30

1310 Words
Laura melihat dirinya sendiri yang terpantul lewat cermin wastafel. Betapa terkejutnya dirinya melihat dirinya yang baru. Mulutnya sampai membentuk huruf O, saking syoknya. Dari semua orang, dia tidak menyangka kalau Erlend malah memiliki sosok laki-laki sebagai orang yang yang dia tiru. Untuk sesaat, dia hanya terdiam sembari meraba dadanya sendiri yang keras dan datar. Rasanya sangat aneh mengenakan pakaian dalam perempuan di saat tubuhnya seperti ini. Iya, dia juga baru sadar bajunya pun berupa gaun. . . . “Jadi, siapa nama dari pemuda ini?” Laura bertanya. Gadis ini sudah mengenakan pakaian milik Erlend yang untungnya sangat cocok untuk pemuda yang tubuhnya sedang dia tiru ini. Jaket hijau dan celana jeans masih terlihat lebih baik ketimbang pakaian lain. Dia menghela napas panjang, merasa kalau masalahnya tidak akan selesai. Dia bahkan sangat gugup ketika berganti pakaian tadi. Struktur tubuh laki-laki pertama yang lihat lihat adalah milik dari pemuda ini, yang secara teknis adalah dirinya sendiir. Erlend menjelaskan, “Namanya Jasper Spring. Jadi, mulai sekarang sampai kita kembali lagi ke rumah, aku akan memanggilmu, Jace. Kau paham itu?” “Iya.” “Bagus.” “Tapi, Erlend, bagaimana kalau orang bernama Jasper ini berkeliaran saat kita juga berkeliaran?” “Jangan khawatir, dia sebenarnya lebih betah di dalam rumah ketika pagi hari, pokoknya dia tidak akan keluar rumah. Sudah kubilang, bukan, bahkan tetangganya saja tak kenal dirinya, sudahlah.” “Dia punya penyakit tertentu? Mungkin alergi terhadap cahaya matahari? Terlalu sensitif.” “Astaga, Laura, apa kau menganggap hal itu penting? Sekarang kau sedang menyamar, kalau kubilang Jasper yang asli sedang di rumah, ya pasti di rumah. Kalau kau sudah tidak ada pertanyaan, maka sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Kita sudah cukup lama melakukan ritual semacam ini, dan persiapan, tidak ada waktu lagi. Menurut informasi dari reaper yang kukenal, ada sebuah masalah yang melibatkan Minotaur yang dikendalikan oleh penyihir di pinggiran kota.” “Dikendalikan?” “Iya, sepertinya ada masalah yang membuatku ingin tahu. Kita bisa menyelidiki ini sekalian saja menyelidiki tentang pencuri helm hades. Bisa saja dia juga terlibat disini. Setahuku, jarang sekali ada penyihir yang bisa mengendalikan makhluk seperti Minotaur, kecuali kalau itu minotaur jadi-jadian.” “Minotaur jadi-jadian?” “Dia menghidupkan manusia dengan kepala banteng.” “Aneh sekali. Memangnya hal semacam itu bisa dilakukan?” “Tentu saja, sihir itu luar, ada sihir kuno ataupun sihir hitam, biasanya penyihir yang terbiasa dengan kutukan sangat mahir melakukan pembangkitan seperti ini.” “Begitu.” “Apa kau tahu ada penyihir yang bisa membangkitkan mayat hidup?” “Iya, aku selalu mendengar ada jenis penyihir yang seperti itu.” “Iya, itu sebagian kecil dari penyihir yang bisa melakukan sihir kutukan semacam ini.” “Ayo berangkat kalau begitu.” “Iya, untuk menghindari masalah, kita akan menaiki mobil.” “Mobil? Bukan kereta kuda yang biasanya kau pakai?” “Kalau menggunakan itu, siapapun akan mencurigai itu ada Erlend dan Laura. Benar, bukan? Kalau aku datang dengan temanku, aku ingin dengan mobil agar terlihat lebih normal.” “Baiklah. Darimana kita akan dapatkan mobil kalau begitu?” “Dari garasi belakang rumah. Kau pikir aku ini tertinggal sampai tak memiliki kendaraan modern?” “Well, rumah ini kelihatan bergaya kuno, kau menaiki kereta kuda, disini bahkan taka da sambungan telepon, jadi kukira hidupmu sangat terbelakang dan …” Erlend tidak mau mendengarkannya lagi, dan memiliki untuk segera berjalan keluar dari akmar tersebut. Dia sebenarnya sangat pusing dengan apa yang terjadi. Di satu sisi, dia ingin Laura tetap di rumah karena tempat ini yang paling aman, tapi di sisi lain, memang hanya berdekatan dengannya lah, disa bisa memastikan aklau gadis ini aman. Dia tidak peduli apapun sekarang, tapi tetap saja, dia juga ingin tahu masa lalu Laura. Dengan menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan penyihir, mungkin saja dia bisa mengetahui sisi lain dari penyihir legendaris Tita. Dia ingin mengetahui apa yang menjadi rencana dari para pemburu yang telah menculik Laura tempo hari. *** Mobil yang dimiliki oleh ayah Erlend adalah mobil antic berwarna hitam yang dibuat dari era setelah perang dunia II. Diperkirakan mobil tersebut memang diproduksi awal tahun 1900an. Di era ini semua mobil memang terlihat antik sekaligus berkelas. Akan tetapi, mobil memang akan cocok apabila hanya dipajang tidak dipakai. Mobil itu sendiri sudah dimodifikasi oleh Dewa Hades sehingga bisa dikendalikan dengan sihir. Berhubung Erlend sudah terbiasa merapal mantera, maka tidak ada masalah saat dinyalakan. Yang menjadi masalah adalah ketika mobil ini sudah mulai muncul di jalanan kota. Walaupun memang jalanan kota ini tidak ramai, tapi tetap saja menjadi pemandangan langkah. Apalagi, mobil antik ini sangat terawatt dan berkilau. Banyak pria yang memiliki ketertarikan pada dunia otomotif langsung dibuat takjub. “Hebat sekali.” Laura menahan tawa sembari memalingkan wajah untuk melihat pemandangan. Dia duduk di kursi penumpang. Penampilannya saat ini sudah berubah. Dia mengenakan kemeja hitam, celana jeans dengan warna senada. Tak lupa, dia juga mengenakan jubah coklat layaknya penyihir. “Apanya?” Erlend melirik balik Laura. Dia tetap emmperhatikan agar bis amengemudikan mobil ini dengan baik. “Kau mau menyindir apa lagi?” “Kau bilang kita lebih baik tidak menggunakan kereta kuda agar tidak menarik perhatian penyihir, tapi kau malah mengajakku jalan dengan mobil antik. Astaga, kita malah jadi pemandangan disini.” Laura tertawa denagn suaranya yang keras. Dia sempat terdiam karena takut sendiri. Sekarang suaranya memang sangat jantan, membuatnya merinding. “Ya ampun, aku terdengar seperti laki-laki berandal.” “Kau memang laki-laki, Bodoh,” ucap Erlend menahan tawa. “Aku membencimu, Erlend!” “Kau bilang mau melakukan apapun agar kita bisa keluar bersama?” “Seharusnya kau mencari rambut perempuan saja! Lebih baik aku menjadi laki-laki.” Laura juga terkadang tidak nyaman karena menggunakan celana dalam miliknya snediri di tubuh seorang laki-laki. “Dan tubuh orang ini besar sekali, selangkanganku terasa sangat sesak.” “Kau menggunakan celana dalamku, kan?” Wajah pria Laura ini langsung kemerahan. Pemuda yang bertampang gagah ini sangat aneh jika terlihat malu seperti itu. Dia melirik Elrend seraya berkata, “bisakah kau lebih sopan? Kau membicarakan celana dalam dengan seorang gadis.” “Ya ampun, kau membuatku merindiring. Bukankah sudah kubilang, mulailah bersikap seperti laki-laki.” “Rasanya pinggulku tercekik.” Erlend meliriknya dengan pandangan tak percaya. “Oh, jangan bilang kau memang menggunakan celana dalammu sendiri?” “Well, aku mana mungkin menggunakan celana dalam bekas laki-laki lain.” “Oke.” Erlend menahan tawa. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, dia tidak tahan dan menertawakan hal ini sampai membuat mobilnya tak terkendali di jalanan. Dia tidak bisa membayangkan sosok temannya yang tagguh malah menjadi sangat konyol, aneh dan dia bisa membayangkan betapa lucunya jika menggunakan celana dalam seorang gadis. “Erlend!” Muka Laura masih memerah. Erlend mengangguk paham. “Oke. Oke. Kita akan berhenti sejenak di salah satu tempat yang menjual apakain dalam. Kau bisa membeli celana dalam dan menggantinya disana. Aku tidak tega melihat kejantananmu tercekik juga.” “Ya ampun, kau benar-benar kurang ajar!” Laura berniat untuk menghajar Erlend, tapi urung saat mendengar suara klakson di belakang mobil mereka. Dia spontan menoleh dan melihat ada kendaraan lain yang berniat menyalip tapi tidak bisa karena mobil Erlend terlalu menengah. “Hei, kendaraan ini sangat lambat, kau membuat orang yang ada di belakangmu menjadi emosi.” Erlend kemudian mengarahkan laju mobilnya ke tepi jalan, memberikan ruang hingga mobil belakang bisa menyalip mobilnya. Dia melihat ke spion lagi dan ternyata sudah taka da mobil. “Kau benar, kendaraan ini benar-benar sangat lambat, bahkan lari kucing saja bisa lebih cepat. Tapi berhubung ini memakai bahan bakar sihir dan bisa dikendalikan dengan sihir, kita bisa tidur dan makan tanpa masalah.” Laura tampak kagum. “Wah, di saat manusia berusaha keras menciptakan kendaraan modern yang serba otomatis, enak sekali kita menggunakan sihir saja.” Erlend hanya tersenyum. Setelah melihat ada toko baju, Erlend mengarahkan mobilnya untuk masuk ke parkiran depan dari toko tersebut. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD