Erlend meliriknya dengan pandangan tak percaya. “Oh, jangan bilang kau memang menggunakan celana dalammu sendiri?”
“Well, aku mana mungkin menggunakan celana dalam bekas laki-laki lain.”
“Oke.” Erlend menahan tawa. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, dia tidak tahan dan menertawakan hal ini sampai membuat mobilnya tak terkendali di jalanan. Dia tidak bisa membayangkan sosok temannya yang tagguh malah menjadi sangat konyol, aneh dan dia bisa membayangkan betapa lucunya jika menggunakan celana dalam seorang gadis.
“Erlend!” Muka Laura masih memerah.
Erlend mengangguk paham. “Oke. Oke. Kita akan berhenti sejenak di salah satu tempat yang menjual apakain dalam. Kau bisa membeli celana dalam dan menggantinya disana. Aku tidak tega melihat kejantananmu tercekik juga.”
“Ya ampun, kau benar-benar kurang ajar!”
.
.
.
Selepas membeli celana dalam dari sebuah toko, lalu memakainya, Laura diajak Erlend untuk segera pergi kembali dengan mengendarai mobil antik Dewa Hades menuju ke tempat yang dikatakan sedang ada penyihir misterius yang mungkin mengendalikan minotaur atau makhluk yang dibuat mirip seperti makhluk tersebut.
Daerah itu disebut West Cave, pedesaan yang memang sudah jarang sekali dihuni orang. Meskipun begitu, tetap ada warga yang memilih tetap tinggal, kebanyakan adalah para generasi tua, dan sedikit anak mereka. Di daerah ini tidak terlalu banyak toko kelontong, ataupun toko lainnya.
Sepanjang Laura melihat ke luar jendela, dia hanya melihat kesunyian, dan beberapa warga yang keluar dari minimarket, lalu memandangi kedatangan mereka. Iya, orang jelas akan takjub sekaligus merasa aneh ada mobil seperti ini yang berkeliaran di desa kecil begini.
Kebetulan saat itu cuaca mulai buruk. Padahal belum tengah hari, tapi terlihat sudah seperti sore hari. Iya, gulungan awan mendung mulai berjajar di langit. Akan terjadi hujan sebentar lagi. Mau tidak mau, Erlend harus memilih mencari penginapan ketimbang mencari petunjuk tentang penyihir ini.
Tidak berselang begitu lama, ada penginapan kecil yang berada di samping toko permen yang bangunannya sudah sangat tua. Sebenarnya, tidak hanya tempat itu saja, hampir semua bangunan dan dekorasi pertokoan juga cukup tua. Sangat aneh.
“Tempat ini seperti kota tua abad silam,” ucap Laura baru sadar kalau sekelilingnya dipenuhi dengan bangunan tua dan papan-papan iklan yang gaya penulisannya sudah ketinggalan jaman. “Rasanya aku seperti berada di jaman nenekku masih gadis.”
Erlend memarkirkan mobilnya di halaman depan penginapan.
Penginapan ini bernama FLOWERS INN.
“Jangan menggerutu terus, Jace, kita sudah sampai, sementara kita haru menginap dahulu, kita tidak bisa mencari petunjuk apapun jika dalam kondisi mendung begini. Lagipula. Entah mengapa aku merasa ada yang tidak beres dengan desa ini, rasanya agak menyebalkan, entah kenapa aku jengkel,” kata Erlend berjalan menaiki undakan teras penginapan, lalu langsung menuju pintu, dan mengetuknya dengan sopan.
Laura sempat terdiam di depan bangunan penginapan ini. Dia memperhatikan lantai bawah hingga lantai atas. Secara keseluruhan bangunan ini memiliki arsitektur yang cukup tua, tembok yang juga tua, cat putihnya sebagian telah retak dan mengelupas, selain itu, ada banyak bagian yang telah ditumbuhi lumut.
“Aneh sekali selera orang-orang ini,” gumamnya sembari melihat ke toko permen yang ada di sebelah bangunan penginapan. Dari luar saja, dia bisa mengintip ke balik kaca toko, terlihat sekali kalau di sana banyak menjual permen-permen jaman dahulu yang kemungkinan sudah jarang sekali dilihat di kota. Mirisnya lagi, toko itu amat sepi.
Pandangan laura tak hanya mengarah pada toko itu, dia sempat berbalik badan, kemudian mengamati bangunan-bangunan yang ada di seberang jalan kecil ini. Sebagian besar bangunan adalah pertokoan yang telah tutup, sebagian pintunya sudah dipaku rapat dengan kayu, banyak corat-corat lambang aneh yang entah kenapa dia seolah kenal. Iya, ada coretan seperti gambar burung, lalu lingkaran dan ular. Meskipun bagi orang lain, gambar-gambar itu biasa saja dan kemungkinan besar berasal dari anak-anak remaja yang iseng, tapi di mata Laura … semuanya bermakna.
“Keabadian?” Dia asal tebak.
Erlend memanggilnya, “Jace, cepat kemarilah, sedang apa kau? Kita harus beristirahat sebentar.”
Laura menoleh. Dia segera menaiki undakan. Bersama Erlend, dia memasuki bangunan penginapan tua ini dengan didampingi oleh sang pemilik.
Sang pemilik penginapan adalah pria paruh baya yang memperkenalkan diri bernama George Flowers. Dia kelihatan begitu ramah dan caranya berbicara menunjukkan kalau orang ini memiliki tingkat kesopanan yang di atas rata-rata. Selain itu, dia juga menjelaskan kalau pedesaan ini sering sekali hujan, jadi dia ingin agar para tamunya ini agak maklum.
“Tidak masalah, Tuan Flowers.” Erlend dengan sopan membalas ucapannya. “Kami juga ingin beristirahat sebentar.”
Tuan Flowers membukakan pintu salah satu kamar. Dia membuka pintunya yang agak berdecit tersebut. “Saya juga memohon maaf kalau ruangannya juga sudah sangat tua. Semua bangunan disini memang amat tua, barang-barang pun juga tua, di desa ini memang hanya ada generasi tua.”
“Tidak masalah, dan tolong tidak perlu berkata formal pada kami, Tuan.”
“Iya, kalau begitu, terima kasih. Sudah lama penginapan ini tidak dikunjungi tamu dari luar desa.”
“Kami sedang melakukan perjalanan, dan kulihat mendung, jadi lebih baik menginap saja disini.”
“Kalian mau kemana?”
“Ke kota sebelah.”
“Oh, iya, jalanan di pedesaan ini sangat berbahaya kalau hujan maupun malam, banyak yang belum mendapatkan penerangan. Jadi, memang lebih aman menginap dahulu semalam disini.”
“Itu dia, Tuan.”
“Kalian mau makan apa untuk makan malam ini? Istriku akan membuatkan semua yang kalian inginkan.”
“Sebenarnya itu terserah padamu, Tuan.”
“Baiklah.”
“Ngomong-ngomong, dimana istrimu, Tuan? Kelihatannya disini tidak ada siapapun.”
“Dia sedang berbelanja mingguan di toko kelontong Mines. Akan segera kembali. Akan kupastikan dia menyambut kalian nanti.”
Laura berjalan mendahului memasuki ruangan tersebut. Dia sedikit kagum dengan semua barang-barang tua yang ada disini, bahkan televisi saja masih berjenis hitam-putih. Pemilihan warna sprei, kelambu dan lain-lain sangat mencerminkan kalau ini adalah kamar neneknya. Klasik.
Akan tetapi, semuanya tampak bersih dan terawat. Tidak ada debu sedikitpun yang menempel di sekitar barang-barang ataupun lantai. Atap plafon pun bersih dari sarang laba-laba atau binatang kecil lainnya.
Laura langsung menghempaskan diri di atas ranjang, lalu memandangi langit-langit dan memainkan kakinya layaknya anak gadis. Ini membuat Erlend panas dingin karena melihat sosok laki-laki yang tidak jantan sama sekali.
Tuan Flowers mengangguk paham. Dia merasa kalau Laura dan Erlend ini adalah pasangan. Dia terlihat tersenyum pada Erlend.
“Apa?” Erlend tak perlu membaca pikiran pria tua itu untuk mengetahui apa yang dipikirkannya. Dia mendehem, lalu mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Tuan Flowers, sebelumnya, boleh aku bertanya sedikit tentang daerah ini?”
“Tentu saja. Ada apa?”
“Apakah ada kejadian yang baru-baru ini terjadi?”
“Kejadian?”
“Maksudnya kejadian janggal, orang menghilang, orang terbunuh secara misterius atau semacamnya?” Erlend paling mengetahui kalau Minotaur memang akan menyerang manusia jika dibiarkan bebas. Tapi, dia tidak mengerti karena belum bisa memastikan apakah yang mereka kejar ini minotaur atau makhluk ciptaan penyihir semata.
Tuan Flowers berpikir sejenak. “Menurutku tidak ada.” Dia jeda beberapa detik, lalu menjelaskan lagi. “Tapi, ada sesuatu yang kudengar dari desas-desus warga kalau di sekitar sungai Ginger Creek, sekitar lima ratus meter di belakang toko kelontong Mines, ada yang melihat binatang sebesar beruang yang mati, tapi saat orang yang melihat ini melaporkannya ke sherrif, mayat beruangnya tidak ada, tidak ditemukan tanda-tanda ada beruang mati juga. Sherrif mengatakan itu hanyalah ilusi dari orang yang melihat.”
“Siapa yang melihatnya?”
“Tetanggaku ini, orang yang memiliki toko permen, Namanya Henry Thorns.”
“Kelihatannya aku ingin bertanya-tanya padanya, apakah tokonya buka sampai malam?”
“Biasanya sore sudah tutup, tapi kau tetap bisa berkunjung untuk sekedar bertamu. Kau lihat ada gang antara bangunan kami bukan, masuk saja ke situ, dan ada pintu bertuliskan Thorns, kau ketuk saja, maka dia akan membukakannya. Biasanya dia tidak akan menanggapi apapun kalau masih bekerja, jadi lebih baik datanglah berkunjung saat malam.”
“Terima kasih untuk informasinya.”
“Tapi, kuingatkan, dia orangnya tidak ramah, dia sudah ditinggalkan istri dan anaknya sejak berpuluh tahun silam, jadi agak sensitif, cobalah untuk membawakan sesuatu saat datang. Jika kau ingin bertamu untuk bertanya masalah kejadian di hutan itu, aku akan menyuruh istriku membawakan kue untuk Henry. Kalau tidka begitu, orang itu tidak akan membiarkan kalian bertanya-tanya.”
“Terima kasih pertolongannya, Tuan, tolong buatkan kue kalau begitu.”
“Tapi, sebenarnya untuk apa kau ingin tahu masalah semacam ini? Apa kalian ini semacam jurnalis?”
Erlend tak punya pilihan lain selain mengakui itu sebagai alasan. “Iya, kami sedang bebas tugas sebernarnya. Tapi, terkdang aku juga suka menulis tentang cerita misteri yang akan kutaruh di koran-koran misteri. Aku dan temanku, Jasper itu …” Dia menuding Laura yang tiduran di ranjang. “Kami bekerja di sebuah perusahaan penerbitan, sudah sewajarnya kami sering berkeliling kota dan mencari berita serta kejadian misterius.”
“Oh, begitu.” Tuan Flowers tampak mempercayai apapun bualan yang dilontarkan oleh Erlend. Dia mengangguk paham, kemudian berpamitan, “kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, aku akan pergi ke belakang karena ada pakaian yang harus kuambil sebelum hujan.”
“Silakan, Tuan, terima kasih sudah menjawab pertanyaanku barusan.”
Tuan Flowers mengangguk, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Erlend masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintunya rapat-rapat. Dia melirik tajam Laura yang sepertinya lebih menganggap ini libruan ketimbang investigasi.
“Hei, kau ini ikut denganku untuk mencari informasi tentang dirimu dan mencari informasi tentang masalah helm Hades, atau memang ingin liburan saja?” sindirnya.
Laura bangun, dan duduk kembali di pinggiran ranjang. “Santai sedikit.” Pandangannya mengarah ke luar jendela kaca yang kelambunya terbuka. AKibat cuaca buruk, suasana di dalam kamar menjadi redup. “Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mengingatkanku pada kejadian saat masih di rumahmu. Mungkinkah ini ulah penyihir jahat atau para pemburu penyihir yang tahu aku disini?”
“Tidak juga, disini memang sering hujan.” Erlend sedang melepaskan jaketnya dan disampirkan ke atas punggung kursi kayu. Ia hanya mengenakan kaos tipis berwarna hitam polos saat ini. Dia duduk di atas kursi tersebut, lalu menghela napas panjang.
“Hei, sedang apa kau? Bukankah aku sering bilang jangan seenaknya buka pakaian di depanku.”
“Pertama, kita sama-sama laki-laki sekarang, kedua, aku tidak telanjang, kau lihat aku sedang pakai baju ‘kan? Kenapa kau ini kadang-kadang cerewet sekali. Seharusnya kau memijitiku karena pundakku sakit menyetir selama berjam-jam.”
“Baiklah, akan kupijat kalau begitu.”
“Tidak, terima kasih, aku tak mau dipijat oleh tangan laki-laki.”
“Dasar.”
“Kau juga jangan membuatku malu, pria tadi mengira kita ini pasangan. Ya ampun, itu lebih memalukan ketimbang telanjang di balai kota.”
“Kau …”
“Jaga sikapmu, cara dudukmusaja sangat gemulai.”
“Diam!”
“Oke. Terserah saja.”
Laura terbatuk. Dari tadi dia juga merasakan kelelahan Bahkan matanya juga agak pedih karena terlalu lama melihat ke arah kaca jendela mobil dari tadi. Lalu sekarang, entah mengapa dia sangat haus. Anehnya, dia seperti menginginkan sesuatu yang manis, bukan air biasa seperti yang dia minum.
“Ada apa?” Erlend curiga dengan sikap Laura yang menoleh kemana-mana mencari sesuatu. “Kau butuh sesuatu?”
“Tidak. Aku hanya merasa haus.”
Erlend melihat atas meja sampingnya yang memang sudah disipkan kue selamat datang dan dua gelas minuman dingin. “Ini dari tuan Flowers. Dia bilang semua tamu penginapan mendapatkan kue selamat datang. Dari aromanyat tercium manis.”
Laura berdiri, lalu mendekati meja. Dia mengangkat gelas minumannya, dan keheranan. Entah kenapa dia tidak suka melihat cairan bening ini. Walaupun sudah meminumnya beberapa tegukan, nyatanya malah makin haus.
“Aku merasa ingin minum yang lain,” katanya memegangi tenggorokan.
Mata Erlend melotot saat meyadari kalau di dalam mulut Laura terdapat dua gigi taring yang makin meruncing tanpa disadari oleh gadis itu. Dia menggeleng cepat, lalu berdiri, dan membuka mulut Laura dengan paksa. “Sial, ternyata benar-benar mirip, hanya tahan matahari saja?”
Laura mendorong tubuh Erlend. Dia marah. “Apa maksudmu! Beraninya kau membuka mulutku! Dasar kau ini!” Dia masih belum sadar kalau semakin haus, gigi taringnya semakin keluar. “Apa? Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu, Erlend? Apa wajahku berubah menjadi Laura lagi?”
“Bukan … kau menjadi vampire.”
“Hah?”
***