Hubungan Erlend dan Laura semaki membaik dari hari ke hari. Mereka betah menghabiskan waktu berdua di dalam kediaman Dewa Hades. Suasana di sekitar rumah itu masih belum berubah. Karena panjaga Hades yang telah bangunkan dan beberapa kondisi mengerikan hutan membuat musuh yang kebanyakan adalah penyihir mengurungkan niat untuk masuk. Sebenarnya termasuk Cody dan para Saudari yang ingin mengunjungi dan melihat keadaan Laura. Erlend sepertinya telah menolak semua orang untuk datang kecuali Thanatos sendiri.
Saat ini Erlend berada di perpustakaan bersama Laura. Seperti biasa, mereka sedang berusaha merampungkan ramuan pengubah bentuk tubuh. Semua ini dilakukan untuk membuat Laura tidak dikenali oleh penyihir lainnya. Selain itu, dai juga harus menyembunyikan diri dari para pemburu penyihir. Erlend sudah yakin bahwa mereka tidak akan berhenti mengejar Laura hanya karena markas mereka diserang. Sejujurnya, mereka tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, apakah penyihir kalah? Ataukah yang para pemburu yang kalah?
Ramuan yang mengubah tubuh adalah jenis sihir yang tidak terlalu sulit. Hanya saja karena Erlend bukanlah penyihir dan Laura juga masih tidak bisa mengendalikan kekuatan dalam diirnya, waktu pembuatannya menjadi cukup lama. Tapi, karena semau bahan tersedia, mantera mudah dihafal dan dilafalkan, sehingga segalanya akan selesai hari ini.
“Bagaimana?” Erlend mendekati meja dengan memegang buku mantera tua yang dia dapatkan dari salah satu rak buku yang ada di perpustakaan ini. Dia melihat Laura sedang memperhatikan semua bahan yang ada di atas meja.
Di atas meja sudah tersedia banyak sekali bahan sihir, banyak juga botol-botol bening berisi cairan aneh, belum lagi akar-akar serabut yang sudah kering dari tumbuhan magis di sekitar kediaman Hades ini, dan lain sebagainya.
Laura mengangguk sembari menuding ke gelas hitam berbahan keramik yang ada di tengah meja. Gelas itu berisi cairan coklat yang meletup-letup seperti sudah mendidih padahal tidak sedang direbus. Itu semua terjadi karena adanya campuran banyak sekali bahan magis di dalamnya.
“Sudah siap, hanya butuh rambut dari orang yang ingin ditiru,” katanya.
Erlend menaruh buku mantera di pinggir meja, lalu mengeluarkan sebuah plastik berisi sehelai rambut coklat dari dalam saku celana yang dia kenakan. “Kalau begitu semuanya aman dan lengkap. Kita hanya butuh praktek kalau begitu. Menjauhlah sekarang, aku yang akan melafalkan manteranya.”
“Sebentar. Erlend, kau yakin ini sudah benar, lihatlah cairan yang ada di gelas itu, kelihatannya tidak layak minum, meletup-letup aneh, rasanya itu terlihat seperti racun di mataku.”
“Jangan khawatir, kalau ini gagal dan kau sekarat, aku akan segera menyembukanmu dengan madu dari ayahku. Jangan remehkan minuman dewa.”
“Aku tidak—hei, tega sekali kau bilang aku akan sekarat? Iya kalau aku sekarat, kalau langsung mati setelah minum bagaimana?”
“Kau terlalu banyak bicara, Laura, kita sudah menuruti apa yang dikatakan buku ini, buku ini tidak diragukan lagi kebenarannya, semua buku disini ini bisa dipercaya, jadi tenang saja, takkan terjadi apapun padamu, aku jamin. Aku sendiri yang akan merebut jiwamu dari reaper seandainya dibawa pergi.”
“Baiklah, aku percaya padamu.” Laura hendak tertawa karena perkataan berlebihan dari Erlend tersebut. Dia kemudian memperhatikan pemuda itu mulai mengeluarkan sehelai rambut dari dalam plastik, lalu memasukkannya ke dalam gelas ramuan. “Dan boleh aku tanya lagi?”
Erlend melihat rambutnya telah tertelan ke dalam ramuan yang meletup-meletup tersebut. “Iya, tentu saja. Ada apa lagi?”
“Itu rambut siapa?”
“Oh, itu adalah rambut milik salah satu temanku yang aku pastikan aman untuk ditiru, dia tidak dikenal, jarang keluar rumah, bahkan tetangganya saja tidak tahu dia hidup.”
“Oh, aku tidak tahu kau memiliki seorang teman.”
“Terima kasih sindiranmu.”
“Maaf, maksudku kau sangat … ya sangat menyebalkan, aku heran kau punya teman.”
“Selesai?”
“Oke, maaf.”
“Kita lanjut?”
“Lanjut.”
Erlend mulai melafalkan mantera yang cukup panjang dan membawa aura yang kuat. Mantera yang dia ucapkan langsung membuat situasi di sekitar mereka menjadi lebih dingin. Selain itu, angin juga berhembus kencang melewati mereka semua.
Setelah satu menit lamanya melafalkan mantera, akhirnya ramuan telah siap untuk diminum. Erlend mengambil gelas tersebut, kemudian menyodorkannya kepada Laura. “Sekarang cepatlah minum. Kau tidak punya waktu lagi. Setelah kubacakan mantera, ramuan ini harus segera diminum.”
Laura meneguk ludah sembari menerima gelas berisi ramuan tersebut. Walau sempat ragu, tapi dia tidak ada pilihan selain meminumnya saat itu juga. Rasanya sangat pahit begitu ramuan menyentuh lidah. Apalagi, ada sensasi kenyal seperti sedang meminum jus daging lidah buaya yang tidak dibersihkan lendirnya. Menjijikan, pahit, tapi cairan itu langsung turun ke perut.
Dia menaruh kembali gelas di atas meja, lalu menunduk semabri memegangi perut. Dia merasa kalau isi perutnya ingin keluar. Ia mual dan ingin muntah. Rasa pahitnya sampai menjalar di leher dan kepala.
“Laura? Kau baik-baik saja,” tanya Erlend cemas sembari mendekati gadis itu, memeganginya agar tidak jatuh karena pusing. “Bagaimana perasaanmu?”
Laura merasakan kalau tubuhnya mulai panas tidak karuhan. Dia berlari menuju ke kamar mandi seraya berteriak. “rasanya aku ingin muntah, sebentar …”
“Laura …” Erlend mengejarnya.
Laura masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dia langsung menuju ke wastafel, dan berusaha memuntahkan semua isi perutnya. Tapi, tidak ada yang keluar. Sakit perut dan sakit kepalanya terus terjadi. Perlahan-lahan kondisi tubuhnya juga mulai berganti. Segalanya berubah.
Ia ambruk di atas lantai dan memegangi kepala yang ingin pecah.
Selama sepuluh menit terjadi perubahan pada tubuhnya. Di mulai dari bentuk tangan, kaki, pinggang, perut, d**a yang menyusut, kemudian lengan yang agak kekar, hingga perubahan pada bentuk wajah sekaligus rambut yang memendek.
Iya, dia kini menjelma menjadi seorang pemuda seusia Erlend berambut coklat dengan tubuh yang cukup atletis dan wajah yang menawan.
Laura bangun setelah tak merasakan sakit. Tubuhnya juga tidak lagi merasakan panas.
“Aduh.” Dia mengeluh sembari kembali bangun dari lantai. Dia kemudian melihat dirinya sendiri yang terpantul lewat cermin wastafel. Betapa terkejutnya dirinya melihat dirinya yang baru. Mulutnya sampai membentuk huruf O, saking syoknya.
Dari semua orang, dia tidak menyangka kalau Erlend malah memiliki sosok laki-laki sebagai orang yang yang dia tiru. Untuk sesaat, dia hanya terdiam sembari meraba dadanya sendiri yang keras dan datar. Rasanya sangat aneh mengenakan pakaian dalam perempuan di saat tubuhnya seperti ini. Iya, dia juga baru sadar bajunya pun berupa gaun.
Erlend tampak sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi yang terbuka. Dia tak terkejut melihat sosok Laura yang sudah berubah menjadi laki-laki. Malahan dia tertawa terbahak-bahak karena sosok pemuda gagah di depannya ini mengenakan gaun kasual selutut. Parahnya, kaki Laura sekarang juga sudah mengikuti kondisi terakhir sang orang yang ditiru yaitu agak berbulu.
“Kau sangat lucu!” teriak Erlend tergelak keras sampai terbatuk-batuk.
“Aku akan membunuhmu.” Laura kesal sendiri. “Kenapa kau tidak bilang kalau temanmu laki-laki?”
“Kau kan tidak tanya.”
“Awas kau.”
Erlend masih tertawa keras.
***