh itu. Kontrak yang membuat Maggie menggali kuburannya sendiri. Dirasanya sudah cukup lengkap, dia langsung menancapkan gas menuju bandara, sebelumnya Ansel sudah ingin menjemputnya namun Maggie menolak, dan jika Ansel masih bersikeras maka Maggie tidak akan ikut ke Paris. Mau tidak mau Ansel harus mengiyakan ucapan Maggie. Sudah pukul 7 pagi kini Maggie sudah berada di bandara. Mereka pergi dengan pesawat milik Ansel, yaitu S'ARO Airlines Ansel mengulurkan tangannya seraya menuntun dan mengajak Maggie untuk masuk bersamanya, Maggie menerima uluran tangan itu, Ansel tersenyum tulus pada Maggie. Entah mengapa Maggie terpesona dengan senyuman itu, senyuman yang hangat yang belum pernah Ansel tunjukan pada orang lain. Maggie nyaman dengan genggaman Ansel yang membuatnya merasa aman. *** Ansel keluar dari kamar yang terdapat di pesawat dengan pakaian dan rambut yang berantakan, kemudian disusul dengan pramugari cantik yang keadaannya tak jauh berbeda dengan Ansel, yaitu make up yang sudah tak terbentuk dan rambut yang berantakan. Maggie mengernyit bingung tapi tak lama kemudian dia mengerti,dia tersenyum sinis, "Sekalinya b******k, akan selalu b******k!" gumamnya, tapi anehnya pramugari itu keluar dengan kepala tertunduk dan sesekali terlihat mengusap wajahnya, apa dia menangis? apa yang dilakukan Ansel sehingga dia menangis? Ansel berjalan dengan santai kearahnya, dia bertanya dengan kekhawatiran yang tersirat di dalamnya,"Kau sudah makan?" Maggie berdecih, kenapa dia sok peduli padaku? batinnya. Ansel bertanya lagi karna merasa Maggie tidak mendengar pertanyaanya yang barusan, "Maggie, kau sudah makan?" Maggie masih diam. "Maggie jangan buat aku marah!" tegurnya. Maggie mendongak menatap Ansel dengan tajam, Ansel bingung dengan sikap Maggie, "Kenapa kau peduli padaku? pedulikan saja jalangmu itu!" ketus Maggie Ansel mengernyitkan keningnya, dan beberapa detik kemudian tawa Ansel pecah, "Kau cemburu?" tebak Ansel. Maggie membulatkan matanya, "Ma.. mana mungkin a.. aku.. ce..mburu! jangan mimpi!" elak Maggie tergagap. "Ya! kau cemburu!" Ansel menyeringai, "Tidak usah cemburu Mag! aku tidak akan tidur dengan jalang lagi jika kau bersedia menggantikan mereka!"tambahnya "Jangan mimipi disiang bolong An!" Ansel terkekeh "Dasar bodoh!" gumam Maggie. Ansel membulatkan matanya tak percaya jika Maggie baru saja mengatai dirinya bodoh, dan anehnya dia tidak merasa keberatan sama sekali, mungkin jika itu oranglain nyawanya sudah melayang saat ini. *** Kini mereka tengah berada disalah satu hotel berbintang di Prancis, lebih tepatnya Paris, kota terindah menurut Maggie. "Apa? aku tidak ingin sekamar denganmu!" pekik Maggie. Tentu saja Maggie tidak mau satu kamar dengan bossnya ini, itu adalah salah satu hal yang Maggie benci, bisa-bisa hilang sudah keperawanannya jika bersama pria m***m seperti Ansel. "Lalu kau mau tidur dimana?" tanya Ansel menantang Maggie. "Pesankan saja aku sebuah kamar lagi!" ujar Maggie mantap. Ansel terkekeh, "Kamar disini sudah penuh semua!" Maggie menyipitkan matanya curiga pada Ansel, "Jangan bilang kau yang menyewa semua kamar ini ya?" tebak Maggie tepat sasaran Ansel menyeringai licik, "Tentu saja, aku memboking semua kamar yang tersisa!" ucap Ansel tanpa beban Maggie mendengus, "kalau begitu berikan aku sebuah kamar!" Ansel tertawa, "Kau fikir untuk apa aku memboking semua kamar yang tersisa? tentu saja agar tak bisa kau pakai, agar kau tidur seruangan denganku!" Ansel menyeringai. Maggie ingin protes dan mencaci maki boss mesumnya ini tapi dia urungkan karna ia tau tidak akan ada yang berubah jika dia mencaci maki bossnya ini sekalipun, malah akan membuatnya lelah sendiri. "Baiklah!" ucap Maggie pasrah, dia tak bisa melawan Ansel sekarang ini. Maggie takjub dengan desain interior kamarnya ini, bisa dibilang kamar mereka, kamar ini adalah termaksud salah satu kamar VIP termahal dengan harga permalamnya berkisar 2230 Dollar. Kamar yang besar dan mewah, mungkin uang segitu tidak ada apa-apanya bagi Ansel mengingat siapa dirinya, kamar mereka terletak dilantai 4 nomor 107. "Aku akan tidur disofa dan kau di ranjang! aku tidak mau seranjang denganmu" ucap Maggie yang tengah asik merapihkan beberapa pakaiannnya kelemari. Ansel menatap Maggie lekat lalu bertanya dengan polosnya?,"kenapa memangnya?" Maggie memutar kedua bola matanya malas, " Tentu saja aku hanya ingin mencegah hal buruk terjadi, dan menjaga kehormatanku tentunya!" sahut Maggie dengan malas. Ansel melebarkan matanya, "Kau masih perawan?" tanya Ansel Maggie berdecak kesal, "Menurutmu?!" "Tidak." Apa dia terlihat seburuk itu dimata publik? Ansel menatap Maggie kagum dan tak percaya, ditengah kehidupan New York yang sangat bebas wanita cantik berumur 23 tahun masih perawan? benar-benar jarang bahkan nyaris tidak mungkin Bahkan wanita diluar sana sudah melepas statusnya sebagai gadis saat usianya 17 tahun dan rela melemparkan dirinya dengan senang hati pada Ansel. Entah mengapa Ansel menjadi semakin penasaran dengan gadis cantik dan menarik ini, dia berbeda dengan wanita diluar sana, dan Ansel yakini bahwa Maggie special. "Kau tidurlah denganku, tenang saja aku tidak akan menyentuhmu jika kau yang tidak memintanya sendiri, aku berjanji!" ucap Ansel. Maggie tersenyum sinis, "Tentu saja aku tidak akan pernah memintanya!" Ansel menyeringai nakal, "Kau akan menjilat ludahmu sendiri, ngomong-ngomong aku suka dengan cara bicaramu yang sekarang!" Maggie terdiam, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri yang tak menyadari bahasa yang ia ucapkan pada Ansel namun ia tak bisa menyangkal bahwa dia nyaman memakai bahasa informal pada Ansel. Dia juga merasa aneh dengan hal itu. Ansel berjalan melewati Maggie dan sempat berbisik padanya, "Siapkan dirimu, setengah jam lagi kita akan bertemu dengan Klient!" Lalu Ansel keluar dari kamar meninggalkan Maggie yang tengah bingung dengan dirinya sendiri
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD